Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 55. GARA -GARA TERTIDUR


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba berhenti?"


"Jika tidak berhenti lalu kemana setir ini harus mengarah? Kamu pikir saya tahu isi pikiranmu tanpa diberitahu?"


"Ini." jawab Zelda sambil memberikan alamat bidan yang tadi dia datangi. "Tapi tolong mampir ke toko yang ada di seberang jalan." lanjutnya berkata.


Horison mengetik alamat pada sebuah aplikasi sebagai navigasi. Ia pun mengendarai sambil sesekali melihat ponselnya. Begitu juga dengan Zelda, yang terlihat fokus ke depan.


Tidak terasa kini mereka tiba di sebuah tempat yang dituju yaitu sebuah toko peralatan bayi, meski ukurannya tak sebesar dan selengkap di kota namun toko tersebut terbilang cukup besar di bandingkan sekelilingnya.


Kini mesin mobil pun berhenti, Zelda turun diikuti oleh Horison di belakang nya, sambil berjalan dan menaruh salah satu tangganya ke dalam saku ia memasuki toko itu.


"Dasar wanita, baru beberapa detik sudah banyak barang yang diraihnya. Lagi pula untuk apa beli sebanyak itu. Benar-benar pemborosan." gumamnya sambil melihat Zelda yang masih asyik memilih.


"Tolong bayar dulu ya, ATM kebetulan sedang tertinggal dan uang tunai hanya bawa 50ribu." ucap Zelda yang tiba-tiba berjalan mendekat ke arah Horison yang berdiri jauh darinya.


"Kalau begitu kembalikan saja. Beli sesuai uang yang kamu bawa."


"Tidak bisa, tolong lah pak," mohon Zelda sambil menyatukan kedua tangannya.


"Dasar wanita!" decak Horison sambil berjalan ke arah kasir.


***


"Ini tempat tinggal mu?" tanya Horison yang kini sudah berhenti di sebuah halaman rumah.


"Bukan."


"Lalu?"


"Turunlah." ucap Zelda sambil membuka pintu mobil.


Horison pun turun dengan tangan kosong tanpa membawa apapun, sedangkan untuk barang -barang yang dibelinya tadi kini dibawa sendiri oleh Zelda.


"Terimakasih, sudah ikut kemari." ucap Zelda lembut sambil mendekatkan diri kearah Horison.


"Apa? Coba ulangi." sambil mendekatkan telinganya di dekat mulut Zelda


"Terimakasih, sudah membelikan ini dan mengantar kemari."


"Membeli? Bukanya tadi akan diganti?" ucap Horison sambil mengembalikan posisinya yang tadi sedikit menunduk.


Ternyata dia ingat, aku kira lupa.


"Apa? Kamu pikir aku lupa dan akan menggratiskan ini semua."


"Tidak, tenang saja."


"Jangan pura-pura lupa, ingat janji adalah hutang, kondisimu sedang hamil, tak baik berbohong apalagi sampai pura-pura lupa. Kamu mau anakmu pandai berbohong nantinya."


"Apa sih! Kenapa dari urusan bayar beralih ke anak! Sudahlah, bawa ini." bentak Zelda sambil melotot, lalu memberikan barang-barang yang sedang ia bawa kepada Horison.


"Kenapa aku yang bawa?" teriak Horison kepada Zelda yang sudah berjalan mendahuluinya.


"Be. Rat." ucap Zelda ketus dengan memutus per-kata. "Ingat, ibu hamil tak baik membawa yang berat-berat." lanjutnya kemudian meninggalkan Horison dan masuk ke dalam.


"Dasar." gerutu Horison sambil menjinjing barang kedalam rumah tersebut.


Saat memasuki rumah, Horison merasa bahwa rumah yang ia masuki ini bukan rumah biasa melainkan rumah tempat praktek. Satu persatu barang yang ia bawa ditaruhnya di atas kursi dekat Zelda dan seorang wanita berhijab duduk, sedangkan dirinya memilih berdiri di dekat Zelda.


Rupanya barang-barang tadi bukan untuknya tapi untuk bayi yang ditemukannya pagi tadi.


Baik sih baik, tapi semu.


Semua barang tadi adalah aku yang membayarnya bukan dia.


Lagipula buat apa dia bersikap baik dan rela kemari, padahal bukan tanggung jawabnya. Bukankah sebaiknya dia pulang, dan segera beristirahat kemudian meminum vitamin dari dokter tadi.


