RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 75


__ADS_3

Pak Tejo yang melihat Nyonya besarnya dari spion di depannya merasa trenyuh, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Pak Tejo hanya berdoa dalam hati, semoga Tuan dan Nyonya besarnya selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa.


Laju mobil terus berlalu, tanpa terasa Luna sudah sampai rumahnya, Bi Ana segera menyambutnya, sedangkan Pak Tejo bergegas membukakan pintu untuk Luna, Luna pun keluar dengan wajah yang masih agak sembab karena dalam perjalanan tanpa bisa di bendung bulir bening mengalir dari netranya.


“Kenapa dengan nyonya? Kenapa wajahnya begitu?” Bi Ana menyenggol siku Pak Tejo.


Pak Tejo juga tidak bisa menjawab, karena suasana membikin haru dan trenyuh. “Kalian tidak perlu seperti itu.., jangan khawatir Pak Tejo Bi Ana, aku baik-baik saja, bikinkan aku Susu rasa Stroberry Bi, kasih es batu sedikit ya, agak ini.”


“I iya Nyonya.” Bi Ana tergopoh-gopoh mengejar Luna yang semakin jauh meninggalkan Bi Ana dan Pak Tejo yang masih berdiri di samping mobil yang dikendarai Luna tadi.


Luna yang Langsung menuju dapur langsung duduk di kursi makan biasanya, sambil menunggu susu yang dibuatkan oleh Bi Ana, sebentar kemudia Bi Ana sudah membawa segelas susu yang dipesan Luna.


“Bismillah gluk gluk gluk, huh..segar sekali Bi, terasa adem sampai ke hati-hati.”


“Nyonya bisa saja, kalau begitu semoga hati Bu Luna selalu segar.., Aamiin.”


“Iya Bi makasih ya, aku akan ke ruang santai, tolong bikinkan salat buah ya Bi, rasanya pingin ngemil melulu.”


“Iya Nyonya, Bibi buatkan, nyonya tunggu sebentar lagi ya.”


“Siap Bi, oiy Bi, Ratih Mana, kenapa tidak kelihatan?”


“O .., Ratih sedang belanja beli buah sama sayur tadi Nyonya, tapi tidak tau katanya mau pergi sebentar tapi kok lama ya, sampai sekarang sudah sore belum pulang juga.”


“Ya sudah Bi, ndak apa-apa.”


“Iya Nyonya.”


Luna berlalu meninggalakan Bi Ana menuju tempat santai yang berada di sebelah kolam renang, tempat yang biasanya dipakai Luna dan Arka untuk melepas penat juga bercanda tawa.


Setelah Luna duduk santai sambil rebahan, Bi Ana membawa Salad buat yang dipesannya tadi.”ini saladnya Nyonya.”


“Iya Bi, makasih” Luna kemudian bangun dari rebahannya yang agak kesulitan karena perutnya semakin hari semakin memperkecil geraknya.


Bi Ana yang melihat Nyonya besarnya sudah merasa kepayahan, mengerti bagaimana rasanya hamil tua, karena Bi Ana juga seorang Ibu. Bi Ana pun kembali ke dapur untuk melanjutkan masak untuk makan malam seperti biasanya.


Sedangkan Luna makan salad buah dengan lahapnya, tidak ada makanan yang tidak terasa enak ketika dimakan oleh Ibu hamil, selesai mekan salad dengan lezatnya, Luna beranjak dari tempat bersantainya, menuju Kamar utama.


Luna membuka kamarnya, yang biasanya selalu bersama Arka ketika sore seperti ini, merasa ada yang kurang, tapi Luna mencoba untuk membari pengertian pada dirinya, bahwa ada kalanya Arka tidak bisa selalu ada untuknya, karena HJG juga butuh pemimpin yang bisa selalu memberi yang terbaik untuk perusahaan.


Luna pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, karena belum sholat Ashar Luna segera menunaikannya, sebelum tiba saat magrib, ketika Luna selesai beribadah, Hp Luna bordering meminta responya.

__ADS_1


Luna bergegas bangkit dari duduknya mendekati Telepon yang sedang berdendang, dia berharap Arka yang menelepon tapi nama Indah yang Mira yang muncul.


Agak kecewa tapi Luna tetap senang, karena Mira sahabatnya yang lama tidak memberi kabar detik initelah meneleponnya.


“Hallo Na, bagaimana kabarmu Na, aku kangen Na, kita jalan bareng berempat yuk Na, pokoknya kamu harus mau Na, tapi jangan khawatir, bukan male mini, tapi besok ya, male mini untuk kamu cukup dibuatistirahat saja ok.”


