Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 33. KEKECEWAAN ZELDA.


__ADS_3

"Kak, apa yang kamu minta dari bunda?"


"Meminta izin untuk memintamu menjadi istriku?"


"Aku .. gak salah dengar kan?"ucapnya sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Tidak,"


"Bukannya kamu mencintai Sh-"


"Saat aku belum tahu jika dia telah bersuami." sela Yoga.


"Lalu kenapa harus a-"


"Zelda, kamu apa-apaan. Dicintai itu adalah anugrah, setidaknya lebih baik dicintai lalu belajar mencintai daripada harus mengejar cinta." sela Aisyah sambil memegang tangan anaknya yang berada di bawah meja agar tidak melanjutkan ucapannya.


Zelda pun memilih diam dan melihat buku menu yang barusan diberikan oleh pelayan.


Yoga tahu jika Zelda tidak terima dengan permintaan bundanya, namun mau bagaiamana lagi, dirinya mencoba egois dan lebih memilih perasaannya sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain, yaitu perasaan Zelda. Dia tidak mau tahu bagaimana perasaan Zelda sebenarnya dan siapa yang Zelda cintai.


Aku tahu kamu marah dan kecewa denganku,


Tapi, aku juga ingin merasakan cinta.


Dan memilihmu adalah hal yang tepat, kerena engkau hadir saat rasa ini mulai mati rasa.


Aku yang menunggumu lama hingga lulus tak akan semudah itu kulepas saat aku tahu beberapa Minggu yang lalu ada seorang lelaki yang mengaku adalah calon suamimu, bahkan dia mengetahui tempat dimana kamu menghilangkan kesedihan.


"Yoga, kenapa diam?"tanya Aisyah memecah suasana hening.


"Tidak Bunda, aku hanya takut jika Zelda akan menolakku.".


Seketika wajah Zelda berubah, ia yang tadi menunduk tak percaya dengan ucapan Yugo yang terkesan memaksa. Zelda menganggap Yugo sengaja berbicara demikian agar Aisyah memaksakan diri untuk menerima Yugo.


"Tidak akan, dia akan menerimamu. Karena Zelda adalah anak perempuan satu-satunya Bunda dan dia akan menuruti kemauanku." ucap Aisyah yakin.


"Aku bukan anak kecil yang harus menuruti semua aturan yang diberikan orangtua, aku ingin sebuah alasan. Apa yang membuat Bunda yakin jika kak Yoga adalah lelaki yang baik untukku?"

__ADS_1


"Karena dia memperlakukanmu dengan sopan, tak hanya itu dia memiliki bibit, bebet dan bobot yang jelas."


"Bukankah Yugo juga sopan dan bibit, bebet, bobotnya jelas?"


"Jangan sebut namanya lagi, Bunda tahu mana yang terbaik untukmu." bentak Bunda.


"Bunda tidak ingin berdebat, aku harap kamu mau menerima keputusan ini." Ucap Aisyah dengan tegas. 


***


Beberapa jam setelah pertemuan mereka di restauran, kini Zelda dan Aisyah berada didalam mobil untuk kembali ke apartemen. Sepanjang perjalan Zelda hanya diam, jujur dirinya kecewa dengan sikap Bundanya yang memaksakan kehendak.


"Apa kamu marah?"


“Bunda yang melahirkan ku, aku yakin bunda tahu perasaanku."


Mendapat jawaban seperti itu membuat Aisyah merasa bersalah, namun dirinya tidak dapat berbuat banyak saat tahu tentang keluarga Yugo. Dia yakin jika sikap seorang ayah pasti akan menurun ke anaknya, terlebih saat dirinya mendapat kabar jika selama Zelda tidak ada kabar ternyata sedang berduaan bersama dengan Yugo.


"Bunda tahu kamu kecewa dengan keputusan ini, tapi semua itu bunda lakukan untuk kebaikan dan masa depanmu."


"Apa yang bunda tahu tentang Yugo?"


Mendengar itu Zelda kaget, dia merasa hanya dia yang tahu rahasia tentang Yugo, tapi apa yang dijelaskan bundanya itu salah, karena cerita yang sebenarnya bukan seperti itu.


