RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 79


__ADS_3

“iya bawain punya aku.” Ketiga sahabat itu malah minta dibawain salad juga.


Mereka menikmati salad sambil menghayati alur Dakor yang sedang ditonton, sesekali wajah mereka terlihat tegang, sesekali murung dan sedih, sesekali tertawa bersama, tapi Mira yang paling beper, dia tetap melanjutkan sedihnya, hingga bulir bening di pipinya mengalir deras tanpa henti, karena tisu juga tersedia di ruangan itu, Mira hamper saja menghabiskannya.


Peka dengan keadaan Mira, Luna sejenak melihat ke Mira, kemudian mendekati tempat Mira duduk, teman-teman yang lain masih focus dengan adegan demi adegan dalam Drakor tersebut. Luna yang berat dengan tubuhnya berhati-hati mendekati Mira.


“Mir.., kenapa menangis? Ada apa? Jangan kira kita cuek dengan keadaannmu.”


“Ihik ihik ihik.” Mira malah memeluk Luna sambil menambahi suara tangisnya, seketika Lia, Indah pun menoleh ke Mira dan Luna duduk.


Lia langsung mendekati Mira, Indah juga. ”Kenapa kamu Mir..?” Lia mencoba cari tau.


Sambil melepas pelukan Luna, Mira sambil terisak menceritakan kenapa dia menangis, dengan terisak tetap saja Mira meneruskan ceritanya, hingga Indah pun turuh menangis, hanya Luna dan Lia yang masih kuat untuk tidak ikut larut dalam Bapernya Mira.


“Sudah Mir.., tapi kenapa lo tidak cerita ke kita-kita dari kemarin kemarin, kita kan selalu ada untuk kita semua, bukan begitu kata lo.!” Lia mempertegas pesan yang pernah dilakukan oleh Mira.


“Iya aku tau, tapi aku menahan dulu, aku kira aku bisa menahan lebih lama, tapi tidak bisa.”


“tidak seperti itu juga Mir.., kita selalu ada untuk mendengar keluh kesah bersamakan..” Indah memberi pesan.


“I’ iya..maafkan aku teman-teman.” Keempat sahabat itu saling memeluk dan menguatkan.


Iya, Mira menceritakan semua keadaan kelarganya, yang terkadang jarang di rumah, dan sering tidak ada kehangatan, dia yang awalnya punya tempat curhat yaitu Doni sebagai saudara sepupu yang dekat dengannya, sekarang keadaannya sudah berbeda tidak seperti dulu, Doni selalu harus dalam pantauan dalam kesehariaanya, bagaimana Mira mau curhat atas kesendiriannya, sedangkan Doni sendiri juga butuh perhatian.


Sedangkan Mira ketika mau bercerita dengan teman-temannya Mira khawatir kalau malah menjadi beban sahabat sahabatnya, karena Mira piker, Lia sudah sibuk dengan kuliah seperti dia, Indah sudah dengan rumah tangganya, Luna apalagi sedang hamil, tapi karena baper saat melihat Drakor, masalah yang lama dipendam akhirnya, meluap jua.


“Ya Allah Mira.., gue tau kalau gue tu banyak maslah, tapi selama kita sahabatan, dari dulu, kalau ada apa-apa pasti kita ngomong deh, lagian kita sudah seperti keluarga, ah seperti pokoknya kita sudah keluarga kali Mir..” Lia memberi dukungan.

__ADS_1


“Sudah-sudah tidak apa-apa, mungkin Mira punya pertimbangan sendiri Li.” Luna mencoba mencairkan suasana.


Mira yang dari tadi pipinya basah, sekrang mulai mongering, suasana yang tadinya baper banget sudah mulai mencair. Tapi suasana agak hening 5 detik kemudian. Alih-alih mencairkan suasana, Luna bangkit dari tempatnya duduk, dan pura-pura kesulitan berdiri.


“Aduh aduh.” Luna pura-pura mengeluh saatingin bangun dari tempat dia duduk. Secepat kilat Lia langsung berdiri dan menarik lengan Luna seraya memapah Luna, kemudian Mira dan Indah juga ikut memotivasi tubuh Luna agar lebih berdiri tegak.


