
Putus asa tak dapat mengejar istri dari sepupunya, kini Pika kembali masuk ke dalam ruang privat tersebut.
"Jelaskan padaku, kenapa kamu tega melakukannya kepada Zelda? Bukankah kamu sangat mencintainya?" tanya Pika yang masuk kedalam ruang privat terbit sambil melotot ke arah Yugo.
Yugo hanya diam dan terduduk disudut ruangan sambil meremas wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jawab Yugo!" bentak Pika.
"Aku melakukannya karena aku mencintainya." jawab Yugo sambil menundukkan kepalanya.
"Cinta? Cinta yang bagaimana hingga kamu tega melukai fisik dan batinnya?"
"Aku ... Aku salah sangka, aku mengira dia masih berhubungan dengan Yoga, dan aku cemburu." ucap Yugo sambil mengangkat wajahnya dan memandang Pika.
"Apa kamu tidak menyelidikinya sebelum menuduhnya?"
"Aku terlanjur emosi karena aku .."
"Karena apa? Karena engkau masih terbawa suasana akan kesakitan masa lalumu, kan?" potong Pika sengaja.
(Yugo mengangguk)
"Apa kamu tidak mengenal Zelda? Bukankah kalian saling mengenal sebelumnya ketimbang aku? Bukankah engkau juga telah berjanji kepada pak Imam, lelaki yang pernah menolongmu saat engkau hilang ingatan?" geram Pika kepada sepupunya tersebut.
"Jawab Yugo, jawab aku. Aku ingin tahu apa alasan kamu melakukan semua ini?" tanya Pika lagi dengan nada kesal.
"Aku mengira Zelda tidak mencintaiku karena dia sama sekali tidak pernah menaruh rasa curiga dan cemburu padaku."
"B*d*h kamu! Justru dia begitu karena dia percaya padamu, tapi engkau malah mengkhianati kepercayaannya."
"Aku tidak mengkhianatinya, ini semua salah paham."
"Salah paham apa? Jelas-jelas wanita itu datang ke rumah kalian dan meminta uang bulanan? Apa itu salah paham?" teriak Pika jengkel.
"Ya, andai saja saat wanita itu datang Zelda segera bertanya maka aku akan menjawabnya."
"Andai saja? Kamu masih menyalakan Zelda? justru kamu yang membuat masalah disini. Zelda sengaja tidak bertanya padamu dan berusaha menyelidikinya sendiri tapi apa, engkau malah menghapus semua data diri wanita itu dan itu lah yang membuat Zelda kecewa padamu." jelas Pika.
Yugo kaget, ia tak menyangka apa yang ia lakukan diketahui oleh Zelda.
"Kenapa diam? Kamu kaget kan? Kamu lupa siapa Zelda? Dia wanita cerdas yang aku kenal, dia tidak akan menyerah dan berhenti.
"Jadi Zelda sudah tahu?" ucap Yugo lemas.
"Ya, karena itu ia kecewa mengapa engkau menghapusnya. Awalnya ia menganggap ini adalah jebakan atau permainan bisnis yang dilakukan rival kerjamu dengan mengirimkan wanita kerumah tapi ternyata tidak. Engkau dengan sengaja menghapus data diri wanita tersebut agar Zelda tidak mengetahuinya."
"Aku melakukannya karena aku tidak ingin Zelda berpikir macam-macam dengan menganggap aku sebagai lelaki yang suka jajan dan memberi uang kepada pelac*r."
__ADS_1
"Kalau begitu, kenapa tidak engkau jelaskan dari awal kepada Zelda bahwa engkau adalah korban kebohongan dari wanita itu yang pura-pura mengalami cidera karena kecelakaan."
"Aku menganggap itu tidak penting."
"Tidak penting? Ingat Yugo wanita mana yang tidak akan marah apalagi istri jika mengetahui suaminya memberikan uang selain pada dirinya apalagi kepada wanita lain!"
Mendengar penjelasan Pika membuat Yugo sadar dan paham bahwa apa yang sudah ia lakukan salah.
"Mau kemana?" tanya Pika kepada Yugo yang tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya.
"Aku harus menyusul Zelda." ucap Yugo cepat sambil keluar dari ruangan tersebut.
***
Di sebuah tempat parkir.
"Kenapa ponselnya mati?" gumam Yugo di dalam mobil.
