RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 52


__ADS_3

Arka menelepon Luna, kalau Pak Tejo sudah menuju rumah, dan Pak Tejo mulai hari ini akan bertugas menjadi Sopir pribadi Luna.


Setelah menelepon Luna, Arka menelepon Rama mencari tau kenapa tidak masuk kantor dan tidak memberi tau apa alasannya.


***


Rama, dia menyendiri karena menolak untuk di jodohkan, sedangkan dia sudah tidak bisa apa-apa lagi jika kakeknya yang sudah bertindak ingin menjodohkannya, karena sudah berkali-kali dia menolak untuk di jodohkan, tapi di tunggu hingga hari ini Rama belum juga menemukan pasangan yang tepat.


Kakeknya yang mengultimatum Rama bahwa dia mau tidak mau harus taat pada keputusannya, itulah yang membuat Rama tidak bisa berkutik, ahirnya dia malah galau dan pergi bersantai menenangkan pikiran ke suatu tempat.


Hp Rama berbunyi, dia lupa menonaktivkan, tatkala dia melihat nomor yang muncul, ingin rasanya membuang Hp, tapi bagaimana pun dia harus memberi tau pada Arka, kalau hari ini dia tidak masuk kantor.


“Ram, hallo kenapa dengan dirimu, apa yang terjadi, kamu di mana?”


“Kamu tidak perlu tau Ar, aku izin hari ini tidak masuk kantor.”


Rama menutup teleponnya sampai membuat Arka kepo dengan apa yang dialami sahabatnya. Arka pun melacak keberadaan Rama dengan JPS.


Tanpa waktu lama Arka sudah menemukan lokasi Rama.


Baiklah Ram, nikmati hari santaimu aku tidak akan mengganggumu sekarang. Arka berbicara dalam hati.


Arka menuntaskan pekerjaan penting yang harus di selesaikan hari itu juga, dan berkat bantuan Melani semua berjalan dengan baik hingga waktu pulang tiba.


Karena Arka kepo dengan keadaan Rama, dia memutuskan untuk main ke rumah orang tua Rama, dan terlebih dahulu mengirim pesan pada Luna agar istrinya tidak hawatir ketika dian pulang terlambat.


Sampai di rumah Rama, suasana terlihat sepi.


“Assalamu’alaikum Om.., Tante..,” Arka menekan bel rumah sambil memanggil Ayah Bunda Rama, karena Arka juga sudah Akrab dengan orang tua Rama.


Tiga kali Arka menekan bel rumah barulah Bunda Rama muncul dan mebukakan pintu.


“Nak Arka, ayo masuk, Maaf tadi tante di belakang silahkan duduk. Rama dari tadi pagi belum pulang, dia sempat pamit sama Tante katanya hari ini tidak masuk kerja, karena mau pergi ke mana gitu.”


“Iya Tante, tadi Arka sudah telepon Rama, tenang saja Rama baik-baik kok Tan.”


“Iya, kayaknya dia belum siap kalau dijodohkan, tapi kami sudah menunggu lama biar dia cari sendiri, tapi kayaknya semakin hari malah dia lupa nikah.”


“Iya Tante, Arka yang harusnya minta maaf karena selalu membuat Rama sibuk sampai lupa dengan kebutuhan pribadinya.”


“Bukan begitu Nak, sekali pun sibuk, namanya orang dewasa ya harus mikir bagaimana masa depannya.”


“Kemarin Kakeknya Rama datang ke sini dan memutuskan untuk menjodohkannya dengan cucu temannya, tapi tante juga belum jelas siapa dia.”


“Tante belum tanya-tanya ke ayahnya Tante, tentang profil keluarga yang akan dijodohkan sama Rama.”


“Tenang Tan, Arka akan berusaha bantu membujuk Rama.”


“Baiklah, tante merasa tenang kalau begitu.”


Beberapa menit Arka dan Bunda Rama berbicara, di luar terdengar ada sebuah mobil datang dan ternyata Iya Rama datang.

__ADS_1


“Ram. Rama..,” Rama masuk rumah tapi Bunda Rama yang memanggilnya tidak dihiraukan, dia juga tidak menyadari kalau Arka ada di situ, Rama nyelonong saja dan masuk ke kamarnya.


“Sudah Tante, biar Arka saja yang membujuk Rama.”


Arka menuju kamar Rama, dia berusaha membujuk Rama agar lebih bersikap dewasa dalam menyikapi perjodohannya.


“Ram, buka pintu, ini aku, jangan macam-macam, kayak cewek saja, buka pintu! Kalau tidak!”


Sebelum Arka mendobrak pintu, ternyata Rama sudah membuka pintu duluan.


“Kamu kenapa Ram? Mau dijodohkan pakai ngambek dan galau segala, kayak cewek saja,” Arka masuk ke kamar Rama dan membujuk sahabatnya itu.