“Aduh.., nyerocos panjang banget sih kamu Mir .., bikin goyang telinga dech ..”


“wa kakakakak.” Mereka malah tertawa bersama-sama, suasana berganti dengan obrolan seru Mira dan Luna, beberapa menit mereka habiskan untuk mengobrol hingga adzan magrib berkumandang, yang akhirnya telepon mereka sudahi dengan memberi semangat satu sama lain.


Detik berlalu, Luna sudah mulai gelisah dengan jauh dari Arka, untuk mengisi kegelisahannya Luna membaca kitab Suci umat Muslim itu sambil terus membaca ayat-per ayat beserta maknanya, dari situ Luna mulai merasa tenang, kemudia Luna mengambil HP dan menelepon Ibunya.


“Hallo Assalamu’alaikum Ibu…”


“Wa’alaikumsalam nduk, tumben pukul segini telepon Ibu, memang Arka kemana, biasanya selalu pagi setelah sarapan kamu telepon Ibu, apa Arka pukul segini belum pulang?”


“Ibu.., biar Luna yang ngobrol dulu.”


“Iya iya ada apa anak Ibu yang baik hati?”


“Ibu…”


“Iya.”


“O.., makanya kamu telepon Ibu, karena kamu kesepian ya?”


“Iya sepi sekali.”


“Bi Ana sama Ratih tidak di situ toh..?”


“Ada, tapi Luna pingin telepon Ibu saja.”


“Kamu sudah makan nduk?”


“Belum.., habis ini Luna makan, ini juga sudah terasa lapar.”


“Iya kamu harus banyak makan yang bergizi, biar selalu sehat bugar.”


“Iya Ibu, tapi Luna kangen banget sama Ibu.”


“Iya Ibu tau, satu bulan lagi saat kamu mau lahiran Ibu pasti menemanimu di situ.’

__ADS_1


“Iya Luna tau, tapi Luna kangen banget sama Ibu.”


“kalau begitu besok Ibu ke situ, biar nanti sepupu2mu yang antar Ibu ke Bandara Juanda.”


“Ndak perlu Bu.., Luna cukup dari Hp dulu kayak gini sudah puas kok.”


“Ya sudah, sudah makan sana gi! Nanti keburu telat makan malam malah ndak baik.”


“Baiklah Ibu.., emuuuaaaach Luna saying Ibu.”


“Iya Ibu tau, baik baik ya nduk.”


“Iya, makasih Ibu, Assalamu’aalaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Baru saja Luna menutup telepon, pintu kamarnya diketuk pelan dari luar. “Bu Luna, Bu Luna.., tok tok tok, Bu Luna belum makan, mau Bibi antarkan ke kamar atau gimana?”


Luna membuka pintu kamarnya.” Iya Bi aku akan ke bawah makan.”


“O Nyonya.” Bi Ana agak sedikit kaget karena pintu terbuka secepat itu.


Mereka pun meninggalkan kamar Luna setelah dia menutup kamarnya, Luna menuju lantai bawah diikuti Bi Ana, setelah sampai ke dapur Luna minta ditemani makan sama Bi Ana, karena Ratih sudah asyik menonton TV di ruang istirahat punya Bi Ana dan Ratih.


“Bi, tolong temani aku makan ya Bi, Bibi duduk di sebelahku sini.”


“Maaf Nyonya, saya ndak berani duduk di situ, itukan punya Bu Luna sama Pak Arka,”


“Ndak apa Bi.., ini kursi biasanya di duduki Ibu, kalau Mas Arka kan di Depanku Bi.”


“Tapi Nyonya, saya ndak enak.”


“Ndak apa Bi …”


Akhirnya Bi Ana pasrah dan duduk di sebelah Luna, dia tidak berani menatap Nyonya besarnya yang sedang makan, yang dia tau Luna tidak pernah makan tanpa rasa lahap, Nyonya besarnya itu juga tidak pernah memilih-milih makanan yang di masak oleh Asisten Rumah tangganya, dan tidak lama Luna sudah selesai makan, kemudian dengan lega, mengelus elus perutnya.


“Ya Allah Bi, enak banget masakan Bi Ana, Luna jadi kangen masakan Ibu di Desa.”


“Terimakasih Nyonya.”


“Iya sama-sama Bi, aku mau ke ruang TV, Bi Ana sudah makan bukan?”

__ADS_1


“Sudah Nyonya, tadi sudah makan sama Ratih, Bibi juga sangat kenyang.”


** Tunggu Up up selanjutnya ya Readers.., terimakasih..


__ADS_2