
"Maafkan aku," ucap Horison tiba-tiba sambil menatap istrinya dalam."
"Untuk apa meminta maaf, hari ini bukan hari lebaran suamiku." jawab Zelda menggoda suaminya.
"Tapi sungguh, aku ingin minta maaf."
"Baiklah, aku akan memaafkan asal kamu harus istirahat dan makan yang banyak agar engkau segera pulih 100% lalu kita akan pergi ke suatu tempat."
"Boleh aku tahu dimana itu?" tanya nya sambil tersenyum.
"Aku ingin pergi ke makam orangtua dan kaka ku. Kita belum pernah kesana bersama, aku ingin memperkenalkan mu pada mereka."
"Sebentar lagi aku pun akan berkumpul dengan mereka."
"Berkumpul?" tanya Zelda sedikit ganjil dengan ucapan suaminya.
"Iya."
"Ya, kita akan kesana. Aku akan mengenalkanmu dengan mereka." jawab Zelda berusaha mengerti maksud ucapan Horison.
Mendengar jawaban Zelda membuat Horison hanya tersenyum dan mengangguk, namun pembicaraan mereka tiba -tiba berhenti saat terdengar suara pintu terbuka dari kamar mandi.
Tampak seorang pria keluar dari kamar mandi dan membuat Zelda mengerutkan dahinya tak percaya dengan kehadiran pria tersebut.
"Aku ke depan dulu." pamit Zelda kepada suaminya.
"Ini sudah malam, jangan kemana-mana." cegah Horison kepada istrinya.
"Aku ingin mencari Nata dan akan mengajaknya kemari." bohong Zelda.
"Nata sudah pulang diantar Richard dan Anggie."
"Kalau begitu aku keluar dulu, ada sesuatu yang ingin ku beli." ucap Zelda berusaha mencari alasan lain.
"Jangan kemana-mana, tetaplah disini. Ada yang ingin aku sampaikan." ucap Horison yang berusaha menahan Zelda.
Horison tahu jika saat ini istrinya tidak merasa nyaman, dia melihat istrinya dengan tatapan dalam karena ingin mengatakan sesuatu yang selama ini ia simpan.
"Zee, mungkin ini saatnya aku memberitahumu semuanya." ucap Horison sambil memejamkan matanya.
Zelda tidak tahu apa yang akan dikatakan suaminya akan membuat dirinya tak pernah lupa dengan hari ini, tampak ia membalas tatapan suaminya dengan tatapan yang sama, dalam dan penuh arti. Keduanya pasangan yang saling menatap ini lupa jika ada orang lain yang sedang menatap mereka.
"Mungkin engkau bertanya siapa aku sebenarnya? Mengapa kamar kita terpisah meski sudah menikah? Dan arti dibalik nama Nata." ucap Horison menghela nafas sambil menjeda kalimatnya.
"Aku adalah Dodo Horison, mungkin engkau tidak mengenal ku tapi pak Yugo tahu, siapa itu Dodo." lanjut Horison bercerita sambil tersenyum kearah Yugo.
"Dodo, kamu?" tanya Yugo menyela cerita Horison.
"Ya, ini aku. Aku terpaksa harus membuka jati diriku untuk menikahi mantan istri bapak, aku tahu bapak amat sangat terpukul ketika bercerai dari nya.
Aku penasaran wanita seperti apa yang mampu membuat engkau seperti orang tak berdaya dan aku berhasil menemukannya. Ternyata benar, dia adalah wanita hebat, wanita tangguh, cantik dan juga cerdas.
Aku kagum padanya, tak mudah bagiku menaklukkannya. Singkat cerita aku berhasil mengambil hatinya dan menikahinya setelah seorang bayi cantik lahir dan kuberi nama Nata.
Aku tahu, dia bukan darah dagingku tapi aku sangat menyayanginya bahkan karena kehadirannya aku semakin mencintai istriku, Zelda.
Namun sayangnya, aku tetap tidak bisa menjadi suami yang baik karena aku tidak pernah memberikan nafkah batin, aku pria jahat yang tega membuatnya menangis setiap malam.
