RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 16


__ADS_3

Ahirnya Bu Imah mendekati Arka, mereka ngobrol begitu banyak hal, Bu Imah mengerti dengan sikap Arka, dari pembicaraan yang panjang lebar itu, Bu imah dapat mengerti sedikit karakter Arka yang hangat dan ngayomi.


Malam semakin larut, Arka tidur sendiri di kamarnya, karena Luna masih tidur bersama Ibunya, di kala Arka mau berangkat tidur setelah mengecek Email yang masuk, suara Hp berdering Arka di atas nakas berdering dan Pak Hari yang menelepon.


“Assalamu”alaikum Arka.”


“Wa’alaikumsalam Pa.”


“Sebelumnya Papa minta maaf karena tidak memberi tau kamu dulu tentang persiapan pernikahan kamu, karena ketika pagi tadi ingin berbicara, kamu gugup mau segera ke kantor karena ada urusan penting, sedangkan Papa sudah mempersiapkan segalanya untuk keberlangsungan keturunan HJG, sekali lagi maafkan Papa, bukannya Papa tidak menganggapmu layak atau meremehkanmu, tapi lebih kepada pertimbangan keselamatan Luna dan calon cucuku. Papa hawatir kalau kita tidak segera bertindak, pihak yang tidak suka pada keluarga HJG, bisa saja memanfaatkan peluang yang sangat potensial ini, jaga istrimu dengan baik dan calon cucu Papa.”


“oy apa Luna sekarang sudah bersamamu?”


“Em.., belum Pa, Arka meminta Bu Imah untuk mengajak Luna tidur bersamanya, karena Arka hawatir, jika Luna belum siap untuk bersamaku, Arka hawatir jika Luna tidak nyaman, toh Arka juga masih ragu dengan perasaan Arka terhadap Luna, Luna juga sama, Arka hawatir Luna belum punya perasaan pada Arka, sudah dulu ya Pa, sepertinya perut Arka kelaparan, Arka akan ke dapur.”


“Ya sudah kalau begitu, jaga diri kamu baik-baik.”


“siap pa.”


Pak Hari menutup teleponnya dan mengucap salam pada Arka, Arka beranjak dari ranjang tidurnya, tiba-tiba perutnya sangat lapar, Arka keluar dan turun ke lantai satu tempat dapur berada, ketika turun dari tangga bau harum masakan seperti nasi goreng masuk ke hidung Arka begitu saja, semakin dekat dengan dapur bau harum nasgor semakin kuat.


“Lo Bu.., jam segini kok masak?”


“O.., nak Arka, ayo cepat sini.”


Tanpa Arka sadari ternyata Luna juga ada di situ dan!


“Au!, Luna menjerit karena keningnya menatap pintu Kulkas dua pintu, Luna lupa menutup pintu bagian atas saat dia berjongkok untuk mengambil buah yang terletak di kulkas bagian bawah. Darah sedikit keluar dari kening Luna dan ketika Luna mau memegang keningnya, Arka berlari serta menarik tangan Luna.


“jangan dipegang! Nanti malah infeksi, sebentar aku ambilkan obat.”

__ADS_1


Arka mengambil obat di kotak obat yang memang sudah tersedia di dapur itu, karena memang dapur rawan orang terkena api atau terluka karena pisau, perlahan Arka mengambil peralatan untuk mengobati kening Luna yang berdarah.


“Ayo duduk sini, tidak usah ngeri, ini Cuma luka sedikit! rileks saja,” tanpa ragu Arka mengobati kening Luna dan sedikit meniup kening Luna seolah ingin memberi kenyamanan pada Luna agar tidak merasa perih ketika diobati, Arka berulang-ulang meniup kening Luna tanpa mempedulikan wajah Luna yang memerah seperti buah Delima.


“nah sudah selesai! Lain kali hati-hati biar tidak lebih besar lukanya.”


Tanpa mereka sadari sepesang mata Bu Imah melihat tragedi romantis yang dilakukan sepasang sejoli itu sambil senyum-senyum sendiri, Bu Imah menatap mereka agak lama dan berharap mereka berdua akan hidup bahagia selamanya sampai kakek nenek dan maut memisahkan. Bu Imah berdehem agar mereka segera menyudahi pengobatan yang sudah selesai itu.


“Ayo kita makan, nanti keburu dingin makanannya,” Bu Imah duduk di meja makan lalu memakan menunya dengan porsi sedikit.


“Iy Bu, ini sudah selesai, Arka berdiri meninggalkan Luna yang masih duduk di sisi kulkas.”


“Ayo nduk.., tunggu apalagi, tadi kamu yang minta dibuatain nasi goreng katanya perutmu lapar.”


“Em.., iya Bu,” Luna bangkit dari duduknya dan duduk bersama Ibu dan suaminya.


“hem..,” Arka menjawab panggilan Bu Imah dengan singkat sambil terus memakan nasgornya dengan lahap.


“masakan Ibu sangat enak, aku boleh nambah lagi ya?” Arka berbicara sekalipun mulutnya penuh dengan nasi.


