
Arka mengajak Luna masuk ke kamarnya, yang sebelumnya sudah mengantarkan Bu Imah ke kamarnya lebih dulu.
Semua orang beristirahat, ada juga yang langsung jalan jalan berkeliling di sekitar area villa, Bu Imah juga menikmati pemandangan dari balkon kamarnya, Bu Imah menghirup udara kampung kelahirannya dalam dalam, Bu Imah begitu bahagia sampai bulir bening mengalir di pipinya yang sudah tidak muda lagi.
“Ya Allah, terimakasih atas semua berkah dan rizki yang Engkau berikan padaku.” Bu Imah menengadahkan ke dua tangannya sambil terus berdoa.
Waktu terus berjalan, karena sebelum berangkat Arka sudah memberi himbauan pada semua rombongan muslim untuk menjama’a Ta’khir sholat mereka, atau waktu Sholat Dzuhur di ringkas menjadi satu dan di lakukan di waktu Sholat Ashar mereka.
***
Di tempat Doni, dia masih mengintai di sekitar lokasi yang di kira adalah tempat Arka membangun semua aset untuk mertuanya, dia seperti mendapat target pancingan yeng begitu besar, padahal targetnya sangat jauh dari berhasil.
Sampai malam tiba, Doni tidak melihat tanda-tanda rombongan Arka datang dan meramaikan Area, dia agak sedikit curiga dan mulai kesal.
“Bus*t ku**ng ajar, sepertinya Arka berhasil mengelabuhi aku dan anak buahku.” Doni begitu marah dan geram.
“Hai kau, apa yang kamu lakukan selama ini?” Doni memanggil mata-mata yang di tugaskan selama kurang lebih 2 bulan di Bromo.
“Maaf Tuan apa yang bisa saya bantu?” mata mata Doni tergopoh-gopoh medekat ke Tuannya.
“Maaf maaf! Sebenarnya apa yang kamu kerjakan selama ini!? Kenapa tidak ada tanda-tanda rombongan datang!?”
“Maaf Tuan, saya kurang tau..” Tanpa mengenal ampun, Doni menendang orang suruhannya itu.
Dia meninggalkan orang yang terlihat meringis kesakitan itu, sambil berlalu menuju hotel tempat dia menginap, karena Doni sangat marah akhirnya dia bekerja sendiri dan mencari informasi dengan membabi buta menembus malam yang begitu dingin.
Karena Doni bukan termasuk orang yang cepat menyerah, dia pun mendapat informasi dari penduduk setempat yang bergunjing tentang anak desa tetangga, yang menikah dengan orang kaya, lalu di bangunkan Istana dan masih banyak lagi.
“Mungkin ini adalah Arka, aku akan bertanya di mana Desa itu.!” Doni bertanya pada penduduk di mana Desa yang mereka bicarakan.
Doni merasa puas dan tertawa begitu keras seperti orang kesurupan sambil berlalu meninggalkan para penduduk yang masih asyik berkumpul di ronda-ronda Desa mereka.
Doni kembali ke hotel, untuk bersiap pindah ke Desa di mana Arka dan Luna akan melakukan peresmian Villa dan semua proyek yang mereka bangun.
__ADS_1
“Aku akan mengahancurkan kalian sampai habis Arka, tidak menimpa dirimu, istrimu, atau orang yang kamu sayangi.!” Doni mengumpat sepuasnya di kamar hotel tempat dia menginap.
Tanpa terasa, hari semakin larut, Doni pun tertidur dengan semua kesal hati yang di rasakannya.
***
Di villa, setelah jamuan makan malam, semua asyik menikmati pemandangan malam di sekitar villa hingga larut malam, Luna dan Arka juga tidak menyia-nyiakan momen yang begitu luar biasa, Rama dan Indah juga melewatkan momen itu sekali pun masih malu-malu dan canggung ketika di goda oleh teman-teman satu rombongan.
Setelah Luna puas menikmati malam, dia pamit tidur, sedangkan Arka dan semua rombongan meneruskan persiapan untuk peresmian villa, Resto, klinik serta kejutan untuk Luna dan Bu Imah, semua di rahasikan dari Bu Imah dan Luna dengan sengaja.