Upps ... Kenapa, aku jadi perhatian padanya.


Tak sengaja perhatian kepada Zelda membuat Horison menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kini ia pun terpaksa untuk mendengarkan pembicaraan kedua wanita di dekatnya itu, sedikit kesal karena ia seperti diacuhkan. Kini, ia memilih untuk pergi keluar mencari makan.


Selesai makan, segera ia masuk dan hendak mengajak Zelda pulang.


"Apa kamu disini sampai besok pagi?" tanya Horison lirih sambil menghampiri Zelda yang sedang menggendong bayi.


"Tunggu, bayi ini baru tidur. Kasihan dia, sedari tadi tidak bisa tidur nyenyak."

__ADS_1


"Dia baru saja tidur karena sedari tadi kalian berdua berbicara terlalu keras dan itu benar-benar menganggu." celetuk Horison melampiaskan kekesalannya.


Mendengarkan celetukan Horison tidak membuat Zelda sadar dan segera bersiap untuk pulang, ia pun tetap menggendong bayi itu dengan lembut.


"Kalau gitu aku pulang dulu." ucapnya sambil meninggalkan Zelda.


"Pulanglah, tak masalah." ucap Zelda tetap tenang.


Namun saat dirinya melihat tas yang ada d meja bidan, dirinya sadar jika itu bukan tas miliknya, dan tanpa sadar ia juga meraba tubuhnya bahwa ia sama sekali tidak membawa tas. Dengan wajah panik ia melihat bidan dan memberikan bayi yang digendongnya kepada sang bidan.


"Bu Bidan, saya pamit dulu." pamitnya sambil tergesa-gesa.


"Ya, Bu. Hati-hati."


***


Di dalam mobil.


"Kenapa masuk?" tanya Horison yang sengaja menunggu Zelda di dalam mobil.


"Sudah malam, besok kita harus bekerja."


"Jangan lupa bayar hutang mu tadi." ucap Horison yang mengalihkan pembicaraan.


"Iya."


Horison yang masih memanasi mobilnya, sengaja tidak menekan gas mobilnya, karena sejujurnya ia tidak terlalu paham alamat rumah Zelda, meski beberapa bulan ini ia telah memantau keberadaan wanita yang akan ia nikahi itu.


"Kenapa mobilnya tidak berjalan, pak?"


"Kemana sekarang?"


"Pulang pak, saya sangat lelah. Ini alamat saya pak. Kira-kira 100 meter dari sini pak." ucap Zelda sambil menunjukkan peta yang ada pada ponselnya, setelah itu Zelda pun bersandar pada kaca sambil menghadap kearah jalan.


"Kamu kira dirimu saja yang lelah. Aku jauh lebih lelah." balasnya sambil tetap konsen menyetir.


Tanpa Horison sadari ternyata Zelda yang tadi berucap kini telah tertidur.


"Aduh, jam berapa ini? Kenapa rasanya mata ini begitu berat?" batinnya sambil melihat jam yang terpasang disebelah kiri tangannya.


Baru jam segini, mengapa aku sudah ngantuk!


Horison berusaha menyadarkan dirinya dengan memukul-mukul kedua pipinya dengan telapak tangan secara bergantian.


Kesal dengan dirinya ia pun mulai melampiaskan kesalnya dengan ingin mengajak wanita disampingnya beradu mulut,


"Putri!! Hei!" panggil Horizon kepada Zelda.


Kenapa dia tidak menjawab?


Jangan -jangan dia tidur.


Dasar, aku yang nyetir dia enaknya tidur.


Apa dia kira aku supirnya?!


Sabar-sabar semua ini demi pak Yugo.


Setelah bergumam sendirian kini Horison sedikit merasakan kantuknya hilang, ia pun kembali menambah kecepatan lajunya agar cepat sampai. Namun saat dijalan ia yang merasakan kantuk ditambah dengan dinginnya AC di dalam mobil membuat matanya semakin tidak bisa diajak kompromi.


Tak ingin membahayakan nyawanya dan nyawa wanita beserta bayi ia pun mulai menepikan mobilnya dengan tetap menyalakan mesin.


Aku akan berhenti sejenak, setelah itu akan ku lanjutkan.


Cukup lama, mobil mercy berwarna hitam keluaran terbaru itu berhenti di tepi jalan, membuat beberapa pengendara yang sedang melintas beserta orang -orang-orang yang sedang bersantai di warung penasaran dengan mobil tersebut.


