Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB. 49. AKIBAT TALAK.


__ADS_3

"Ze ..., aku turut berduka atas meninggalnya bunda. Kuatlah jangan seperti ini." ucap Yoga yang tiba-tiba berada disamping Zelda.


"Untuk apa kemari?"


"Aku kemari karena ingin melihat Bunda."


Sejenak suasana mencekam, tak ada kata dari keduanya. Hanya sebuah angin dan suara gesekan ranting pohon yang menemani keduanya di pemakaman ini.


"Sudah hampir sore, apa kamu tidak pulang?”


(Zelda hanya menggelengkan kepalanya).


"Bunda masih di sini." ucap Zelda lirih.


Melihat Zelda bersedih membuat Yoga tidak tega, ingin rasanya memeluk tapi tidak mungkin karena Zelda pasti akan menolak.


(Yoga menghembuskan nafas dengan kasar sambil melihat ke arah wanita yang dicintainya tersebut. Dia bingung harus bagaiamana membujuk.)


"Tapi ... langit sudah hampir gelap. Tak baik jika kamu duduk sambil menangis disini."


"Aku akan pergi jika bunda ikut denganku."


"Sadarlah, bunda sudah tiada. Beliau telah berada di surga. Jika engkau ingin menyusulnya maka banyak hal yang harus kamu persiapkan."


"Katakan, apa yang harus ku lakukan?"


"Berdirilah, dan pulang. Sesampainya dirumah mandilah dan berwudhu, lalu sholat dan doakan beliau."


"Lalu?"


"Lanjutkan hidupmu sesuai apa yang ayah dan bunda ajarkan padamu."


Ucapan Yoga begitu mengena di sanubarinya, seketika nasehat dan pesan yang selalu kedua orang tuanya ucapkan muncul hingga air matanya kembali turun membasahi pipinya lagi.


Namun meski air mata kembali tumpah kini Zelda mencoba berdiri dan menatap ketiga makam yang ada di samping nya.


"Ayah, bunda, kak, aku pamit." pamit Zelda sambil berdiri. Namun baru saja berdiri ia mulai terhuyung karena kakinya yang kesemutan.


"Kamu kenapa?" tanya Yoga sambil reflek memapah tubuh Zelda dari belakang.


"Lepas, aku bisa sendiri." ucap Zelda tanpa menatap Yoga.


"Kamu tidak bisa sendiri Ze, aku akan menggendong mu."


"Tidak! Aku bisa sendiri."


Zelda tetap memaksa berjalan meski dengan kaki yang kesemutan karena terlalu lama berjongkok, tak hanya itu baru beberapa langkah ia berjalan Zelda kembali merasakan sakit pada perutnya.


"Kenapa dia terlihat begitu lemah, seperti bukan Zelda yang ku kenal." batin Yoga sambil melihat punggung wanita pujaannya yang sedang berjalan di depan.


Setelah berjalan sekitar 10 menit, kini mereka keluar dari area pemakaman dan saat ini Zelda sudah berada di rumah tempat dimana dia memarkirkan mobilnya.


"Mau pulang, nak?" tanya Bu Siti yang tiba-tiba muncul


"Iya, saya pamit dulu ya. Terimakasih untuk tempatnya." pamit Zelda sambil mencium tangan wanita paruh baya tersebut kemudian masuk ke dalam mobil.


Saat Zelda sudah menyalakan mesin mobil segera Yoga masuk kedalam mobilnya. Namun belum sempat masuk si pemilik rumah menghampiri Yoga yang parkir tak jauh dari rumah Bu Siti, "Apa kamu suaminya?"


Mendapat pertanyaan demikian Yoga hanya diam sambil memandang wajah lawan bicaranya.


"Aku memang bukan siapa-siapa nya, aku hanya tetangganya. Namun hubungan ku dengan keluarga pak Imam begitu baik. Tolong jaga Zelda, karena semua anggota keluarganya kini telah tiada."


"Pasti akan aku jaga." ucap Yoga sambil mengangguk. "Saya pamit dulu Bu," lanjut Yoga sambil masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya untuk mengikuti Zelda dari belakang.


