
"Siapa?"
"Aku."
"Untuk apa kemari?" tanya Zelda heran dengan kedatangan tunangan dari sahabatnya yang datang seorang diri.
"Kamu masih bertanya? Istri macam apa engkau ini? Bahkan sebelum disemayamkan engkau tak ingin melihatnya!" bentak Horison sambil masuk dan menunjuk Zelda.
"Aku -" ucap Zelda terbata, Zelda yang hendak bicara segera dipotong oleh Richard.
"Apa?! Kamu benar-benar keterlaluan! Dimana empatimu, dimana rasa kepedulian mu! Tidakkah engkau tahu bagaimana ia begitu menjagamu bahkan mencintai putrimu! Aku tak menyangka engkau wanita jahat!" maki Richard kepada Zelda.
"Cukup Richard! Aku tahu tidak seharusnya aku berada disini, aku sendiri tidak tahu kenapa aku disini. Seharusnya saat ini aku bersamanya!"
"Lalu kenapa engkau masih disini? Seharusnya kamu bersamanya!"
Merasa jengkel dengan lawan bicaranya Zelda mulai melewati Richard dan hendak membuka pintu kamar namun belum sempat dirinya keluar melewati pintu Richard menahannya dengan menarik keras tangan Zelda.
"Apa yang kamu lakukan! Lepas!" bentak Zelda sambil berusaha melepaskan tangan Richard.
"Dia tidak ada dikamar, saat ini ia sudah berada di kamar jenazah." jelas Richard kepada istri dari sahabatnya .
Setelah memberitahu kepada Zelda kini Richard yang berjalan melewati Zelda sambil menutup pintu kamar tersebut dengan keras.
Berbeda dengan Zelda, yang tiba-tiba kakinya terasa kaku tak dapat bergerak hingga lemas.
Richard yang tadi keluar dulu tak kunjung merasakan langkah seseorang berada di belakangnya, hingga ia pun mulai memelankan langkahnya namun tetap seseorang yang dia hafal bagaimana langkahnya masih tidak kunjung datang.
"Kemana dia? Kenapa ia begitu tega membiarkan suaminya kedinginan di ruang mayat!" gerutu Richard sambil kembali menuju keruangan tadi.
Richard yang jengkel dengan Zelda berjalan dengan langkah cepat karena ingin memaki istri dari sahabatnya itu.
"Dia sungguh keterlaluan! Seharusnya dia mengikuti langkah ku menuj -"
Langkah dan gerutua nya terhenti saat ia hendak masuk ke dalam dengan kondisi pintu sedikit terbuka, disana ia melihat Zelda sedang berada di lantai sambil berusaha berdiri.
"Zelda, apa yang kamu lakukan?" tanya Richard dengan suara lebih halus.
"Aku tidak dapat berdiri," ucap Zelda sambil menangis.
Melihat kondisi istri dari sahabatnya membuat Richard iba, ia pun segera keluar dan mencari kursi roda.
Setelah menemukan kursi roda segera ia memapah Zelda dan mendudukkan ke kursi roda tersebut.
***
Ruang Jenazah.
Zelda yang di dorong oleh Richard mulai memasuki sebuah ruangan yang cukup dingin. Tampak Zelda memejamkan matanya sambil berusaha menahan tangisnya saat melihat tubuh yang sangat ia kenal ditutupi oleh selimut.
"Tolong bawa aku kesana." pinta Zelda kepada Richard dengan suara parau.
Richard mengikuti kemauan Zelda dengan mendorong kursi roda ke tempat tidur yang ditunjuk.
Melihat suaminya yang diam tak bernyawa membuat Zelda reflek berdiri hingga ia lupa bahwa kakinya tiba-tiba lemah tak dapat digerakkan.
Bruk...(suara Zelda terjatuh).
Melihat Zelda terjatuh membuat Richard segera menolong dan membantu Zelda berdiri
"Aku masih tidak percaya jika ini adalah dirimu." ucap Zelda dengan menyeka air mata yang mulai tumpah. "Apa ini maksud dari permohonan maafmu.., jika ini maksud dari permohonan maafmu seharusnya aku tidak mau." lanjut Zelda sambil memegang lengan Horison yang masih tertutup oleh selimut..
"Jaga ucapan mu, apa kamu sadar ucapan mu itu membuatnya sedih." ujar Richard
"Maaf ... Maafkan aku jika aku membuatmu sedih karena ucapan ku tapi memang seharusnya bukan engkau yang meminta maaf harusnya aku...
