
"Apa yang sedang kalian lihat?"
"Tidak ... Tidak ada." ucap Henri sambil menutupi pemandangan yang sempat tadi ia lihat.
"Jadi kapan kamu akan menemui ibu Zelda?" ucap Pika yang tiba-tiba bertanya.
"Kalian berdua kenapa sih! Awas, sepertinya aku melihat mobil Yoga disana." ucapnya sambil menyatukan kedua alisnya.
"Untuk apa kamu penasaran dengan mobil dia. Dia sedang libur." ucap Pika asal.
"Betul." imbuh Henri.
"Tidak mungkin aku salah lihat. Awas!!" sambil menggeser posisi berdiri Henri dan Pika yang berusaha sedang menutupi sesuatu.
“Pak Yugo!!” panggil seseorang dari arah belakangnya.
Yugo yang dipanggil reflek menoleh ke arah datangnya suara, karena ia hafal dengan suara orang yang sedang memanggilnya.
“Bagaiamana, apa kamu ingin mengunjunginya?” tanya salah satu teman Yugo yang merupakan anak buah Yoga.
“Ya,” ucapnya sambil memasuki ruangan berkunjung.
“Hampir saja,” ucap Henri kepada Pika yang dirasanya sedang berada disampingnya namun ternyata kekasihnya itu tidak ada. “Baby ,,, Baby,,,pasti dia sedang kesana. Dasar kepo!” sambil menghela nafas pandangan Henri tertuju pada sebuah mobil hitam yang sedang terparkir tadi.
Tok!
.
Tok!
.
“Buka!” ucap Pika dari luar sambil menggedor-gedor kaca mobil.
Yoga tahu jika yang sedang menggedor kaca mobilnya adalah Pika yang tak lain adalah saudara sepupu sekaligus asisten dari Yugo.
“Buka kak!” perintah Zelda.
Yoga memilih untuk tidak membuka dan membiarkan teriakan Pika selama beberapa saat. Dirasa Pika mulai lengah saat sedang menerima panggilan telepon tiba-tiba dirinya menancapkan gasnya hingga membuat Pika otomatis minggir dari tempatnya berdiri.
Kini mobil Yoga yang berada dijalanan mulai berjalan dengan kecepatan normal padahal tadi saat masih berada di area kantor polisi begitu laju.
“Kenapa tidak dibuka?” tanya Zelda heran dengan kelakuan lelaki yang sudah ia anggap sebagai kakak baginya.
“Tidak, aku tidak siap.” ucapnya sambil menyemprotkan parfum hingga membuat Zelda lemas dan perlahan tertidur.
“Maafkan aku, aku tidak punya pilihan. Aku akan membawamu ketempat kakak ku.” ucap Yoga sambil menancapkan kemudinya lebih kencang.
Kecepatan kemudi Yoga yang diatas rata-rata membuat orang disekitarnya mengumpat termasuk mobil polisi yang sedang berpatroli di jalan. Mengetahui jika terdapat stiker penanda pada mobil kecepatan tinggi tersebut membuat polisi patroli tahu siapa yang berada didalam mobil.
“Mungkin sedang ada yang dikejar.” ucapnya kepada teman sebelahnya.
__ADS_1
***
Dilain tempat yaitu sebuah kantor polisi yang menjadi saksi dimana Pika dan Henri melihat Zelda sedang berada bersama lelaki yang selama ini dicurigai telah mencintai calon istri dari sahabatnya.
“Kamu tahu kan tadi siapa dengan siapa?” tanya Pika berusaha memastikan.
Henri yang awalnya pura-pura tidak tahu ikut merasa jengkel dengan sikap lelaki yang ia kagumi sebelumnya karena telah menyelamatkan nyawanya.
“Jangan bilang kamu tidak melihat bagaimana aku diperlakukan tadi.” ucap Pika lagi.
“Ya, aku melihatnya. Itu mereka.”
“Siapa maksudmu? Yoga?” tanya Yugo yang tiba-tiba muncul dibelakang kedua sahabatnya itu.
Keduanya pun diam, tidak dapat mengelak, mereka yakin jika Yugo melihat apa yang dilakukan Yoga kepada Pika tadi.
“Bukannya dia sedang libur, kenapa kalian membicarakannya? Lebih baik kita pulang dan melihat keadaan Sonny di rumah sakit.”
Henri dan Pika saling berpandangan, mereka tak percaya jika Yugo akan bersikap tenang saat melihat wanita yang dicintainya sedang bersama lelaki lain. Sikap aneh Yugo membuat keduanya penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Didalam mobil tidak banyak yang dikatakan Yugo, hanya sepatah kata yang diucapkan yaitu membahas tentang Yongki yang sudah mendapat putusan akan segera di sidang dalam waktu dekat.
