Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 67. DIA KEPONAKANKU.


__ADS_3

"Ibu, kenapa ibu membawaku masuk? Kenapa ibu bersikap tidak sopan kepada paman yang menolong ku? Dan kenapa ibu hanya berkata terimakasih?" tanya Nata polos sambil memandang wajah ibunya yang terlihat takut.


Zelda yang ditanya diam sambil melihat putrinya dengan tatapan tak biasa.


"Ibu ... Ibu kenapa diam dan menangis? Apa Nata bersalah pada ibu?" tanya Nata sambil mengusap air mata Zelda.


Zelda yang ditanya tak mampu berkata lalu memeluk putrinya erat.


"Ibu, Nata tidak akan kemana-mana." ucap Nata yang bingung dengan sikap ibunya.


"Nata anak ibu, ibu sayang Nata." ucap Zelda dengan suara lirih.


"Iya ibu, Nata anak ayah dan Ibu." ucap Nata sambil mengusap air mata Zelda yang keluar.


Setelah mengusap air mata ibunya kini Mata mencium kening ibunya, kecupan yang diberikan putrinya membuat Zelda tak tahan untuk membendung tangisannya karena ia takut jika Henri akan mengambil putrinya dan menyerahkannya kepada Yugo.


Disebuah ruangan yang berdekatan dengan taman terlihat dua orang pria sedang mengamati drama tangisan antara ibu dengan putrinya dari jendela. Kedua pria tersebut tak lain adalah Henri dan Horison.


Horison sendiri tak pernah menyangka jika gadis kecil yang ia tolong adalah putri Zelda.


"Jadi benar kamu sudah menikahinya?"


"Ya."


"Lalu gadis kecil itu, apakah putri kalian?"


"Kami menikah setelah istriku melahirkan."


"Jadi kamu pria itu?"


"Ya,"


"Tapi kenapa saat itu engkau mengajak mereka pulang? Bukankah saat itu engkau tahu bagaimana keadaan Yugo?"


"Yang menjadi prioritas ku adalah Zelda dan bayinya. Apa bapak lupa jika pak Yugo dan Bu Zelda sudah bercerai, bahkan bapak tidak tahu jika saat itu ibu edang mengandung."


Henri diam sekejap, ia tahu jika sikap sahabatnya salah.


"Tapi setidaknya izinkan dia bertemu dengan putrinya walau sebentar. Apa kamu tidak tahu betapa menderitanya Yugo, dia memang tidak tahu jika Zelda telah mengandung saat ia menceraikannya.


Namun tahu kah engkau setelah dia terbangun dari tidur panjangnya pasca kecelakaan ia merasakan kehadiran Zelda dan seorang anak perempuan berada di dekatnya dan itu berlangsung sampai saat ini.


Kami semua yang mendengar cerita itu menganggap Yugo sedang berhalusinasi karena merindukan Zelda.


Setelah perceraiannya dengan Zelda hidupnya merasa hampa, dia sangat tertekan dan merasa bersalahnya kepada Zelda.


"Bukankah bapak adalah orang hebat yang sanggup mencari orang meskipun orang itu berada di lubang semut."


"Ada seseorang yang sengaja menghalangi kami agar tidak bisa melacak keberadaan Zelda, dan orang itu tak lain adalah engkau." ucap Henri sambil menatap tajam ke arah Horison.


"Maaf. Aku melakukan itu karena aku mendengar semua pembicaraan kalian waktu itu."


"Pembicaraan apa?" tanya Henri heran.


"Pak Yugo yang menyesali keputusannya karena telah menceraikan istrinya berniat untuk rujuk, ia yang tahu bagaimana syarat rujuk tak bis menerima jika mantan istrinya harus menikah dengan pria lain, akhirnya ia memintamu untuk menikahi Zelda.


Oleh karena itu saat engkau mengutarakan niat untuk menikahi Pika beliau meminta tolong pada kalian agar menunda pernikahan kalian.


Aku tahu itu mustahil bagimu, karena engkau begitu mencintai Pika. Aku tahu kalian diam-diam telah menikah, bukan?"


