
Horison mengantarkan Zelda hingga kembali ke kamar. Kini keduanya berada di dalam kamar.
"Sekarang beristirahatlah, tadi kamu sudah banyak berjalan." ucap Horison sambil membantu Zelda berbaring di tempat tidur.
Kini Zelda berbaring, tak banyak kata yang keluar dari mulut Zelda, kata terakhir yang diucapkannya adalah dirinya akan baik -baik saja jika berada di dekat lelaki yang kini ada di dekatnya.
"Kenapa kamu diam saja? Aku tadi membelikanmu ini." Horison menunjukkan pie keju yang tadi dibelinya.
"Apa benar kamu akan menikahiku setelah anak ini lahir?" tanya Zelda sambil mengambil pie keju pemberian Horison.
"Kenapa kamu bertanya itu?"
"Jawab pertanyaan ku,"
"Iya."
"Kenapa kamu ingin menikahiku? Apa hanya karena ingin memiliki kehidupan seperti dia kamu ingin menikahiku?"
Horison hanya diam sambil menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Zelda.
"Kenapa menghela nafas panjang tanpa menjawab?"
"Dengarkan aku, kamu wanita pertama yang membuat warna di hidupku dan jika kamu bertanya apa alasanku maka aku tidak dapat menjawab. Karena cinta tak butuh alasan."
"Artinya kamu mencintaiku?"
"Sekarang bukan waktu yang tepat kamu bertanya itu, sebentar lagi anak ini lahir. Berkonsentrasi dan jangan terlalu berat berfikir hal yang tidak penting. Ingat melahirkan adalah bertaruh nyawa. Aku berdoa agar kalian berdua selamat dan selalu bisa memberi warna di hidupku."
Mendengar jawaban Horison membuat Zelda tersenyum melihat wajah tenang Horison yang melegakan hatinya.
"Kami akan berjuang demi kamu. Beradalah di dekatku jangan jauh -jauh dariku, dan jangan pernah berubah." mohon Zelda pada Horison
Horison tersenyum menanggapi ucapan Zelda, ia yang hendak duduk di sofa dekat tempat tidur Zelda menyempatkan untuk kembali mengelus perut Zelda.
***
Tak terasa saat ini sudah pukul 8, Zelda terlihat kesakitan, ia berulang kali mengambil nafas panjang sambil meremas sprei di bed tempatnya tidur.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Horison yang sedari tadi menemani Zelda.
Zelda hanya menggelengkan kepalanya dan meremas sprei,
"Jangan diam, bicaralah." perintah Horison pada wanita di hadapannya.
"Jangan pergi tetaplah bersamaku." ucap Zelda sambil menahan sakit.
"Ya aku disini. Remaslah tanganku jika itu akan melegakanmu."
"Aku tidak akan menyakitimu meski aku sakit."
"Aku juga ingin merasakan seperti yang suami lainnya, yang jika istrinya melahirkan akan menjadi korban dari sang istri."
"Kalau begitu tolong panggilkan dokter."
Horison segera menelfon bagian admin dan beberapa saat kemudian dokter datang. Dokter segera mengecek bagian bawah Zelda.
"Istri bapak masih pembukaan lima."
"Apa artinya sudah segini?" tanya Horison sambil menunjukkan ke lima jarinya.
"Ya,"
"Ini baru lima dan istri saya sudah merasa kesakitan seperti ini."
"Ibu menghendaki kelahiran normal pak,"
"Apa tidak bisa dilakukan induksi?" tanya Horison pada dokter.
"Saya akan melakukan induksi namun ini akan jauh lebih sakit daripada pembukaan secara normal."
"Kalau begitu jangan."ucap Horison bimbang.
"Begini saja pak,kita tunggu satu jam lagi, jika pembukaan ibu masih tetap dan tidak ada perubahan maka akan kami lakukan induksi."
"Saya setuju, tapi saya ingin dokter disini setiap tiga puluh menit memeriksa kondisi istri saya."
Sang dokter dan perawatnya menyetujui itu, lagipula ia tak dapat menolak keinginan pria dengan nama belakang Horison, karena Horison adalah seorang yang menyumbang semua peralatan medis di rumah sakit ini.
