RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 20


__ADS_3

Setelah ke agensi, Arka fokus mencari hunian yang nyaman untuk keluarga kecilnya.


Beberapa lokasi sudah iya singgahi tapi belum ada yang cocok dengan tipe yang dia inginkan, ahirnya Arka mencari lagi lokasi hunian yang cocok dengan rumah yang siap untuk ditinggali. Ahirnya Arka menjatuhkan pilihan rumah dengan lokasi terahir yang dia kunjungi.


Tanpa terasa hari sudah mulai sore dan menjelang magrib, Arka mencari lokasi ibadah di sekitar rumah yang akan dia beli, ternyata di lokasi itu termasuk perumahan yang sangat luar biasa lingkungannya, ada berbagai tempat ibadah dan sarana olah raga yang lengkap, banyak muda mudi, juga para orang tua bersama anak-anak mereka bermain di area olah raga.


Kerena Arka sudah mendapatkan rumah yang cocok. Ahirnya memutuskan untuk tidak melanjutkan pencarian rumah baru.


Arka langsung menelepon Rama untuk menemaninya melakukan pembayaran rumah di kantor pemasaran rumah tersebut.


“Assalamu’alaikum Ram, kamu di mana? tolong datanglah ke hunian Maestro Group. jl Kayangan Raya, paling sekitar 8 kilo dari rumahmu, pasang GPS aku tunggu kamu di sini, segera.”


Belum juga Rama berbicara satu patah kata, Arka sudah menutup teleponnya.


“Buset! Dasar bos ini ya! Kalau bukan bos gue, lo sudah aku kirim paket ke pedalaman, orang lagi mau santai istirhat sudah di suruh ke mana tadi, Ha..!”


Rama mengacak rambutnya dan ngomel-ngomel dengan layar Hp nya sendiri. Nasib jadi bawahan ya begini ini.


Untung sudah sholat magrib, jadi langsung bisa ke sana, apes banget sih nasib gue, belum makan malam lagi, awas! Nanti kamu Ar, kalau kamu tidak traktir aku makan malam, kamu yang akan aku santap.


Hati Rama masih dongkol, karena Arka memang sering semaunya sendiri dan permintaanya tidak mungkin bisa ditangguhkan atau di tolak.


Rama keluar dari rumah, kebetulan ada Bundanya, sekalian dia pamit kalau ada urusan dengan Arka sebentar.


***


Arka yang boring menunggu Rama belum datang, ahirnya mencoba untuk menelepon Luna.


“Kenapa Luna tidak juga mengangkat teleponya, apa yang terjadi? Apa terjadi sesuatu, tapi kan ada Ibunya yang menjaga dan menemaninya setiap waktu, tadi juga sudah aku kabari nomor teleponku, tapi kenapa tidak diangkat-angkat.”


Arka mulai gusar karena Luna tidak segera mengangkat telepon darinya. Sedangkan Luna tidak tau kalau Arka telepon, dia sedang membaca Al-Qur’an di musholla villa, sedang Hp Luna ada di kamar Luna.


Waktu terus berlalu, dan sudah pukul 8 malam, tapi Rama belum datang juga.


“ini kenapa lagi, Rama sudah pukul segini tapi belum sampai juga, seperti lewat Singapura saja.”

__ADS_1


Arka semakin gusar karena orang-orang yang dia kehendaki pada slow respon. Tiba-tiba Hp Arka berbunyi dan nomor yang muncul atas nama Luna, dengan cepat Arka menggeser tombol hijau karena orang yang dia kehendaki sedang meneleponnya.


“Hallo Assalamu”alaikum,” suara Luna di seberang membuat bibir Arka merekah lebar, Arka bagai menemukan Oase di padang sahara.


“Wa’alaikumsalam. Kenapa lama sekali tidak mengangkat telepon dari ku, apa kamu tidak tahu kalau kamu sudah punya suami, makanya pergi tanpa kabar. Bagaimana kalau terjadi sesuatu maka suamimu ini yang akan menanggung susahnya.”


“Kenapa Om marah, eh kenapa Mas Arka marah..? Luna barusan dari Musholla villa, agak lama, karena Luna baca Qur’an sebentar, biar dedek pintar baca Qur’an..! dan Hp, Luna sengaja ditinggal di kamar, masak sholat bawa Hp.”


“O.., kirain ke mana, di telepon tidak diangkat-angkat. Iya, malam ini semua barang punya Ibu dan punya kamu silahkan diberesi, besok rencana kita akan pindah ke kota J, aku sudah menemukan rumah untuk kita tinggali. Dan malam ini aku usahakan untuk kembali ke Villa.”


“O.., baiklah.”


“Apa! Cuma itu doang jawabanmu, Cuma o.., tapi sudahlah tidak penting,” Arka berharap Luna akan berterimakasih atau apalah, yang penting ada ungkapan senang ketika mau segera diajak pindah ke kota. Rama tidak tau setelah dia menutup teleponnya, Luna berteriak kegirangan sambil mencari Ibunya, dia begitu gembira karena sangat senang akan bertemu dengan teman-teman MACASAW.


