
Rama dan Melani begitu semangat hingga hari hamper saja siang, Rama buru-buru mengecek Hp lalu membuat panggilan ke Arka, belum satu deringan Arka sudah menerima panggilan dari Rama.
“Arka lo kemana saja tadi, gue telepon belum lo angkat?”
“Iya tadi aku masih tidur, lagian situ siang sini baru selesai sarapan.”
“Iya juga.”
“Ram, kamu di kantor bukan?”
“Iya aku sama Melani lagi mengurus semua urusan kantor.”
“Indah mana?”
“Ya kuliah sama istri lo Ar.”
“Iya lupa.” Arka menepok keningnya karena barusan istrinya juga bercerita kalau hari ini Luna akan ke kampus untuk mengurus skripsinya.
“Jangan bilang kalau lo sudah mulai tua Ar.”
“Ya memang aku sudah mulai tua Ram, janganpikir kalau kamu masih muda gitu?”
“Iya juga sih.”
“dasar kamu saja tidak sadar kalau usia semakin menua tapi masih suka ngedot saja.”
“Lo gak apa-apa, ngedot itu menyehatkan, apalagi sama istri.”
“Sudah Ram, jangan diteruskan.”
“Iya-iya.”
“Ram, selesai dulu ya, ini patner kerja kita sudah dating.”
“Ok lah Ar, semoga lancer.”
“Ok sudah dulu.”
Arka menutup teleponnya terlebih dulu, Rama pun kembali berkutat dengan berkas yang diperiksa oleh Melani, mereka berkerjasa dalam memeriksa dokumen-dokumen perusahaan.
***
Sementara itu di Kampus Budi Luhur, Luna dengan perut yang semakin berat berjalan menuju lorong kampus di mana dia sudah membuat janji dengan Dosen pembimbingnya, karena Luna ke kampus juga janjian dengan Mira, Indah, dan Lia, dan diantara mereka berempat yang sudah proses Skripsi baru Luna karena Mira, Indah,Lia berniat untuk 8 semester baru Skripsi.
“Na..,” Mira melambaikan tangannya ke Luna dari sebarang lorong, sambil berlari kecil menuju Luna.
“Hai, tidak lari kali, pasti kamu bisa kejar Mir, mana mungkin aku lari menjauh dengan perut segede ini.” Luna memajukan perutnya sambil mengelus perutnya ke Mira.
“Bukan masalah kejar mengejar, tapi aku tidak mau membuat kamu menunggu lama, berat tau bawa perut segede itu, heheheh.”
“Baiklah aku terima alasanmu, ayo.” Dua sahabat itu berjalan menuju tujuan.
__ADS_1
“Na, Lia sama Indah kenapa belum dating ya, padahal matkul kita sudah mau dimulai.”
“Iya belum tampak mereka dari tadi aku.”
“Hai..! Indah sama Lia tiba-tiba nongol di depan pas di belokan menuju kosma dan ruangan dosen pembimbing Luna.”
“Ah kalian bikin kaget tau.” Mira mengingatkan sedang Luna hanya tersenyum ramah pada Lia dan Indah.
“Na, kita antar lo ke ruangan pembimbing dulu ya, baru kita masuk kosma.”
“ya ok! Tanpa memaksa kan..?”
“Iya kita dengan senang hati kok.” Lia, Mira, Indah berkata bersama-sama.” Mereka pun mengantarkan Luna hingga depan ruangan pembimbing Skripsi Luna.
“Semangat ya Na, kita yakin lo pasti Ok.” Lia memberi semangat.
“kalau nanti lo sudah selesai bimbingan dan kita belum keluar kosma, tunggu kita di kantin ya Na.” Mira meminta.
“Jauh kali kantin Mir..,” Indah mengingatkan.
“Ups Iya, terus kemana dong.”
“Nanti aku akan tunggu kalian di situ begitu juga sebaliknya.” Luna menunjuk gazebo yang sepi dari mahasiswa karena kebetulan ruangan mereka di lantai satu dekat taman kampus.
“Ok sip! udah ya Na, kita ke kosma dulu.” Lia memberi penegasan.
“iya makasih teman-teman.” Sahabat itupun meninggalkan Luna menuju kosma yang tidak jauh dari ruangan Luna bimbingan.
20 menit kemudian, Luna keluar dari ruangan Dosen pembimbingnya sahabat-sahabatnya yang sudah menunggunya, segera menghampiri, tadinya berada di gazebo lalu mendekati Luna, Lia yang sudah siap dengan air putih memberi air mineral pada Luna.