__ADS_1
***
Satu jam telah berlalu, dan pembukaan Zelda masih tetap berada di pembukaan 5. Segera dokter memberikan tindakan induksi pada pada Zelda, dan tanpa menunggu lama kini pembukaan Zelda adalah 8.
"Dok, kenapa saya basah? Apa saya ngompol?" tanya Zelda pada dokter yang ada di dekatnya.
Dokter segera melihat dan ternyata air ketuban Zelda sudah pecah.
"Air ketuban ibu sudah pecah, dan ini sudah pembukaan 10. Sekarang ibu bersiap-siap ikuti arahan saya."
"Ya," ucap Zelda dengan nafas tersengal.
"Tarik nafas, hembuskan...."
"Bagus ... Ulangi lagi ...."
"Tarik nafas, hembuskan ..."
Di dalam ruangan Horison yang melihat Zelda sedang berjuang melahirkan anak tak dapat berkata apapun, suara teriakan Zelda begitu jelas terdengar di telinga nya, dia terlihat cemas sambil berdoa agar proses melahirkan Zelda lancar.
Namun apa yang diharapkan Zelda untuk bisa melahirkan secara normal harus pupus karena pinggulnya terlalu sempit sehingga dokter segera meminta izin kepada Horison agar Zelda melahirkan secara operasi Sesar.
"Lakukan yang terbaik buat istri dan anak saya."
***
Di ruang operasi,
"Kemana suami saya?" tanya Zelda pada dokter dan perawat yang ada disana.
"Bapak sedang berganti pakaian," ucap salah seorang perawat.
Zelda yang sudah merasakan lemas karena proses ngejan tadi membuatnya tidak merasakan sakit saat ia disuntik di bagian belakangnya.
Setelah disuntik kini Zelda hampir memejamkan matanya namun tak lama kemudian Horison datang sambil berdiri di dekat Zelda.
"Aku disini."
Zelda menoleh sambil tersenyum.
Horison yang berdiri disamping Zelda tidak dapat melihat apa yang sedang dilakukan para dokter pada Zelda, yang dia tahu bahwasanya saat ini dokter sedang berusaha mengeluarkan anak yang ada di dalam perut Zelda.
Cukup lama memandangi Zelda kini terdengar sebuah suara tangisan bayi hingga membuat dirinya tanpa sengaja meneteskan air mata. Tangisan bayi tersebut mendorongnya tanpa sadar untuk mengecup kening Zelda, diusapnya air yang menetes di pipinya saat suster menghampirinya sambil memberikan bayi yang baru saja dibersihkan.
"Ini bayinya, pak. Silakan di berikan pada ibunya untuk inisiasi dini."
Saat bayi hendak diberikan tiba-tiba mata Zelda terbuka.
"Anakku ..." panggil Zelda lirih.
"Kamu sudah bangun?" tanya Horison.
"Aku hanya memejamkan mata tidak tidur." jawab Zelda sambil tersenyum melihat bayinya yang sedang mencari sumber air susunya. "Dan aku merasakan engkau mencium keningku." lanjut Zelda sambil tersenyum.
Horison salah tingkah, ia tak menyangka jika sedari tadi Zelda tidak tidur, melainkan hanya memejamkan mata.
"Maaf, aku ..."
"Tak apa."
Bayi berwarna kulit merah dan berambut tebal dengan bibir tipis tersebut kini berada di dada Zelda. Si bayi tampak begitu antusias mencari sumber air kehidupannya, gunung kembar milik Zelda yang sedikit terlihat tidak membuat Horison memanfaatkan situasi dengan melihat semuanya.
Pikirannya sudah ia kondisi kan namun ia takut birahinya tidak dapat di kontrol, ia pun mengalihkan pandangannya ke wajah bayi mungil tersebut.
"Dia cantik seperti mu." ucap Horison yang lebih memperhatikan wajah sang bayi.
"Terimakasih."
"Aku sudah menyiapkan nama untuk nya."
"Sungguh... Boleh aku tahu?"
"Setelah kamu dipindahkan ke ruang perawatan aku akan memberitahunya."