__ADS_1
Andai saat itu aku tidak terlalu teguh dengan janji pada diriku sendiri mungkin aku tidak akan membuatnya sedih, namun disaat keteguhanku luntur, ingin memilikinya seutuhnya aku malah terbaring seperti ini. Tapi tak apa, setidaknya aku berhasil melindungi istri dan anakku.
Maafkan aku,,aku terlambat menyadari kesalahanku." ucap Horison sambil menitihkan air mata dan memandang istrinya.
Zelda yang dipandang mulai meneteskan air matanya, ia hanya mampu diam sembari mengusap air mata yang jatuh.
"Istriku, terimakasih engkau telah memberiku kesempatan untuk memberi nama pada putri kita meski aku bukanlah darah dagingnya, namun maafkan aku jika aku tidak pernah memberitahumu arti dibalik nama putri kita, Nata. Aku memberinya nama itu karena dia adalah keturunan dari keluarga Arthadinata.
Aku tahu engkau marah dengan mantan suamimu tapi jangan pernah menjauhkan anak dari ayahnya, itu akan menyakiti perasaannya kelak.
Aku bisa saja egois dengan hanya menambahkan namaku dibelakang namanya namun aku tidak bisa, karena aku mencintai putriku, aku jatuh cinta padanya saat ku mendengar suara tangisnya ketika hadir di dunia, aku tak ingin menyakitinya baik saat ini maupun nanti." lanjut Horison bicara.
Tampak Horison berulang kali mengusap kedua matanya yang basah karena air matanya keluar.
"Aku minta maaf, maafkan aku, aku harap kamu mengerti dan memaafkan aku."
Mendengar apa yang telah diceritakan suaminya membuat Zelda diam sambil tergugu karena air matanya semakin deras keluar.
Berbeda dengan Yugo, ia yang sedari tadi ikut diam mendengarkan tampak bahagia, ia tak percaya bahwa selama beberapa hari ini firasatnya benar jika anak perempuan yang bersamanya adalah darah dagingnya yang selama ini selalu hadiri di mimpinya.
"Mengapa engkau melakukan semua ini, aku berhutang banyak padamu?" tanya Yugo kepada Horison.
"Kebaikan, kebaikan bapak dan keluarga yang telah membuat ku seperti ini. Tidak banyak yang dapat kulakukan bahkan apa yang kulakukan ini mungkin tak sebanding dengan apa yang telah keluarga bapak lakukan."
"Kenapa harus kau lakukan sendiri? Kenapa tidak meminta pendapatku ? Apa aku juga tidak memiliki hak untuk menjadi teman hidupmu dalam bicara? Setidaknya jika engkau tak pernah menyentuh tapi berilah aku kesempatan untuk kita saling bertukar pikiran? kenapa harus engkau pikirkan ini sendirian??" tanya Zelda disela-sela suaminya sedang bicara dengan Yugo.
"Aku tahu, aku salah."
"Kalua begitu aku akan memaafkan mu asal engkau berjanji untuk menebus semua kesalahanmu dengan keadaanmu. Kamu harus sehat, kamu harus kuat agar engkau bisa selalu menemaniku dan tidak lagi membuatku sendiri sepanjang hari. ika memang engkau telah menyadari." ucap Zelda sambil menahan air matanya agar tidak kembali tumpah.
"Maaf, aku terlambat. Aku tidak bisa, karena sudah tiba waktunya."
"Maafkan aku Zelda, istriku tercinta. Engkau akan menjalani kehidupan pernikahan yang lebih baik bukan denganku tapi dengan nya.
"Apa maksudmu?" tanya Zelda mulai menangis lagi.
"Pak Yugo, aku mohon penuhi permintaanku, berjanjilah untuk menikah dengan istriku, jaga dia, sayangi dia, jangan sakiti dia, bahagia kan dia, jangan pernah membuatnya meneteskan air mata. Cukup dengan ku saja dia tidak bahagia, dan tolong jangan ulangi kesalahan yang pernah engkau lakukan dulu.
Jagalah Nata, putri kecilku yang aku besarkan seperti anakku sendiri.
Assalamualaikum, La Ilaha illallah." ucap Horison sambil menghela nafas panjang hingga tak lagi terdengar suara Horison bicara.
"Dodo!!! Bangun!!!!" teriak Yugo.
"Bangun... Bangun .... Hikssss ... Hikssss...