“Ha..! lega rasanya, tapi kalian sigap banget sih..!”


“Iya.., kami kan saras 008, hahahaha.” Keempatnya malah tertawa terbahak-bahak.


“aduh pukul berapa ini? bagaimana dengan Mas Rama.” Indah malah tanpa sadar lari menjauh dari ketika sahatanya.


“Indah..! Mau kemana lo..,Mira sama Lia meneriaki Indah.”


“Ha! Aku mau pulang ini sudah mau magrib sedangkan aku belum masak buat makan malam kita berdua di rumah.


“Apa!? Aduh kakakku ribet banget deh, nanti biar aku yang bialngin kalau lo sama kita-kita Ndah.., ndak usah khawatir gitu dong.!”


“Kalau akau mah belum tau gitu-gituan yang tau Luna sama Indah, hahaha” Mira malah tertawa.


“Tu kan sudah bisa tertawa.” Indah menimpali.


“Gini saja Ndah.., dari pada kamu tergesa-gesa pulang mending bawa makann jadi saja dari sini, terus makan berdua sama Mas Rama nanti di rumah.”


“Iya idenya bagus juga tu Ndah.” Lia menimpali.


Sejenak Indah berpikir, dengan kata-kata Luna, tapi indah ingin sate yang biasa jadi langganan Rama dan Indah, apalagi kalau bukan Kedai Sate yang sekarag ada menu baru, yaitu sate kuat segala macam, sambil senyum-senyum Indah malah membayangkan ketika Rama habis makan sate kuat segala macam, bisa-bisa semaleman kamar sangat berantakan.

__ADS_1


Tapi karena ide Luna brilian juga akhirnya Indah menyerah dan mengiyakan ide Luna.


“Ok, aku setuju.” Indah tersenyum pada sahabat sahabatnya.


Mereka pun berjalan ke ruang makan karena hari sudah mulai magrib, dan sebelum makan malam berlalu, mereka memberikan jeda untuk beribadah terlebih dulu.


Setelah semua berkumpul, mereka menikmati makan malam yang telah disajikan oleh Bi Ana dan Mbak Ratih, tidak ada yang menolak atas makanan yang tanpa harus penuh menu, mereka menikmati dengan santai tanpa harus banyak percakapan dalam meja, karena Luna juga termasuk daftar orang yang tidak berbicara banyak ketika makan.


Setelah meraka merasa cukup, mereka menyudahi makan malam mereka, kemudian lanjut ngobrol bersama.


“Na, setelah ini kita cabut ya, kasiahan adek bayinya biar lo cepet istirahat, dari tadi siang lo terjaga terus gara-gara kita.” Lia nyerocos.


“Iya tidak apa, ini juga jaran-jarangkan, belum tentusebulan sekali, momen kayak gini kan kalau Mas Arka lagi keluar tugas bukan.”


“Iya sih.., tapi maksih ya Na.” Lia menimpali lagi.


“Iya Na, aku juga termakasih.” Mira terharu.


‘Iya au juga makasih abnayka ya Na, jadi makan malam gratis ini.”


“Iya betul Ndah, saling membari manfaatkan?” Mira mengelus pundak Luna.


“Ok kalau begitu aku pamit ya Na, Mas Rama sudah nunggu ini.”


“Ok lah…, pokoknya hati-hati ya kalian..”


“Iya jangan khawatir..” sahabat itu pun berlalu dari hadapan Luna dan keluar dari rumah Luna, Luna mengikuti mereka dari belekang mengantar sampai ke pintu, kemudian melihat sahabatnya itu tak terlihat dari gerbang halaman rumahnya, Pak Bejo mengecek gerbang rumah kemudian masuk ke ruang security kembali.

__ADS_1


Luna pun menuju kamarnya untuk istirahat karena Bi Ana sudah siap menutup pintu, dengan segala kesigapannya, sedangkan Mbak ratih merapikan makanan yang tidak habis dimakan oleh Nyonya besarnya.


Sedangkan Indah, karena Rama minta Sate pesanannya, Indah pun menyempatkan untuk membeli sate sebentar, dan tanpa ragu dia memesan Sate Kuat segala macam.


__ADS_2