
“Semua demi lo Ar! Dan demi kembali ke kantong gue yang akan menebal! Jadi gue harus cepat seperti kilat! Des! Des!!” Tangan Rama mempraktekkan kecepatan kilat yang biasanya bergerak cepat.
Arka dan Rama sama-sama bekerja penuh keyakinan. “Ram, selama aku pergi kamu harus jaga HJG dengan baik dengan Melani, kalau perlu ajak istri kamu untuk membantu bekerja di sini.!”
“Lo kayak mau pergi lama saja! Hahahaha, tumben lo romantisan dikit, biasanya mau pergi seenak lo sendiri juga tidak mungkin kayak gini!?”
“Ini serius! Jangan kamu buat candaan!”
“Emang gue kalau kerja sama elo ngajak siapa!? Ya pasti ngajak Melani, kalau Istri gue ngapain gue ajak kerja di sini!?”
“Misal kamu butuh bantuan!? Kalau tidak perlu ya sudah.! Sudah dulu aku harus siap-siap pergi, awas ya! Jaga HJG dengan baik. Aku tidak akan mengampunimu kalau kamu tidak disiplin.!”
Arka pergi pulang diberengi oleh Rama yang akan mengantarkan Arka ke Bandara. “Aku benar-benar titip HJG padamu Ram, salam untuk Papa Mamaku juga.!”
“Apa sih lo Ar, kayak Drama Korea saja! bikin baper setiap cewek sedia tisu banyak banget kalau lihat Drakor.!”
“Aku serius. Jangan kamu buat candaan.!”
“Bener sumpah.! Baru kali ini lo aneh Ar.!”
Rama yang menyetir mobil Arka, sesekali melihat wajah Arka dari spion dalam, seperti ada beban yang tersirat di wajah Arka. Sejenak Rama berpikir! Arka bersikap seperti mau pergi lama karena mungkin risau yang akan meninggalkan Luna sedangkan Luna dalam keadaan hamil.
“Wajah lo kenapa Ar!? Baru kali ini gue lihat wajah lo sesedih ini!? Maaf kalau gue salah omong!? Kamu berat!?”
“Aku sangat berat harus meninggalkan Luna dalam keadaan hamil seperti sekarang!?”
“Kalau masalah itu tenang! Biar aku yang atasi sama istriku, secara istriku sahabatnya Luna.!”
“Bukan itu saja! aku hawatir sama Luna karena proses Skripsi.”
“Itu masalah gampang, ada Pak Tejo yang selalu siap mengantarkan ke mana Luna pergi.”
Arka menarik napas panjang, netranya menatap keluar dari kaca jendela mobil, beberapa menit Arka dan Rama saling diam, tidak terasa mobil sudah sampai di rumah Arka. Tidak ada kata yang keluar dari bibir Arka. Tidak seperti biasa yang selalu berkomentar apa saja kepada Rama.
Tidak ada rasa curiga, hanya terasa janggal ketika Arka tidak seperti biasa!? Itu yang membuat Rama bertanya-tanya. Arka pun masuk rumah tanpa mempersilahkan Rama untuk mampir.
“Ar! gue pulang dulu atau menunggu lo di sini untuk mengantar lo ke Bandara!?”
“Kamu pulang saja biar aku di antar Pak Tejo.”
__ADS_1
“Bener ini!.?”
“Kamu tidak percaya!? Tapi terserahlah kamu mau antar atau tidak!? Yang pasti aku mau istirahat dulu sekarang! Santai sama anak istriku.”
“Ok! Gue pulang kalau begitu.”
Semenjak Rama dan Indah menikah, Rama sudah membeli rumah untuk mereka tempati, tepatnya 5 bulan yang lalu setelah mereka resmi menikah, Rama dan Indah langsung menempati rumah barunya.
“Pulanglah! Jaga istri kamu baik-baik, cepet punya momongan! Biar rumah kamu cepat ramai.!”
“Kalau itu mah sudah pasti aku cicil! Hahaha!”
“Sudah sana pergi.!”
“Iya begitu saja langsung sewot.!”
Rama pun berlalu dari rumah Arka, ketika di mobil, kata-kata Arka masih terngiang di telinganya, seperti pesan terakhir karena tidak biasanya Arka sebegitunya menenggapi masalah! Secara Arka adalah orang yang sangat profesional, dia bisa mengendalikan segala rasa yang ada dalam dirinya, tidak seperti hari ini. Rama terus berbicara dalam hati.
