
"Suamiku..." teriak Zelda sambil menangis.
"Ibu ....ini ayah." ucap Nata yang juga melihat siapa pria yang tertelungkup di jalan.
"Kalian selamat." ucap Horison dengan tenang dan tersenyum sambil melihat wajah istri dan anaknya. "Aku mencintai kalian." lanjut Horison berbicara lirih lalu menutup matanya.
"Tolong ayahku!!!! Tolong ayahku!!!" teriak Nata kepada orang disekitar.
Sedangkan Zelda yang dengan sedang menyelonjorkan kakinya untuk menopang kepala Horison agar berada di pangkuannya.
Setelah membaringkan suaminya Zelda mencoba menghentikan pendarahan pada luka tembak yang berada di lengan Horison dengan menyobek kain bajunya sendiri.
Krekkk (terdengar suara robekan)
Setelah membalut luka di lengan kini Zelda mulai membuka paksa baju suaminya yang terdapat rembesan dar*h.
"Bertahanlah sayang," ucap Zelda yang mulai frustasi saat melihat Horison sudah tak sadarkan diri.
"Sayang!!!" teriak Zelda sambil mengecek pernafasan Horison di hidung lalu memegang pergelangan tangan suaminya, kemudian ia segera melakukan CPR.
Beruntung, tidak lama kemudian terdengar suara sirine mobil polisi diikuti dengan mobil ambulan yang terdengar begitu dekat lalu berhenti tepat di sampingnya.
"Tolong selamatkan suamiku." ucap Zelda kepada petugas kesehatan yang keluar kemudian mulai mengangkat suaminya dengan stretcher.
Sedangkan Nata yang sedari tadi berada disamping Zelda justru meminta tolong kepada pria yang keluar dari mobil polisi.
"Paman polisi, tolong ayahku. Ayahku tertembak." ucap Nata sambil menangis.
"Pasti sayang, paman akan mencarinya. Lebih baik engkau ikut ibumu dengan ambulan untuk kerumah sakit." ucap seorang polisi tanpa melihat siapa ibu dari anak tersebut.
Nata pun mengangguk lalu berlari dan masuk ke dalam mobil ambulan bersama ibu juga ayahnya yang sedang terbaring.
Didalam ambulan Zelda tak henti-hentinya mencium kening suaminya sambil berdoa dan menggenggam erat tangan Horison.
"Sayang bertahanlah!" ucap Zelda sambil menangis lalu merangkul putrinya yang ikut menangis.
"Ibu, ayah kenapa diam saja?"
"Berdoalah sayang ..." ucap Zelda berusaha tegar sambil mengusap tangis putrinya.
***
Dirumah Sakit.
"Tolong selamatkan suamiku." ucap Zelda kepada dokter yang hendak memasuki ruangan operasi.
"Pasti Bu,"
Di ruang tunggu operasi Zelda berdoa ditemani dengan putrinya Nata, tak berselang lama muncul Richard bersama Anggie yang berjalan dengan langkah tergesa-gesa.
"Bagaimana Horison?" tanya Richard kepada Zelda.
"Ayah sedang d ruang operasi." jawab Nata dengan suara bergetar.
Seketika Anggie memeluk Nata sambil mengusap air mata yang keluar dari matanya.
"Nata berdoa ya, semoga ayah segera sehat dan bisa bermain lagi bersama Nata."
Tak lama kemudian terlihat seorang perawat keluar dan menghampiri Zelda.
"Maaf apa dari kalian ada yang berdarah O?"
Keempat orang dewasa disana saling memandang termasuk perawat yang sedang menunggu jawaban. Zelda yang memandang Richard dan Anggie berharap salah satu dari mereka memiliki golongan darah yang sama dengan Horison.
"Aku B." jawab Anggie.
"Aku AB." jawab Richard.
__ADS_1
"Kalau begitu aku saja, setidaknya cek dulu golongan darahku, semoga sama dengan suamiku." ucap Zelda yang cemas karena mengetahui bahwa suaminya memerlukan darah.
"Baiklah mari ikut sa -."
"Golongan darahmu bukan O, ambil saja darahku, darahku adalah O." ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul dan memotong pembicaraan perawat dengan Zelda.
Zelda yang mendengar suara tersebut merasa tak asing. Ia yang enggan menoleh mencoba untuk memejamkan mata dan mengambil nafas panjang.
"Aku akan menjadi pendonor untuk suamimu, lebih baik kamu disini menunggunya hingga dia sadar." ucap seseorang yang masih berada di belakang Zelda.
Anggie yang mengetahui siapa pria tersebut hanya dapat merangkul Zelda sedangkan Richard yang pura-pura tidak mengenal mengucapkan terimakasih kepada pria tersebut.
"Kalau begitu ikut saya." ucap seorang perawat diikuti oleh si pendonor.
Zelda yang masih enggan menoleh mencoba tetap berdiri sambil berpandangan lurus tanpa melihat wajah pria tersebut.
Mengetahui pendonor darah untuk suaminya membuat Zelda tidak memiliki pilihan selain menerimanya agar sang suami dapat tertolong.
***
Sehari dirumah sakit membuat Zelda terus saja menangis sambil berdoa berharap agar suaminya segera sadar dan bangun dari komanya.
Apa Zelda lakukan membuat seseorang mengintip dari balik pintu, ia terlihat ikut meneteskan air mata mengingat bahwa dirinya pernah berada diposisi terbaring seperti itu sambil ditemani oleh wanita yang kini berada disana.
"Maaf, anda keluarga pasien?" tanya seorang pria dengan jas berwarna putih.
"Ya."
"Kalau begitu masuklah, setidaknya tolong hibur istrinya, dia tak henti menangis dan berdoa disamping suaminya."
