
Sampai di ruangannya Arka membuka Jendela kesukaanya, karena dia dapat melihat isi kota dengan sangat jelas. Arka sedikit menarik dasi yang agak menempel di lehernya, sambil menarik nafas panjang dia menekan Bel melani asisten di kantornya.
Melani masuk ke ruangan Arka dengan muka agak tegang. Melani mencoba menetralisir ketegangan yang dia alami, dan Arka pun tau apa yang dialami oleh Melani.
“Iy Pak Arka apa yang bisa saya bantu?”
“Buatkan saya kopi seperti yang biasa saya minum,” sambil membelakangi Melani yang berdiri di depan meja Arka yang tidak menoleh sedikitpun.
“Iy Pak, akan saya buatkan.”
Hem..,sikapnya masih sama seperti sebelumnya, tidak mau menatap wanita yang bukan muhrimnya.., tapi ini malah kebih serem! Hi jadi menakutkan lagi dech, tapi tidak apa lah, Pak Arka orangnya juga sangat baik. Buktinya dia tidak pernah memarahiku atau membentakku dia lebih sering mngingatkanku, tapi di luar itu semua Pak Arka orangnya tidak bisa tersentuh.., gimana kehidupan dengan Bu Selena dulu ya..?
“Jadi ngelantur deh aku ini,” Melani menjitak kepalanya sendiri karena sudah berguman yang aneh-aneh.
“Hai Mel, mau kemana?” Suara yang sangat akrab di telingan Melani.
“Eh Mas Rama, aku mau buat kopi untuk Pak Arka, dia sudah ngantor hari ini, tu di ruangannya.”
“Wau Arka sudah datang berarti, jadi keduluan Arka dech datangku hari ini.”
Rama berlari pelan menuju ruangan Arka, dia membuka pintu dan langsung disambut sama Arka.
“Kebiasaan kamu masih belum berubah juga Ram, masih datang ke kantor lebih pagi dari penunggu kantin.”
“Apa! Aku kamu bandingin dengan penunggu kantin, dasar lho ya, yang seleveldikit bisa kagak, biar harga diri gue g mlorot-mlorot amat.”
“Kapan kamu dapat penyakit Lho Gue, kayaknya baru-baru ini.”
“Dasar Bos HJG ini, biar lebih gaul sedikit gitu lah Ar,”
“Tapi aku tidak suka dengan penggilan Lho gue, sudah jangan dipakai lagi.”
“Iy iya Bos besar, kayak mau nerkam orang saj.”
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan Arka terbuka, Melani datang membawa 2 cangkir kopi pesanan Arka dan Rama.
“ini kopinya Pak,” Melani mempersilahkan Arka untuk menikmati kopi pesanannya yang ditaruh dimeja Arka, sedang kan punya Rama diletakkan di meja tamu yang ada di ruangan Arka.
Ruangan Arka di desain sangat nyaman ruangannya dilengkapi kamar tidur, kamar mandi dan ruang kantor, karena Arka memang sering beristirhat di kantor kala pekerjaan menumpuk. Orang yang sering menemaninya hanyalah Rama. Terkadang Melani harus ikut lembur.
Arka duduk di kursi singgasana HJG, dan Rama duduk di shofa tamu bersama Melani.
“Bagaimana perkembangan kotrak kita? Semoga lebih banyak yang minat untuk bekerjasama dengan perusahaan HJG. Aku berharap itu terjadi, karena mulai detik ini kita akan bekerja ekstra, tidak ada yang boleh lengah sedikitpun, aku akan mengembangkan sayap perusahaan menjadi lebih besar lagi. Kalian sudah siap apa belum Ram, Melani? Karena ini akan menguras tenaga dan pikiran kita semua, tapi jangan hawatir aku tidak akan mengambil waktu kalian bersama keluarga kalian sendiri.”
Melani dan Rama bengong menanggapi omongan Arka yang sangat banyak, mereka belum bisa mengasih respon.
“Hai ada apa dengan kalian, kenapa malah bengong!, Aku bertanya pada kalian berdua, apa kalian siap dengan semua resiko jika aku akan melebarkan sayap perusahaan? Karena selama ini kita sudah main saham dan aset properti kita kan merambah di bidang pertambangan berlian.”
“i iy Pak kami siap,”
Rama dan Melani serentak mengiyakan percakapan Arka.”
“Kalau begitu hari ini cepat siapkan rapat direksi karena setelah dzuhur aku akan mengumumkan pada seluruh karyawan dan dewan direksi bahwa kita akan segera bersiap untuk membuka kerjasama dengan perusahaan yang bermain di bidang tambang berlian.”