Kenapa??? Kenapa engkau pergi tanpa membawaku??
Kenapa engkau justru menitipkan aku!!! kenapa???? Bagunnnn!! Bagunnnn!!!!" ucap Zelda sambil menangis terisak memukul tempat tidur milik suaminya.
Melihat Dodo diam tak bergerak membuat Yugo segera memencet tombol dan segera beranjak keluar dari kamar untuk membuka pintu dan tak lama kemudian muncullah dokter dan beberapa perawat memasuki ruangan tersebut.
"Cepat periksa dia!" perintah Yugo kepada para tenaga medis yang baru saja datang.
Dokter yang menangani Horison terlihat sibuk memeriksa kondisi Horison, sedangkan Zelda masih setia menangis di dekat suaminya sambil berdiri menunggu suaminya diperiksa.
Setelah memeriksa kondisi Horison tampak dokter memberikan sebuah kode kepada rekannya, ia juga menatap Yugo dengan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Tahu apa maksud dari itu Yugo mulai mendekati Zelda.
"Jangan dekati aku! Jangan pernah mendekati ku! Aku masih istrinya, suamiku tidak meninggal! suamiku baik-baik saja. Dia hanya tidur. Benarkan dia hanya tidur, dok?" tanya Zelda kepada Dokter.
Dokter yang ditanya hanya diam tak dapat berkata ia diam mencoba memikirkan kata yang tepat agar wanita didepannya ini menjadi tenang.
"Kalian apakan suamiku? Kenapa harus menutup sekujur tubuhnya dengan selimut! Keterlaluan kalian!" bentak Zelda kepada perawat yang hendak menutupi tubuh suaminya.
Perawat disana saling memandang satu sama lain, hingga muncul seseorang dari balik pintu yang tak lain dia adalah Richard dan juga Henri.
"Horison!! Horison!!" teriak keduanya mendekati tubuh Horison yang dingin.
"Dokter, apa dia tiada?" tanya Richard dengan menahan tangisnya.
Dokter hanya mengangguk,
"Innalilahi wainailaihi rojiun, aku tak menyangka engkau akan meninggalkan kami secepat ini." ucap Richard lirih sambil menatap sahabatnya dengan dalam.
"Jaga ucapan mu Richard, dia sedang tidur." bentak Zelda tak terima.
Tak terima dengan ucapan sahabat sekaligus asisten suaminya, Zelda mulai mendekati tubuh Horison lagi sambil mengusap kening juga rambut suaminya.
"Bangunlah ... jangan tidur, banyak orang disini. Kamu tahu aku tak terlalu suka banyak orang." ucap Zelda sambil tetap menatap wajah suaminya yang semakin dingin.
"Zee, jangan seperti ini, kasihan Dodo. Maksudku Horison." ucap Yugo sambil memegang bahu Zelda.
"Sudah ku bilang jangan pernah mendekatiku apalagi menyentuh ku, suamiku sedang tidur. Dia harus bangun! Dia harus bangun!!" ucap Zelda kembali menangis.
"Zelda, cukup! Sadarlah. Suamimu telah meninggal. Jangan biarkan dia kedinginan seperti ini." ucap Richard tegas.
"Tidak,,, dia tidur dan --"
Zelda yang shock dan tidak terima dengan kematian Horison mulai pingsan, Yugo yang sedang berada di dekat Zelda hanya sigap menahan tubuh mantan istrinya agar tidak terjatuh, ingin rasanya menggendong dan menaruhnya ke atas tempat tidur namun ia sadar bahwa saat ini Zelda bukanlah istrinya melainkan baru saja menjadi janda untuk yang ke dua kalinya.
"Bawa dia dan periksa, sepertinya istri pasien kondisinya lemah." perintah dokter kepada suster di depannya.
***
Dua jam kemudian.
"Dimana aku?" ucap Zelda lirih sambil membuka matanya.
Ia melihat sesuatu di depannya hingga ia ingat bahwa suaminya sedang berada di rumah sakit.
"Horison, aku tertidur, aku harus melihatnya," ucapnya lirih.
Saat dirinya hendak turun dari tempat tidur terdengar seseorang memasuk kamar ...
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
__ADS_1
Terimakasih.