***


Saat ini Zelda sudah memasuki Mansion dan bunyi suara klakson membuat sekuriti yang berada di balik pagar membuka lebar.


Kini Zelda telah masuk, sedangkan Yoga yang sedari tadi mengikuti Zelda dari belakang merasa lega melihat wanita pujaannya sudah berada di dalam.


"Syukurlah, kini dia sudah berada di dalam. Seperti biasa aku akan selalu diam-diam memantaunya.


Tapi kenapa wajahnya terlihat sangat lemah, Aku akan sesering mungkin memantau keadaannya, aku khawatir dengannya, kenapa wajahnya begitu pucat? Apa dia sedang sakit?? Karena aku tidak pernah melihat dia serapuh ini saat ayahnya tiada." ucap Yoga lirih.

__ADS_1


Setelah memastikan Zelda sudah memasuki Mansion, kini Yoga mulai melajukan kemudinya menuju ke apartemennya.


Ditempat lain, terlihat sebuah mobil mewah terparkir di sebuah rumah tempat Zelda tadi memarkirkan mobilnya.


"Mobil siapa ini? Kenapa mobil ini mirip sekali dengan mobil siang tadi." batin ibu Siti.


"Mau cari siapa?"


"Apa tadi ada seorang wanita kemari?"


"Iya,"


"Lalu kemana dia sekarang?"


"Dia sudah kembali bersama suaminya tadi."


"Suami?" tanya Yugo heran.


"Ya, mereka berdua memakai mobil yang berbeda."


Mendengar ucapan wanita paruh baya tersebut membuat Yugo segera memasuki mobilnya untuk segera pulang dan menemui istrinya. Dalam perjalanan pulang pikiran Yugo tak karuan, ucapan mertuanya benar-benar terngiang di telinga nya.


"Aku harus segera sampai, aku yakin Zelda sedang terpuruk sekarang." gumam Yugo sambil menambah kecepatan mobilnya agar berjalan lebih cepat.


***


Sejam kemudian.


Tin ...


Tin ...


Setelah pagar terbuka, kini Yugo keluar dari mobil dan memarkirkan mobil di halaman, dengan langkah panjang ia memasuki rumah besar tersebut.


"Dimana istriku?" tanya Yugo kepada beberapa maid yang menyapa dirinya.


"Nyonya ada di kamar."


Segera Yugo masuk dan menekan tombol lift untuk menuju ke kamar atas, kamar miliknya. Sesampainya disana ia segera membuka pintu namun dia tak melihat Zelda.


Kemana dia?


Yugo melanjutkan langkahnya menuju ke kamar mandi namun kosong.


Kemana dia?


Oh mungkin sedang berada di wardrobe.


Kakinya yang panjang membuatnya hanya sekejap saja memasuki rumah wardrobe, dan kembali ia tidak melihat keberadaan istrinya.


Kemana? Kenapa tidak ada?


Yugo mencoba berjalan ke arah balkon melihat keberadaan istrinya namun tetap tidak menemukan, ia pun keluar dari kamar dan mencoba membuka kamar mertuanya.


Pintunya terkunci, sepertinya dia berada di dalam.


Tok ...


Tok ...


"Sayang, buka pintunya. Ini aku." ucap Yugo sambil mengetuk pintu.


Zelda yang mendengar suara ketukan pintu hanya melirik dan enggan untuk membukanya, selain karena tubuhnya yang masih lemas ia juga sedang memendam rasa kecewa pada lelaki yang kini akan menjadi mantan suaminya.


Suara ketukan yang tak dihiraukan Zelda membuat Yugo khawatir dengan keadaan istrinya, ia kembali mengetuk pintu dengan suara yang lebih keras dengan harapan istrinya dapat mendengar ketukannya dan membuka pintu. Dia masih tidak merasa jika apa yang sudah ia lakukan telah menyakiti hati wanita yang sebentar lagi menjadi mantan istrinya.


"Sayang, buka pintunya. Ini aku." ucap Yugo sambil mengetuk.


