
“Ok ayo.!” Akhirnya Rama mengantarkan Arka, sekalipun Arka akan diantar Pak Tejo tapi Rama kekeh ingin mengantarkan Arka ke Bandara bersama Indah.
Rama masuk ke mobil lalu tancap gas menuju Bandara, sedangkan Arka tidak bercanda lagi ke arah Rama yang meluncur semakin jauh dari istana megahnya menuju Bandara.
Tumben Arka melakukan hal yang tidak biasa dengan bercanda bilang brengsek lagi, semoga saja semua berjalan lancar dan tidak terjadi apa-apa. Rama masih berkutat dengan pikiran dan berbicara sendiri dalam hati, tanpa terasa setelah 40 menit Rama sampai di Bandara.
***
Sebelum mengantarkan Arka kebandara
“Loh Mas Rama kapan datang?” Indah kaget atas kedatangan Rama.
“Barusan.”
“Terus mau ke mana sekarang? Kenapa gugup sekali?”
“Iya bersiaplah! Ayo ikut aku mengantar Arka ke Bandara.”
“Apa? Kenapa buru-buru banget?”
“Iya aku tidak mau kalau Arka sendirian diantar Pak Tejo, tadinya aku tidak apa-apa tapi aku merasa berat jadi aku akan mengantarkannya bersamamu sekarang.”
“Aduh Mas .., tapi kan Indah belum dandan.”
“Kamu tetap cantik sayang, ganti baju saja. Cup!” Rama malah mendekati Indah sampil mengecup dahi Istrinya itu, seraya wajah Indah merah merona.
“Em .., baiklah tunggu sebentar.” Indah langsung merapikan rambutnya yang agak panjang di bawah bahu, dengan tambahan bedak tipis-tipis wajah Indah jadi lebih segar dengan tambahan sedikit lipstik.
“Sudah Mas, aku sudah siap.” Rama melihat ke arah Indah yang merasa sudah siap.
“Hem .., cukup cantik.”
“Apa Mas! Cukup cantik kata Mas Rama?”
“Iya, kalau aku bilang luar biasa nanti malah istriku melihat ke plafon terus, bukan ke arah suamimu ini.”
“Apa!? Maksud mas Rama apa? Kenapa bisa lihat ke plafon terus?”
“Iya sombong gitu, nengok atas terus.”
__ADS_1
“O .., itu?” Indah malah terkekeh membayangkan kalau dia melihat ke plafon terus? Bisa-bisa semua ditabrak karena tidak lihat bawah.
“Sudah, ayo lekas, biar kita tepat waktu sampai Bandara.”
“Ok ayo Mas.”
Rama dan Indah langsung menuju mobil mereka, semua pintu rumah mereka kunci, karena di rumah hanya tinggal mereka berdua, belum ada ART karena mereka meresa belum benar-benar perlu bantuan. Mobil mereka meluncur ke Bandara dengan kecepatan sedang. 15 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Arka Luna.
“Mas, itu mereka.” Rama melihat arah telunjuk Indah. Karena saat mengikuti mobil yang sedang disetir Pak Tejo meluncur lebih dulu akhirnya Rama terjebak macet dan tidak langsung bersamaan sampai Bandara.
“Maafkan Mas Arka ya Mas Rama dan kamu Indah.”
“Jangan panggil Rama dengan panggilan Mas, cukup aku saja yang kamu panggil Mas istriku .”
“Iya Iya.” Luna tersenyum pada Arka.
“Iya maaf merepotkan kalian, kalian jadi sibuk ke Bandara.” Luna meminta maaf.
“Tidak Luna, kami saja memang ingin mengantarkan, saya kira kamu di rumah, ternyata kamu ikut mengantarkan Pak Arka.”
“Iya aku yang maksa ikut anterin, tadinya hanya Pak Tejo yang antar, tapi aku maksa ikut.”
Arka yang mendengar kata-kata Luna malah terkekeh. “Kenapa Mas Arka tertawa sih?”
“Iya betul! Kamu panggil Rama dengan panggilan Pak saja, itu cocok kan dia memang sudah tua. Hahahaha!”
“Dasar lo ya Ar, masih saja sempat ngebuli gue.”