Ahirnya Melani keluar dari ruangan Arka mempersiapkan rapat direksi dan karyawan, berkas penting yang perlu disiapkan Melani minta tolong pada beberapa Karyawan yang kompetain. Ahirnya semua persiapan sudah selesai, dan rapat bisa dilaksanakan setelah Dzuhur.
“Arka, kamu sadar apa tidak, masuk kantor langsung punya program baru? Apa tidak kamu pertimbangkan lagi jika akan merambah ke duania pertambangan berlian, apalagi sekarang masih pandemi Corona, semua yang berkaitan dengan bisnis banyak yang lock down hingga banyak PHK dibanyak perusahaan,” Rama memberi pertimbangan pada Arka.
“Saya tau Ram, dan saya sudah mempertimbangkan dengan matang.”
“Ok kalau begitu aku akan mendukungmu semoga kita berhasil dalam pelebaran sayap bisnis perusahaan.”
“Oiy Arka apa kamu sudah menemukan wanita yang menjadi ibu dari anak IUI kamu, atau wanita itu malah tidak jadi hamil Ar?” Rama mencoba mencairkan rasa KEPO-nya selama ini.
“Belum, aku belum dapat kabar dari semua orang suruhan papa dan suruhanku sendiri.”
“O..,” Rama memonyongkan bibirnya saat
__ADS_1
merespon penjelasan Arka.
“Tapi apa kamu, sudah berusaha mencari informasi dari sumber lain, selain dari orang suruhanmu?”
“Belum Ram,” Arka meremas rambutnya tanda kefrustasian yang dia alami.
“Kamu sudah pergi ke tokoh lukis atau yang biasa membuat sketsa wajah orang yang ingin kita temukan belum?”
“Apa! Kenapa aku tidak berfikir ke sana, iy aku akan membikin janji dengan kenalan Papa yang jago bikin sketsa,”
Wajah Arka seperti ada cahaya yang bersinar cerah, senyum yang beberapa hari ini menghilang dari wajahnya mulai muncul sekalipun belum terlalu sempurna.
“Ok, aku akan menelepon Zaki karena mungkin dia tahu sosok wajah wanita yang menjalani IUI kemarin,”
Arka pun langsung menelepon Zaki. Sedangkan Ramamenunggunya di Shofa.
Arka segera mengambil benda pipih yang ada di meja kerjanya dan segera menelepon Dokter Zaki, lama berselang ahirnya Dokter Zaki mengangkat telepon dari Arka.
“Hallo Assalamu’alaikum,” Arka dan Dokter sama mengucapkan salam dan sama berbarengan menjawab salam, tapi Arka tidak mau kalah dia tetap yang menjadi dominan sifat bosnya sudah kental dan mendarah daging.
“Hari ini kamu ada jadwal tidak? aku akan mengajakmu ke tempat Ahli Sketsa wajah, aku ingin kamu menjelaskan bagaimana ciri-ciri wanita yang menjalani Sketsa kemarin harus hari ini, tapi nanti setelah Ashar, karena habis Dhuhur ini aku ada rapat dengan dewan direksi.”
“Iy boleh kebetulan aku ini lagi santai karena shif malam,”
Dokter Zaki menarik nafas karena sekilas mengingat wajah wanita itu, dari matanya dia wanita ayu cerdas tangguh, berani, tidak banyak omong serta santun tapi agak polos. Matanya begitu terlihat indah sekalipun hanya terlihat sepintas, matanya bulat lebar sayu dan meneduhkan, Dokter Zaki masih mengingat wajah wanita yang menjalani IUI itu dan tidak terasa Dokter Zaki menelan ludanya dan seperti ada aliran listrik masuk ke tubuhnya yang membuat tubuhnya terasa hangat seketika. Dokter Zaki tersenyum sendiri saat mengingat wanita itu benar-benar masih perawan.
Di kantor, Arka masih sibuk menelepon papanya karena minta alamat orang yang ahli sketsa wajah orang yang sedang dicari, ternyata Pak Hari masih menyimpan alamat serta no Hp orang yang dimaksud Arka, sedangkan Pak Hari mendukung ide anak tunggalnya itu.
Rama yang sedari tadi menunggu Arka jadi ikut tegang tidak berkomentar apapun, dia hanya berharap orang yang dicari Arka selama hampir 1 bulan itu segera ketemu, dan semoga apapun yang terjadi itulah hasil yang terbaik untuk semua orang.
Sedangkan jam sudah mulai bergerak pukul 10.00 pagi sudah waktunya persiapan untuk rapat Direksi.
*
__ADS_1
Mohon Like, Vote, dan komennya ya Readers, biar Author tambah semangat Up Episode selanjutnya, ini Novel Perdana Author.. terimakasih