
"Bunda!" teriak Zelda dalam mimpi.
Setelah berteriak Zelda membuka matanya yang terasa basah karena menangis, ia tak ingat jika dirinya tadi pingsan dan saat ini sedang terbaring. Diusapnya air mata yang menetes dari pipinya sambil melihat sekelilingnya.
"Kenapa kalian disini? Mana bundaku?" tanya Zelda kepada beberapa maid yang sedang berada disampingnya.
"Nyonya ... nyonya besar -"
"Mana bundaku?"
"Nyonya .. Nyonya besar -." para maid yang ada disana saling berpandangan, mereka tak tahu harus menjawab apa, karena yang sedang dicari Zelda saat ini sudah tiada bahkan sudah dimakamkan saat Zelda pingsan dalam waktu yang cukup lama.
Penasaran dengan raut wajah para maid nya, Zelda mencoba untuk bangun dan berdiri namun saat dirinya ingin berdiri ia kembali terjatuh seakan kakinya tak kuat menopang berat tubuhnya.
"Nyonya tolong jangan memaksakan diri, perhatikan kesehatan anda." ucap salah satu maid yang paling tua.
"Tidak, aku harus bertemu dengan bunda, tolong antarkan aku bertemu dengannya." pinta Zelda dengan suara memohon.
Seketika orang disekitar saling berpandangan, mereka semua merasa iba dengan istri dari majikannya itu.
"Kenapa ... kenapa kalian hanya diam?? Tolong antar aku!" bentak Zelda dengan kesal.
Seketika muncul seorang perawat yang tadi merawat Aisyah.
"Sus ... kebetulan anda datang, aku mohon, tolong antar aku ke tempat bunda. Bunda masih di kamar tadi kan?" tanya Zelda sambil menatap suster Renata dengan mata nanar.
Sebelum menjawab pertanyaan Zelda, suster Renata tampak sinis menatap wajah Zelda.
"Aku akan mengantar anda kesana asal dengan syarat."
"Syarat?" tanya Zelda heran.
"Ya, berjanjilah untuk menerima."
"Maksudnya?"
Renata sengaja tidak menjawab balik pertanyaan Zelda, karena ia sedang kesal dan menganggap Zelda lemah dan tidak menerima kenyataan. Kini Renata segera berjalan kearah sebuah roda yang ada di samping tempat tidur dan membantu Zelda bangun dari tempat tidur untuk duduk di kursi roda.
Kini Renata mendorong Zelda yang sedang duduk di kursi roda untuk keluar kamar. Namun saat keluar kamar dan memasuki kamarnya, kamar tempat bundanya tadi ter baring ia tidak melihat apapun. Keadaan kamar yang sangat rapi.
"Kenapa kosong? Bukankah tadi ada mesin pengejut jantung bahkan bunda sedang terbaring disini." tanya Zelda kepada Renata.
"Sus, apa bunda dibawa ke rumah sakit?"
Renata masih diam dan tidak menjawab.
"Ada apa ini? Kenapa anda tidak menjawab?"
Kesal dengan Renata, Zelda segera mendorong roda disampingnya untuk berjalan keluar dan melihat dari atas tangga merasa heran, dilihatnya banyak orang datang menggunakan pakaian serba hitam.
"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali?" tanya Zelda heran.
Renata yang menyusul dan mendengar tetap bersikap acuh, dan tak menggubris pertanyaan Zelda.
Mengetahui jika ada orang disampingnya, Zelda mencoba bertanya kembali.
"Ada apa ini? Kenapa banyak orang disini bahkan kenapa pakaian yang mereka gunakan seperti itu?"
Renata tetap diam sambil menatap tajam Zelda.
"Kenapa anda hanya diam dan menatapku!" bentak Zelda.
Suara Zelda yang keras membuat Yugo yang baru saja datang dari pemakaman mendengar, ia segera memasuki lift untuk naik menuju ke lantai atas tempat istrinya berada.
"Mana Bunda?" tanya Zelda menatap tajam ke arah Yugo. Mata Zelda tampak berkaca-kaca saat melihat pakaian Yugo yang serba hitam dan terlihat kotor karena tanah yang masih menempel.
Yugo yang ditanya berusaha mendekati istrinya yang terlihat lemah.
"Jawab, kenapa semua orang yang ku tanya diam? Apa susahnya menjawab keberadaan ibuku?"
Yugo berusaha mendekati Zelda dan berjongkok di depan Zelda yang sedang duduk di kursi roda. Pasangan mantan suami istri itu saling berpandangan, kini Yugo mengusap air mata Zelda yang hampir tumpah.