Berulang kali Yugo mencoba menghubungi Zelda namun tak kunjung diangkat, rasa bersalah semakin menghinggapi hatinya. Bayangan diri Zelda seperti menari-nari di kepalanya.
"Kamu kemana? Tolong jangan membuatku begini, aku benar-benar merasa tersiksa." gumam Yugo sambil mengusap kedua matanya yang terlihat lelah.
Kini Yugo memulai menyandarkan kepalanya di kursi kemudinya, terlihat ia begitu lemas memikirkan nasib rumah tangganya yang benar-benar berada di ujung tanduk.
"Apa yang harus aku lakukan? Kemana aku harus mencari Zelda."
Dokter Strange: "Dimana kamu?"
Yugo: "Neraka."
Dokter Strange: "Jangan begini, semua bisa kita atasi bersama."
Yugo: "Apanya yang bisa diatasi, rumah tangga ku usai."
Dokter Strange: "Maksudnya?"
Yugo: "Jangan pura-pura b*d*h tidak tahu maksudnya. Lebih baik bantu aku cari keberadaan Zelda."
Dokter Strange: "Istrimu baru saja sampai dirumah, lebih baik sekarang kamu susul dia kesana."
Setelah mendapat informasi demikian segera Yugo menutup sambungan teleponnya dan segera berkendara dengan kencang agar cepat sampai dirumah. Apa yang dilakukan Yugo membuat Henri kesal.
Dokter Strange: "Dasar tidak sopan!" ucapnya lalu menutup teleponnya.
***
Huweek .. huweek
__ADS_1
Ada apa denganku?
Huweek ... huwekk
Kenapa badanku sakit semua bahkan lemas, ini sudah hampir seminggu setelah bunda meninggal.
Aku harus mengecek ke rumah sakit.
Zelda masih tidak sadar dengan perubahan pada tubuhnya hingga dia melihat kalender bahwa seharusnya Minggu ini adalah jadwal dirinya datang bulan.
"Aku seharusnya haid, tapi kenapa tidak? Oh mungkin aku terlalu stres." gumamnya lalu keluar dari kamar mandi.
Saat dirinya keluar dari kamar mandi dia terkejut, terlihat Yugo berada tepat di depan pintu kamar mandi.
"K--kamu membuatku kaget." ucap Zelda tanpa memandang Yugo.
"Kamu hamil, artinya kita tidak jadi bercerai." ucap Yugo sambil memegang tangan Zelda.
"Bicara apa kamu, aku hanya masuk angin. Aku kesini untuk mengambil barangku yang tertinggal." ucap Zelda sambil berusaha melepaskan tangan Yugo.
"Kalau begitu kita kerumah sakit, kita buktikan. Jika memang kamu hamil maka kita akan rujuk." ucap Yugo sambil tetap memandang wajah wanita yang kini telah menjadi mantan istrinya.
"Rujuk? Apa kamu pikir aku akan mau setelah semua yang telah kamu lakukan padaku."
"Aku tahu aku salah, aku -"
"Cukup, aku kesini bukan untuk hal lain selain ini." ucap Zelda sambil menunjuk barang yang dibawanya.
"Aku ... Aku benar-benar membuatmu kecewa, tapi asal engkau tahu aku sampai saat ini masih mencintai mu dan aku menyesal dengan apa yang sudah kulakukan."
Zelda mengacuhkan permintaan maaf Yugo, ia hanya berdiri tanpa memandang sedikitpun ke arah Yugo.
Melihat mantan istrinya yang berjalan perlahan keluar menjauhi dirinya membuat hati Yugo terasa sesak dan mulai berdiri untuk mengejar istrinya.
"Jangan mengejarku! Mungkin dengan berpisah adalah cara yang terbaik, kata yang pernah terucap itu adalah takdir jadi jangan pernah terbebani dengan permintaan kedua orangtuaku, karena saat ini mereka telah tiada." ucap Zelda kemudian melanjutkan langkahnya.
Yugo tidak tahu jika Zelda mengucapkan kata-kata tadi dengan menahan air mata yang hampir keluar. Sejujurnya rasa cinta dan sayang masih ia miliki untuk suaminya meski rasa sakit yang ia dapat saat Yugo menampar nya namun kenyataan bahwa suaminya memberikan nafkah bulanan dengan melihat bukti transfer ke rekening wanita pelac*r itu membuat hati Zelda sesak.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
__ADS_1
Terimakasih..