
“Aku sudah tanya pihak kantor pemasaran tentang tempat ini, memang pada saat seperti yang kita tunggu sekarang, pasti kita akan melihat pemandangan yang luar biasa, dari atas batu besar ini, ayo sini.”
Luna menuruti apa yang suaminya minta, dia pun naik ke batu besar bersamanya, Arka dengan pelan memegang tangan istrinya sambil sengaja tetap melihat ke depan menunggu panorama yang akan terjadi sebentar lagi.
“Baiklah akan aku hitung sampai sepuluh dari sekarang, pejamkan matamu,” Luna pun memejamkan mata.
“Sekarang bukalah matamu dan pandanglah ke depan,” ahirnya nyonya Arka itu membuka matanya, dan begitu indah pemandangan sore hari di atas batu besar, tampak matahari yang berwarna jingga bertaburan menerpa sisi dinding yang tingginya sekitar 25 meter.
Sebagai tembok pengaman area olah raga, tembok itu di buat berlubang-lubang, atap hunian yang juga terterpa sinar matahari sore, bagaikan benda yang masuk pada bola api tapi tidak terbakar.
Luna menarik nafas panjang, baru kali ini dia melihat pemandangan yang begitu indah, walau pun dia lahir di pegunungan Bromo dia beum pernah melihat panorama yang seindah ini.
Luna menarik nafas pelan, dia tidak menyangka, laki-laki yang dianggapnya sudah merenggut impiannya ternyata begitu romantis dan baik ini, dia melihat wajah suaminya yang begitu asyik melihat panorama di depan, waah Arka ditatapnya begitu lama.
Tanpa terasa ada hawa hangat yang masuk ke dalam dadanya, dia memegang dadanya yang berdetak kencang ketika melihat wajah suaminya, ahirnya dia pun membalas genggaman tangan suaminya, karena Arka merasa dapat balasan dari Luna dia pun ikut memegang tangan istrinya lebih erat dan mungkin tidak akan dia lepaskan lagi.
“Bagaimana, indah bukan? Kalau menurutku tempat ini sangat biasa, tapi kalau dicermati diwaktu tertentu maka akan menemukan keindahannya, begitu juga dengan hubungan kita, diawal memang begitu biasa dan tidak ada rasa, tapi setelah saling memehami, aku yakin kita akan saling mencintai satu sama lain,” Luna terdian dia hanya meneteskan air matanya.
“Maafkan aku Mas, aku masih menganggap Mas Arka lah yang menghancurkan mimipi Luna, tapi sepertinya itu tidak benar, mengkin aku saja yangbelum bisa menyadari bahwa aku menjadi istri orang yang mungkin sangat baik hati.”
Mereka pun berpelukan di atas batu besar, sebagai saksi bahwa cinta mereka mulai tumbuh dan bersemi.
“Ayo kita pulang nanti Ibu malah mencari kita.”
“Heem,” Luna mengangguk dan mengikuti Arka yang sudah turun dari batu besar.
Ahirnya mereka pulang dengan membawa senyum dan cinta yang mulai merekah di hati Luna dan cinta yang semakin besar di hati Arka.
Sesampainya di rumah, Luna langsung masuk dan mencari Ibunya, karena belum juga menemukan Ibunya, dia mencari Hp berharap Ibunya meninggalkan pesan jika ada perlu ke luar.
Ketika mengaktifkan HP, dayanya tinggal satu persen karena memang berhari-hari dia belum mengecek pesan masuk dari mulai tinggal di Villa yang jarang sekali ada signal, dan sesampainya di rumah dia harus masuk rumah sakit.
Begitu banyak pesan masuk, dan yang menjadi pusat perhatiannya adalah group Macasaw-nya, ratusan pesan yang masuk dan di bacanya hingga dia bingung mau membalasnya, yang pada ahirnya dia hanya membalas dengan kata.
“Hai.”
Dari pesan balasan yang dikirim, tanpa menunggu lama sahabat karibnya sudah membalas dengan berbagai pertanyaan, omelan, keluhan, kangen dan laporan tentang Matkul yang di ampu oleh para dosen, serta kasus viralnya hubungan dia dengan Bos HJG keturunan tunggal sang konglomerat, juga kasus keguguran yang dia alami.
Luna sampai merasa berkunang kunang membaca pesan yang begitu banyak dan bertubi-tubi. Terahir dia membaca pesan dari Ibunya kalau dia pamit ke market terdekat untuk belanja persediaan makanan yang tidak ada sama sekali, dia minta di antar oleh satu pengawal agar tidak kesasar.
“Sayang.., kamu di mana?” Arka memanggil Luna yang sedang asyik membaca pesan sambil berdiri di dekat cas yang menempel ditembok.
__ADS_1
“Aku di sini Mas, di dalam kamar,” Arka pun mendekati Luna yang menjawab panggilannya.
“Lagi apa? Jangan bilang kalau wa sama laki-laki.”