“Apa jangan-jangan kamu memang suka sesama jenis.”


“Dasar lo Ar, kenapa datang kemari kalau mau mengejek gue doang.”


“Jangan begitu, di jodohkan itu enak, buktinya aku saja dijodohin sama Luna.”


“Itu mah beda, lo memang ditakdir sama Tuhan buat jadi suami Luna, lha gue.”


“Kalau kamu ditakdir Tuhan untuk jadi suami gadis itu, terus kamu mau apa?”


“Lebih baik kamu selidiki itu gadis yang akan dijodohkan ke kamu, bukan malah ngambek kayak cewek gini.!”


Rama terdiam mendengar nasehat dari Arka, dia mencoba menelaah tentang saran yang diberikan Arka.


“Coba tanya Kakekmu, mungkin saja dia sudah mengantongi info tentang gadis yang akan dijodohkan ke kamu.”


Rama masih diam, dia belum berkomentar tentang sarang yang diberikan Arka padanya.


Arka pamit pulang pada Rama sambil menepuk bahu Rama, dia mencoba menguatkan sahabatnya itu.


“Tante, Arka pulang dulu ya Tan, kayaknya Rama sudah mulai mengatasi apa yang mesti dia lakukan.”


“Baiklah Nak Arka, terimakasih sudah mendukung Rama.”


“Sama-sama Tante. Arka pulang dulu, Assalamu’alaikum..”


“Wa’alaikum salam.”


Arka pun pergi meninggalkan rumah Rama dan langsung meluncur pulang.


***


Sementara itu, keramaian di group macasaw membuat Luna, Indah, Lia, dan Mira begitu sibuk dengan obrolan di group mereka itu, semua masih membahas tentang calon suami Indah, yang dibilang sudah Kakek kakek sama Indah.


Ketika ke empat sahabat itu kuliah hari ini. Mereka menyempatkan waktu untuk mencari info tentang calon Indah, tapi belum ada yang dapat.


Luna: Teman-teman, sejak tadi kita bahas tentang calonnya Indah, tapi nihil info, bagaimana kalau kita tanya ortu indah saja.


Lia: Wah Iya benar Na, kenapa tidak terpikir dari tadi ya?

__ADS_1


Mira: Sebenar aku mau menyarankan itu sih.., tapi kayaknya kalian antusias cari dengan cara lain.


Lia: Dasar lo ya Mir, sukanya numpang-numpang.


Lia: Di rumahku ini Kak Rama juga lagi galau, karena dia mau dijodohin sama cucunya teman Kakek.


Lia: tapi Kakek juga belum mengenalkan profil wanita calonnya Kak Rama.


Mira: Senbentar! Hoi sebentar Lia, jangan-jangan calon Kakakmu itu Indah.


Lia: He..! jangan ngada-ngada lo ya Mir.


Mira: Bisa jadi kan..? Tanya kakek lo dong Li.., kalau benar, selesai sudah persahabatan kita.


Lia: lo ya mir..


Mira: Kabur...


Luna: Tapi ada benarnya juga sih Lia


Indah: Masak Iya sih..tapi aku pusing dan ngantuk banget, aku tidur dulu ya.


Mira: Iya nona Indah silahkan tidur, ingat Isya’nya, untuk Lia kalau benar Indah jadi istri Kakak Lo, siap-siap Lo bakalan dapet nasehat setiap hari wakakakak dadada


Luna: Sudah sudah kita lanjut besok lagi, Mas Arka kayaknya juga sudah datang.


Lia: Mira...! Awas lo ya, kalau ketemu nanti Lo gue kasih rambutan baru tau rasa lo!


Mira: Dadadada idih..hiiii rambutan hi!


bergidik.


Mereka pun semua off dari group.


“Mas Arka, bagaimana? Tadi jadi ke rumah Kakaknya Lia?”


“Iya jadi, tapi Cuma sebentar.”


Luna salim dan mencium punggung tangan Arka, kemudian mencopotkan jas yang dipakai Arka.


“Ibu mana aku belum melihat?”


“Ibu di kamar, biasa, karena tidak ada kerjaan Ibu mengaji setelah magrib sampai menjelang isya’ dan itu sudah di lakukan Ibu sejak lama.”


“O.., Sayangku sudah makan malam, aku lapar sekali.”


“Belum, Luna juga belum makan.”


“Kalau begitu aku mandi dulu, badanku terasa sangat lengket.”


“Iya Luna tunggu.”

__ADS_1


Luna beres-beres kamar Arka yang masih berantakan karena tadi siang ada orang yang memindahkan barang-barang Luna, ke kamar utama mereka berdua.


Ya..., maaf ya Readers kesayangan Author, maaf jika Up kali ini agak lama. dukung Author terus ya..


__ADS_2