
"Bunda ...!" panggil Zelda lirih.
"Kamu sudah bangun Nak, apa kamu baik-baik saja?"
"Aku dimana? Ada apa ini?"
"Jangan takut, kamu bersama kami." ucap Yugo yang berdiri di dekat Aisyah.
Zelda yang mendengar suara dan melihat wajah kekasihnya merasa bahagia namun dapat dilihat dari raut wajahnya ia merasa heran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Dirinya yang baru sadar belum 100% pulih, pandangan matanya masih terasa berkunang-kunang namun ia berusaha fokus dengan melihat orang-orang disekitarnya.
"Mbak?!" sapa Zelda sambil tersenyum heran sekaligus kaget kepada seorang wanita cantik yang sedang berdiri di dekat ibunya.
"Bagaiamana keadaanmu?" tanya Shashsa sambil mengelus kaki Zelda yang tertutup selimut.
"Masih pusing, ucap Zelda lirih sambil tetap memijat keningnya.
"Zelda, aku minta maaf." ucap Rianda yang menghampiri sambil memeluk Zelda.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Kakak mengucapkan maaf?" tanya Zelda heran sambil mencoba berfikir tentang apa yang telah terjadi.
Zelda berusaha mengingat kejadian sebelumnya sambil memijat keningnya yang masih terasa pening, dirinya tak percaya dengan sesuatu yang tiba-tiba terlintas di benaknya, sebuah ingatan saat dirinya yang datang menghampiri Yoga dan duduk disampingnya untuk memprotes karena telah memfitnah Yugo, dan sesuatu yang tidak pernah ia duga terjadi, tiba-tiba Yoga mengeluarkan sebuah botol lalu menyemprotkannya tepat pada wajah. Setelah itu dirinya tidak mengingat apapun.
"Tidak ... , bukan Kakak yang minta maaf tapi kak Yoga."
"Dia terlalu malu untuk menemui mu, dia mengaku bahwa dia salah."
"Tapi aku ingin dia mengakuinya sendiri."
"Baiklah, kalau itu maumu. Akan ku panggil dia." ucap Rianda lalu keluar untuk memanggil adiknya yang masih berada di rooftop.
Saat ini Yoga sudah turun dan menghampiri Zelda yang sedang terbaring di kursi.
"Ze ... Ze ... maafkan aku," ucap Yoga lirih sambil tetap menunduk.
Daniel dan istrinya memahami situasi yang sedang terjadi, melihat sahabat istrinya sudah sadar ia pun mengajak Shasha untuk pergi ke luar karena tidak ingin mencampuri urusan pribadi dari rekan bisnisnya.
Kepergian Daniel diikuti oleh Dion yang mengajak serta Rianda.
"Lebih baik kita menjauh, biarkan adikmu menyelesaikan masalahnya. Setidaknya tadi kita sudah memberinya nasihat." bisik Dion kepada kekasihnya tersebut.
Kini di ruangan yang luas itu hanya ada Bunda, Zelda, Yoga dan juga Yugo.
"Keluarlah!" pinta Zelda lirih sambil mengisyaratkan kedua matanya menatap Yugo.
Yugo yang tak ingin keluar hanya menggelengkan kepala sambil menatap ke arah wanitanya, namun tatapan mata Zelda yang tajam membuat dirinya paham bahwa kekasihnya itu sedang serius dan tak ingin bergurau.
Akhirnya dengan langkah pelan Yugo menuruti kemauan kekasihnya itu untuk berjalan keluar.
***
__ADS_1
Kini di dalam ruangan hanya ada tiga orang yaitu Aisyah, Zelda dan Yoga.
Berada didalam ruangan membuat Yoga semakin merasa bersalah kepada kedua wanita tersebut. Tanpa ia sadari ternyata dengan cepat Aisyah telah mengetahui kebenaran tentang keluarga Yugo.
"Maafkan Bunda, seharusnya sebagai orangtua bisa menyaring semua informasi yang diterima serta tidak mudah percaya begitu saja apalagi menyangkut kebahagian putriku."
"Apa artinya Bunda sudah mengetahuinya?" tanya Zelda tak percaya.
"Ya, setelah perdebatan kita Bunda merasa ada sesuatu yang harus Bunda cari tahu sendiri."
"Saya minta maaf, saya mengaku salah."
"Sebelum kamu minta maaf Bunda sudah memaafkan, namun kenapa kamu harus berbohong tentang sebuah fakta yang sebenarnya kamu sudah mengetahuinya? Apalagi sampai membuat orang percaya dengan perkataan mu."
"Semua itu saya lakukan karena saya mencintai Zelda, anak Bunda adalah obat bagi saya untuk menghapus rasa ketidak percayaan saya."
"Apa yang membuatmu tidak percaya dengan diri sendiri?"
"Saya gagal mempertahankan cinta pertama saya, cinta pertama pada pandangan pertama."
