RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 53


__ADS_3

Luna beres-beres kamar yang masih berantakan, karena tadi siang ada orang yang memindahkan barang-barang Luna ke kamar utama mereka berdua.


Sesudah selesai mandi, Arka mengajak Luna Isya’ kemudian pergi ke ruang makan untuk makan bersama, dan ketika mereka berdua baru mau makan, suara gaduh terdengar di ruang sebelah.


“Kak Arka, Kak Luna, di mana kalian, kalian harus tepati janji,” Sisi datang ke rumah Arka dan Luna hingga membuat gaduh seisi rumah karena teriakannya.


“Kak Ar..! E.., ternyata kalian di sini.”


“Ada apa? Malam malam jangan berisik, nanti bikin orag jantungan.”


“Kak Arka sih.., di nanti Sisi sampai malam begini kenapa tidak kasih kabar? Katanya mau ngajak jalan-jalan Sisi.”


“Iya, sehabis makan, sudah makan belum?”


“Belum.., kayaknya enak, siapa yang masak? Kak Luna ya yang masak?”


“Bukan ini masakan Ibu aku.”


“Di mana Ibu Kak Luna, kenapa tidak ikut makan?” Sisi ikut duduk bersama Arka dan Luna.


“Ibu ada di kamar, tadi sudah makan duluan.”


“O.., Sisi memanyunkan bibirnya.”


“Hai kucing kecil, kamu tau dari mana alamat rumah ini?”


“Dari mimpi?”


“Jangan bercanda! Aku tanya beneran.”


“Iya, iya, tadi Sisi ke rumah Bude Isti, Bude semakin tua semakin cantik ya Kak. Sisi Iri melihatnya.”


“Iya.”


“Kak Arka tidak pernah main ke sana ya? Bude bilang sudah kangen sama kalian berdua, terus bude juga ingin kalian lekas punya Baby lagi. Sisi turut berduka atas ke guguran Kak Luna.”


“Iya terimakasih,” Arka menjawab obrolan Sisi.


Mereka meneruskan makan malamnya, hingga tidak terasa makanan yang tersedia sudah mulai ludes.


“Alhamdulillah, Sisi Kenyang, masakannya enak sekali Kak, Sisi belum pernah makan masakan Indonesia yang seenak ini, pasti Ibu Kak Luna jago masak banget?”


Sisi mengelus perutnya karena kekenyangan.


“Iya Ibu memang sangat pintar memasak.”


“Kak Luna kenapa sedikit omong sih..?”


“Bagaimana bisa banyak omong, sedangkan kamu nyerocos saja kayak hujan.”


“Kak Arka jangan begitu dong.., kalau Sisi banyak omong itu tandanya Sisi bahagia Kak,” Sisi masih mencoba membela diri.


“Iya, semua sudah selesai makan bukan? Jadi jalan-jalan apa tidak?”

__ADS_1


“Iya jadi, Kak Arka emang baik..!” Sisi kegirangan sambil mendekati di mana Arka berdiri, lalu memeluk lengan Arka dengan manja.


“Sudah jangan berlebihan! Lepas!” Arka pura-pura tegas karena tidak mau melihat Sisi benar-benar seperti kucing kecil yang bertemu induknya.


“Kakak..,” Sisi melepas pelukannya dari lengan Arka.


“Jadi keluar apa tidak, kalau iya ikuti aku.”


Arka menjauh dari Sisi, lalu mendekati Luna dan menggandeng tangan Luna lalu diajaknya keluar.


“Hem.., giliran istri saja digandeng kayak gitu.” Gerutu Sisi.


“Jangan iri! Ini istri aku, bukan adik aku.”


“Eh iya,” wajah Sisi memerah ketika ketahuan Arka kalau dia sedang iri dengan kehangatan yang dilakukan pada Luna.


“Kamu pakai mobil sendiri, ngapain ngikuti ke mobil kita.”


“Ah Kakak, kan tidak seru kalau Sisi nyetir sendiri.”


“Seru.! Cepat sana.”


Sisi buru-buru balik dan berlari kecil menuju mobilnya sendiri, Arka malah terkekeh melihat tingkah Sisi yang memang masih jauh dari kata dewasa.


“Mas.., apa tidak berlebihan tegas sikap Mas Arka kepada Sisi?”


“Aku lebih tau bagaimana adikku, makanya aku akan membawanya ke Zaki sekarang, biar mereka semakin saling bertukar ikatan Emosi.”


Sambil membukakan pintu mobil untuk Luna, Arka berbicara, lalu dia masuk ke dalam mobil dan meluncur lalu diikuti Sisi di belakangnya.


“Iya. Karena aku yakin Zakilah yang cocok dan pantas menjadi Imam untuk Sisi, apalagi Sisi sangat mengidolakan Zaki.”


“O..,” Luna memanyunkan bibirnya lalu mereka berdua sama sama diam, sedangkan Arka tetap fokus menyetir menuju Apartemen Zaki.


“Mas,” Luna memecah keheningan.


“Hem.., memang dr. Zaki ada di rumahnya sekarang?”


“Tebakanku kayaknya Zaki ada di Apartemennya sekarang, tolong teleponkan Zaki kalau kita akan ke apartemannya.”


Luna lalu mengambil Hp Arka yang Arka letakkan di sampingnya.


“Pinnya 0909.”


Luna membuka sandi Hp milik Arka dan mencari nomor dr.Zaki.