"Katakan kemana bunda? Jangan membuatku marah!" tanya Zelda lirih sambil berkaca-kaca.
"Aku tidak akan membuatmu marah, justru aku meminta maaf atas semua yang aku lakukan."
"Saat ini bukan waktu yang tepat meminta maaf, aku ingin bertemu bunda bukan memberimu maaf. Kemana bunda?" teriak Zelda sambil menangis.
"Sadarlah, bunda sudah tiada dan aku baru saja mengantar jenasah bunda ke pemakaman."
__ADS_1
"Apa???? Tidak mungkin! Bunda di rumah sakit kan? Bunda sedang dirawat kan?"
"Tidak, bunda benar-benar sudah tiada dan aku baru saja datang dari makam."
Tak tahu harus berkata apa, seakan tak percaya dengan ucapan Yugo, Zelda berusaha menampik fakta yang dilihatnya, baju Yugo yang kotor dan banyaknya orang datang dengan pakaian hitam termasuk beberapa karangan bunga yang terlihat sebuah tulisan nama indah dari ibunya.
"Tidak mungkin! Ini tidak mungkin. Bunda sehat, bukan kah dia tadi ada dikamar itu?" tunjuk Zelda.
"Kamu harus kuat dan aku minta maaf karena telah memakamkan bunda saat engkau masih pingsan."
Tangis Zelda semakin kencang, sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Yugo yang melihat tampak iba sedangkan Renata terlihat sinis melihat Zelda yang dianggap nya cengeng.
"Setiap yang hidup pasti akan meninggal dan kembali kepada sang pencipta.
Tolong kamu jangan begini. Kasihan bunda disana jika melihatmu terpuruk seperti ini."
"Tidak! Tidak mungkin bunda tiada. Jelas-jelas penyakit ganasnya telah diangkat dan beliau dinyatakan sembuh. Bagaiamana bisa ibuku meninggal?" ucap Zelda yang masih tak terima dengan kematian ibunya.
"Zelda, sadar! Bunda sudah tiada." ucap Yugo sambil menggoncang kedua bahu Zelda.
Tidak terima dengan kenyataan, Zelda yang sedari tadi sudah mengumpulkan kekuatan mulai menampik kedua tangan Yugo yang memegang bahu nya lalu berusaha berdiri dan berlari dan masuk ke dalam lift untuk menuju ke garasi mobil.
Entah kekuatan apa yang ada pada dirinya hingga membuatnya mampu berdiri dan kini berada di dalam mobil untuk pergi menuju ke pemakaman.
***
Zelda yang saat ini sedang berada di dalam mobil berusaha menguatkan dirinya, tubuhnya yang masih terasa lemas dan hatinya yang rapuh membuatnya menangis tak berhenti.
Cukup lama berada di dalam mobil kini ia keluar dari garasi mobil menuju ke halaman depan.
Tin ...
Tin ...
Suara klakson mobil dibunyikan oleh Zelda sebagai tanda kepada sekuriti untuk membukakan pintu pagar.
Melihat mobil Zelda melintas pagar dibuka, kini Zelda sudah berada dijalan untuk mengemudi mobil seorang diri dan pergi ke sebuah makam. Meskipun menolak kenyataan jika ibunya tiada namun ia berusaha memastikan ketakutannya dengan mengunjungi makam.
Aku harus kesana, memastikan jika yang ada disana hanya nama kakak dan ayah.
Saat sedang mengemudi tiba-tiba dia teringat sebuah kalimat tahlil yang diucapkan ibunya tadi hingga membuat hatinya merasa tak karuan, kalimat tersebut terngiang ditelinganya.
"Tidak ... tidak mungkin." teriak Zelda sambil menghentikan mobilnya tiba-tiba hingga membuat bannya berdecit kencang.
Ciiiiit .......
Seketika Zelda berhenti tepat di pinggir jalan depan sebuah rumah.
Cukup lama mobilnya berhenti di depan rumah hingga membuat sang pemilik rumah mencoba mengetuk kaca jendela.
Tok ...
Tok ...
Tak ada jawaban, justru ia melihat seorang wanita sedang membenamkan kepalanya pada setir seperti sedang tidur.
Siapa orang ini? Kenapa dia tidak menjawab ketukan ku?
Apa dia sedang tidur atau terjadi apa-apa padanya?