Di tempat Arka, setelah Arka selesai telepon, ternyata Rama baru datang.


“lewat mana saja lo Ram, jam segini baru datang?”


“Gue lewat Hong Kong. Rama Sewot karena baru datang sudah disemprot Arka.”


“Hahahaa, menderita sekali kamu Ram, maafkan aku kalau begitu, ya sudah kita cari makan malam dulu, atau kita makan malam di warung apa kafe itu? sepertinya ramai,” Arka menunjuk sebuah kedai makan yang dekat dari musolla tempat mereka berdiri, mereka menuju kedai itu untuk makan malam berdua.


Setelah melihat berbagai menu yang ada di buku menu, Arka senyum senyum sendiri sambil menyodorkan buku menu ke Rama. Tanpa di tahan lagi Rama tertawa ngakak membaca buku menu yang dia bawa, mereka berdua malah tertawa bersama tanpa terkendali. Pelayan yang sering menemukan pelanggan seperti itu pastilah pelanggan yang baru pertama kali berkunjung, dan segera didekati oleh pelayan.


“Mohon maaf Bapak, Bapak berdua mau pesan apa? Itu menu andalan kedai kami, dan pasti membuat pengunjung selalu datang ke sini lagi dan ke sini lagi,” pelayan itu mempertegas jajaran menu yang menjadi andalan.


“Ini menu makanan apa nyindir orang..?”


“lihat saja SATE JOMBLO NGENES, Sate jomblo bimbang, Sate Jomblo galau, Sate Jomblo terpelet, Sate jomblo Ganas, ini lagi SATE Duda keren. Rama malah lebih tertawa ngakak saat baca Sate Duda Jablay. Namanya saja duda ya mesti jablay.”


“Ram, sudah sudah. Aku pesan Sate Jomblo Galau Mas, atau yang paket 7, terus kamu pesan apa Ram?”


“Aku...., aku pesan Duda Jablay saja Mas, yang paket 2 ya.”


“Baik Pak,” Pelayan pun pergi meninggalkan Arka dan Rama yang masih senyum-senyum berdua.

__ADS_1


15 menit kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang, tanpa pikir panjang mereka berdua langsung makan, dan apa yang terjadi, mereka berdua serentak mengacungkan jari jempol mengakui sate kedai itu sangat menggoyang lidah.


“Kalau kayak gini betul juga kata si pelayan tadi, membuat pelanggan datang lagi dan lagi,” Rama mengunyah sate dengan semangat dan menikmatinya.


“Tapi nanti malam, kayaknya gue bakalan kepanasan, apalagi sate kambing ini kelihatan pakai kambing pilihan makanya hasil satenya empukdan enak luar biasa.”


“Kalau kepanasan nyalain Ac gitu aja beres kan. Oy tolong kamu tranfer ke rekeningku 3 milyar, besok kalau Apartemenku sudah beres, uang kantor akan aku kembalikan lagi.”


“Kamu serius Ar, emang mau kamu buat apa uang sebenyak itu?”


“Beli rumah, aku kan sudah menikah jadi perlu rumah untuk keluarga kecilku.”


“Kamu serius, berapa harga rumahnya? Apa kamu memilih rumah di sekitar sini? Sebenarnya lo nikah sama siapa sih! Gitu saja sok umpet umpetin, aku tidak bakalan suka sama istri lo. Paling juga selera lo biasa biasa saja.”


Arka tersenyum saja mendengar Rama berbicara, dia memang belum cerita kalau dia menikah dengan Luna.


“Iy aku memilih rumah di lokasi sekitar sini dan harganya 37 milyar.”


“Bu*** dah! Rumah semahal itu kamu beli.”


“Kalau untuk keluarga semua akan aku perjuangkan, untuk apa kita kerja siang malam kalau bukan untuk keluarga kita nanti.”


“Benar juga kamu Ar, aku saja yang sampai sekarang belum menemukan pasangan yang cocok.”


“Sudah-sudah ayo kita pergi, kita lihat rumah baruku, terus kamu pulang, dan aku akan ke villa Tiga langit jemput istriku untuk pindah kerumah baru.”


“O.., jadi kamu umpetin istri lo di Villa Tiga Langit, pantesan kemarin ngilang-ngilang terus.”


Mereka naik mobil sendiri-sendiri dan sesampainya di rumah pilihan Arka, mata Rama terbelalak lebar mengagumi rumah yang begitu elegan dan luar biasa.


“Bagaimana Ram, bagus tidak? Habis ini aku ke kediaman Papa dulu lalu mengambil si putih dan langsung ke Villa, jadi besok, kantor kamu yang urus menggantikan aku.”


***


Ingat komen, like, Vote dan bintangnya ya readers tersayang..

__ADS_1


Rasanya aku pingin jalan-jalan, makan di kedai sate lalu main kerumah Arka dech..


__ADS_2