Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 51. PERMINTAAN YUGO.


__ADS_3

Tak terasa sudah satu bulan lamanya. Kepergian Zelda membuat Yugo nelangsa, dirinya merasa separuh nyawanya pergi, ia tahu dan sadar akan kesalahannya yang membuat pernikahannya baru seumur jagung harus berakhir, bahkan ia menerima sikap dingin Zelda di akhir perpisahan mereka.


Apa ini sikapku yang sesungguhnya?


Bukankah ayah tak pernah begini ? Yang aku tahu ayah selalu bersikap hangat kepada ibu.


Ya Allah, ampunilah aku... Jujur aku masih ingin berpisah dengannya, aku sungguh mencintai nya. Berilah petunjuk agar hamba bisa memilikinya lagi.


Aku menyesal Ya Allah...


Tolong berikan aku kesempatan untuk menjadi imam di hidupnya lagi dan aku berjanji akan menjaga lisan ini..


Sajadah panjang yang terbentang menjadi saksi air mata Yugo yang keluar, hampir setiap malam setelah perpisahannya dengan Zelda kini ia menghabiskan malam panjangnya di sebuah kamar rahasia yang ada didalam ruangan kantornya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di ruangan ini ketimbang di mansion.


Selesai membasahi sajadah dengan tangisan penyesalan dan harapan yang ia panjatkan pada sang pencipta kini dirinya terduduk diatas sofa sambil memandang foto Zelda yang diam-diam dia ambil saat mereka masih belum menikah, saat itu Yugo masih mengenal dirinya sebagai Hugo dan berusaha mengingat siapa wanita cantik yang telah menunggu dirinya saat sedang dirawat di rumah sakit untuk waktu yang cukup lama.


***


Disebuah jalanan yang masih sangat sepi terlihat masih belum ada kendaraan yang merayap, tak terdengar bunyi klakson yang memekikkan telinga melainkan sebuah gesekan lidi dan aspal yang sedang dimainkan oleh petugas kebersihan untuk menyapu jalanan.


Terlihat sebuah mobil sport berwarna putih sedang melintas dengan kecepatan sedang. Dua orang yang berada di dalam sedang berdebat menentukan tujuan kemudi.


"Kenapa kita harus melewati jalan ini di pagi-pagi buta begini? Coba lihat pukul berapa sekarang?" omel Henri sambil memonyongkan bibirnya.


"Apa kamu tidak kasihan dengan sahabat mu itu?" tanya Pika balik sambil memasang wajah memelas.


"Kasihan, tapi ini baru jam berapa? Kenapa kita harus kemari bukankah lebih baik kita ke Mansion?"


"Sayang, apa kamu tidak dengar tadi Beta bilang apa?"


"Tidak." jawab Henri singkat, karena ia sengaja pura-pura tidak mendengar percakapan antara Pika dan kepala koki dirumah Yugo tersebut.


Mengetahui jika kekasihnya tersebut sedang merajuk Pika mencoba menggodanya.


"Pulang dari kantor Yugo aku ingin berenang di tempat biasanya, apa kamu mau ikut?" ajak Pika sambil mencubit dagu kekasihnya itu.


"Ya, aku ikut." jawab Henri sambil melebarkan senyumannya.


"Artinya telinga ini sedang tidak gangguan ya ... jadi seharusnya kamu dengar dung apa yang aku bicarakan tadi dengan Beta?"


"Telinga ini langsung sembuh jika berhubungan tentangmu.


Pakailah bikini yang aku belikan ya nanti." ucap Yugo yang mengalihkan percakapannya.


"Hem."


Tak terasa kini mereka sudah berada di perusahaan kosmetik terkenal di ibukota.


"Tuan putri, sesuai aplikasi kita sudah sampai ditempat tujuan."

__ADS_1


"Makasih ojek ku sayang."


Setelah memarkirkan kendaraannya kini keduanya keluar dari mobil dan menuju ke lift, tak terlihat banyak karyawan yang sudah tiba hanya terlihat beberapa sekuriti yang sedang berjaga menunggu pergantian shift.


"Nyonya Pika?" tanya salah seorang sekuriti senior dengan nada heran.


"Aku masuk ya," ucap Pika sambil tersenyum diikuti oleh Henri yang berjalan disampingnya.


Belum mendapat persetujuan dari sekuriti Pika tetap memaksa masuk kedalam lift karena mereka semua tahu meski Pika bukan lagi pegawai disana tapi dia adalah sepupu dari CEO sekaligus pemilik perusahaan besar ini.


Tak butuh lama kini Pika dan Henri sudah sampai ditempat ruangan yang dituju, yaitu sebuah ruangan milik Yugo. Pika sengaja berjalan dengan pelan-pelan karena ingin mengintip aktivitas Yugo di dalam.


"Kasihan dia." batin Pika sambil mengintip Yugo dari balik pintu.