"Permisi pak, silakan bapak kesana, karena beberapa saat lagi bapak yang harus melakukan seperti yang ibu lakukan." ucap seorang perawat ditengah pembicaraan kebahagiaan calon suami istri tersebut.
Dengan raut wajah bahagia Horison segera duduk di sofa dan mulai membuka baju handuknya agar calon anaknya itu merasakan kehangatan dekapannya.
__ADS_1
Zelda yang melihat antusias lelaki yang akan menikahinya merasa terharu, ia tak henti meneteskan air mata. Dirinya tak menyangka jika Horison terlihat seperti ayah kandung bagi putrinya.
Semoga engkau akan selalu bersikap hangat dan sayang padaku dan dia.
***
Di ruang perawatan,
Setelah operasi selesai, kini Zelda dipindahkan ke ruang perawatan dimana tempatnya ia merasakan mulas tadi. Suara banyak langkah kaki mendorong brankar dorong.
Begitu pintu terbuka terdengar bunyi surprise dari dalam kamar, terlihat Richard dan Anggie serta beberapa pekerja yang ada di rumah Horison datang.
"Surprise ..."teriak semuanya yang ada di dalam ruangan.
Zelda terkejut dan panik melihat semuanya berteriak, ia takut jika pihak rumah sakit akan marah.
"Terimakasih, tapi tolong jangan berisik. Kalian akan menganggu orang lain disekitar." ucap Zelda lirih.
"Tidak apa-apa Bu, bapak telah mensterilkan satu lantai ini."
"Maksudnya?"
"Apakah kamu tidak tahu suamimu itu begitu kaya raya, baginya memesan satu lantai khusus kelahiranmu adalah hal muda."
Zelda mengerutkan dahinya tak percaya dengan apa yang dikatakan Richard dan beberapa perawat. Tak hanya itu ia tampak kagum dengan dekorasi mungil seperti balon berwarna emas dan coklat yang melingkari sebuah inisial nama.
A... Siapa kira-kira namanya.
Baru saja dirinya membatin kini Horison muncul sambil menggendong anaknya. Sambil tersenyum dia melihat ke arah Zelda dan sesekali ia melihat ke arah putri kecilnya itu.
"Apa kamu suka?" tanya Horison sambil menaruh putri kecilnya itu di box bayi.
"Kenapa begitu mewah?"
"Tidak, ini sederhana."
"Tapi ini mewah,"
"Tidak, aku sengaja menyiapkan nya untuk mu dan anak kita."
"Sudahlah Put, jangan berdebat masalah ini. Tidakkah kamu mengerti arti dari semua ini, artinya suamimu begitu mencintai mu dan anakmu."
Hati Zelda tersentuh, ia kembali menitihkan air mata,
"Kenapa kamu menangis? Apa aku salah?" tanya Horison pada Zelda.
"Tidak, aku beruntung memilikimu." ucap Zelda lirih.
Tanpa mereka sadari, saat keduanya sedang berbicara sangat dekat Anggie memfotonya.
"Lihat foto ini!" perintah Anggie pada lelaki yang kini menjadi kekasihnya.
"Wah ini momen langkah." ucap Richard sambil memberikan hasil foto tersebut kepada Horison.
"Terimakasih."
"Oiya siapa nama bayi mungil ini?" tanya Anggie.
Zelda menunggu jawaban dari Horison, ia menatap lelaki tersebut dengan hangat.
"Aku akan menamainya Yumna Razeta Putri Horison. Seorang putri yang penuh Rahmat dan setia."
"Bagus sekali, lalu aku apa aku boleh memanggil nya Zeta?" tanya Anggie.
"Tidak, dia akan dipanggil Nata." jawab Horison.
Bagi Zelda sebuah nama Horison disematkan di nama Putri kecilnya membuatnya merasa bahagia, dirinya tak menyangka jika Horison akan memberikan nama belakanganya.
Namun tidak bagi Richard, sebagai sahabat dia tahu maksud dari Horison memberikan nama panggilan Nata untuk bayi tersebut. Dibalik nama panggilan itu ada sebuah nama dari nama biologis si bayi, yang tak lain adalah mantan suami Zelda, yaitu Yugo Putra Arthadinata.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
__ADS_1
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih.