
Zelda yang kini berada di dalam taksi sebenarnya bimbang kemana tempat yang harus ia pilih? Ke Bidan tempatnya tadi menitip kan bayi dalam kardus atau ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilannya.
Sebenarnya ia takut dan belum siap jika dirinya dinyatakan hamil, secara dirinya baru saja menyandang status janda. Namun karena peristiwa pagi tadi membuat hatinya menjadi tak karuan.
Selama di dalam taksi, Zelda diam sambil menggenggam erat jemari tangan nya. Dirinya tak sadar jika kebimbangannya di baca oleh supir lewat kaca spion yang terpasang didepan.
"Neng, kita kemana?" tanya pak supir yang mengagetkan lamunan Zelda.
"Ehm ... Kita ... Kita ke rumah sakit yang terdekat, pak."
"Baik, Neng."
Sepanjang perjalanan Zelda berusaha menenangkan dirinya dengan menutup mata, dengan harapan perjalanannya ditempuh lama, namun apa yang ia harapkan salah, beberapa saat setelah menutup mata kini mobil yang dinaikinya berhenti, dan tak lama kemudian ia mendengar suara.
"Sudah sampai, Neng."
Zelda yang merasa baru memejamkan mata terpaksa harus membuka matanya sambil berusaha mengambil nafas lewat mulut lalu ia hembuskan.
"Kenapa Neng?" tanya pak supir heran melihat tingkah Zelda yang terlihat aneh.
"Tidak pak. In ya pak." ucap Zelda sambil mengeluarkan uang tunai dari dalam tasnya kemudian dia keluar dari mobil.
Rumah sakit, aku sudah disini.
Zelda yang baru turun tampak memandang bangunan rumah sakit dengan perasaan yang berdebar.
Ada apa ini?
Kenapa kakiku percaya diri untuk berjalan masuk?
Bagaimana jika aku hamil?
Zelda yang masih bimbang memilih untuk membalikkan badan untuk berjalan menjauhi ruangan Obygn.
Apa-apaan aku ini! Harus nya aku senang dan menerima kenyataan.
Bagaiamana pun anak ini adalah anakku, darah dagingku.
Aku tidak ingin anak ini bernasib sama dengan bayi tadi.
Setelah membatin demikian, ia kembali melanjutkan langkahnya ke ruangan Obygn.
"Ada yang bisa dibantu Bu?" sapa seorang admin yang ada meja pendaftaran.
"Saya ingin periksa kandungan."
"Sebelum nya apa sudah pernah kesini atau ini yang pertama?"
"Baru pertama."
"Baik kalau begitu, saya daftarkan dulu. Untuk usia kandungannya sudah berapa bulan?"
"Entah, saya kemari justru ingin mengetahuinya."
"Baik kalau begitu, ditunggu dulu. Ini no antriannya. Silakan ditunggu disana ya, Bu."
Zelda duduk sambil memandangi nomer antrian yang ada ditangan nya. Terlihat beberapa no antrian di monitor satu persatu berjalan sudah terlayani.
Tiba-tiba no antrian Zelda dipanggil lengkap dengan nama Zelda.
"Ibu Zelda Azqila Putri." panggil seorang tenaga kesehatan dari dalam ruangan.
"Oh, ya." jawab Zelda sambil mengacungkan tangan ke atas lalu masuk ke dalam ruangan.
"Selamat sore, halo.." sapa dokter wanita kepada Zelda.
"Halo juga dokter."
"Pasti kehamilan pertama ya?"
"I-iya dok. Pertama."
"Usia kehamilannya apa sudah tahu?"
"B-belum dok."
"Kalau begitu, hari terakhir haidnya kapan ya, Bu?" tanya dokter tersebut dengan lembut.
Zelda yang ditanya bingung, ia masih berfikir kapan terakhir datang bulan, dan ditengah kebingungan nya tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Terlihat seorang lelaki dengan tubuh atletis dan wajah maskulin masuk lalu tersenyum ke arah dokter. Sedangkan Zelda yang masih berfikir hari terakhir haidnya tak menyadari jika ada seseorang yang masuk.