Diketuknya jendela kaca mobil untuk kesekian kalinya, Zelda yang tahu jika ada seseorang sedang mengetuk jendela kacanya, ia mulai menaikkan kepalanya dan menatap ke arah kaca sambil menekan tombol.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya si pemilik rumah kepada Zelda.
"Ya, saya baik-baik saja." ucap Zelda dengan suara parau dan membuka pintu mobilnya.
Mengetahui siapa wanita yang ada di dalam mobil, si pemilik rumah menyambut Zelda dengan ramah.
"Kamu Zelda kan, anak pak Imam?"
"Ya," ucap Zelda sambil mengangguk dan tersenyum.
"Saya ikut berduka ya nak, atas meninggalnya ibumu."
Mendengar ucapan bela sungkawa dari tetangganya membuat Zelda tanpa sadar mengeluarkan air mata.
"Kamu yang kuat nak, kalian sekeluarga orang baik, aku percaya surga adalah tempat keluarga mu berkumpul."
__ADS_1
Seketika linangan air mata Zelda berhenti, ia mengusap air matanya dengan kedua tangannya.
"Kamu terlihat tidak sehat, lebih baik jangan berkendara. Parkirkan mobilmu disana." tunjuk Bu Siti ke sebuah rumah.
Setelah memarkirkan mobil Zelda mendekati Bu Siti yang tak lain adalah istri dari pak RT.
"A--apa bunda di ma--kam--kan di dekat a--yah?" ucap Zelda dengan terbata.
"Ya," jawabnya heran.
"Kalau begitu aku akan ke makam bunda." pamit Zelda sambil berlalu.
"Aku antar ya." ucap Bu Siti namun dilihat Zelda sudah tidak ada.
"Mungkin Zelda ingin sendiri ke makam ibunya. Tapi .., kenapa dia terlihat seperti .. Ah sudahlah ..."
***
Di sebuah pemakaman
Zelda berjalan memasuki gerbang makam dengan langkah getir. Dia tak mengira jika ini adalah tempat dimana keluarga tercintanya dimakamkan. Dipandanginya banyak nisan di sampingnya, dan tinggal beberapa langkah lagi sebuah nisan bertuliskan nama ayah dan kakak nya tertulis dan benar sebuah nama ibunya telah terukir di nisan yang terlihat masih baru.
"Assalamualaikum, ayah ...
Assalamualaikum kak ...
Aku datang ..." ucap Zelda sambil duduk dan memegangi nisan ibunya.
"Apa kabar kak?
Apa kabar ayah?"
Zelda masih tak sanggup menyapa ibunya meski dia sudah melihat nisan bertuliskan nama ibu nya.
"Apa kalian tidak menayangkan kabarku?
Saat ini aku rapuh ayah, ayah tahu kenapa? Apa kakak tahu???
Bunda ... bunda telah pergi, bunda pergi menemui kalian." ucap Zelda sambil menangis.
Setelah menangis dia diam sejenak sambil memandang makam ibunya yang masih basah.
"Kalian tahu, Ini makam ibu, ayah.
Ini makam Bunda, kak.
Mana makam ku? Kenapa kalian tidak mengajakku juga??" tanya Zelda dengan menangis tersedu-sedu.
"Apa kalian tidak mencintai ku sehingga meninggalkanku seorang diri.
Bunda ..., saat itu hanya ibu yang aku punya tapi sekarang aku punya siapa? Aku tidak punya siapa-siapa, Bu.
Apa bunda tidak sayang padaku?"
Zelda kini memeluk nisan ibunya sambil mengusap-usap nama yang tertulis disana. Sejenak dirinya diam dan mengusap air matanya. Diambilnya nafas dalam-dalam untuk mengatur nafas dan bicaranya.
"Ya Allah, kenapa engkau ambil semua orang yang ku sayang! Pertama kak Hugo, kedua ayah dan sekarang bunda!
Kenapa Engkau tidak mengizinkan aku bahagia!
Bahkan kebahagian yang baru saja menghampiriku kini sirna! Apa salahku?!" ucap Zelda sambil memandangi ketiga gundukan tanah di hadapannya sambil menangis.
Saat tangisannya keluar dengan keras seketika angin berhembus hingga membuat daun kering berjatuhan dari pohon nya.
Seketika Zelda mendongak kan kepalanya keatas untuk melihat pohon yang daunnya berguguran.
"Apa kalian disana melihat dan mendengar ku?" ucapnya lugu, sambil masih melihat ke atas.
Saat dirinya sedang mendongak ke atas sebuah tangan sedang memegang pundaknya.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
Mohon dukungannya. Like dan comment.
__ADS_1
Terimakasih..