
Selama meeting berlangsung Horison tidak terlalu fokus, sesekali ia terlihat tersenyum sendiri, tak tahu apa yang menyebabkan dirinya tersenyum sendiri. Kejadian tak biasa itu membuat Richard diam-diam mengambil foto Horison.
Baru kali ini aku melihat dirimu tersenyum, apakah dia yang telah merubah duniamu?
Jika memang dia maka aku akan membuat kalian berdua bersatu dan tak terpisahkan.
Jam sudah menunjukkan pukul delapan, Horison terlihat tidak tenang, dalam benaknya ia khawatir dengan Zelda yang ia tinggalkan sendirian.
Beberapa saat kemudian setelah lama menunggu akhirnya meeting telah usai, dengan cepat dia berdiri dan keluar ruangan meeting, Richard yang berada di dekatnya juga keluar mengikuti Horison.
"Kenapa kamu tergesa-gesa?" tanya Richard yang berada di belakang Horison.
"Tidak perlu tanya, kamu pasti tahu." ucap Horison sambil berjalan.
Richard tersenyum dan mengerti maksud dari sahabatnya itu.
Tak puas dengan jawaban sahabatnya Richard mulai menggoda dengan menghalangi langkah sahabatnya.
"Tolong jangan ke kanak-kanakan!" ucap Horison dengan wajah kesalnya.
"Tidak, aku hanya ingin melihat dari dekat wajah sahabatku yang sedang kasmaran."
"Kasmaran? Siapa? Aku?"
"Ya, sahabatku sedang kasmaran. Dia sedang terkena panah asmara." ucap Richard dengan nada seperti seorang pujangga.
"Jangan sembarangan, bagaiamana bisa kamu menilai aku sedang kasmaran sedangkan dirimu saja belum pernah merasakan."
"Sembarangan kamu, aku sudah merasakannya beberapa jam yang lalu."
"Oh ya? Cinta saat di laundry?"
"Tepat sekali, dia adalah wanita itu."
"Mencintai dalam diam memang lebih baik." ucap Horison sambil berlalu.
Mendengar ucapan Horison membuat Richard berfikir maksud dari perkataan sahabatnya itu, tak lama kemudian ia merasa tersadar bahwa Horison tidak berada di dekatnya.
"Tunggu! Bagaiamana dengan ini?" teriak Richard yang masih melihat punggung Horison.
Horison menghentikan langkahnya, " Apa?" tanya Horison sambil membalikkan badan.
"Buka ponsel mu, aku telah mengirimkan sesuatu." perintah Richard keras.
Horison mencoba mengambil ponselnya di dalam saku.
Bukannya membuka pesan yang dikirimkan Richard ia malah menjawab perintah sahabatnya itu dengan menelfon, "Aku akan membukanya nanti, tunggu di bawah."
"Dasar, kelakuan orang kasmaran memang selalu diluar nalar. Kenapa juga menelpon padahal jarak hanya kurang dari lima meter." gerutu Richard sambil berjalan menuju lift untuk menunggu Horison di dalam mobil.
Melihat Richard yang sudah berlalu menuju ke dalam lift, begitu juga dengan Horison yang kini sudah berada di depan ruangannya dan mulai membuka pintunya.
Aku meninggalkan nya cukup lama,
Dalam diam Horison bertanya -tanya pada dirinya sendiri tentang apa yang sedang dilakukan Zelda selama dirinya meeting.
Apa dia masih tidur?
Masa iya? Seharusnya dia saat ini sedang bangun dan melihat TV,
Kenapa tidurnya lama sekali?
Horison mulai membuka kamar yang ada dibalik meja kerjanya. Dilihatnya tempat tidur yang kosong.
Kemana dia?
Apa di toilet?
Segera ia mendekat ke toilet.
"Apa kamu di dalam?" tanya Horison sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari dalam toilet, dicoba untuk menunggu beberapa saat, cukup lama menunggu Horison semakin khawatir hingga ia memberanikan dirinya untuk membuka pintu toilet dan benar ia tidak menemukan Zelda.
"Kemana dia? Bagaiamana bisa dia keluar dari ruangan ini?" gumam Horison sambil menuju ke meja kerjanya untuk melihat CCTV.
Belum sempat ia melihat rekaman CCTV ponselnya berbunyi. Terlihat sebuah nama yang pernah dia ketik sebelumnya.
"Calon istriku? Nomor ini ?" tanya Horison pelan sambil memegang ponselnya, dengan ragu ia mulai mengangkat panggilan telepon tersebut.