__ADS_1
"Permisi, maaf saya terlambat. Dia istri saya." ucap Horison lalu duduk disamping Zelda.
Zelda kaget dan tak percaya jika bosnya yang menjengkelkan berada tepat disampingnya dan mengaku sebagai suaminya. Raut wajah Zelda yang bingung kini berubah menjadi jengkel. Dirinya tidak ingin berdebat dan bertengkar di depan dokter.
"Kebetulan bapak datang, sepertinya di kehamilan pertama istri bapak terlihat nervous sampai tidak ingat kapan terakhir haid."
"Kamu nervous sayang? Kalau kamu tidak ingat kapan terakhir kamu haid, kamu bisa menyebutkan kapan kita pertama kali berhubungan? Malam pertama kita sayang?" ucap Horison sambil tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.
Mendengar itu Zelda menelan ludahnya dan memandang wajah lelaki yang seharian telah membuatnya jengkel. Rasanya ingin muntah dan tak percaya bahwa bosnya itu dengan lancar dan tanpa beban berucap seperti itu.
"Bisa dihitung dari situ juga kan, Dok?" tanya Horison kepada dokter yang tertegun dengan ucapan vulgarnya.
"I-iya bisa, Pak. Tapi kurang akurat jika siklus datang bulan ibu tidak teratur. Bagaiamana Bu, apa siklus haid ibu lancar?"
"Lancar." jawab Zelda sambil mengangguk.
Sialan! Kenapa dia mengaku-ngaku sebagai suami ku.
Dasar tidak tahu malu!
"Oh...kalau begitu silakan naik ke tempat tidur saya akan memeriksa nya biar terlihat lebih jelas."
Dengan perasaan jengkel, Zelda berbaring. Meski sedikit risih karena di ruangan itu ada orang yang tidak diundang masuk.
"Jika saya lihat dari sini, sudah masuk usia dua bulan Bu, bayi sudah sebesar kacang merah, panjangnya sekitar 2.7 sentimeter. Untuk telinga, bibir atas dan ujung sudah mulai terlihat."
"Apa ini nyata dok?" tanya Zelda kagum memandang monitor.
"Ya, kuasa Allah memang luar biasa, bukan? Seorang anak tumbuh di rahim ibu." ucap dokter sambil tersenyum dan mencoba menyalakan sebuah alat. "Coba ibu dengar, itu suara detak jantungnya," lanjut dokter kemudian mengambil tisu untuk membersihkan olesan gel yang ada pada perut Zelda.
Mendengar penjelasan dokter dan suara detak jantung janin pada perutnya membuat Zelda menetes kan air mata. Ia tak percaya Allah telah menitipkan janin yang kini telah berkembang dengan sehat di rahimnya.
"YaAllah, aku menjadi seorang ibu." ucap Zelda lirih.
Mendengar ucapan Zelda membuat Horison tanpa sadar tersenyum.
"Baik Bu, kalau begitu saya resepkan beberapa multivitamin, tolong selalu diminum ya, dan jangan lupa minum air putih dan susu secara teratur."
"Ya, dok." ucap Zelda sambil turun dari tempat tidur.
"Apa ada lagi yang ingin ditanyakan?"
"Sayang, apa ada pertanyaan lagi?"
Zelda tetap terdiam.
"Baiklah, ini saya berikan no ponsel saya, silakan hubungi atau kirim pesan ke saya jika ada yang ingin ditanyakan." ucap dokter sambil memberikan secarik kertas.
"Baik Dok, terimakasih. Kalau begitu saya pamit." ucap Zelda sambil berdiri dan berlalu.
Mengetahui jika Zelda akan bersikap demikian, Horison sengaja tidak beranjak dari tempat duduknya.
"Maafkan istri saya, semenjak dia hamil emosinya memang begitu."
"Iya pak, saya paham. Mungkin karena hormon kehamilan pak."
"Iya, baiklah dok. Saya pamit." ucap Horison kemudian berlalu dan keluar dari ruangan untuk menyusul Zelda.
