
Arka berjalan di depan sebagai pemberi petunjuk pada ambulan yang mengantarkan jenazah Selena ke rumah pak Hari.
Ahirnya Jenazah Selena sampai di kedaiaman Pak Hari, semua kolega dari dalam dan luar negeri banyak yang datang mengucapkan turut berbela sungkawa atas meninggalnya menantu keluarga HJG, tidak terkecuali semua sahabat, karyawan yang berkepentingan, keluarga pak hari Bu Hari juga keluarga Selena turut datang untuk mengikuti proses pemakaman Selena.
Semua orang datang dengan cepat ke kediaman Pak Hari karena berita sangat cepat menyebar ke seluruh antero, tidak terkecuali Doni, rival bebuyutan keluarga HJG. Tapi karena suasana masih dalam duka keluarga HJG tetap profesional menyambut tamu yang datang untuk berbela sungkawa sekalipun niat dan tujuannya ada yang murni maupun karena atau ada tujuan terselubung.
Semua masih dalam suasana duka, karena proses pemakaman secara muslim, kediaman Pak Hari ramai dengan lantunan ayat suci Al-Quran dan tahlil seperti orang yang meninggal pada umumnya. Ahirnya semua proses persiapan pemakaman sudah selesai, Jenazah Selena segera di berangkatkan ke peristirahatan terahirnya, suara tangisan dari keluarga Selena yang datang bersahutan terdengar agak keras, maklum mereka jarang sekali bertemu, dan setelah lama tidak bertemu Selena malah meninggalkan mereka untuk selamanya.
Proses pemakaman sudah selesai, semua kolega dan tamu yang datang melayat segera pamit dan pergi. Rumah Pak Hari tampak sepi hanya beberapa karyawan dan keluarga Selena yang masih bersama mereka. Semua dalam diam, Arka, Dokter Zaki, dan Rama. Belum ada yang mengeluarkan suara untuk mencairkan suasana dan ahirnya.
“Pak Hari..,” Suara Mama Selena membuyarkan keheningan.
“I..iy Bu Amran,” Pak Hari menyambung panggilan Bu Amran mama Selena.
“Kami titip anak kami Selena untuk selamanya, maafkan Selena jika berkelakuan tidak baik selama menjadi menantu Pak Hari, karena kami jauh dari Selena tolong makam Selena sering-seringlah di kunjungi, agar Selena tidak merasa diabaikan, karena kami jauh darinya, hanya keluarga Pak Hari yang dekat dengan Selena untuk Selamanya Sekarang dan seterusnya,” sambil berbicara tangisan Bu Amran pecah di tengah keheningan
“Iy Bu Amran kami pasti akan sering mengunjungi makam Selena sampai 100 hari Selena dan ketika ada momen momen tertentu, karena keluarga HJG juga semua di makamkan di tempat yang sama dari mulai buyut-buyut kami.”
Dari luar, terdengar suara sirine mobil kepolisian, ada beberapa polisi yang masuk ke rumah Pak Hari dengan membawa beberapa berkas.
“Assalamu’alaikum,” satu polisi mengucapkan salam
“Maaf pak, kami dari pihak kepolisian mau mengatarkan berkas-berkas kasus kecelakaan tunggal atas nama Ibu Selena.”
“Iya saya suaminya,” Arka berdiri dari tempat duduk untuk menerima berkas yang dibawa oleh polisi itu.
__ADS_1
“Semua bukti ada di dalam berkas Bapak jika masih ada yang perlu penjelasan atau ada yang berkemauan mengusut ulang kasus ini, maka suratdan bukti harus lengkap dan perlu sesuai prosedur.”
“Iya kami mengerti Pak,” Arka menjawab penjelasan polisi itu.
“Kalau begitu kami permisi dulu, Assalamu”alaikum,” Polisi itu menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Kembali dalam suasana diam. Tidak ada yang berbicara, ahirnya Pak Hari membuka kebekuan suasana yang masih terlalu kaku untuk membahas atau bertegur sapa dengan keluarga Selena.
“Em.., Bagaimana Pak Amran, semoga Pak Amran mau tinggal di gubuk saya selama 7 hari atau sampai batas 7 harinya nak Selena.”
Keluarga Selena terdiam, masih belum menjawab anjuran Pak Hari, dan setelah lama, dengan menarik nafas panjang, Pak Amran memberikan penjelasan.
“Begini Pak Hari, kami mohon maaf jika kami tidak bisa berlama lama di Jakarta, karena kami juga harus pulang dan mengurus bisnis kami, kami berencana hari ini langsung pulang ke Bengkulu, kami punya rencana akan mengadakan acara sesuai adat di tempat tinggal kami, agar Selena tenang di alamnya, jadi sekali lagi kami minta maaf tidak bisa berlama-lama di Jakarta.”
