
Zelda berjalan menuju ke sebuah tempat tidur berukuran besar yang sedari tadi sudah menantinya, tak hanya kasur yang menanti dirinya namun seorang lelaki tampan yang terlihat nakal sudah menunggu dirinya untuk melaksanakan sebuah tugas.
"Kemarilah, duduk dan berbaringlah disini!"
Yugo yang hampir sebulan ini sama sekali tidak bertemu dengan Zelda merasa rindu dan kini wanita yang ia rindukan sudah menjadi istrinya. Zelda yang diminta duduk terlihat begitu gugup dan tegang.
"Kenapa wajahmu begitu tegang?"
Mendengar ucapan suaminya, Zelda menjadi semakin salah tingkah dan menyembunyikan kegugupannya dengan menunduk tanpa berani menatap wajah sang suami.
"Angkat kepalamu? Kenapa setelah menikah kamu terlihat malu-malu?"
"T--tidak, aku tidak malu-malu."
"Kalau begitu tatap aku!"
Zelda yang dari tadi menunduk kini mencoba mengangkat wajahnya dan menatap lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya."
"Kamu sengaja menggodaku?" tanya Yugo yang kini melihat Zelda.
"Menggoda? Tidak."
"Jika tidak, mengapa hanya menggunakan baju handuk tanpa pakaian dalam?"
Seketika Zelda memegangi kerah baju handuknya.
"Kalau kamu begitu jangan salahkan aku untuk melakukannya." ucap Yugo sambil mendekatkan dirinya ke tubuh Zelda.
"M--melakukan apa?"
Yugo mulai menarik ikatan baju handuk Zelda, seketika membuat jantung nya berdegup kencang berbarengan dengan sebuah rasa entah apa yang pasti sesuatu yang belum pernah ia rasakan. Zelda berusaha untuk tidak terhanyut dengan rasa syahdu yang muncul dalam dirinya namun semakin ia menghilangkan justru rasa syahdu itu semakin menggelitik tubuhnya, tak tahan menahan dia mencoba untuk menutup kedua matanya sambil menelan ludah.
Yugo yang melihat leher jenjang sang istri sedang menelan saliva justru membuat dirinya ingin sekali mencium leher putih tersebut namun ia berusaha menahan hasratnya.
"Kenapa menutup mata? Apa kamu merasakan sesuatu? Aku belum memulai, apa kamu mau memulainya?" bisik Yugo sambil mengeratkan ikatan tali baju handuk yang hampir kendor.
"Jika kamu ingin, silakan."
"Aku memang ingin tapi apa kamu juga ingin?" goda Yugo.
"Kenapa bertanya? Bukankah kamu berhak melakukannya tanpa meminta izin?" tanya Zelda dengan kesal. Yugo yang sengaja membuat istrinya kesal paham jika saat ini sang istri sedang menahan sesuatu.
"Marah?"
"Ti-"
Belum sempat Zelda melanjutkan ucapannya Yugo segera mencium sesuatu yang diincarnya sedari tadi, yaitu leher putih jenjang milik istrinya. Zelda tercekat tak dapat melanjutkan ucapannya dan benar-benar membuat dirinya melayang hingga tanpa sadar Yugo telah melepas baju handuk yang direkatkan tadi.
"Bagaimana? Apa begitu nikmat? bisik Yugo sambil menempelkan bibir tipisnya seakan mengigit daun telinga Zelda.
Zelda hanya mengangguk sambil merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Aw ..." jerit Zelda dengan suara sedikit serak.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku ...aku ..."
"Lepaskan suaramu, aku ingin dengar."
Kini suara Zelda benar-benar terdengar dan membuat Yugo semakin bersemangat dan membuat Zelda tanpa sadar telah melepaskan baju handuk miliknya dari tubuhnya.
Saat ini tubuh indah istrinya terlihat jelas, tak ada sehelai kain yang menutupinya, Yugo yang melihat begitu kagum dengan keindahan didepannya. Ia bahkan tak sabar untuk menyentuh dan memainkan gunung kembar milik istrinya.
******* yang keluar dari mulut Zelda membuat Yugo semakin energik hingga membuat Zelda menggeliat dan lemas karena berulang kali telah mencapai puncak.
"Honey..." teriak Zelda sambil menjambak rambut Yugo.
Yugo yang dipanggil sayang membuatnya berhenti dan memandang wajah Zelda.
"Coba ulangi." pinta Yugo dengan lembut.
"Kenapa berhenti?" tanya Zelda dengan nada kecewa karena tiba-tiba Yugo mengentikan aktivitas yang sedang membuat Zelda merasa keenakan.