“Kalian sudah siap? Kalau siap ayo kita lembur sampai pagi, untuk yang wanita, tidak perlu lembur, kalian bisa istirahat tapi kalau mau lihat atau mau membantu silahkan, tidak ada paksaan,” Arka dengan senyum mulai mengerjakan semua persiapan.
Satu persatu, persiapan sudah hampir selesai, dan waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari, sampai pukul 01.30 semua benar-benar telah selesai, Arka begitu puas dan tersenyum bahagia.
“Sudah! Kalian tidak perlu begadang lagi, kita harus benar-benar istirahat untuk persiapan besok.”
“Siap Pak.” Semua menjawab secara bersamaan, dan pergi satu persatu dari tempat mereka berkumpul.
Fajar mulai menampakkan sinarnya, ayam jago mulai berkokok bersahut sahutan, suara burung berkicau dan beterbangan dari dahan ke dahan, suasana pegunungan pagi, Arka dan Luna meregangkan otot tubuhnya, mereka begitu enggan beranjak dari tempat tidur.
“Apa sayangku tidak mau bangun? Suasana di luar pasti Indah sekali,” Arka beranjak dari tempat tidur, lalu sedikit melihat keluar dari jendela kamar.
“Iya Mas.., kalau pagi di kampung gunung seperti ini memang sangat menyenangkan.”
“Ayo bangun gi,! Nanti kita telat shubuh.”
Luna yang masih begitu mengantuk malah memeluk guling dengan begitu erat sambil menutup tubuhnya dengan selimut.
“Tidak boleh begitu, ayo bangun sayang.”
“Tidak mau,” Luna menolak sambil menggoyangkan tubuhnya yang terbungkus selimut.
“Ayo.., nanti telat shubuh..” Arka dengan penuh kesabaran membangunkan istrinya yang tumben sekali malas bangun pagi.
__ADS_1
“Iya.., Luna mau bangun, tapi gendong..” Luna membuka selimut dan mengarahkan ke dua lengannya ke Arka seperti bayi yang minta di gendong Ibunya.
“Iya.., sini sayang.”
Tanpa menolak Arka langsung menggendong Luna seperti anak koala, yang memeluk erat dirinya sambil sesekali Luna menggoda Arka dengan mencium dan menggigit kecil leher Arka.
“Jangan di cium, sudah Mas bilang nanti habis shubuh saja.”
“Iya iya..”
Luna yang di gendong seperti anak koala dan di ajak ke kamar mandi oleh Arka langsung mandi kemudian berwudlu, Arka sengaja tidak mengajak Luna mandi bersama khawatir akan lebih lama.
“Mas.., Luna sudah selesai.”
“Iya, keluarlah Mas lagi siapkan alat sholat.”
“Tidak mau! Luna mau di gendong lagi,” Luna kekeh masih di dalam kamar mandi dan tidak mau keluar.
“Gimana Mas bisa gendong, nanti wudlu sayangku batal kalau sentuhan dengan Mas.”
“gendong bridal, ok ok. Tumben banget sayangku manja sekali? Memang ada apa?”
Luna tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala, kemudian Arka mengambilkan mukena dan memberikan pada istrinya itu.
“Tunggu sebentar Mas mandi dulu, tunggu ya.”
Luna lagi-lagi hanya mengangguk tanpa menjawab Arka. Arka begitu bertanya-tanya, banyak sekali pertanyaan yang menari-nari di pikirannya, ketika dia mandi juga mencoba menerka-nerka ada apa dengan istrinya, kenapa beberapa hari ini emosinya begitu naik turun.
“Mas..! ayo, kenapa lama sekali..”
Baru saja Arka mau berpikir dari tiap pertanyaan yang menari di pikirannya, Luna memanggilnya dengan begitu manja, buyar lah semua jawaban yang hampir saja Arka temukan.
Di tunggi like n votenya ya sayang sayang Readers, eemuua
__ADS_1