Ahirnya semua kembali dalam diam, dalam kediaman mereka, suara adzan Dzuhur sudah dikumandangkan. Semua beranjak dari duduknya masing masing untuk Sholat Dzuhur.
Rama mendekati Arka yang sedang berdiri untuk mengambil air wudlu, Rama akan segera pamit masuk kantor kembali, karena setelah klarifikasi dengan PT. Angkasa Pura, Rama langsung datang sebentar untuk menghadiri pemakaman Selena.
“Ar, tadi aku ada pasien yang perlu penangananku, setelah selesai aku langsung ke sini maaf aku tidak bisa lama-lama di sini, karena aku harus kembali ke RS,” Dokter Zaki kemudian pamit ke Arka untuk langsung kembali ke RS Permata Doa. Setelah semua selesai Sholat Dzuhur, keluarga HJG dan keluarga Almarhum Selena kembali ke ruang keluarga, sedangkan Rama langsung pamit ke untuk kembali ke kantor.
Keluarga Selena juga langsung pamit ke keluarga HJG untuk kembali ke Bengkulu, karena mau mengurus meninggalnya Selena sesuai adat kota mereka. Keluarga itu saling memeluk dengan isak tangis dan saling menguatkan satu sama lain, mereka berjanji akan tetap menjaga tali sillaturahmi satu sama lain, Pak hari juga meyakinkan keluarga Pak amran, Beliau akan tetap merawat Selena walau melalui makamnya.
***
7 hari kemudian
__ADS_1
Tuju hari meninggalnya Almarhum Selena telah berlalu, tidak ada kendala atau masalah yang muncul menyangkut kematian Selena, Arka juga sudah memulai untuk masuk kantor setelah 7 hari berkabung dan belum pernah ke kantor. Selama berkabung kantor di handle oleh Rama dan tetap saling komunikasi dan percaya satu sama lain.
Hari ke 8, pukul 06.30 Arka sudah siap untuk ke kantor, dia bersama supir pribadinya menggunakan mobil yang sederhana, bukan menggunakan mobil Pharsa putihnya. Arka tampak elegan dengan setelan Jas yang di padukan dengan Dasi panjang, Jas mahal super mahal Desmond Merrion Supreme Bespoke, Arka tamak luar biasa.
Karena kalau tampilan yang lain, Arka boleh sederhana tapi untuk pakaian, Arka tidak bisa Tolelir atau harus yang berkualitas.
Di perjalanan saat lampu merah tanpa sengaja Arka menangkap sosok yang sering menjadi pusat perhatiannya selama ini, Iy dia adalah Luna, Luna Adma Pandu.
Gadis itu naik sepeda motor dengan peralatan lengkap, walau pun wajahnya ditutup masker dan memakai Helm, sorot matanya yang bulat lebar sayu, sangat membuat jantung Arka berdegup kencang, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik, belum sempat Arka melihat kemana Luna melajukan sepedanya. Pak Tejo sudah menekan gasnya dengan cepat, karena masih penasaran Arka sampai memutar badannya untuk memastikan Luna berjalan ke mana.
“Ada apa Tuan? Apa yang terjadi sampai tuan Arka memutar tubuh tuan seperti melihat sesuatu?”
“Em.., tidak ada apa-apa pak Tejo.”
Pak Tejo masih penasaran, tidak biasanya Arka bersikap KEPO, tapi Pak Tejo tidak meneruskan rasa penasarannya, dia tetap fokus menyetir, karena Arka sudah menjawab pertanyaannya dan sudah dijawab tidak ada apa-apa.
Arka sampai di kantor jam 06.45 karena dia brangkat dari Apartemennya yang lumayan dekat dengan kantor, hanya perlu waktu 15 menit jika tidak terjadi kemacetan.
Semua Karyawan yang awalnya berjalan dengan santai dan pelan menuju kantor, setelah melihat Arka sudah masuk kantor, semua karyawan mempercepat seribu langkah mereka. Karena Arka paling tidak suka dengan karayawan yang terlambat.
Sampai di ruangannya Arka membuka Jendela kesukaanya, karena dia dapat melihat isi kota dengan sangat jelas. Arka sedikit menarik dasi yang agak menempel di lehernya, sambil menarik nafas panjang dia menekan Bel melani asisten di kantornya.
untuk memesan kopi sebagai teman pagi yang masih sepi.
Author. Terimakasih sudah mau membaca karya perdanaku ya Readers, mohon like, Vote dan komennya, ajak teman saudara untuk membaca karya Author ini. Sekali lagi terimakasih..
__ADS_1