Remember Me, Dears

Remember Me, Dears
BAB 68. BUKTI CINTA.


__ADS_3

Pagi hari


"Pagi ayah..." sapa Nata kepada Horison yang sedang berada di meja makan.


"Pagi sayang ..." balasnya sambil menyeruput jus buah strawbery pisang kesukaannya.


"Kemana ibu?" tanya Nata kepada ayahnya.


"Sepertinya ibu masih tidur." jawab Horison asal.


"Tidur? Apa semalam ayah dan ibu telah membuatkan aku seorang adik?" tanya Nata polos.


"Membuat adik? Bagaiamana caranya?" tanya Horison sambil mengerutkan dahinya kaget. Dirinya tak percaya dengan pertanyaan putrinya.


"Iya membuat adik, saat itu orangtua Celine, sahabat Nata telat menjemput dan saat mereka datang mereka bilang maaf papa mama terlambat karena kami baru saja selesai membuatkan adik untukmu agar Celine tidak kesepian." cerita Nata polos.


"Jadi Nata ingin seorang adik?" tanya Zelda yang tiba-tiba sudah berada di antara suami dan putrinya.


"Ya, aku mau Bu. Tolong buatkan aku seorang adik." mohon Nata kepada ibunya.


Zelda tidak menjawab ia hanya tersenyum duduk disamping Horison lalu memandanginya.


"Kenapa ibu tersenyum sambil melihat ayah? Apa ibu mencintai ayah?"


"Iya, ibu mencintainya." ucapnya sambil masih memandang Horison.


"Lalu ayah, apa juga mencintai ibu?” tanya Nata memandang ayahnya.


Horison yang ditanya berusaha tenang sambil menelan ludah.


"Jawab ayah?" tanya Nata paksa.


"Tanpa ayah jawabpun engkau sudah tahu jawaban nya."


"Tapi aku ingin dengar ayah? Bukankah wanita sangat senang jika pasangannya mengatakan kata cinta untuknya?" paksa Nata kepada ayahnya.


"Tidak semua wanita menyukai itu, karena tidak semua pria bisa dan tulus saat mengucapkan kalimat tersebut, yang terpenting adalah sebagai seorang pria bisa membuktikan agar pasangannya merasa disayang."


"Bagaiamana cara membuktikan nya ayah? Karena yang Nata tahu kedua orangtua teman Nata selalu mengecup kening, bibir sambil berucap i love you, bahkan mereka sering bergandengan tangan."


"Kita pun sering melakukan itu, namun bedanya kita tidak pernah melakukannya di depan umum bahkan di depan mu, karena sebuah kemesraan tidak perlu diumbar di depan umum apalagi di depan anak-anak seusiamu." jelas Zelda kepada putrinya. "Bukan begitu ayah?" lanjut Zelda memberitahu putrinya sambil mengusap noda jus yang berada di sekitar mulut suaminya.


"I-iya, ibumu benar." balas Horison dengan sedikit kaget melihat sikap Zelda yang sedikit berani.


Setelah selesai makan pagi, kini Nata berada di dalam mobil untuk berangkat ke sekolah bersama pak Izrul yang tak lain supir pribadi Nata.


Di dalam mobil Nata terlihat diam tidak seperti biasanya yang selalu menyanyikan beberapa lagu.


Ada apa dengan Nona muda, kenapa raut wajahnya tidak seperti biasanya?


Seperti sedang memikirkan sesuatu.


Sikap Nata yang berbeda membuat pak Irul khawatir.


"Apa Nona sedang memikirkan sesuatu?" tanya pak Irul sambil melihat ke arah spion.


Nata tidak menjawab, ia hanya mengangguk.


"Apa saya boleh tahu?"


"Menurut bapak aku mirip dengan siapa, ayah atau ibu?"


"Mirip dengan ibu."

__ADS_1


"Kenapa bukan ayah?"


"Karena gen yang dominan dari ibu." jelas pak Irul sambil tersenyum saat mendapat pertanyaan dari anak umur lima tahun.


"Tapi aku ingin mirip seperti ayah dan ibu, karena jika aku hanya mirip ibu maka orang akan menganggap ku adalah anak ibu bukan anak ayah dan ibu."


Pak Irul yang mendengar itu tidak dapat menahan tawanya ia tertawa terbahak-bahak mendengar itu.


"Kenapa tertawa?"


"Asal Nona muda tahu, wajah saya sama sekali tidak mirip dengan ibu bapak di kampung, justru saya mirip dengan tokoh idola ibu, padahal saya adalah anak ibu dan bapak."


"Siapa tokoh idola ibunya bapak?"


"Coba lihat wajah saya." ucap pak Irul sambil meminggirkan mobilnya karena ingin berhenti sejenak.


"Memangnya tokoh idola bapak pak Irul siapa?" tanya Nata sambil mengerutkan dahinya memandang wajah pak Irul dengan seksama.


"Lha itu bapak gak tahu namanya, yang jelas kata ibu saya, itu poster idola ibu."


"Boleh aku lihat foto kedua orang tua bapak?"


"Ini." ucap pak Irul sambil menunjukkan foto yang ada di ponselnya.


"Hah ... Jadi ini foto bapak dan ibunya, aku rasa idola ibu pak Irul adalah ayah pak Irul, makanya bapak itu mirip idola ibunya yang tak lain ayah pak Irul." jelas Nata sambil mengembalikan ponsel milik supirnya tersebut.