Horison : "Halo!" jawab Horison.
Zelda : "Apa kamu mencariku?"
Horison. : "Tidak!" bohong Horison.
Zelda : "Oh, baiklah." ucap Zelda yang hendak menutup teleponnya namun terdengar suara dari seberang.
Horison : "Tunggu!"
__ADS_1
Merasa ada ada suara dari seberang membuat Zelda tidak jadi mematikan sambungan teleponnya.
Zelda : " Apa?"
Horison : "Apa kamu ingin sesuatu untuk dimakan?" tanya Horison basa-basi.
Zelda : "Ubi madu hangat, apa kamu ingin membelikan untukku?"
Horison : "Tidak, lebih baik pesanlah lewat online. Sudah dulu aku masih sibuk." ucap Horison lalu menutup teleponnya.
Setelah menutup teleponnya segera Horison mencari keberadaan Zelda lewat ponsel.
"Ternyata dia sudah di rumah, tapi kenapa dia keluar tanpa seizin ku? Bukankah aku sudah melarangnya agar menunggu ku samai aku selesai." gumam Horison dengan sedikit kecewa.
Zelda yang pulang tanpa izin membuatnya kecewa sekaligus jengkel. Orang yang ingin ia temui justru kini sudah berada di rumah, segera dirinya keluar dari ruangan dan berjalan ke loby dimana Richard sudah menunggunya.
***
Dirumah Horison.
Zelda yang baru saja menelfon Horison merasa jengkel, ia tak menyangka jika bosnya yang baik itu berubah menjadi menjengkelkan.
"Kenapa dia harus bertanya sesuatu yang ingin aku makan jika akhirnya di meminta ku untuk membelinya sendiri!" gerutu Zelda sambil memandangi teleponnya.
"Lagipula kenapa aku harus bergantung padanya, siapa dia dan siapa aku untuknya. Aku bukan siapa-siapa nya.
Tunggu kenapa aku jadi uring-uringan, apa aku jatuh cinta padanya??
Tidak-tidak boleh, dia ingin menikahiku karena ia ingin kehidupan seperti Yugo, jadi tidak ada cinta baginya untuk ku, ingat Zelda jangan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, awal yang manis justru akan mengecewakan." ucap Zelda lirih menasehati dirinya sendiri.
Setelah menasehati dirinya, tak lama kemudian ia mendapat notifikasi di ponselnya bahwa pesannya telah tiba, segera ia keluar dan saat ia keluar pagar ia melihat mobil yang sangat dia kenal masuk hingga ke halaman rumah.
Mengetahui siapa sang pemilik mobil Zelda tetap berjalan dan bersikap acuh. Hingga dia mengambil pesanannya dan berjalan masuk sambil membawa sekantong ubi hangat Zelda tetap bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu siapa yang berada di dalam mobil.
"Kenapa kamu tidak keluar dan menyapanya?" tanya Richard sambil memandang Horison dari spion depan.
"Bagaiamana caranya aku menyapa?" tanya Horison pura-pura.
"Turunkan kaca mobil dan sapa dirinya."
"Nanti saja saat di dalam."
"Kamu yakin tidak ingin menyapanya disini? Setidaknya kamu keluar dan minta maaf karena telah meninggalkan nya cukup lama."
"Kalau begitu kamu saja yang menyapa dan minta maaf."
Richard yang sedang berbicara harus berhenti karena terdengar pintu mobil berbunyi.
"Selalu begini," celetuk Richard sambil mematikan mesin mobil dan keluar menyusul Horison yang sudah berjalan ke dalam.
Dengan langkah cepat ia menyusul sahabatnya itu ke dalam, namun ia sudah tidak melihat keberadaan sahabatnya itu.
"Cepat sekali jalannya," gumam Richard sambil melihat Zelda yang sedang duduk di meja makan menikmati ubi madu.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Richard kaget.
"Cukup lama." jawab Zelda sambil mengupas.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Richard penasaran.
"Kenapa?" tanya Zelda balik.
"Ah ... Aku bisa frustasi menghadapi kalian berdua. Lebih baik aku pulang saja." ucap Richard kesal dan hendak berdiri.
Saat ia berdiri, tiba-tiba dia teringat dengan foto Horison yang tadi dia ambil, "Oh ya, coba lihat ini," tunjuk Richard.
"Kenapa?" tanya Zelda datar.
"Apa kamu tidak tahu apa yang membuat nya tersenyum seperti itu?"
Zelda hanya menggelengkan kepalanya.
