
Arka juga tidak hawatir Luna terkena kotoran di tubuhnya karena dia sudah melepas jasnya dan memakai kemejanya saja.
Sampai di kamar, Arka membaringkan Luna, tapi tetap saja istri kesayangannya diam saja. Sedangkan Arka masih belum terlalu berusaha mencari jawaban kenapa Luna tiba-tiba menjadi pendiam.
“Ya sudah kalau masih mau diam, aku mandi dulu, bedanku sangat lengket seharian di kantor.”
Sekitar 7 menit Arka mandi, dia masih melihat istrinya meringkuk di tempat tidur, kemudian mendekati Luna bermaksud mengajaknya isya’.
“Sayang..bangunlah,” Arka memegang pipi Luna dan di elusnya dengan lembut.
“Sayangku menangis lagi? Kenapa menangis, ada telah terjadi sesuatu di kampus? Atau ada yang sakit?”
Mendengar pertanyaan suaminya Luna sudah tidak bisa menahan tangisannya yang dari tadi sore sudah dia tahan.
“hihik hik hua hua, Kenapa Mas Arka tega sekali! Luna sudah berkorban banyak hal sampai Luna harus kehilangan semuanya, dan ketika Luna mulai mencintai Mas Arka kenapa Mas Arka malah sama wanita lain?”
“Apa! Wanita lain, maksudnya bagaimana?”
“Sebentar apa sayangku sudah makan malam?”
“Sudah, tadi jam 5 sore sudah makan malam, karena siang tadi Luna tidak makan, mau mengajak makan Mas, di kantor tadi, tapi Mas malah hua hua hua..hikhihik.”
“Jadi habis dari kampus tadi sayangku ke kantor?”
“Hem hem,” Luna menganggukkan kepala.
“Hem baiklah, sekarang ayo kita keluar makan malam, aku sangat lapar.”
“Tidak mau!”
“Kalau begitu aku makan sayangku saja.” Arka langsung memakan bibir Luna yang sangat memerah akibat menangis, Luna yang mencoba menghindar malah terbawa suasana, bibir mereka berdua bertaut sampai mereka berdua hampir kehabisan nafas baru saling melepaskan.
__ADS_1
“Ayo makan malam, bersiaplah tapi sebelum keluar isya’ dulu, mumpung sekarang baru pukul 8 malam.”
“Tidak mau, Luna tidak mood.”
“Ya sudah biar suamimu kelaparan terus sakit.” Luna yang mendapat ancaman dari suaminya langsung beranjak ke kamar mandi mengambil wudlu mengejar Arka.
Semua sudah selesai, mereka bersiap di kamar masing masing, karena pakaian Luna masih belum di pindah ke kamar utama, saat mereka sama sama keluar ternyata pakaian yang mereka pakai warnanya seneda Arka dengan kaos merah marun lengan di bawah siku, sedangkan Luna memakai muslimah celana hitam dengan kombain kaos dan kerudung merah marun.
“O, kita sudah sangat serasi.” Arka menggandeng tangan Luna seperti biasa tidak mungkin dilepas lagi.
“Kita mau ke mana?”
“Hem.., ikut saja.”
Dengan sikap yang mendominasi, Arka membuka pintu mobil untuk Luna, dan ahirnya mobil mewah Arka meluncur di jalanan kota J, malam yang temaram dengan hiasan lampu kota sungguh menakjubkan, Luna yang jarang sekali keluar malam atau mungkin hampir tidak pernah jalan jalan malam, begitu mengagumi dan berdecak kagum dengan suasana tempat tujuan.
“Kenapa lama sekali Mas, kita mau ke mana?”
“Kita mau ke mana Mas..?”
“Ikut saja,” Arka tetap kukuh dengan sikap yang tidak mau menjawab pertanyaan Luna.
Sampai di sebuah meja Arka mengajak duduk Luna dengan terlebih dahulu menyiapkan kursi untuk Luna, Luna pun duduk, kemudian Arka duduk dan menjentikkan jarinya, berubahlah lampu yang awalnya terang menjadi temaram dan berganti dengan cahaya lilin yang berjumlah puluhan atau mungkin ratusan lilin yang mengisi setiap sudut Restoran.
“Mas Arka, apa semua ini?”
