RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 65


__ADS_3

Bu Imah datang tergopoh-gopoh berteriak dan menangis memanggil Luna, karena dia mendapat kabar dari satu pemuda Desa yang tidak sengaja melihat kejadian di TKP, dan memberi kabar ke pada Bu Imah, kalau Luna kecelakaan dan dibawa ke klinik baru.


“Nak Arka.., apa yang terjadi?” Bu Imah mendekati Arka dan mengguncang-nguncang tubuh Arka.


“Apa yang nak Arka lakukan? Kenapa sampai dia celaka? Hik hik hik hu huhu.” Bu Imah menangis tanpa terbendung lagi.


Tidak lama, Dokter yang merawat Luna keluar dari ruang pemeriksaan.


“Pak Arka, mohon maaf, bisakah saya berbicara sebentar dengan Pak Arka?”


“Iya Dokter.” Arka melangkah dengan gontai menemui Dokter yang ingin berbicara sesuatu.


“Pak Arka, sebelumnya saya minta maaf, setelah saya periksa, Bu Luna dalam keadaan baik, hanya lecet di bagian kaki, karena terguling menghindari mobil.”


“Terus saya minta maaf lagi, karena di sini tidak ada alat USG, saya tidak bisa memeriksa lebih lanjut kadaan bayi Bapak.”


Setelah mengatakan itu, Dokter perempuan itu terdiam, karena Arka masih belum memberikan jawaban.


“Baiklah Dokter, terimakasih.” Arka lalu pergi ke tempat Luna berbaring.


Arka tersenyum kepada istri kesayangannya, dan mencoba untuk kuat, sekali pun Arka sangat cemas dengan keadaannya dan bayi yang sedang di kandungnya.


“Kenapa bisa terjadi kecelakaan nak Arka, sebenarnya apa yang terjadi?” Bu Imah terisak sambil bertanya pada Arka.


“Iya Ibu, ada orang yang tidak manusiawi telah dengan sengaja ingin mencelakai kami, tapi tenang saja biang dari keonaran ini sudah di bekuk dan di serahkan ke polisi.”


“Semoga kamu baik-baik nduk.., Ibu khawatir dengan kabar yang begitu mengejutkan Ibu.”


“Iya Ibu.., Luna baik kok lihat saja Luna segar kan, Ibu tidak perlu khawatir..”


“Ibu tau kamu baik-baik saja, tapi Ibu tetap khawatir.”


“Ibu.., Iya nak Arka.”


“Maafkan kami Bu, karena nanti Arka berencana membawa Luna pulang dengan pesawat pribadi.”


“Ada apa Mas, kenepa mendadak sekali.”


Luna kaget dengan rencana Arka yang mendadak ingin segera memboyongnya pulang.


“Kenapa mendadak nak Arka? Bukankah kalian berdua berencana satu minggu bermain di sini”


“Saya harus memeriksakan keadaan Luna Ibu, karena Luna sedang hamil, dan baru ketahuan saat insiden tadi sore Ibu.”


“Apa! Luna hamil Mas?” Luna begitu kaget mendengar kabar dari suaminya.


“Apa? Jadi Ibu mau punya cucu, ya Allah nduk.., semoga kamu dan bayimu baik-baik saja.” Bu Imah mengelus kening Luna dan berganti mengelus perut Luna.


“iya nak Arka, bawa segera anak Ibu dan cucu Ibu, biar di periksa lebih baik.”

__ADS_1


“Iya Bu.”


“Mas.., beneran Luna hamil.” Tanpa sadar Luna bangkit dan mau turun dari tempat dia berbaring.


“Jangan!” Bu Imah dan Arka berbarengan mencegah Luna untuk turun dari tempatnya.


“Istirahat dulu nduk, jangan bergerak-gerak dulu.”


“Benar kata Ibu sayang, sebaiknya sayangku istirhat dulu, biar tenaga sayangku cepat pulih.”


“Tapi benar Luna hamil Mas..?”


“Kata Dokter Iya, dan kenapa sayangku pingsan! Itu karena kaget dan kelelahan makanya sampai tidak sadarkan diri.”


“Terus Mira teman Luna bagaimana Mas, kenapa dia bisa berada di sini? Dan yang sengaja mau menabark kita tadi siapa?”


“Sudah.., sayangku istirahat dulu, semua sudah ditangani, sayangku cukup istirahat biar kondisi sayangku cepat pulih.”


“Tapi mas.., Luna pingin tau kabar Mira.”


“Iya Mas tau, tapi kesehatan sayangku dan calon bayi kita juga penting, jadi sayangku mesti istirahat lahir batin.”


“Baik lah Mas, tapi benar kan Mira tidak apa-apa kan, jangan biarkan Mira tidak tertolong ya.”


