
Bu Imah karena khawatir Arka dan Luna tidak nyaman, saat Arka menyuapi Luna beberapa suap, Bu Imah keluar dari ruangan tempat Luna di rawat.
Dua jam sudah berlalu, Arka yang sudah melihat Luna mulai fresh dan terlihat pulih, dia mempersiapkan segala hal untuk kembali ke kota J menggunakan pesawat pribadi, semua rencana kejutan yang telah dipersiapkan untuk Luna dipending, dan beberapa rencana yang telah dijadwalkan akan diteruskan oleh Rama serta kru rombongan yang memang sudah di tentukan sebelumnya.
Katika semua sudah siap, pukul 18.00 tepat, pesawat pribadi yang di gunakan Arka, mendarat di tempat yang sudah dikoordinasikan, rona bahagia bercampur senang sedih dan haru, menghiasi kepulangan Luna dan Arka.
Setelah melihat dan mengantarkan Bos mereka, beberapa orang kembali sibuk dengan tanggung jawab mereka masing-masing, sedangkan Rama yang harus melanjutkan pekerjaan Arka secara keseluruhan, selalu dibantu oleh Indah dengan penuh kerjasama, sepertinya Indah dan Rama benar-benar sudah menemukan ke cocokan.
***
Di rumah sakit tempat di mana Mira di rawat, Orang tua Mira sudah datang ke situ dengan kesedihan yang tidak bisa di tahan lagi, karena Alex berinisiatif menghubungi nomor orang tua Mira, dengan menyuruh anak buahnya mencari jejak dan informasi keluarga Mira dari Hp Mira, yang kebetulan diamankan oleh pihak Alex.
Orang Tua Mira begitu menyesalkan kejadian yang tidak pernah mereka duga, apalagi insiden terjadi karena ulah Doni keponakan mereka sendiri, mau menuntut juga sama saja memasukkan Doni kepenjara, tidak dituntut juga belum tentu Doni punya efek jera, sedangkan Mama Papa Mira yang begitu bersedih dengan keadaan Mira sangat shock.
“Pa.., bagaimana ini bisa terjadi? Kalau akan begini jadinya, Mama tidak akan menginzinkan Mira pergi menyusul si Doni ke Bromo.” Mama Mira menangis sambi terus menyesali apa yang terjadi.
“Iya Ma, kalau Papa tau pasti Papa juga akan mencegah, semua di luar kendali kita.”
“Si Doni kenapa tega berbuat seperti itu ya Pa? Hihikhihik.” Mamanya Mira terus saja menangis di samping Mira yang masih belum sadar.
“Sudah Ma, sabar saja dulu.” Papa Mira selalu memberi dukungan pada istrinya yang begitu terpukul.
“Bagaimana kalau kita pindahkan Mira ke rumah sakit yang punya alat lebih canggih Pa?”
“Kita observasi perkembangan Mira dulu Ma, kasian juga kalau dalam keadaan seperti ini kita membawa Mira menempuh perjalanan jauh.”
“Iya juga Pa..,hikhikhik,” Mamanya Mira terus saja menangis.
“A.., di mana aku? Kepalaku sangat pusing.., di mana aku?”
Ke dua orang tua Mira yang mendengar anaknya sudah siuman begitu panik dan bahagia, Papa Mira langsung memanggil Dokter agar memeriksa keadaan Mira.
“Iya sayang.., Mama ada di sini, kamu bersama kami.”
__ADS_1
“Mama.., Mira di mana Ma..?”
“Kamu ada di rumah sakit sayang, kakimu terluka.”
“Di rumah sakit, auw kaki Mira sakit sekali Ma..”
“Iya sayang sakit sedikit ya? Sebentar lagi Dokter ke sini, Papa tadi sudah memanggil Dokter setelah melihatmu siuman.”
Tidak lama, Dokterpun datang dan memeriksa Mira.
“Mbak Mira, bagaimana keadaanmu?”
“Baik Dok, tapi kakiku sakit sekali.”
“Aku periksa dulu ya?”
“iya..” Mira masih meringis karena menahan sakit di kakinya.
“Nah.., semua sudah membaik, kaki mbak Mira hanya bengkak tapi nanti tetap akan di lakukukan pemeriksaan lebih lanjut ya, biar tau keadaan yang sebenarnya.”
Dokter itu menjelaskan semua prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan untuk Mira, dan ke dua orang tua Mira mendengarkan dengan seksama apa penjelasan Dokter tersebut.
“Sudah ya Pak Bu, saya pergi dulu, Ibu dan Bapak tidak perlu khawatir, karena mbak Mira hanya shock dan tidak terjadi patah tulang atau yang lainnya.
“Iya Dokter terimakasih.” Orang tua Mira pun mendekati Mira dan langsung memeluk anak mereka.