"Nanti saja. Saya tunggu saja diluar."
Setelah itu dokter pun mulai masuk dan memeriksa keadaan Horison yang masih terbaring dengan beberapa bantuan alat yang terpasang.
"Bu ..., berdoalah selalu dan tolong hapus air mata ibu karena saat ini pasien sedang berjuang."
"Luka di dadanya yang parah namun yakinlah dengan kekuatan doa beliau segera sadar dan sembuh.
Kalau begitu saya pamit dulu, ingat pesan saya ya Bu." ucap dokter sambil keluar dari ruangan tersebut.
Tak lama kemudian setelah dokter keluar muncul Richard ditemani Anggie memasuki ruangan dimana Zelda menunggu suaminya.
"Kemana Nata?" tanya Zelda kepada Richard yang baru sampai.
"Dia sedang menemui pendonor darah ayahnya." ucap Richard yang pura-pura tidak tahu siapa pria yang mendonorkan darah.
Mendengar itu Zelda segera keluar untuk mencari keberadaan putrinya.
Ya Allah, hamba akan selalu berprasangka baik padamu. Namun, apakah ini caramu untuk mempertemukan putriku dengan ayah kandungnya?
Ya Allah, apa ini waktunya Nata harus tahu disaat pria yang selalu dipanggil nya ayah sedang berjuang untuk hidup??
Sambil berjalan Zelda berucap dalam hati, ia yang terlihat bingung mencari keberadaan putrinya ingat bahwa saat ini sang putri sedang menemui pendonor darah ayahnya.
"Suster, bisa saya bertemu dengan -" ucap Zelda dengan sedikit berfikir kalimat apa yang tepat untuk ditanyakan.
"Pasti ibu sedang mencari pendonor ya? Kebetulan dia sedang berada di taman bersama putri ibu."
"Terimakasih."
Setelah mengetahui keberadaan putrinya kini ia mulai ragu-ragu untuk berjalan ketempat dimana Nata berada, ia mencoba kembali namun sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Ibu...." panggil Nata dengan suara lembut.
Merasa sedang dipanggil oleh sang putri segera ia menoleh tanpa tahu sedang bersama siapa putrinya saat ini.
"Sayang .." ucap Zelda setelah berbalik kebelakang. "Darimana saja kamu, sayang?" tanya Zelda sambil berjongkok.
__ADS_1
"Aku baru saja bertemu dengan seseorang yang mendonorkan darah untuk ayah. Aku sudah mengucapkan terimakasih padanya, tinggal ibu sekarang."
Mendengar itu Zelda terpaksa tersenyum.
"Ayo kita ke ruangan ayah, sekarang."
"Tunggu Bu ... Itu dia, Bu." ucap Nata sambil menunjuk ke arah datangnya pria yanh dimaksud.
Zelda mulai mengatur nafas dan menelan ludahnya untuk mengatur ucapannya agar dapat bersikap biasa.
"Hai cantik." sapa pria tampan tersebut sambil berjalan ke arah Nata dan Zelda.
Zelda yang masih berjongkok menghadap putrinya belum juga berdiri hingga membuat Nata kembali menggoyangkan tangan ibunya.
"Ibu berdirilah, ini teman paman baik tadi. Paman ini juga baik dia sudah berhasil menangkap orang yang menembak ayah."
Zelda yang tadi membuang nafas merasa lega bahwa pria yang dibelakangnya bukan Yugo.
"Ter-- ." ucap Zelda berhenti saat ia berdiri dan menoleh kebelakang melihat lawan bicaranya.
"Zee ..." sapa pria tersebut sambil menatap Zelda dalam.
Sejenak situasi menjadi hening lalu tak berselang lama muncul Yugo dari arah berlawanan.
"Bagaiamana apa suamimu sudah sadar?" tanya Yugo memecah keheningan.
"Semoga segera sadar, kalau begitu aku dan putriku kembali dulu. Aku harus menemani nya. Terimakasih telah membantu kami sekeluarga." ucap Zelda tanpa melihat ke arah Yugo lalu ia berjalan menggendong Nata.
Nata yang digendong oleh ibunya hanya melambaikan tangannya kepada dua pria yang tadi berbicara kepadanya, dan dibalas oleh keduanya terutama Yugo yang melihat sambil menitihkan air matanya.
Setelah kepergian Zelda kini Yoga yang hendak bertanya segera di dahului Yugo sambil berucap, "jangan bertanya apapun, lebih baik kita segera menemui penjahat itu sekarang." sambil berucap Yugo berjalan menuju parkiran diikuti oleh Yoga.
***
Di ruang perawatan.
"Ayah ini Nata." ucap Nata yang masuk lalu menghampiri Horison yang masih terbaring dan belum sadar.
"Apa kamu ingin makan?" tanya Anggie yang berada di dalam sedari tadi.
"Tidak aunty, aku tadi sudah makan bersama dua pria tampan."
"Pria tampan? Siapa?" tanya Anggie heran.
"Sepertinya kedua paman tadi mengenal ibu, karena dia memanggil ibu sama seperti aunty memanggil ibu, Zee."
Seketika Anggie mulai mengerutkan dahinya sambil memandang ke arah Zelda.
Zelda yang dipandang pura-pura tidak melihat ia hanya fokus melihat suaminya.
Mengetahui ada sesuatu yang sedang dipikirkan membuat Anggie memilih diam dan tidak bicara apapun, yang dirinya tahu bahwa sahabatnya saat ini sedang bersedih.
Tak berselang lama terdengar suara ketukan dari luar, mendengar itu Anggie berdiri dan membuka pintu, seketika matanya melotot dan ia terdiam melihat seseorang yang berada dibalik pintu tersebut.
...
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.
__ADS_1