“Sepertinya aku tidak dapat ikut berkunjung ke rumah sakit, aku akan menyusul.” ucap Yoga disela-sela keheningan saat menyetir.
“Mau kemana?”
Yugo tak menjawab dan hanya fokus menyetir, dirinya yang fokus dan konsentrasi semakin kencang menginjak pedal gas hingga perjalanan yang seharusnya ditempuh 30 menit hanya memerlukan waktu 10 menit.
"Sorry, aku ada urusan mendadak." jelas Yugo sambil mengkode agar kedua penumpangnya segera turun.
Kini keduanya pun turun dan hanya melihat kendaraan yang dikendarai Yugo perlahan menghilang dari pandangan mereka.
Kemana kalian?
Kenapa kalian berada dalam satu mobil?
Apa yang akan kalian lakukan?
Beberapa pertanyaan muncul dalam otak Yugo saat ia yakin mobil dan lelaki di parkiran itu adalah rivalnya, belum lagi saat ia bertanya langsung kepada salah satu temannya yang tak lain anak buah Yoga bahwasannya Yoga mendadak mengambil cuti.
Aku yakin Zelda bukan tipe wanita yang lemah dan mudah dimakan oleh rayuan, dan seharusnya ia menepati janji nya untuk tidak berada disamping lelaki yang membuatku cemburu.
Sepertinya aku harus segera mempercepat niat ku untuk menikahi Zelda.
Saat ini tujuan Yugo adalah mengejar mobil Yoga yang dengan keahliannya telah berhasil meretas GPS mobil Yoga.
Kenapa mereka berdua ke arah puncak?
Apa yang akan mereka berdua lakukan.
Apa dia merajuk gara-gara aku tidak bisa hadir saat makan sore itu?
__ADS_1
Tidak ... Tidak mungkin, aku percaya dengan wanitaku, dia tidak mungkin salah jalan.
Tapi ..., jika ia salah jalan aku harus segera meluruskannya, selain dia adalah calon istriku dia juga amanah pak Imam agar selalu aku lindungi.
Tak terasa sudah hampir satu jam ia masih berada di jalan yang jaraknya masih jauh dari tempat dimana Yoga membawa Zelda, dengan penuh doa Yugo berharap agar Zelda selalu mendapat perlindungan.
Kenapa perasaanku tak enak, apa yang sebenarnya akan terjadi?
Aku seperti hampir pernah merasakan perasaan yang sama seperti dulu.
Tak mau terbawa oleh kecemasan hatinya yang tidak tentu ia tetap berdoa memohon yang terbaik untuk hubungan dirinya dan Zelda. Tak henti-hentinya setiap nafas ia berdzikir, dan ternyata sebuah doa mampu membuat kesusahan menjadi kemudahan. Perlahan jalanan yang padat mulai menjadi lengah hingga dirinya bisa mengejar ketertinggalan.
"Tempat ini, tempat apa ini?" tanya Yugo pada diri sendiri. Dirinya tak percaya dengan sebuah informasi bahwa Yoga membawa Zelda ke sebuah perkampungan yang menurut informasi perkampungan ini adalah tempat surganya menikah kontrak.
Saat Yugo turun dari mobilnya ia sudah melihat seorang yang terlihat alim baru saja keluar dari sebuah rumah yang cukup megah. Terlihat orang tersebut dengan dua orang lainnya seperti sedang menggerutu.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Tak lama beberapa saat kemudian terlihat sebuah mobil yang berhenti di sebuah rumah megah itu dan ia mendapati beberapa orang yang ia kenal sedang turun dari mobil tersebut.
Kenapa pak Daniel dan istrinya kemari?
Bahkan pak Dion dan .... Bukankah itu Rianda?
Bunda???
Yugo segera menghampiri mereka semuanya. Terlihat wajah mereka begitu tegang terutama Rianda dan Bunda yang seperti sedang menahan amarah.
"Bunda!" sapa Yugo kepada calon mertuanya itu.
"Yugo, maafkan Bunda."
"Maaf untuk apa? Kenapa Bunda kemari? Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Saat ini bukan waktunya menjelaskan, lebih baik kita segera masuk." ajak Bunda.
Rianda yang sedang emosi melangkahkan kakinya dengan begitu cepat berharap bisa menemui Yoga adiknya.
...
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih..❤️❤️
__ADS_1