Di tempat Doni, Doni yang dibawa ke kantor polisi terdekat keadaannya juga sangat memprihatinkan, dia benar-benar dalam depresi berat, hingga membuat kasus yang dia lakukan akan dikaji ulang dan akan dilanjutkan dengan pengobatan Doni ke pihak lembaga ahli kejiwaan, melihat hal yang tidak terduga, Alex pun menelepon dan selalu koordinasi dengan Arka tentang keadaan Doni yang juga memprihatinkan.
Alex juga memahami keadaan yang dialami Doni, sepertinya pesaing berat Arka itu sudah mendapat karma dari semua perbuatannya selama ini, kebejatannya dan segala ambisi yang ingin dicapai dengan membabi buta tanpa ada alasan jelas, membuat hari-harinya begitu gelap dan merana.
Di sisi lain, karena keluarga Doni yang mangalami ketidak harmonisan begitu nyata, membuat Doni serasa sebatang kara, tidak ada keluarga atau orang tua Doni yang bisa di hubungi, ada nomor-nomor telepon di Hpnya yang menjadi satu barang bukti milik Doni juga tidak ada tanda-tanda keluarga yang bisa di hubungi, sampai pada akhirnya pihak polisi menemukan satu nama yang tertera di kontak Doni dengan nama Kakak.
Benar, Doni punya Kakak kandung, tapi sudah lama dicoret dari daftar keluarga Doni, karena Kakak Doni selalu menentang semua tindakan orang tuanya, Doni yang terkadang di luar kendali juga hampir sejalur dengan orang tuanya menjadi anak kebanggaan keluaraga, sekali pun Doni terkadang memiliki hari yang begitu naas dan penuh kesendirian dan kehampaan.
__ADS_1
Secara sembunyi-sembunyi, terkadang Doni masih menghubungi Kakaknya yang tinggal di luar negeri bersama keluarga kecilnya, karena dulu Anan kakak Doni di usir dari rumah akibat jatuh cinta dengan kekasih pilihannya.
“Hallo Pak, apakah ini dengan kakak Pak Doni?” Polisi yang bertanggung jawab atas kasus Doni mencoba menguhungi Anan kakak Doni, dan akhirnya berhasil.
“Iya Pak, saya Kakak dari saudara Doni, kenapa Hp adik saya bisa Anda bawa.”
“Iya mohon maaf Pak, kami mencoba menghubungi keluarga Pak Doni, tapi hanya Bapak yang bisa kami hubungi.”
“Iya Pak, ada apa sebenarnya, apa adik saya membuat onar.?”
“Iya Bapak, kami harap anda bisa datang ke Polsek Pandasari di daerah sekitar gunung Bromo propinsi jawa Timur.”
“Tapi maaf Pak, saya posisi ada di Kanada, jadi saya tidak bisa langsung datang ke sana.”
“O.., kalau begitu Bapak kapan bisa datang kemari, karena ini berkaitan dengan kasus Pak Doni yang telah sengaja melakukan tindak kriminal, dan kami tidak bisa memproses dengan lancar, karena pihak Pak Doni mengalami depresi berat, dan sekarang ada di Polsek Pandansari.”
“Baik lah Pak, saya besok akan segera mengurus tiket dan akan ke Indonesia.”
“Baiklah Pak, saya percaya pada anda, kami akan menunggu kasus ini agar dapat segera kami proses, dan sementara Pak Doni akan kami tahan.”
“Baiklah Pak,” Anan menghembuskan nafas panjang, karena hal yang selama ini ia hawatirkan bener-benar terjadi.
Selama Ini memang Doni punya temperamental dan susah untuk dikendalikan, dan puncaknya adalah ketika Anan diusir dari rumah, Doni selalu membuat ulah dan semau sendiri, karena berpikir kalau tidak ada lagi orang yang akan menghargai keberadaannya selain Kak Anan.
“Sayang.., kamu di mana?” Anan segera mencari istrinya.
“aku di sini bersama anak-anak.”
“Sayang, kita besok ke Indonesia ya, habis ini aku akan pesan tiket online.”
“I..Iya.”
Tanpa menolak istri Anan langsung mengiyakan, karena memang selama sebelas tahun ini keluarga mereka tinggal di Kanada dan selama itu pula, tidak ada bahasan tentang Indonesia, tapi hari ini suaminya mengajak pulang ke Indonesia.
__ADS_1
***
Maaf ya Readers tersayang.., karena terlena dengan dunia nyata Omnya Author jadi manten, sampai Babnya pending lama, karena keluarga jauh2 juga pada datang, nggak enak juga kan kalau tidak ikut nimbrum ngramain acara nikahnya Om yang penuh dengan protokol kesehatan. Selamat membaca Readers...eemuuach