"Kenapa tidak masuk?" tanya Henri yang tiba-tiba muncul dibelakang kekasihnya itu.


"Ssst ...jangan berbicara terlalu keras." ucap Pika sambil mencubit lengan kekar Henri.


"Aduh sakit sayang, lagian dia gak mungkin dengar apa yang sedang kita ucapkan."


"Apa kamu sudah menemukan apa yang dia inginkan?"


(Henri menggelengkan kepalanya)


"Yugo ....!" sapa Pika kepada sepupunya sambil menggeser pintu.


Suara Pika membuat Yugo memandang kearah datangnya suara.


"Aku mencari mu di Mansion tapi kata para maid engkau semalam tidak pulang. Kamu tidak pulang?"


"Untuk apa? Mansion itu aku bangun untuk Zelda bukan untuk diriku sendiri."


"Apa mereka tahu statusmu saat ini?"


"Entah, jika mereka menduga-duga aku tak akan ambil pusing. Bagiku Zelda masih tetap istriku."


"Bagiku ada dan tidak Zelda kamu tetap terlihat tampan." goda Henri kepada sahabatnya itu.


"Karena aku ingin Zelda jatuh cinta lagi denganku meski kami sudah berpisah."


"Tapi jika kamu begini maka bukan hanya Zelda saja yang tergoda, wanita lain pun akan melirik, ya kan sayang?"


"Hussst jangan begitu. Memang nya kamu."


Henri dan Pika yang saling menggoda membuat Henri iri, ia merasa rindu akan masa-masa kebersamaan dirinya dengan Zelda.


"Kalian berdua kapan menikah?" tanya Yugo membuyarkan keseruan diantara Pika dan Henri.


"Tunggu saja undangan nya, karena kau ingin memberi kejutan seperti engkau yang tiba-tiba menyebarkan udangan mendadak."

__ADS_1


"Tolong tunda, aku mohon.."


"Kenapa?" tanya Pika dan Henri bersamaan.


"Tolong cari Zelda dulu, setelah itu nikahi dia dan ceraikan dia karena itu adalah cara satu-satunya agar aku bisa kembali memilikinya." ujar Yugo.


"Apa otakmu sudah kamu pasang?" tanya Henri yang tak percaya dengan ucapan sahabatnya itu.


"Aku serius, aku mohon tolong aku."


"Kenapa kamu tidak meminta Yoga atau Vincent atau siapa pun untuk melakukannya?" tanya Pika tak percaya dengan permintaan Yugo.


"Jika aku meminta Vincent tidak mungkin karena kamu tahu orang-orang sekitarnya yang sangat berbahaya, aku tidak mungkin membahayakan Zelda.


Dan kalau aku meminta orang lain aku tidak mau karena aku tak mengenal mereka.


Kalau Yoga sangat amat tidak mungkin karena dia tidak mungkin melepaskan Zelda setelah menikah ."


"Lalu apa kamu pikir Zelda akan setuju begitu saja untuk menikah lagi kemudian bercerai lagi hanya untuk kembali rujuk denganmu?" tanya Pika kesal.


"Kamu adalah pengacara Zelda dan kamu juga adalah sepupu terbaikku yang mana kita saling mengenal bukan. Aku percaya kamu pasti akan membantuku."


"Apa kamu pikir aku dan Zelda mau dinikahkan?" tanya Henri serius.


"Aku akan mencari cara agar Zelda mau menerimamu lalu melepasmu dan kembali denganku."


"Bagaiamana jika aku yang menolak?"


"Kamu sahabat terbaikku, aku yakin kamu akan membantuku." ucap Yugo sambil menatap dalam ke arah Henri.


Pika yang mendengar itu dibuat kesal dan jengkel, ia tak rela jika calon suaminya menikah dengan mantan istri sepupunya meski hanya untuk sementara waktu."


"Maafkan aku Yugo, untuk kali ini aku tidak bisa membantu. Bagiku sebuah pernikahan adalah hal yang sakral dan aku tidak mau main - main. Kamu tahu betapa aku mencintai Pika, dan aku ingin dia adalah satu-satunya istriku sepanjang hayat."


Apa yang diucapkan Henri benar, Yugo tahu betapa sahabatnya itu begitu mencintai sepupunya, namun karena keinginannya yang begitu besar untuk bisa kembali bersama dengan mantan istrinya maka ia harus mengacuhkan rasa pedulinya.


"Bagaiamana? Aku harap kalian mau membantu ku."


"Aku akan memikirkan dan membicarakan ini dengan Henri." ucap Pika yang membuat dua lelaki tersebut menatapnya dengan pemikiran yang berbeda.


Tanpa mereka sadari dibalik pintu terdapat seseorang yang begitu jelas mendengar pembicaraan ketiganya. Dia yang mendengar itu tampak kaget dan tak percaya jika orang yang dikaguminya tersebut saat ini sedang menanggung beban kesedihan.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..


__ADS_2