Kenapa dia bersikap demikian?
Setidaknya jika dia tidak suka dengan caraku kenapa dia tidak menghormati ku sebagai atasannya!
Horison menuju ke bagian administrasi bermaksud untuk membayar biaya kontrol.
"Sudah pak, tadi dibayar istrinya."
"Oh ya, lalu ke arah mana sekarang ya istri saya?"
"Sepertinya masih di tempat farmasi,pak."
"Terimakasih." ucap Horison kemudian berjalan menuju ke bagian farmasi.
Benar apa yang dikatakan admin tadi, saat ini Zelda sedang duduk menunggu antrian. Tampak Zelda sedang mengamati foto hasil USG-nya tadi, sebuah senyum di bibir wanita berkulit putih tersebut membuat wajahnya berseri.
Ternyata mantan istri pak Yugo benar-benar cantik.
Seharusnya mereka bersama, hidup bahagia dengan anak yang sedang dikandungnya.
Saat dirinya memandangi Zelda, terdengar sebuah nama yang sedang dipanggil. Melihat Zelda tak kunjung berdiri meski namanya sedang disebut, Horison pun menghampiri kasir dan mengambil multivitamin yang tadi diresepkan dokter.
__ADS_1
"Saya suaminya." ucap Horison.
"Oh, ini ya pak."
Setelah menerima multivitamin segera Horison keluar dari ruangan dan menuju ke halaman rumah sakit untuk memasuki mobil. Namun saat sedang menyalakan mesin terdengar seseorang sedang mengetuk kaca mobilnya.
"Apa?"
"Mana?"
"Apanya?"
"Yang kamu ambil dariku."
"Apa?"
"Jangan pura-pura."
"Apaan sih, aku dari tadi disini."
Tin ... Tin ...
Suara klakson dari belakang menandakan bahwa mobil Horison telah menghalangi mobil lain, sehingga mau tak mau Horison harus segera menekan pedal gasnya.
"Lebih baik kamu masuk, lihat banyak orang yang ingin lewat terhalang olehmu."
Tak ada pilihan, Zelda memilih membuka pintu bagian belakang tetapi Horison dengan sengaja menguncinya agar Zelda duduk di sebelahnya.
***
Kini Zelda berada di dalam mobil tepat disampingnya, tak ada kata yang keluar diantara keduanya hingga sebuah nada telepon Zelda berbunyi.
"Telepon mu bunyi. Angkat atau buang ponsel itu. Berisik!"
Zelda tak memilih keduanya, dia memilih membiarkan ponsel itu tetap berdering.
"Kamu tidak dengar apa yang aku ucapkan tadi?"
Zelda memilih diam sambil memperhatikan jalan.
"Sebenarnya kamu siapa?" tanya Zelda tanpa memandang ke arah lawan bicaranya.
"Siapa? Ternyata hamil bisa membuatmu lupa ingatan dalam hitungan jam ya."
"Turun!"
"Siapa kamu memerintah ku?"
"Mana multivitamin tadi?" tanya Zelda yang mengalihkan pertanyaan bos nya itu dengan kata lainnya.
"Kamu kira aku membawanya?"
"Siapa lagi kalau bukan kamu, kamu kan yang tadi mengaku-ngaku sebagai suamiku makanya mereka memberikan nya padamu."
"Oh."
Sikap Horison semakin membuat Zelda semakin kesal, ingin rasanya ia berteriak, menjambak rambut orang disampingnya itu. Namun sadar dengan keadaannya yang hamil ia memilih untuk bersabar.
"Apa jawabanmu atas permintaan ku tadi siang?"
Zelda yang ingin menjawab keputusannya dengan menolak tiba-tiba harus urung karena ponselnya kembali berbunyi.
"Bu, maaf saya terlambat pulang. Baik bu, saya akan mampir kesana." jawab Zelda pada seseorang di seberang telepon.
"Tolong antar saya, ke alamat saya. Please ini penting, pak."
Mendengar permintaan Zelda mau tak mau Horison pun menurutinya.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih
__ADS_1