Mendengar penjelasan tersebut membuat Henri kaget, dia tak percaya bahwa Horison mengetahui semuanya termasuk rahasianya dengan Pika.


"Siapa sebenarnya dirimu?"


"Lihatlah aku baik-baik,"

__ADS_1


Henri yang sedari tadi berbicara kini mulai lebih melihat detail lawan bicaranya, tak hanya itu ia juga mencoba mengingat siapa pria dihadapannya.


"Aku adalah anak kecil yang pernah ditolong oleh keluarga pak Arthadinata, aku adalah OB yang pernah meneror Sonny dan Vian, Aku adalah Dodo." ucap Horison membuka jati dirinya.


"Dodo?? Tapi kamu?" tanya Henri yang masih tak percaya dengan ucapan Dodo, karena ia masih mencoba mencari kebenaran antara wajah OB yang dikenalnya dulu dengan pria tampan dan berada yang ada dihadapannya.


"Benar, aku Dodo. Dodo Horison. Aku sendiri tak percaya jika aku adalah putra yang hilang dari keluarga Horison, dan aku ditemukan oleh ibu dan bapak yang bekerja dirumah orangtua pak Yugo.”


"Lalu kenapa engkau menjadi OB saat itu dan meninggalkan perusahaan mu."


"Aku merasa tidak pantas menjadi seorang pewaris, namun setelah kecelakaan yang dialami kedua orangtuaku hingga mereka meninggal maka aku mengambil alih secara tidak langsung. Ditambah keinginan pak Yugo tadi maka aku mulai berani membuka jati diri dengan memimpin perusahaan dan menikahi Zelda."


"Terimakasih engkau telah mengerti perasaanku tapi apa engkau tahu apa alasan Yugo memintaku untuk menikahi Zelda?"


"Tahu."


"Lalu bagaiamana denganmu? Kalian sudah menikah selama bertahun-tahun, usia pernikahan yang tidak main-main."


"Jika sudah waktunya nanti aku akan menceritakan semuanya dan mempertemukan istriku dengan pak Yugo." ucap Horison sambil tersenyum.


Mendengar itu Henri tahu jika ada sebuah rahasia yang tak seharusnya dia mengetahui, hingga akhirnya ia meminta izin untuk mengakhiri percakapan keduanya.


"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang. Tapi ..., bisakah engkau mengizinkan aku untuk berbicara dengan Zelda?"


"Silakan." ucap Horison kepada Henri.


Setelah mendapat izin berbicara dengan Zelda kini Henri segera menuju ke taman belakang tempat dimana dirinya tadi melihat Zelda memeluk putrinya.


"Zee ..." sapa Henri.


Zelda yang namanya dipanggil sengaja tidak menoleh karena dirinya tahu siapa yang sedang memanggilnya.


"Aku tahu kamu mendengar panggilan ku . Baiklah tak apa jika kamu tidak ingin menyapaku.


Jujur aku tidak tahu jika dia adalah putrimu, saat itu aku benar-benar tulus menolongnya.


"Aku tahu kamu tidak menyukai kehadiran ku disini tapi tolong lihatlah aku sebagai penolong putrimu."


"Jangan libatkan putriku."


"Tapi karena putrimu lah akhirnya kita kembali bertemu. Ini takdir Zelda."


"Takdir yang seharusnya bisa dihindari." ucap Zelda dingin.


"Jangan lupa Zelda, meski kalian adalah mantan pasangan suami istri tapi tidak ada mantan orangtua ataupun mantan anak."


"Apa maksudmu?" tanya Zelda mulai geram.


"Nata adalah putrimu dan Yugo, bukan?"


"Jangan sembarangan! Dia adalah putriku dan Horison. Yumna Razeta Putri Horison, itu namanya."


"Kamu benar tapi darah lebih kental, lihatlah wajahnya yang begitu mirip dengan Yugo sedangkan hidung, mata dan bibir dia terlihat mirip denganmu."


"Apa maumu sebenarnya? antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa." tanya Zelda dengan marah.


"Kemarahan mu membuktikan bahwa engkau masih memiliki rasa kepada Yugo."