Sekitar 10 menit berhenti, salah satu dari mereka pun terbangun. Zelda yang merasakan haus dan lapar merasa kaget, dirinya tak menyangka jika saat ini dirinya masih berada di pinggir jalan.


Masih tak percaya dengan yang ia lihat, Zelda pun kembali membelalakkan matanya sambil menoleh ke samping.


Ha?? Dia tidur??


Apa dia sadar, kita berada dimana??


"Pak! Pak! Bangun!" teriak Zelda sambil menepuk pelan pundak dan punggung Horison.


Kenapa tidak bangun-bangun?!

__ADS_1


Bagaiamana ini?


Apa aku kurang keras menepuk nya?


"Pak, bangun pak!" teriak Zelda yang kini menepuk pundak Horison lebih keras.


Kedua cara yang dilakukan untuk membangunkan bosnya tidak membuahkan hasil. Justru tindakannya tersebut semakin membuat salah paham orang -orang sekitar.


***


Tok!


Tok!


"Ckck, siapa yang mengetuk kaca dengan kasar?" tanya Zelda kepada dirinya sendiri dengan nada kesal.


Zelda yang tak dapat membuka pintu kaca karena posisi kepala Horison bersandar pada kaca mobil.


Dirinya berusaha tenang meski ketukan itu semakin keras terdengar, ia pun perlahan menaruh kepala bosnya agar bersandar pada kursi, lalu dirinya mulai membuka kaca jendela.


"Apa yang kalian lakukan?" tanya seseorang yang tidak Zelda kenal.


"Tidak ada, kami berdua tertidur disini. Kami kelelahan." jawab Zelda yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Apa yang sudah kalian lakukan sampai kelelahan dan tertidur disini."


"Maaf maksud nya apa? Kami benar kelelahan. Dan aku sedang membangunkannya."


"Dasar orang kota! Kamu kira kami tidak tahu apa yang sudah kalian lakukan hingga kelelahan!"


"Maksud bapak apa?" tanya Zelda yang masih tidak paham maksud beberapa orang yang sedang menghampirinya.


"Kalian sedang bermain di mobil kan?"


"Bermain di mobil? Maksud nya bagaiamana ya pak? Jelas-jelas kami sedang kelelahan, makanya kami tertidur."


"Kamu kira aku bod*h, tadi jelas terlihat mobil bergoyang! Coba suruh keluar temanmu! Aku yakin dia sedang tidak berpakaian kan!"


"Gila! Hanya orang yang tidak waras berfikir demikian." ucap Zelda kesal sambil keluar dari mobil.


"Jangan banyak bicara, mana temanmu yang belum pakai baju itu!"


"Pak! Jaga ucapan bapak! teriak Zelda dengan cukup keras. "Kalau tidak percaya, masuk dan lihatlah ke dalam!"


Salah seorang warga yang sedari tadi curiga mencoba membuktikan ucapan Zelda, ia mencoba memasukkan kepalanya ke dalam mobil yang pintu kaca nya terbuka.


Seperti nya benar ucapan wanita itu, aku tidak mencium bau khas kenikmatan disini.


"Tapi mengapa mobil ini berhenti cukup lama bahkan bergoyang?" tanyanya kepada temannya setelah kepalanya masuk ke dalam mobil.


Zelda pun menjelaskan apa yang tadi dia lakukan di dalam mobil. Nada suara Zelda yang cukup keras dan tegas membuat lelaki di dalam mobil yang sedang tertidur pulas terbangun.


Suara siapa itu? Kenapa begitu nyaring.


Dengan keadaan yang belum sadar, Horison mengusap kedua matanya dengan tangannya, ia pun melihat kesamping dan kaget, saat melihat Zelda tidak ada disampingnya. Tak hanya itu ia juga heran saat melihat keadaan kaca mobilnya yang terbuka lebar.


Kenapa dia diluar bersama banyak orang?


"Apa yang kamu lakukan di luar." panggil Horison dari dalam mobil.


Zelda yang sibuk menjelaskan kesalahpahaman tidak mendengar namanya dipanggil.


Ada apa sebenarnya, kenapa begitu ramai?


Horison yang sudah mulai sadar segera melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.


"Ada apa ini?" tanya Horison kepada Zelda dan orang-orang


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2