"Begitu ya Non," ucapnya sambil menggaruk kepalanya lalu kembali melanjutkan perjalanan nya menuju sekolah Nata.


***


Selesai sarapan, Horison yang biasanya berada di taman untuk menunggu kedatangan Richard kini memilih untuk berjalan menuju ke ruang kerjanya. Melihat itu segera Zelda mengikuti langkah Horison, namun Zelda memilih untuk masuk lewat kamar mereka.


Sebuah kamar yang orang tahu bahwa kamar itu adalah kamar utama keduanya. Tidak ada yang tahu jika kamar utama itu adalah kamar Zelda yang terhubung dengan ruang kerja Horison dan juga dengan kamar milik Horison.


"Kemana dia? Apa dia sudah keluar?" gumam Zelda.


"Tidak ... tidak mungkin. Dia baru saja masuk, apa dia berada di dalam?" tanya Zelda lirih.


Penasaran dengan keberadaan suaminya, Zelda mulai menekan tombol yang ada di bawah ruang kerja suaminya hingga sebuah dinding pun bergeser sendirinya.


Ia mulai berjalan memasuki sebuah kamar yang dia sendiri belum pernah memasukinya selama lima tahun mereka menikah.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Horison melihat kedatangan Zelda.


Zelda yang ditanya tidak menggubris, ia lebih fokus kepada beberapa gambar yang ada di pigura kamar milik suaminya, terlihat sebuah gambar yang menarik baginya.


"Siapa sebenarnya aku bagimu?" tanya Zelda dengan berlinang air mata.


"Pertanyaan macam apa itu?" tanya Horison tanpa melihat Zelda, karena ia sedang fokus kepada laptop yang ada di depannya.


"Jawab!"


"Ada apa sebenarnya dengan kalian berdua, tadi Nata yang mempertanyakan bukti cinta sekarang engkau." tanya Horison enteng dan tidak memandang istrinya.


"Jawab!" perintah Zelda geram.


Horison mulai membetulkan kacamatanya lalu menaruh laptop ke atas meja, lalu dirinya mulai bersandar di sofa.


"Kamu adalah ibu dari Yumna Razeta Putri Horison, yang tak lain adalah putri ku."


"Hanya itu?"


"Lebih dari itu."

__ADS_1


"Kalau begitu katakan, siapa aku di matamu?"


Mendengar pertanyaan itu, Horison mulai berdiri sambil meneguk segelas air putih yang ada di mejanya.


"Kamu istriku.” ucap Horison datar sambil melanjutkan minumnya.


"Jika kita berdua adalah suami istri lalu mengapa engkau tidak pernah memintaku untuk melakukan kewajibanku bahkan singgah di kamarmu? Kenapa kita harus tidur terpisah mulai awal menikah?"


Mendengar itu Horison hanya diam dan melanjutkan kegiatannya untuk mengetik.


"Kenapa hanya diam dan tidak menjawab, ini sudah tahun ke lima kita menikah namun kita seperti orang asing satu sama lain.


Kenapa? Bahkan sebuah kata cinta tak pernah kau ucapkan.


Jika kamu cinta kenapa kita harus seperti ini, apa aku hanya sebagai pelengkap statusmu di buku nikah dan kartu keluarga?"


Lalu apa yang kamu inginkan?"


"Aku ingin lebih dari itu! Aku tidak hanya ingin bersanding denganmu di foto ini saja tapi aku juga ingin lainnya dan setiap waktu.”


"Seperti??" tanya Horison yang mulai menanggapi ucapan Zelda.


"Seperti...seperti layaknya pasangan suami istri lainnya."


"Kamu ingin aku seperti orangtua teman Nata, yang mengucapkan I love you."


"Ya."


"Bukankah aku sudah setia, dan selalu menjaga kalian berdua.


Apa engkau masih meragukanku?"


"Aku tidak meragukan tapi -"


"Tapi apa?" tanya Horison yang kini mulai menatap istrinya.


"Sudahlah, lupakan." ucap Zelda sambil menutup matanya lalu berjalan.


Melihat Zelda yang berjalan menjauhinya membuat Horison bersalah atas apa yang sudah ia lakukan pada istrinya.


Entah perasaan apa yang membuat dirinya tiba-tiba merasakan sakit teramat di dalam hatinya, hingga ia mengejar Zelda dan menggendong istrinya ala bridal style.


Merasa tubuhnya terbang Zelda berusaha menikmatinya meski ia merasa kaget dan was-was karena saat ini Horison sedang menindih nya dia atas sofa panjang yang ada di ruang kerja Horison.


"Apa ini yang kamu inginkan?" tanya Horison yang sekarang sedang menggagahi Zelda, bahkan ia saat ini sedang mendekatkan bibirnya di telinga Zelda hingga membuat bulu-bulu Zelda berdiri.


"Apa kamu berharap aku menciummu juga?" tanya Horison lagi kepada istrinya.


Zelda hanya mengangguk sambil menitihkan air mata bahagia, ia tak menyangka jika lima tahun pernikahan pagi ini ia akan benar-benar merasa menjadi seorang istri dari Dodo Horison. Bahkan sejenak permasalahannya kemarin sore mulai memudar.


Angan-angan bahagianya mulai merasuk ...


.


.


.


Ditunggu kelanjutannya 🤗🥰


Mohon dukungannya. Like dan comment.


Terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2