Benar kata orang, istri macam apa diriku ini, aku tidak baik dan aku lemah.
__ADS_1
Maafkan aku suamiku ... Bisakah engkau membuka matamu, dan melihatku. Bangun sayang...bangun...!!!" teriak Zelda sambil menangis dan membuka selimut yang menutupi wajah suaminya.
Mendengar dan melihat Zelda teriak membuat Richard diam, ia tak menyangka jika Zelda benar-benar terlihat tersiksa dengan meninggal nya Horison, sahabatnya.
"YaAllah .... apa ini caramu mengujiku dengan mengambil semua orang-orang yang kusayangiiiii???" lanjut Zelda berteriak dengan suara yang lebih keras dengan menatap wajah suaminya yang terlihat sudah pucat.
Richard yang tadi sengaja membiarkan Zelda meluapkan kesedihan kini mulai ia coba untuk menghiburnya.
"Cukup Zelda, jangan membuat Horison semakin sedih. Ia tidak ingin engkau seperti ini."
"Apa yang harus aku lakukan Richard, aku terlambat, seandainya waktu dapat ku putar aku tak ingin menjadi Zelda yang bisa menangkap penjahat itu! Andai saja aku wanita biasa mungkin jalan hidupku tidak akan seperti ini, mungkin aku bisa bertemu dan hidup menua bersamanya." ucap Zelda sambil menangis.
"Kamu salah Zelda, dia mencintaimu karena engkau sangat tangguh, engkau kuat dan hebat."
"Aku tidak tangguh, aku tidak hebat dan aku juga tidak kuat. Aku tidak bisa hidup tanpa dia, aku lemah tanpanya.
Seharusnya aku memberi tahunya lebih awal tentang perasaanku. Aku terlambat ...." ucap Zelda sambil menangis.
"Diantara kalian tidak ada yang terlambat, ini adalah takdir, ingat Zee kelahiran dan kematian adalah salah satu takdir Allah yang tidak dapat diubah.
Dan apa yang terjadi sekarang sudah menjadi ketentuan Allah. Setidaknya kini Horison tak lagi merasakan sakit."
"Kamu benar .. Suamiku tak lagi merasakan sakit. Kamu benar ..." ucap Zelda mulai menyeka air matanya dan berusaha untuk tegar sambil menghapus bekas air matanya yang menempel di pipi Horison.
"Lebih baik sekarang Horison segera dimandikan dan dimakamkan, perbanyaklah berdoa. Dia akan bahagia dan tersenyum jika engkau tidak menangis."
Zelda mulai mengangguk dan menahan tangisannya meski beberapa tetes air mata masih keluar.
***
Pemakaman.
"Ibu ... Kenapa tempat ini mirip seperti tempat kita biasanya menjenguk kakek, nenek dan pak de? Ini makam siapa, Bu?" tanya Nata kepada ibunya.
Zelda hanya memandang putrinya sambil menahan air matanya.
"Kenapa ibu hanya diam sambil melihatku? Jawab bu, ini makam siapa? Bukankah seharusnya kita ke rumah sakit untuk melihat ayah?" tanya Nata kepada Zelda.
"Ibu ... Kenapa ibu diam? Dan kenapa mereka semua terlihat seperti menangis? Apa yang terjadi Bu? Katakan padaku Bu? Ayah baik-baik saja kan bu?" tanya Nata sambil memandang semua orang yang ada disana.
"Ayah tidak baik-baik saja." jawab Zelda data diatas kursi rodanya.
"Apa maksudnya Bu? Bukankah semalam ayah masih bercanda denganku? Ayo bu, kita ke rumah sakit sekarang."
Belum mendapatkan jawaban kini mulai terdengar suara sirine ada tiba dan mulai berhenti di makam tempat dimana Nata dan Zelda berada.
Nata yang melihat kedatangan mobil ambulan dengan tulisan jenazah membuat hatinya berdebar sangat kencang, satu persatu orang yang sangat dikenalnya sedang membawa jenazah dan mulai berjalan kearahnya.
"Ibu ..., apa ayah tiada?" tanya Nata sambil memandang wajah ibunya yang tak kunjung berhenti menangis.
"Uncle ... Dimana ayahku?" tanya Nata yang berlari ke arah Richard.
Mendapat pertanyaan dari gadis kecil yang amat disayangi nya membuat Richard tak tahan untuk diam hingga ia pun mulai keluar dari barisan rombongan dan mulai mendekati Nata lalu berjongkok.
"Kenapa uncle hanya diam sambil memandang ku?"