“Mas Arka apaan sih, Luna lagi cari Ibu ternyata Ibu pergi ke market minta diantar sama pengawalnya Mas, lagian kalau Luna wa sama laki-laki Mas mau apa, luna kan juga tidak ada hubungan apa-apa sama mereka.”
“Tapi kan kamu istriku, bolehkan aku hawatir.”
“Hawatirin apa? Kayak mau diculik saja,” Luna yang masih sewot pergi meninggalkan Arka yang mematung di kamar Luna.
“He.., dibilangi malah sewot.”
“Iy, besok Luna mau langsung aktif kuliah Mas, biar tidak tertinggal jauh sama matkul yang ku ambil.”
“Tidak boleh, kamu belum sehat benar, jadi belum boleh masuk kuliah.”
“Apa!” Luna berlari mendekati Arka lalu memegang lengan suaminya yang cemberut akibat ulahnya tadi.
“Ayolah-ayolah Mas.., ya ya, kasih izin ya, Luna sudah kangen sama teman-teman Luna, mereka mengirim pesan sampai ratuasan akibat ulah mas yang menghamiliku.”
“Apa! Aku tidak menghamilimu, itu takdir yang menentukan, makanya istriku hamil.”
“Iy. Tapi.., pokoknya besok Luna mau masuk kuliah,” Luna tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena ingat saat dia kehilangan bayinya.
“Ibu Sudah pulang,” Luna buru-buru membantu Ibunya yang membawa banyak belanjaan, dan meletakkannya di dapur.
“Ibu belanjanya banyak sekali? Dari mana Ibu dapat uang?”
“Iy tadi di kasih nak Arka sebelum kalian berangkat jalan-jalan.”
“Tapi Luna tidak lihat Mas Arka kasih ke Ibu.”
“Iy, dititipkan ke pengawal mungkin nak Arka sungkan mau langsung ngasih ke Ibu.”
“O..” Luna memanyunkan bibirnya.
Saat Luna dan Ibunya asyik ngobrol sambil merapikan belanjaan, Arka datang menghapiri mereka.
“Nak Arka terimakasih ya, kita mau makan apa malam ini, Ibu sudah belanja banyak menu ini.”
“Rendang saja Ibu, biar Ibu cepet punya cucu lagi.”
__ADS_1
“Apa? Apa tidak terlalu buru-buru? Baru kemarin abortus masak sudah program lagi.”
“Kayaknya putri Ibu sudah siap sekali, buktinya besok sudah minta kuliah.”
“O.., begitu, baiklah Ibu setuju saja.”
“Ibu.., Ibu kenapa bela Mas Arka sih, bukannya Luna yang anak Ibu.”
“Hem.., Ibu tidak bele-bela, cuma benar kata suamimu, benar kamu sudah merasa siap untuk masuk kuliah lagi?”
“Iy, Luna sudah siap, sudah pingin masuk kuliah lagi.”
“Tapi keputusan ada di suamimu, bukan Ibu, kalau dia sudah kasih izin berarti kamu bisa masuk kuliah lagi, tapi kalau belum, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Aduh.., kenapa sih kalian ini, masuk kuliah itu kan hal baik, kenapa mesti di tunda-tunda, lagian bosan di rumah terus, tidak ada yang bisa Luna kerjakan.”
“Ok kalau begitu, jangan menangis kayak anak TK gitu, besok aku antar, dan pulang aku jemput.”
“Apa? Kenapa harus antar jemput, Luna kan bisa naik motor sendiri.”
“Nurut saja. Mau kuliah apa tidak? Kalau tidak mau ya sudah, kebetulan aku juga sudah harus kerja. Jadi pagi kamu bisa bareng aku pas mau ke kantor, Bukan begitu Bu?”
“Iy, benar kata suamimu, biar lebih aman di antar jemput saja, besok kalau sudah benar-benar sehat mungkin nak Arka bisa kasih izin ke kamu naik motor ketika mau kuliah.”
“Baiklah.., Luna nurut saja! Yang penting bisa masuk kuliah dan ketemu sama teman-temanku lagi.”
“Ingat juga nduk.., kayaknya kamu perlu asah lagi kemampuan bela diri punyamu yang dulu kamu ikuti ketika di Desa, kamu kan sudah sampai pengesahan sabuk kafan, karena bisa jadi bahaya mengintai setiap waktu, secara sekarang kamu bersanding dengan suamimu yang sepertinya banyak pesaing.”
“O.., bisa bisa Bu, jadi istriku bisa bela diri juga ya? Keren.., jadi tambah suka aku.”
Arka pergi melewati Luna sambil mengelus kerudungnya hingga membuat istrinya merinding.
“Mas Arka, jadi berantakan kerudung Luna.”
“Tidak apa. Kamu tetap cantik”
***
Ingat follow vote like dan komen juga ya Readers
Ini Cash foto Arka sama Luna saat melihat panorama di batu besar, bayangin aj ini Arka sama Luna ya..😊
__ADS_1