"Tutup mulutmu, aku adalah istri dari Horison, dan aku begitu mencintai suamiku."


"Aku percaya, hanya pria bodoh yang menyakiti dan melepasmu. Pria bodoh itu kini telah menyesal dan menanggung semuanya." ucap Henri dengan nada lemah untuk mendapatkan simpati Zelda.


Harapannya agar Zelda bertanya balik tentang keadaan Yugo sepertinya gagal, Zelda sama sekali tidak menoleh kepadanya, dirinya tetap duduk di posisinya sambil memandang air kolam yang berada di taman.


"Aku pamit, tolong sampaikan salamku kepada Nata." ucap Henri lalu meninggalkan Zelda dan menuju ke mobil tempat dirinya memarkir.

__ADS_1


Didalam mobil banyak kata-kata yang hendak ia sampaikan kepada istrinya, sekejap wajah Nata terlintas dibenaknya.


Aku tak pernah menyangka jika gadis kecil adalah keponakanku sendiri.


Pantas saja wajahnya begitu mirip dengan Yugo, ku kira dia adalah kembaran Yugo.


***


Di sebuah kamar yang besar terlihat Horison sedang duduk sambil melihat foto keluarga kecilnya, terlihat dia, Zelda dan juga Nata sedang tertawa bahagia. Dirinya yang sedang menyuapi kue ulang tahun kepada Zelda tersenyum bahagia memandang dirinya.


Tak tahu apa yang ada di dalam benaknya, ia hanya tersenyum lalu melihat ponselnya, terlihat bulir air mata membasahi layar ponselnya, hingga sebuah ketukan pintu membuatnya mengusap matanya yang basah.


Tok ...


Tok....


"Masuk!"


"Ayah ..." panggil Nata dengan suara manja.


"Hi gadis kecil ayah..." ucap Horison sambil menggendong putrinya lalu ditaruh di pangkuannya."


"Aku bukan gadis kecil ayah, aku sudah besar." jawab Nata dengan cemberut.


"Iya -iya ...Nata putriku." ucapnya sambil mencubit lalu merapikan poni Nata yang terlihat berantakan.


"Apa ayah tahu siapa paman tadi?"


"Paman yang mana?" tanya Horison pura-pura tidak tahu.


"Paman yang tadi, yang tadi mengantarku."


"Oh, paman Henri?"


"Nata tidak tahu namanya, yang jelas aku memanggilnya paman dokter."


"Kenapa memangnya kalau ayah kenal dan kenapa memangnya jika ayah tidak kenal?" tanya Horison balik kepada putrinya.


"Dia baik padaku tapi kenapa ibu tidak bersikap baik padanya?"


"Bukan ibu tidak bersikap baik tapi sebagai seorang ibu wajar jika ibu khawatir saat tahu engkau bersama dengan orang asing."


"Sepertinya dia bukan orang asing bagi ibu, karena aku mendengar paman tadi memanggil ibu dengan sebutan Zee?"


"Zeee, siapa itu? Dan kapan engkau tahu paman tadi memanggil ibu dengan panggilan Zee?"


"Tadi, itu nama panggilan ibu kan? Aku biasanya juga mendengar bibi Anggie memanggil ibu dengan kata Zee."


Mendengar ucapan putrinya membuat Horison tercengang, dia takut jika apa yang dibicarakan antara Henri dengan istrinya di dengar semuanya.


"Jadi, Nata mendengar apa saja yang dibicarakan paman dokter dengan ibu?"


"Tidak, karena ibu dan paman dokter bicara dengan bahasa yang tidak ku ketahui. Jadi, Zee itu siapa ayah? Apa benar ibu?" tanya Nata lagi.


Hati Horison merasa lega mendengar itu, "Nata putriku, ayah rasa Zee yang dipanggil paman dokter dan bibi Anggie berbeda. Baiklah princess ini sudah sore, waktunya engkau mandi." ucap Horison sambil menggendong putrinya keluar dari ruang kerjanya.


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.

__ADS_1


Terimakasih.


__ADS_2