"Kamu tidak gagal Kak dan kamu tidak salah karena cinta itu hadir tanpa permisi. Cinta bebas memilih kepada siapa akan berlabuh namun yang salah adalah jika cinta itu yang bisa mengendalikan kita."
"Kamu benar. Bunda dengar sendiri ucapannya, ucapan anak Bunda selalu bisa membuat saya merasa tenang. Dia berbeda, sikap dan kedewasaannya membuatku kagum bahkan rasa cinta ini semakin tumbuh."
"Tidak, kamu tidak mencintai Zelda, tapi kamu berambisi memilikinya karena Zelda memiliki paras cantik seperti Shasha, istri pak Daniel kan?"
"Zelda memang mirip dengan Shasha namun mereka berbeda, keberadaan itulah yang membuat saya tertarik dengan Ze."
"Bunda minta maaf, bunda terpaksa harus mengatakan dan menolak permintaanmu yang kemarin, karena bagi bunda kejujuran adalah syarat mutlak untuk menyeleksi siapa yang lelaki yang tepat untuk Zelda. Saya benci dengan kebohongan.
Sebuah kebohongan akan terlihat kecil bagi orang yang berbohong dan sebaliknya, kebohongan terlihat besar bagi orang yang dibohongi."
Yoga terlihat menerima keputusan Aisyah yang dengan sadar menolak permintaannya dan memaafkan kesalahan yang diperbuatnya kepada Zelda.
"Sekarang jawab jujur, apa yang sudah kamu lakukan pada Zelda selama kamu membiusnya?" tanya Aisyah penasaran, dirinya khawatir jika Yoga telah melakukan sesuatu yang tak terduga.
"Aku hendak membuatnya halal."
"Membuatnya halal? Maksudnya?"
"Aku berencana menikahi nya."
"Menikahinya dengan meminta bantuan ketiga lelaki tadi? Jangan bilang kamu hendak menikahi Zelda secara sirih dengan keadaan dia tidak sadar seperti ini?" tanya Aisyah tak percaya.
"Maafkan saya, saya tidak ada pilihan selain melakukan itu."
Bug!
Bug!
__ADS_1
Yugo tiba-tiba muncul, meninju wajah Yoga yang sedang tertunduk. ternyata sedari tadi dia tidak keluar namun bersembunyi di balik kursi.
Yoga hanya bisa pasrah dan diam mendapat pukulan yang kesekian kalinya dari rivalnya tersebut.
"Dasar bedeb*h, aku tahu apa isi pikiranmu jika kamu berhasil menikahi Zelda, kamu ingin meniduri nya dan berharap ia akan mengandung anakmu kan sehingga tak ada pilihan bagi Zelda untuk menolakmu."
"Ya."
"Bangs*t kau!" ucap Yugo yang hendak kembali memukul wajah Yoga namun tanpa mereka semua sadari ternyata Dion dan Daniel sudah memasuki ruangan tersebut karena kembali mendengar keributan.
"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Yugo dengan meronta.
"Sabar pak, kami berdua tahu rasanya bagaiamana perasaan bapak." ucap Daniel.
"Mungkin anda sudah mengerti bagaimana kisah saya dan istri, bahkan saya dan Dion dulu adalah musuh namun justru sekarang kami bersahabat."
"Benar, setidaknya tidak ada yang berkurang dari Zelda." ucap Dion sambil menepuk pundak Yugo.
Yugo yang masih tersulut emosi mencoba meronta namun teriakan Zelda membuat dirinya tersentak kaget.
"Cukup!!!" teriak Zelda. "Karena tidak ada apapun yang terjadi diantara kita selama aku pingsan maka aku akan memaafkan, dan aku ucapkan terimaksh karena telah mengajariku semuanya, sebuah kepedulian, kasih sayang, pengajaran, aku ucapkan terimakasih Kak. Tapi aku harap pembicaraan kita ini adalah pembicaraan terakhir."
"Terakhir? Maksudmu apa Ze?"
"Kita tidak akan bertegur sapa jika bertemu."
"Kenapa? Kenapa kamu lakukan itu, Ze?"
"Karena itu cara satu-satunya aku bisa memaafkan sepenuhnya dan membuatmu untuk belajar melupakan ku."
Yoga tak percaya dengan apa yang diucapkan Zelda, dia sendiri tidak tahu bagaimana jika ia harus hidup tanpa melihat dan berbicara dengan Ze. Mungkin dirinya akan tersiksa namun demi mendapat maaf Zelda maka ia berusaha.
"Baiklah, jika itu keputusan mu maka aku akan berusaha berjanji pada diriku."
"Jangan berjanji jika engkau tidak dapat menepati," ucap Yugo sinis.
"Aku akan berusaha melepas rasa ini, meski sulit aku akan berusaha."
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih..❤️❤️
__ADS_1