"Nata ... ayah disana, ucap Zelda dari belakang.
Nata tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Ibu ... Apa benar itu ayah?" tanya Nata sambil memegang tangan ibunya.
Zelda tidak menjawab, ia hanya fokus melihat jenazah suaminya yang tak lama lagi akan dimasukkan ke dalam liang lahat.
"Ibu .. Kenapa orang -orang menaruh ayah disana??? Ibu jangan biarkan ayah tidur disana." ucap Nata sambil menangis.
"Ayah tidak boleh disana, ayah tidak boleh meninggal, aku masih kecil ayah... Siapa yang mengajakku bercanda dan belajar? Ayah bangun ayah!!! Jangan tinggalkan aku dan ibu. Bangun yah!!!
__ADS_1
Ibu ... Ayah belum mencium keningku, bukankah ayah selalu melakukan itu jika akan pergi? Kenapa sekarang tidak Bu ???
Ayah ..." ucap Nata sambil menangis terisak.
Zelda yang tidak dapat berkata apa-apa hanya mampu meneteskan air mata sambil melihat suaminya dikuburkan dan mendengar suara tangisan putrinya yang meronta-ronta.
"Nata ... Sudah nak. Jangan seperti ini, jangan membuat ayah bersedih. Sebenarnya ayah tak ingin pergi meninggalkan kita namun kasihan ayah, kamu tahu kan ayah sedang sakit." jelas Zelda sambil merangkul putrinya yang kini berada di pangkuannya dengan suara tangis yang pecah.
Kini sebuah prasasti yang terukir nama, tanggal lahir dan kematian sudah menancap di tanah kubur tersebut, bunga segar juga sudah menghiasi gundukan tanah. Perlahan satu persatu kolega dan mulai meninggalkan makam. Kini hanya ada Richard, Anggie, Zelda dan juga Nata.
"Zee dan Nata ayo kita pulang, aku akan mengantarmu." ajak Richard.
"Aku masih ingin disini " jawab Zelda.
"Ajaklah Nata."
"Tidak mau."
"Kalau begitu aku dan Nata akan pulang bersama."
"Aku akan bersamamu." ucap Anggie.
"Pulanglah, biarkan aku dan putriku disini. Kami ingin disini. Kami berdua akan pulang sendiri."
"Tapi -"
Ucapan Anggie terjeda saat Richard memberikan kode.
"Baiklah, kalau begitu hati-hati." pamit Anggie.
Kini di sebuah makam hanya ada Zelda dan putrinya yang sedang menatap kuburan dengan tulisan Dodo Horison.
"Ibu ... Turunkan aku, aku ingin memegang ayah."
"Tapi berjanjilah untuk tidak menangis."
Nata hanya mengangguk dengan menahan air matanya.
Nata mulai mendekati kuburan ayahnya dan memeluk prasasti dengan foto yang masih ada disana.
"Ayah,,, pagi ini Nata tak percaya dengan apa yang terjadi, bagi Nata ini seperti mimpi, mimpi terburuk Nata, ayah ..
Ayah ... Semalam Nata bermimpi ayah tersenyum sambil melambaikan tangan, engkau hanya senyum tidak bicara, apa ini maksudnya ayah? Kenapa tidak kau jawab pertanyaan ku ayah????" ucap Nata sambil menangis.
Melihat itu Zelda yang sedari tadi menahan air matanya akhirnya tak sanggup ia pun sama menangis terisak diatas kursi roda, hingga ia mendorong rodanya sendiri untuk maju agar dapat memegang tanah kubur suaminya.
Bruk....(Zelda terjatuh)
"Ibu ...?" panggil Nata heran melihat ibunya yang jatuh.
"Bukankah sudah ibu bilang untuk tidak menangis, Nak."
"Maafkan Nata, Nata tidak bisa, Nata sudah berusaha tapi air mata Nata keluar sendiri Bu."
"Putriku, maafkan ibu melarang mu menangis tapi tolong jangan menangis karena semakin engkau menangis ibu pun juga akan ikut menangis." ucap Zelda sambil memeluk putrinya.
Dari kejauhan terlihat seorang pria tampan dengan pakaian serba hitam dan kacamata menutupi matanya terlihat menyeka air matanya dengan sapu tangan miliknya. Ia tampak ingin menolong kedua wanita itu namun ia takut jika kedatangannya akan membuat tidak nyaman.
"Aku turut berduka atas kepergian suami mu, aku percaya engkau wanita kuat Zee, begitu juga dengan Nata."
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
__ADS_1
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.