Sekali lagi Arka menjentikkan jarinya, datanglah para pelayan dengan membawa berbagai hidangan makan malam untuk mereka.
“Makanlah, tidak perlu menangis, tangisanmu itu tidak berguna dan sia sia, aku bukan tipe laki-laki yang suka dengan setiap wanita cantik.”
*Flash back*
__ADS_1
Ketika Luna berlari setelah melihat Arka menggandeng seorang wanita, Melani mengetahui kalau istri Bosnya itu menangis dan lari meninggalkan kantor, melani menceritakan semuanya dari awal sampai ahir. Dari situlah Arka mengerti dan menyiapkan kejutan untuk Luna, dia sudah bisa menebak kalau istrinya mungkin akan terluka kecewa atau bisa jadi malah uring-uringan.
Dia belum cerita kalau wanita yang megandengnya dengan manja adalah adik sepupu Arka, namanya Aghasi atau sering dipanggil Sisi dia kuliah jurusan kedokteran di Universitas terbaik Singapura, Sisi dari kecil sangat manja sama Arka, usianya satu tahun lebih dewasa dari Luna, kalau sudah pulang ke Indonesia Sisi tidak akan menemui siapa pun sebelum ketemu Arka, baru setelah ketemu Arka dia puas dan akan pulang ke Papa Mamanya.
Luna yang mendengar kata-kata Arka tersentak kaget, ternyata suaminya tau kalau dirinya sedang mengalami cemburu buta.
“Wanita yang kamu lihat di kantor itu adik ku, namanya Aghasi atau sering dipanggil Sisi, dia sangat mengidolakan Dokter Zaki, dan ingin menjadi istri si Zaki, tapi aku belum merestuinya, sebelum Zaki punya niatan untuk melamar adikku, dia keponakan mamaku, anak dari tante Mala, adiknya Mama, jadi sayangku tidak perlu cemburu.”
Luna masih diam, dia agak malu karena sudah salah cemburu, tapi tidak salah juga karena si Sisi lengket banget sama suaminya.
“Bicaralah, jangan diam, tidak perlu malu atau canggung,” Arka seperti tau wajah malu Luna sekalipun cahayanya sedikit temaram hanya terang di bagian meja menu persis ditempat mereka makan.
“Iya.., tidak perlu malu kakak ku yang cantik dan begitu anggung,” seorang perempuan muncul dari sudut ruangan dan mendekati mereka berdua lalu ikut duduk di samping Luna.
“Kakak ku itu sangat ideal, taat ibadah, kaya, sayang orang tua, jadi kakak tidak perlu hawatir,” Luna yang seperti terkena jebakan Batman wajahnya memerah dan tersenyum manis.
“Ayo, sudahlah Kak, tidak perlu di drama tisir Sisi lapar,” tanpa permisi Sisi malah ikut makan Luna dan Arka, ahirnya mereka makan dengan lahap sambil cerita masa kecil Sisi dan Arka dan banyak hal.
“Hem..kenyang, Sisi sudah selesai, balik dulu ya kak, sama kak Luna juga selamat atas pernikahan kalian, ini hadiahnya harus diterima, tadi Sisi pesan atas nama Sisi.”
Sepupu Arka itu pergi begitu saja meninggalkan Luna dan Arka yang belum sempat berkata apa pun.
“Tau kan anak itu, semau sendiri dan seenak sendiri, mau datang pergi terserah dia.”
Luna terkekeh melihat wajah Arka keheranan melihat sepupunya, yang seenaknya sendiri.
“Jadi apa yang membuatmu menangis? Karena cemburu kecewa berprasangka kalau aku main di luar? Ah sudahlah. Cepat telepon Ibu, malam ini kita akan menginap di tempat yang sudah di pesan Sisi.”
Ahirnya Luna menelepon Ibunya kalau ada urusan dengan suaminya dan akan menginap, tanpa ada pertanyaan Bu Imah merestui, dan malah gembira mendengar kabar kalau Luna dan menantunya akan menginap. Dia berharap sekali kalau Luna dan Arka segera punya momongan lagi.
***
__ADS_1
Nah kan.., sudah ketahuan siapa wanitanya. itu Author kan...eh bukan itu Sisi, hehehe, tetep ingat vote, bintang dan likenya sayang...emuua