“Sabar Ram, kalau tidak begini, aku tidak akan bersamamu selama ini.”
“Baiklah kalau begitu, kayaknya waktuku semakin dekat, jaga HJG dan jaga istri anakku bersama Papa Mamaku Ram, ajak istrimu untuk menemani istriku juga.”
“lo ini apaan sih Ar? Gue pasti jagain, lo fokus saja sama perkerjaan lo.”
“Di depan umum jangan bilang lo gue ke aku.”
“Iya iya, percayalah, kamu tenang saja Ar.”
“Sayang aku berangkat dulu, kalau ada apa-apa kabari aku, aku juga sudah bilang ke Papa Mama agar menemani kamu di rumah kita.”
__ADS_1
“Mas Arka apa sih, biasanya tidak seribet ini deh kalau mau ke luar negeri.”
“Jangan begitu, kamu sekarang sedang hamil tua, aku tidak setega itu membiarkan istri cantikku tinggal dirumah hanya dengan Bibi. Ok semua aku berangkat dulu.” Arka mengecup seluruh bagian wajah Luna tanpa rasa malu, dan terakhir mengecup dua anak kembarnya yang semakin besardi perut Luna.
“Sudah Mas .., jangan lama-lama geli tau.”
“Ini anak-anakku sayang, jangan bilang geli.” Lagi-lagi Arka mengecup seluruh bagian wajah Luna dan perutnya.
“Sudah Ar, nanti ketinggalan pesawat.” Rama mencoba mengingatkan Arka yang terus menerus merasa berat meninggalkan Luna.
“Iya Mas .., sudah!”
“Iya iya.” terakhir Arka memeluk Luna dengan erat kemudian dengan berat hati Arka meninggalkan istrinya bersama Rama dan Indah, dia berjalan bersama orang asing yang juga bertujuan yang sama dengannya, kemudian Arka hilang dari pandangan netra tiga orang tersebut.
Tanpa disadari, bulir bening membasahi pipi Luna, dia segera mengusap bulir itu sebelum orang lain mengetahuinya.
“Ayo kita pulang.” Luna langsung berbalik meninggalkan Rama dan Indah dengan dadanya yang terasa berat.
Rama dan Indah yang masih melihat ke arah Arka yang sudah tidak tampak, kaget dengan ajakan Luna yang mengajak mereka pulang, Indah yang melihat Luna sudah beranjak dari tempatnya, langsung mengejar Luna.
“Kamu jangan sedih Na, ada kita-kita yang selalu setia di sisimu.”
“Kamu ini kenepa si Ndah .., aku tidak apa-apa kali.”
“Jangan bilang begitu, kami tau apa yang kamu rasakan.”
“Iya kamu tidak perlu sedih ada kita-kita yang selalu ada untuk kamu.”
“Hehehe kalian ini, makasih ya.” Mereka bertiga tertawa bersama-sama.
Mereka pun santai menuju tempat parkir mobil, Luna yang sudah ditunggu Pak Tejo langsung masuk ke mobilnya, sedangkan Indah dan Rama setia mengantarkan Luna menuju mobilnya.
“Hati-hati Na, Pak Tejo tolong jaga majikanku ya Pak.” Indah yang memberi pesan pada Luna di sela oleh Rama yang memberi pesan pada Pak Tejo.
Rama menutup pintu mobil yang di kendarai Luna, kemudian Luna membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan pada Indah dan Rama, mobilpun tak terlihat lagi, kemudian Rama dan Indah menuju mobil mereka yang terparkir agak jauh dari tempat mereka berada.
Tidak ada bahasan dalam mobil, Indah dan Rama sama sama diam dengan pikiran masing masing ketika mereka menuju rumahnya, sedangkan Luna yang diantar Pak Tejo hanya diam sesekali menyeka bulir bening yang mengalir dari pipi mulusnya.
Pak Tejo yang melihat Nyonya besarnya dari spion di depannya merasa trenyuh, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, Pak Tejo hanya berdoa dalam hati, semoga Tuan dan dan Nyonya besarnya selalu dalam lindungan yang Maha Kuasa.
__ADS_1