“Iya.., sayangku cukup istirahat dulu.”


“Baiklah Mas.., tapi Luna lapar.”


“Kamu lapar ya, Ibu kebetulah membuat rujak kesukaan mu nduk, tapi ada di rumah.”


“Iya Ibu, Luna mau, pasti segar deh.”


“Baiklah, Ibu akan pulang dulu mengambil rujaknya.”


“maaf Ibu, biar orang mengantarkan Ibu ke rumah, supaya lebih cepat.”


“Iya nak Arka itu lebih baik.”


Arka pun minta tolong pada satu orang anak buahnya untuk mengantarkan Bu Imah mengambil rujak di rumah. Setelah Bu Imah pergi, Arka duduk di samping Luna yang sedang berbaring lemas.


“Mas.., benar Luna positif hamil?”


“Kata Dokter dan perawat yang memeriksa sayangku tadi bilang iya, tapi karena tidak ada alat USG, mereka hanya memeriksa dengan alat yang terbatas.


Bulir bening membasahi pipi halus Luna, begitu juga dengan Arka yang langsung memeluk Luna serta meminta maaf.


“Maafkan aku sayang, karena tidak peka akan kehamilanmu.”


“Tidak apa Mas.., tidak usah bersedih, semoga anak kita baik dan sehat, lihat saja, Ibunya orang yang kuat, pasti anaknya juga kuat.”

__ADS_1


“Iya..,” bulir bening semakin membasahi pipi Arka, dia semakin memeluk istri kesayangannya itu dengan erat sambil masih terbaring lemas.


“Sudah Mas, tidak perlu berlabihan.”


Arka melepas pelukkanya dan menatap intens pada istrinya itu, dan lagi Arka memeluk erat Luna.


“Maafkan Aku yang tidak menjaga kamu dengan baik tadi, kalau aku tadi lebih peka, pasti mobil breksek tadi tidak akan punya kesempatan membuat sayangku terguling.”


“Iya Mas.., lepas dulu pelukan Mas, Luna tidak bisa benafas.., uhuk uhuk uhuk.”


“Iya iya, maafkan aku sayang,” Arka segera mengambilkan Luna air mineral yang tersedia di meja samping tempat tidur Luna.


Dua sejoli itu, bahagia bercampur sedih, di satu sisi Arka dan Luna bahagia karena akan segera punya bayi, di sisi lain ada yang berduka karena Mira sahabat Luna mengalami kecelakaan, dan di rawat di RS, bagaimana pun Luna pasti akan bersedih, karena sahabatnya sedang tertimpa musibah.


Tidak lama berselang, Bu Imah datang membawa rujak kesukaan Luna, rujak yang sering dibuat Luna saat masih gadis dan menjadi kudapan favorit Luna.


“Nduk.., ini rujak kesukaanmu, Ibu sudah siapkan jadi kamu tinggal makan.”


“Iya Ibu.., terimakasih.”


Luna memakan rujak sambil di suapi Arka, Arka tidak mau melihat Luna kesusahan karena tangan kiri Luna masih terpasang selang infus, yang sengaja di pasang guna mempercepat pemulihan Luna.


“Hati-hati nak Arka.”


“Iya Ibu.”


Sesekali Arka membersihkan sudut bibir Luna dengan jempol jari tangannya, karena tidak sengaja bumbu rujaknya menempel di bibir Luna.


Awalnya luna malu dengan perlakuan Arka, tapi karena dia begitu menikmati rujak buatan Ibunya, rasa malu berganti dengan nikmat makan yang belum pernah Luna alami, semenjak tinggal di kota J.


“Sudah Mas.., Luna kenyang.”


“Baiklah, Mas akan habiskan sekarang.”


“Jangan Mas, nanti Luna dosa karena nyisain makanan buat Mas.”


“Dosa kalau aku tidak ikhlas, tapi kalau suami makan dalam keadaan senang, sayangku malah dapat pahala.”


“Mas bisa saja.”


“Di bilangi tidak percaya, lagian mubadzir juga rujak seenak ini kalau mau di buang, toh dimakan nanti juga pasti tidak seenak kalau masih fresh.


“Hati-hati Mas, jangan semangat seperti itu.”


“Iya.., rasanya lezat sekali selezat bibir sayangku.”


“Mas Arka, malu tau di dengar Ibu.”


“Ibu di luar, jadi tidak akan dengar percakapan kita.”

__ADS_1


Bu Imah karena khawatir Arka dan Luna tidak nyaman, saat Arka menyuapi Luna beberapa suap, Bu Imah keluar dari ruangan tempat Luna di rawat.


Ingat like dan votenya sayang sayang.., eemuua terimakasih yang selalu dan masih setia baca Rindu Sang Presdir.


__ADS_2