Tidak mungkin Bunda tahu, dan aku yakin ini adalah cerita Yoga,


Sepertinya saat aku mengintrogasi Yongki, Yoga telah mendengarkannya. Tapi ...,aku yakin sudah mematikan alat pengeras suara itu.


"Bunda, bicara tanpa bukti adalah dosa, dan apa yang Bunda ucapkan itu seperti menuduh."


"Aku berkata benar, cerita sesungguhnya memang begitu, bunda mengetahuinya dari Yoga saat ia mencari dirimu." ucap Aisyah lalu menutup mulutnya. Dirinya tanpa sadar mengucapkan bahwa ia mengetahui semuanya itu dari Yoga.


"Mencari aku?"


"Selama kamu tidak ada kabar, Bunda meminta bantuan Yoga untuk mencari keberadaanmu. Bahkan bunda tidak pernah menyangka jika kamu akan berbuat demikian bersama Yugo."


"Berbuat apa?"

__ADS_1


"Kamu pasti tahu apa yang sudah kamu perbuat dengan nya, jadi Bunda tak perlu mengatakannya lagi."


"Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa Bunda percaya dengan ucapan orang lain bukan dengan ucapan anak sendiri!"


"Jika kamu tidak melakukan apapun kenapa kamu harus mematikan ponsel mu tanpa harus memberikan kabar kepada Bunda. Apa kamu tidak tahu jika saat itu Bunda sakit dan hanya Yoga yang menemani bunda."


Mendengar penjelasan itu membuat Zelda paham jika Yoga sengaja berbicara bohong dengan menjelek-jelekkan Yugo dan memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil hati Bunda.


"Lagipula lelaki itu bukan lelaki baik, dia mencintaimu karena terpaksa. Almarhum ayah yang menolong dan merawatnya dari kecelakaan, hutang budi masih terbesit di dirinya. Bahkan itu terbukti saat dia sadar dari komanya, dia tidak mengingatmu kan? Bahkan setelah dia terapi pun dia tidak mencarimu bukan?? Sudahlah nak, jangan mengejar dia. Dia bukan orang yang tepat. Bunda yakin kelakuan ayah nya akan menurun kepadanya."


"Siapa yang mengejar nya?"


"Kamu! Dan kamu terlalu berharap agar dia membalas perasaanmu bahkan kamu merendahkan dirimu sendiri. Ingat Zelda dia berasal dari bibit yang buruk."


"Bukan semata-mata aku yang mengharapkan, tapi kami berdua sama-sama berharap dan saling mencintai.


Setelah lama tidak bertemu, kami dipertemukan kembali, dan itu bukan kehendak kami melainkan takdir. Asal Bunda tahu, lelaki yang pernah aku ceritakan saat kuliah ternyata dia," ucap Zelda sambil mematikan mesin mobil.


"Satu lagi, aku tidak pernah merendahkan diriku kepada siapapun. Maafkan Zelda harus mengatakan ini, kali ini aku kecewa dengan Bunda yang lebih percaya ucapan orang lain tanpa mencari tahu fakta dan kebenaran ceritanya." lanjutnya sambil keluar dari mobil dan menahan air mata.


Aisyah terkejut dengan sikap Zelda, ia merasa apa yang dikatakan putrinya benar. Namun dia tidak ada pilihan, merasa berterimakasih dengan Yoga karena selalu mendapat bantuan, sehingga merasa tak enak jika harus menolak permintaan Yoga yang berniat untuk meminang putrinya.


YaAllah, jika apa yang aku lakukan untuk memilihkan jodoh putriku salah maka ingatkan hamba.


Buatlah hati ini melunak jika memang lelaki pilihan Zelda adalah lelaki terbaik.


Hamba hanya ingin yang terbaik untuknya, karena selama dia dalam usia anak-nak hingga dewasa aku tidak berada disampingnya.


Merasa dirinya sedang menyakiti hati sang putri, ia pun memilih untuk tidak mengikuti Zelda masuk ke apartemen, melainkan memanggil taksi yang baru saja menurunkan penumpang dan pergi ke suatu tempat.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰

__ADS_1


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih..❤️❤️


__ADS_2