Berulang kali Yugo mengetuk tetap tidak di hiraukan oleh Zelda hingga beberapa menit kemudian Yugo kembali mengetuk sambil berucap, " Tolong buka pintunya, aku khawatir padamu sayang,"


Zelda yang mendengar ucapan Yugo pura-pura tidak mendengar, baginya sekarang Yugo bukan siapa-siapa. Sebuah ucapan talak yang telah diucapkan adalah sebuah kata mutlak dan saat itu juga hubungan mereka sebagai suami istri telah berakhir.


Kenapa ia tidak membukakan pintu?

__ADS_1


Mungkin dia lelah, sehabis perjalanan ke makam bunda.


Kalau begitu aku tidak perlu mengganggunya, aku akan kemari sejam lagi sambil mengecek CCTV dalam kamar.


Yugo kembali melangkahkan kakinya ke kamar menuju ke ruang kerjanya, untuk memastikan keadaan istrinya yang berada di kamar sebelah. Namun saat ia mencoba mengecek kamar tersebut ia tidak dapat melihat.


Kenapa? Kenapa aku tidak bisa melihatnya.


Apa jangan-jangan ini ulah Zelda.


Kenapa dia melakukannya? Apa aku sudah membuat kesalahan??


Yugo mencoba berfikir keras, mengingat apa yang sudah dilakukan pada istrinya.


"Kalimat itu ... Astagfirullah aku telah mengucapkannya. Apa karena ini dia mengunci diri." ucap Yugo sambil memegang kepala. "Tidak, aku tidak bisa bercerai dengan Zelda, dia adalah istriku. Aku akan minta maaf padanya."


Saat Yugo keluar dari kamar ia sudah melihat Zelda berpakaian rapi memasuki lift.


"Sayang, tunggu aku!" teriak Yugo sambil menekan tombol lift. Namun Yugo terlambat, ia pun menyusul Zelda yang sedang turun dan memasuki mobil lalu keluar.


Yugo segera menyusul Zelda, Zelda yang lebih dulu di depan sangat sulit disusul oleh Yugo, terlihat dari GPS mobil Zelda mengarah ke sebuah restauran.


"Restauran?" gumam Yugo heran sambil memasuki halaman restauran.


Yugo mencari keberadaan Zelda namun ia tak melihat keberadaan istrinya, hingga seorang pelayan menepuk pundaknya.


"Permisi, bisa dibantu?" tanya seorang pelayan.


"Tadi aku melihat seorang wanita berjalan ke arah sini,"


"Oh,, apa bapak bernama bapak Yugo Arthadinata?"


"Iya."


"Silakan ikut saya,."


Yugo heran, mengapa dirinya diarahkan ke sebuah ruang privat tempat dia biasanya bersama client nya berdiskusi. Saat memasuki ruang privat ia melihat istrinya sedang duduk di sebuah meja panjang dengan wajah terlihat tegas tak rapuh seperti yang ia lihat saat mertuanya menghembuskan nafas terakhir.


"Sayang, ada apa ini? Apa engkau ingin makan berdua seperti ini?" tanya Yugo sambil menatap istrinya.


Zelda yang ditanya hanya diam dan tidak melihat ke arah Yugo sama sekali, beberapa detik kemudian terdengar suara ketukan pintu . Terlihat seorang wanita yang sangat keduanya kenal telah memasuki ruangan tersebut.


"Kamu kenapa kesini?"


Plak!


(suara tamparan)


"Kenapa kamu menampar ku?" tanya Yugo heran.


"Ini karena kelakuanmu, emosimu, kesalahan mu."


(Yugo seperti mati kutu tak dapat bicara.)


"Apa maksud mu?"


"Mulutmu bisa berbohong tapi bukti yang ada disini tidak dapat dibohongi." ucapnya sambil menunjuk USB yang sedang dipegangnya.


Seketika Yugo memandang istrinya. "Sayang, coba jelaskan apa maksudnya?"


"Diantara kita sudah selesai untuk segala bentuk pertanyaan aku serahkan padanya, selaku pengacara ku." ucap Zelda lalu berdiri dan meninggalkan ruangan privat tersebut.


"Zel ... tunggu!" teriak Pika sambil mengejar Zelda keluar.


Zelda tak menghiraukan teriakan Pika, ia tetap berjalan dengan cepat hingga membuat Pika tak sanggup mengejar langkah Zelda karena terhalang oleh keramaian restauran.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..


__ADS_2