“Nomornya ini Mas?”


“Iya tolong telepon dia, katakan kalau kita menuju apartemennya.”


Tidak lama dr.Zaki pun menerima telepon dari Luna dan mengatakan kalau dia memang sedang di Apartemennya. Ahirnya Arka lega dan melajukan mobilnya lebih cepat.


***

__ADS_1


Sementara itu, keluarga Rama bersiap untuk melamar gadis yang akan dijodohkan dengannya, karena Kakek Rama sangat tegas dan menekan, ahirnya semua anggota keluarga ikut serta datang ke rumah calon besan.


Lia yang ikut ke rumah calon istri Kakaknya merasa aneh dan janggal, karena dia mengenal jurusan serta alamat yang dituju sekarang.


“Kek.., kalau boleh Lia tau, nama calon mertua Kak Rama siapa?” Lia memberanikan diri untuk bertanya pada Kakeknya yang kebetulan satu mobil dengannya.


“Nanti kalian pasti tau sendiri.”


He.., dasar Kakek, bikin penasaran saja, namanya kalau jodoh jodohin itu ya perlu ta’aruf gitu atau kenalan, kalau ini main tunangan saja, gimana Kak Rama tidak galau, cara kakek norak sih.., Lia bicara sendiri dalam hati.


Semua rombongan sudah sampai di rumah calon mertua Rama, tidak ada yang komen, tapi tiba tiba Lia berteriak.


“Indah..,”


Semua menoleh ke arah Lia, apalagi Kakeknya sudah mengerutkan dahi dan membulatkan matanya.


“Lia.., jangan bikin malu dong sayang, memang kamu kenapa pakai teriak-teriak?” Bunda Lia mendekati lia karena mendengar dia berteriak


“Bunda, ini kan rumah sahabat Lia, yang biasanya Lia ceriakan ke Bunda itu, ini rumah Indah.”


“Masak sih..? Indah yang sering kamu ceritakan kalau anaknya sering kasih nasehat itu?”


“Hem hem,” Lia menganggukkan kepala sambil memeluk lengan Bundanya seraya berjalan bersama keluarganya masuk ke rumah calon mertua Rama.


Para penghuni rumah menyambut mereka dengan sangat hangat dan ramah, Lia semakin kaget karena dia tau kalau ayah Indah atau Pak Dadang jelas ada di situ, mereka saling bersalaman dengan tetap menggunakan protokol kesehatan.


Semua tamu dipersilahkan duduk, Lia yang sudah menebar pandangan ke segala arah belum melihat Indah sahabatnya.


“Bunda, Lia belum melihat Indah, apa jangan-jangan bukan Indah yang akan menikah dengan Kak Rama? Tapi Indah tidak punya saudara perempuan.”


“Kita tunggu saja, sebentar lagi pasti kita tau jawabannya.”


Semua orang yang berkumpul di situ mulai berbincang hangat dan terdengar gelak tawa bersahutan, semua menikmati hidangan yang tersaji rapi, hanya Rama yang begitu galau dan risau.


Tidak berapa lama, Kakek Rama mulai mengatakan tujuan mereka datang, dan menyuruh calon besan untuk segera memanggil anak gadis yang akan dijodohkan dengan Rama. Hati Rama begitudeg degkan ketika calonnya mau dipanggil.


Tidak berapa lama gadis itu mulai muncul dari ruangan yang menjadi pusat perhatian semua orang, dia berjalan mendekati para tamu dan dipersilahkan duduk dekat Rama.


gadis itu tidak berani melihat orang-orang dihadapannya, dia masih saja menunduk.


Lia yang melihat Indah adalah benar calon Kakak iparnya, dia menggigit bibirnya dan merasa senang campur gemas sambil meremas sofa yang di duduki.


Rasanya dia ingin teriak dan melompat mendekati sahabatnya itu, tapi dia masih berusaha menahan, sedangkan Indah masih saja melihat bawah.


“Ayo ndah.., lihat ke arah Kak Rama dan gue, Is..., Anak ini! Bikin gemes deh.” Lia berbicara sendiri dengan sangat pelan.


“Semuanya semoga acara ini akan lebih menambah ikatan pertemanan antara Kakek dan teman Kakek, karena Kakek sudah menyiapkan Cincin untuk kalian, silahkan pakaikan cicin di jari masing-masing, dan saya umumkan hari ini adalah hari pertunangan antara Cucuku Rama putra Pak Dadang dan Bu Yeni, dan Nak Indah Cucu dari Pak Bekti, putri Bapak Anan dan Bu Sofi.”


Semua bertepuk tangan, dan yang paling kaget adalah Indah dia salah paham, ternyata yang akan menikah dengannya bukan Kakek yang dia maksud, tapi dengan cucunya.


Rama yang awalnya juga galau dengan pertunangannya, sekarang berbalik seratus persen, setelah melihat Indah, senyum sumringah menghias bibirnya, dan rona bahagia terlihat jelas di wajahnya.


Ahirnya Rama dengan semangat memakaikan cincin di jari Indah dan anehnya sangat cocok, begitu juga Indah memakaikan cincin di jari Rama.

__ADS_1


****


Hai hai Readers kesayangan Author.., maaf ya, selalu telat Up. iya sih.., musim hujan kayak gini bikin pingin Author larut dengan camilan saja, sambil menikmati hujan turun, tapi karena Author rindu dengan like dari Reader...jadi tetep Up up deh.., emuua


__ADS_2