"Aku ingin kamu mengulangi kalimat saat engkau berteriak tadi."
Zelda bingung, dirinya tidak ingat kalimat apa yang tadi ia ucapkan saat dirinya sedang mengerang keenakan. Ia mencoba mengingat ucapannya sendiri.
"Honey?"
"Ya, jangan pernah memanggil kata lain jika kita sedang bersama."
"Bagaimana jika aku lupa atau tidak sengaja?"
Zelda kini bisa melihat tubuh Yugo dengan jelas, badan suaminya yang tinggi atletis, otot yang selalu ditutupi kini dapat dilihatnya.
Setelah membuat istrinya menggeliat kini saatnya ia mengeluarkan apa yang harus ia keluarkan.
"Aku akan melakukannya dengan pelan,"
Zelda mengangguk, dirinya merasakan sesuatu yang besar dan keras masuk, tak dapat dipungkiri rasa sakit muncul hingga air matanya keluar. Zelda mencoba mengabaikan rasa sakitnya dengan menikmati hentakan yang berulang kali Yugo lakukan.
Ternyata rasa sakit tadi kini telah berubah menjadi rasa yang paling nikmat dari rasa sebelumnya. Keduanya sama-sama telah mencapai puncak.
Saat ini keduanya sedang berbaring sambil saling menatap.
"Terimakasih."
"Ya, aku juga." jawab Zelda malu-malu.
"Apa tadi sakit?" bisik Yugo tepat di telinga Istrinya.
Zelda mengangguk.
"Itu hanya awal, nanti jika sering maka tak akan sakit lagi."
Zelda menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena ia sedang malu, jika mengingat jeritan.
__ADS_1
Melihat itu Yugo menjadi gemas dan memeluk sang istri sambil bercerita hingga keduanya tertidur.
Keesokan paginya Zelda yang masih lelah harus berusaha melebarkan matanya karena sebuah sentuhan lembut yang dirasakannya.
"Sudah bangun?" tanya Yugo sambil mengecup kening Zelda.
"Iya," ucapnya malu-malu.
"Terimakasih semalam, aku merasa lebih segar dan energik. Aku tak menyangka kamu begitu agresif." ucap Yugo mengulang pujiannya kepada Zelda.
Mendengar itu Zelda kembali malu, ia kemudian memasukkan tubuhnya masih ke dalam bedcover.
Gemas dengan kelakuan sang istri, Yugo menggodanya dengan ikut masuk kedalam bed cover hingga membuat keduanya berada dalam satu kain tebal tersebut hingga terjadilah pertemuan senjata kedalam sarangnya untuk yang kesekian kalinya.
Selesai bergulat untuk yang kesekian kalinya kini keduanya saling melempar senyum.
"Honey, apa kamu tak merasa lapar?" tanya Zelda malu.
"Sebenarnya aku sudah kenyang,"
"Kenyang?" tanya Zelda heran
"Ya, baru saja. Aku baru saja makan milikmu ini." goda Yugo sambil menunjuk gunung kembar milik Zelda.
Zelda yang digoda tersenyum dan segera mengambil bedcover untuk menutup tubuhnya, lalu mulai beranjak dari tempat tidur dan -
"Aww...!" teriak Zelda lirih.
"Kenapa?"
"Tidak." Zelda menahan rasa sakit lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dengan langkah pelan.
Selesai mandi ia keluar hanya menggunakan handuk yang menutupi separuh badannya menuju ke sebuah koper yang berada di dekat tempat tidur.
"Apa masih sakit?" tanya Yugo khawatir.
"Tidak." jawab Zelda sambil mencari mencari baju yang tepat.
"Pakai lah ini, setelah ini kini makan pagi lalu kita harus check out."
Zelda mengambil pakaian yang diberikan Yugo,, yaitu sebuah jumpsuit lengan warna hitam dengan aksesoris sabuk berukuran besar.
"Istriku memang cantik. Pakailah ini juga." Yugo memberikan anting panjang warna gold tipis ditambah dengan sebuah sandal bertali warna nude, sedangkan untuk tatanan rambut Zelda hanya mengikat rapi dengan styling poni tirai.
Zelda yang dipuji tersenyum lebar. Selesai berganti pakaian, kini keduanya menuju ke restauran untuk makan pagi sambil membawa koper karena Yugo ingin memberikan sebuah kejutan kepada Zelda.
.
.
.
Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰
__ADS_1
Mohon dukungannya. Like dan comment.
Terimakasih..❤️❤️