15 menit berlalu, Rama sudah sampai rumah, seperti biasa Indah menyambut Rama ketika pulang kerja, hawa pengantin baru masih begitu mereka rasakan, apalagi Rama dan Indah menikah dengan proses yang amat cepat, tidak ada masa pacaran dan perjodohan mereka karena Kakek Arka dan Kakek Indah.
“Tumben Mas Rama sudah pulang!?”
“O .. makanya pulang cepat.!”
“Oh Tuhan .., lindungilah sahabatku Arka.” Rama komat kamit sambil menengadahkan kedua tangannya.
***
Sementara itu, di rumah Arka, Luna menyiapkan sendiri barang yang akan di bawa Arka, dengan perutnya yang semakin membesar, gerak Luna yang biasanya lincah dan riang gemulai, sudah mulai melambat. Canda tawa sesekali Arka lontarkan pada istrinya itu.
“Sayang.!”
“Hem hem!”
“Tubuhmu tetap terlihat **** walau sedang hamil seperti ini!?”
“Jangan menggodaku Mas! Itu sama saja kebalikan dari ucapanmu.!”
“Benarkah!? Tapi benar! Aku suka sekali tubuhmu!?”
__ADS_1
“Au!” Luna malah menjerit. Arka yang awalnya berbaring miring sambil melihat Luna yang mondar mandir! Seketika melompat mendekati Luna.
“Apa yang terjadi sayang! Kenapa berteriak!?”
“kek kek kek! Kamu kena preng Mas tadi adik di perut nendang perut sampai Luna kaget dan berteriak.!”
“Adik Ari dan Ulan tenang ya, kalau nendang hati-hati .., biar Mama tidak kaget.!” Arka mengelus perut Luna lalu mengecupnya pelan-pelan.
“Au! Jangan lama-lama ngecupnya Mas .., geli ..!” Luna mencoba menghentikan Arka yang mau bermain main di perutnya.
“Adik Ari dan Ulan sudah rileks Papa Arka ..! Jadi Papa Arka istirahat dulu saja.!”
Ya! Arka dan Luna sudah menyiapkan nama untuk anak kembar mereka, karena kembar emas atau laki-laki dan perempuan maka akan diberi nama Matahari dan Rembulan. Yang laki Matahari Arka Jaya Kusuma yang perempuan Rembulan Jaya Kusuma, karena Arka dan Luna berharap kehidupan mereka selalu memberi cahaya dan kemanfaatan dalam siang maupun malam.
Ketika Arka bersiap-siap, canda tawa terus terlontar dari bibir Arka dan Luna seakan mereka tidak mau terpisahakan, tapi karena tuntutan kerja dan menyangkut nasib HJG, bagaimanapun Arka dan Luna tetap harus rela berpisah untuk beberapa hari.
Dering alarm telah berbunyi, saatnya Arka harus pergi, Arka mengecup dahi, pipi, bibir serta perut Luna, serta lama memeluk Luna erat.
“Jaga kesehatan istri sholihahku! Tidur yang nyenyak makan yang bergizi, dan ingat minum susu juga vitamin, kalau capek mengerjakan skripsi gunakan untuk istirhat.!”
“Iya .., Luna akan mengingat pesan Mas Arka.!”
“Benar! Kamu harus tangguh dan jaga diri juga anak kita baik-baik, aku titip HJG, kalau butuh bantuan bisa panggil Papa atau Mama.!”
“Mas Arka ini ada-ada saja deh! Pergi tiga hari saja kayak mau pergi lama.” Luna merajuk pada Arka sambil mencubit perut Arka.
“Au! Sakit sayang! Hahaha!”
Luna dan Arka keluar dari kamar pribadi mereka lalu turun ke lantai bawah kemudian berjalan keluar dari pintu utama rumah mereka, Arka yang terus merangkul dan mengecup pipi Luna membuat Luna kegelian sambil sesekali meminta pada Arka agar menghentikan kecupanyang berulang kali mendarat di pipi Luna.
“Sudah apa belum!? Aku sudah menunggmu dari tadi di sini di tempat ini.!”
“Rupanya kamu brengsek! Hahahaha.!” Arka malah memanggil Rama dengan kata yang seumur hidup Rama tidak pernah mendengar itu keluar dari bibir Arka. Sambil melepas rangkulannya dari Luna.
“Tumben lo bisa bercanda!? Biasanya serius sampai tujurius sama gue!?”
“Sekali kali! Ayo segera! Tar malah ketinggalan pesawat.!”
“Ok ayo.!” Akhirnya Rama mengantarkan Arka, sekalipun Arka sudah di antar Pak Tejo bersama Luna, tapi Rama kekeh ingin mengantarkan Arka ke Bandara bersama Indah.
__ADS_1