“Kalian apaan sih, tapi makasih ya teman-teman.”
“Hem sama-sama Na.” Mira, Lia, Indah berkata bersama-sama.
Ke empat sahabat itu berjalan meninggalkan tempat itu, mereka berjalan pelan mengimbangi Luna.
“Na., bagaimana Skripsi Lo sudah mau tuntan apa bagaimana? Kita bisa tolong apa gitu?”
“Makasih bantuannya Mir, tapi Skripsiku sudah klar kok.”
“Apa!? Ketiga sahabatnya serentak melebarkan netra mereka sambil menatap Luna.
“Bener kamu Luna sudah selesai?” Indah menegaskan lagi.
“Iya sudah selasai, makanya tadi lama karena bimbingan semua Bab, dan 1 minggu selanjutnya sidang Skripsi.”
“Na.., lo memang gini deh, suka.. banget aku tuh..!” Lia memberi jempol pada Luna sambil memeluk ringan ke Luna.
“Iya kita senang lo Na, kamu bisa lebih cepat wisuda, jadi lebih bisa banyak istirahat setelah wisuda, terus bisa focus sama ponakan kita iy gak teman-teman.”
“Iya banget..,” ketiga sahabat itu saling peluk dan saling memberi dukungan.
__ADS_1
“Sudah sampai sini, kita tidak ada jadwal kuliah lagi kan teman-teman, ayo ke rumah Luna yuk.” Mira memberi ide.
“Iya bisa ayo ke sana, aku juga tidak ke mana-mana.”
“Ayo! Baiklah aku ke Pak Tejo ya, kalian sekalian ikut aku apa gimana?”
“kebetulan kita tadi bawa motor semua Na, kita ke rumah lo bawa motor saja.”
“Baiklah kalau begitu, aku tunggu ya, pingin ngemil apa? Tar biar aku buatin eh Bi Ana saja ya.”
“Kebab saja Na, sama Jus terserah dech.” Lia kasih ide.
“Iya aku ngikut saja, Iya aku juga.”
“Ok baiklah.” Luna naik ke mobilnya, Pak Tejo pun siap mengantar Nyonya besarnya.
“Kita ke mana Bu Luna sekarang?”
“Kita langsung pulang saja Pak Tejo, teman-teman mau main ke rumah.”
“Baiklah Bu, bener tidak mampir ke mana-mana ini?”
“Sebentar dulu aku telepon Bi Ana atau ratih dulu.”
“Baiklah Bu Luna.”
“Luna Pun menelepon Bu Ana, kebetulan tidak ada respon, lalu telepon Ratih dan ternyata ada, Luna menanyakan bahan-bahan kebab dan buah yang ada ternyata masih lengkap stok buahnya, bahan kebab juga masih cukup banyak.
“Semua bahan yang yang mau dicemil stoknya masih banyak Pak Tejo, jadi kita langsung pulang saja.”
“Baiklah Bu Luna.” Mobil pun meluncur tanpa kebut kebutan. 17 menit kemudian Luna pun sudah sampai rumahnya, tapi dia belum melihat teman-temannya.
“Makasih ya Pak Tejo, PakTejo silahkan istirahat.”
“Iya Makasih Bu Luna.” Luna pun berlalu dengan kaki yang sudah terasa berat.
Pak Tejo benar tidak berani melihat Nyonya besarnya, tapi beliau bisa merasakan kepayahan yang dirasakan oleh Nyonya besarnya tersebut.
Sampai di depan Pintu, Hp Luna berdering, gambar kontak yang sangat familiar.
“Assalamu’alaikum Mas, aku sudah menyelesaikan Skripsiku Mas, barusan ini aku dating dari kampus, teman-teman juga mau main ke sini.”
“Wa’alaikumuslam, bagus kalau begitu, memang istriku luar baiasa, sudah kuliahnya Cuma 7 semester, biaya Beasiswa, Skripsi Cuma 1 bulan, benar-benar luar biasa.”
“biasa kali Mas, teman-teman Luna juga banyak.”
“Iya tapi tidak ada yang hamil seperti kamu saat ini bukan.?”
“Iya sih.”
####
__ADS_1
Makasih sudah ikutin Upnya Rindu Sang Presdir ya Readers, beri vote like n komen positif sangat memotivasi Author untuk rajin Up..