"Foto ini diambil saat meeting, sesaat setelah bersama mu."
"Apa hubungannya denganku?"
"Dia merasa bahagia jika berada di dekatmu, hingga ia selalu terbayang."
"Aku bukanlah anak kemarin sore yang akan terlena hanya dengan ucapan demikian, aku dan pak Horison tak lebih adalah rekan kerja. Dia berniat menikahiku karena keinginan tersembunyi nya."
"Apa dia sudah tahu?" tanya Richard dalam hati.
"Tidak seharusnya aku bicara ini denganmu, karena kamu adalah asistennya. Namun, jika boleh aku berkata aku merasa keinginan nya untuk menikahiku tidak dilandasi dengan cinta."
"M--maksudmu?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu!"
"Aku tidak berpura -pura, aku sungguh tidak mengerti maksudmu." ucap Richard dengan sedikit kaget.
__ADS_1
"Selama tinggal dan meyakinkan ku untuk menikah dengannya tak pernah ia berucap cinta kepadaku, ia hanya berucap ingin menikahiku dan menjadi calon ayah dari anak di dalam perutku."
"Dia bukan lelaki yang mengumbar kata-kata cinta seperti lelaki pada umumnya, percaya padaku dia sudah mencintaimu." ucapan Richard kemudian berlalu meninggalkan Zelda.
***
Pagi hari,
Zelda yang saat ini sedang hamil muda membuat dirinya sedikit malas.
"Hoammm, jam berapa ini?" tanyanya sambil meraba ponsel yang ada dibawah bantalnya.
"Hah jam enam, kenapa aku terlambat?"
Melihat jam menunjukkan pukul enam segera ia bangun dan masuk ke kamar mandi untuk membasuh dirinya dengan air wudhu lalu melaksanakan kewajibannya sholat subuh.
Selesai sholat, Zelda membereskan tempat tidurnya dan segera ia menuju ke dapur.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Zelda kepada seseorang yang ia kenal.
"Jangan kemari, duduklah disana." ucap Horison sambil tetap membuat sarapan.
Zelda mencoba menurut dan duduk di meja makan.
Tak lama kemudian Horison datang dengan membawa sewakul nasi goreng buatannya.
"Berikan piring nya!"
"Apa kamu sakit?" tanya Zelda sambil memandang Horison.
"Cepat makan, selagi hangat." ucap Horison yang tidak membalas pertanyaan Zelda.
Merasa pertanyaan nya tidak dibalas membuat Zelda kembali mengulang pertanyaannya lagi.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Zelda lagi.
"Makanlah dulu, setelah makan ada yang ingin aku bicarakan."
"Tidak, aku tidak ingin makan dulu sebelum kamu yang memakannya."
"Kenapa?"
"Aku takut ada racun di dalam masakan ini." ucap Zelda sambil melebarkan senyummu kepada Horison.
Horison mulai mengambil sendok yang ada di tangan Zelda dan mengambil nasi goreng pada piring Zelda.
"Aku masih hidup, bukan." ucap Horison sambil menatap Zelda dan mengunyah.
"Baiklah aku akan memakannya."
Dengan lahap Zelda memakan nasi goreng buatan Horison, dirinya lupa jika semalam ia jengkel dengan sikap Horison.
Setelah makan Zelda mengusap bibirnya dan berkata, "Darimana kamu mempelajari masakan seenak ini? Rasa dan aroma nya begitu pas, aku seorang wanita tak yakin bisa memasak masakan seenak ini."
"Berhenti memujiku."
"Kenapa? Aku jujur, jika aku tidak suka maka aku bilang tidak enak, dan ini sungguh aku menyukai nya."
"Bagus kalau kamu menyukai masakan ku asal jangan menyukai aku."
Zelda diam, dia memandang Horison dengan menatapnya tanpa berkedip.
Kenapa dia bicara begitu?
Apakah yang diucapkan Richard benar?
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Horison dengan melambaikan tangan nya di depan wajah Zelda.
"Aku suka senyuman itu." ucap Zelda sambil berjalan menuju ke tempat cuci piring.
"Senyuman apa?"
"Bukalah ponsel mu, Richard juga telah mengirimkan nya padamu."
Horison ingat bahwa kemarin malam sahabatnya itu mengirimkan pesan padanya, namun belum ia buka. Segera ia berjalan ke kamar dan mengambil ponselnya.
"Apa ini yang dimaksud olehnya? Dia menyukai senyuman ini?" ucap Horison lirih sambil kembali tersenyum.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.
__ADS_1