“Iya boleh,” Bu Imah merasa puas dan senang dengan pujian Arka tanda kalau masakannya begitu membuat Arka lahap.


“Seperti baru makan nasi goreng setelah satu tahun saja, makan kok kayak kuda nil.”


“Hus! Kamu ini ngomong apa nduk? Masak orang dibilang kuda kayak kuda nil.”


Luna pura-pura tidak mendengar Ibunya, dia pun sangat lahap makan nasgor buatan Ibunya.


“Tu kan liat, kamu sendiri saja kayak bebek makannya malah nyosor-nyosor!” Arka menggoda Luna sampi Luna batuk-batuk, dengan cekatan Arka bangun dan mengambilkan air minum untuk Luna, lalu Luna pun meminum air yang diberikan Arka padanya, sekali lagi Bu Imah tersenyum melihat tingkah mereka berdua.

__ADS_1


Dasar mereka ini, sepertinya sama-sama mulai saling suka tapi masih jaim, hemm memang dasar anak zaman sekarang, malu tapi mau. Bu Imah berbicara dalam hati.


“Ibu sudah selesai makan, silahkan kalian teruskan makannya, Ibu sudah mangantuk mau ke kamar dulu,” Bu Imah bangkit mau meninggalkan Luna danArka. Tapi tiba-tiba Luna dan Arka bertiriak bersamaan.


“jangan..!” karena kaget, Bu Imah terduduk kembali di kursinya.


“Ibu temani kami dulu, kita ngobrol sebentar..,” Arka menangkupkan ke dua tangannya memohon pada Bu Imah untuk tidak pergi terlebih dulu. Sedangkan Luna masih diam dan asyik makan nasgor.


Arka yang memohon ke Bu Imah mengalihkan pandangan ke arah Luna sejenak, tiba-tiba Arka melihat pemandangan yang baru dia sadari, sekarang Luna tidak memakai kerudung, Luna hanya memakai kaos oblong yang agak ketat, hingga menampakkan lekuk tubuh dan gunung kembarnya yang begitu menantang, terasa menantang sekali pun Luna menunduk ke bawah, rambut Luna panjang hitam legam terurai sampai di bawah bahu, kulitnya mulus yang agak ditumbuhi bulu-bulu halus semakin menambah keseksian gadis itu.


Tanpa Arka sadari dia menatap Luna sampai menelan salivanya. Dia merasa ada aliran listrik 1000V yang mengalir di tubuhnya, tubuhnya terasa sangat hangat sampai terasa ada yang ingin berdiri, apalagi Luna yang memakan nasgor agak pedas membuat keringatnya muncul satu persatu dari dahi, pelipis, dan leher jenjangnya, sekali lagi tanpa Arka sadari, dia yang menatap Luna tidak berkedip, tertangkap basah oleh Bu Imah, Bu Imah pun tersenyum sambil berdehem untuk yang ke dua kalinya.


“Eh Ibu,” Arka salah tingkah karena tertangkap basah oleh Ibu mertuanya saat dia mentap Luna seakan ingin memakan Luna hingga puas.


“Iy Ibu dan Luna, untuk sementara kalian tinggal di villa dulu, setelah aku menemukan rumah yang cocok untuk kita tinggali, kita akan pindah ke sana, aku akan mencari rumah yang dekat kantor juga dekat dengan kampus Luna, sehingga akses aktivitas bisa berjalan dengan lancar.


“Apa? Jadi aku masih bisa kuliah, aku masih bisa bekerja juga kan, terus Ibu masih bisa tinggal bersamaku kan? Ok aku setuju,” Luna kegirangan karena dia masih bisa kuliah dan bermain dengan teman-temannya lagi.


“Iy, kamu masih bisa kuliah, tapi sudah tidak boleh bekerja lagi, semua kebutuhan hidup Ibu dan kamu serta bayi kita aku yang akan mencukupi dan bertanggung jawab, jadi kamu tinggal kuliah dan makan yang banyak biar dedek tumbuh kuat kayak Papanya."


Setelah mendengar kata dedek, wajah Luna menjadi berubah seketika, raut mukanya yang gembira berubah cepat dengan rona kesedihan serta tertekan.


“Maafkan aku Bu Imah dan kamu Luna, maafkan aku yang sudah menghancurkan semua harapan dan menjadi batu sandungan untuk meraih cita-cita yang ingin kamu capai, aku janji aku akan bertanggung jawan dengan semua yang kalian alami, dan berjanjilah untuk tidak macam-macam, jagalah dedek di perutmu. Aku akan mengabulkan apa pun yang kamu ingikan, yang penting jangan minta bulan dan bintang.


Luna memanyunkan bibir indahnya dan menerima kata-kata Arka yang agak menekan. Luna sendiri juga berpikir bahwa yang terjadi padanya adalah takdir yang maha kuasa. Dia hanya bisa pasrah dan berharap semua akan lebih baik dan mendamaikan.


***


Ingat like. Vote dan saranya ya Readers.., terimakasih.

__ADS_1


__ADS_2