
Akhirnya Arka dan dr.Zaki membawa Luna ke tempat pemeriksaan dan Pak Hari juga Bu Hari pulang ke rumahnya.
Sebelum pulang ke rumah Pak Hari dan Bu Hari menyempatkan diri untuk mengantar dan melihat proses USG Luna, karena memang hari ini adalah cek terakhir dari rangkaian pemeriksaan Luna, semua hasilnya menunjukkan hasil positif dan membuat semua keluarga merasa lega.
“Ma, Pa, USG sudah selesai, kalau Mama Papa mau menemani kita tidak apa kok.”
“Iya sayang.., sebenarnya kami senang banget bisa menemani kalian berdua, tapi karena ada yang harus kami kerjakan Papa dan Mama tidak bisa menemani pemeriksaan Luna secara menyeluruh,” Bu Hari berusaha menghibur Arka.
“Kamu luar biasa, Anak Pak Hari benar-benar luar biasa, bayi kalian Papa Pastikan akan baik baik saja,” karena terlalu terharu dan bahagia, bulir bening keluar dari netra Pak Hari yang tidak bisa menahan kebahagiannya.
“Terimakasih Pa,” Arka juga hampir melakukan hal yang sama, tapi dia buru-buru menghapus bulir bening yang menggenang di sudut netranya.
“Selamat ya sayang.., o..menantu Mama sayang.., maaf ya.., Papa dan Mama tidak bisa menemani kalian lebih lama, eeemuua,” Bu Hari memeluk dan mencium kening Luna yang masih terbaring di tempat pemeriksaan USG.
“Iya Mama, tidak apa-apa, terimakasih Ma..”
“Iya sama-sama sayang..”
“Terimakasih ya Dok, sudah memperlihatkan cucu kita yang masih ada di perut.”
“Iya sama-sama Bu..,” Dokter wanita itu membalas ucapan Bu Hari dengan hangat dan lembut.
dr.Zaki yang melihat adegan demi adegan yang dilakukan tanpa ada rekayasa dari keluarga HJG, ikut terharu dan merasa bersyukur, karena sahabatnya telah dikaruniai anak kembar sekaligus.
“Sudah Ma, kalau kita seperti ini nanti membuat semua semakin lama, ayo kita pulang, Papa juga harus ke kantor.”
“Iya Pa..”
“Papa pergi Ar, jaga istri dan cucu Papa baik-baik,” Pak Hari beranjak dari tempatnya berdiri kemudian menepuk pundak Arka dan memeluknya.
“Terimakasih Pa..”
Pak Hari dan Bu hari pergi dari ruangan itu, yang sebelumnya juga sudah berpamitan dengan dr.Zaki dan Dokter yang memeriksa Luna.
“Kalian semua baik-baik ya..”
“Iya Ma Pa, Om,” Arka, Luna dan dr.Zaki bersama-sama menjawab doa dan pesan Pak Hari dan Bu Hari.
Setelah semua pergi, Arka fokus kembali pada Luna, dan tiba-tiba Arka langsung memeluk Luna samapi membuat Luna kaget dengan tingkah dadakan suaminya.
“Mas.., banyak orang, Luna malu.”
__ADS_1
Kemudian Arka pun terkekeh dan melepas pelukannya.
“Baiklah! kita lanjutkan pemeriksaan yang lain, bukan begitu dr.Zaki.”
“Em.., Iya.” dr.Zaki yang melihat tingkah Arka agak malu dan mencoba mengalihakan kekikukannya dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Arka tanpa ragu langsung menggendong Luna dengan gagah bak bridal style, lalu mendudukkan Luna di kursi roda yang dari tadi di gunakan Arka untuk mendorong Luna dari ruangan inap hingga ke tempat pemeriksaan yang harus Luna jalani.
“Kita ke mana lagi Zak?”
“Ke ruang ortopedi.”
“Sudah itu saja?”
“Iya Cuma itu, karena kemarin belum sempat di periksa lebih intens karena khawatir Luna dan bayi kalian kecapean, kalau untuk cek urin dan darah semua sudah kemarin dan hari ini aku akan ambil hasilnya.”
“Baiklah,” Arka terus mendorong Luna dan tidak membiarkan Luna merasa tidak nyaman, karena Arka mendorong dengan hati-hati.
“Mas..,”
“Iya.”
“Luna haus, terus mau makan Kebab.”
“Baiklah sayang, kita lanjut ke ortopedi dulu ya, Mas akan pesan go food.”
“Hem hem baiklah, Luna akan tahan walau begitu lapar.”
Hem.., apa memang Ibu hamil seperti ini? Barusan makan gado-gado sama es krim ukuran jumbo, sedangakan kita semua juga belum sarapan, tapi sudah minta kebab katanya lapar. Arka berbicara dalam hati.
“Zak, di mana tempat ortopedinya apa masih jauh?” Arka memastikan ke dr.Zaki.
“20 meter lagi, itu sudah terlihat ruangannya.”
“Baiklah,” Arka agak lega karena sudah hampir sampai.
Sekitar 3 menit Arka, Luna dan dr.Zaki sudah sampai di ruang ortopedi. Arka segera menggendong Luna dan membaringkannya di tempat pemeriksaan pasien.
“Hem hem,” Arka berdehem memberikan signal pada dr.Zaki, karena Arka memang tidak suka kalau pada saat Luna di periksa ada laki-laki yang melihatnya, dan dr.Zaki pun respek dengan tingkah Arka.
Iya tau, tanpa lo berdehem gue juga sudah tau. Siapa juga yang mau memanfaatkan suasana dalam kesempitan seperti ini. dr.Zaki keluara dari ruangan sambil berbicara dalam hati.
__ADS_1
***
Sementara di rumah sakit tempat Mira di rawat, selama tiga hari ini, kesehatan Mira semakin membaik, tidak ada kejadian parah yang di alami Mira, karena pingsannya Mira bukan karena ada cedera otak atau karena efek lain, tapi hanya karena terlalu kecapean dan shock berat yang dialami oleh tubuh Mira.
Dokter Ahli sudah di datangkan oleh Papa dan Mama Mira ke rumah sakit tempat Mira di rawat, dan hasil dari semua observasi general sudah di lakukan semua, sehingga Mira sudah di izinkan pulang, sambil menunggu persiapan pulang, dan mempertimbangkan kesehatan Mira, ke dua orang tua Mira memetuskan untuk merawat Mira satu hari lagi agar Mira semakin sehat dan pulih.
“Mama bersyukur Pa, Mira tidak apa-apa,” Mama Mira mencoba kuat dengan segala kondisi yang menimpa Mira.
“Iya Ma, sudah Papa bilang kan, Mama hampir saja tidak mempercayai Papa dan mau bertindak sendiri, semua juga sudah Papa pertimbangkan, dan yang terpenting dalam kondisi musibah seperti ini harus tetap tenang dan fokus.”
“Iya Pa, Maaf kan Mama ya.”
Ke dua orang tua Mira saling berpelukan, hingga Mira yang terbaring di sampingnya, merasa heran, tumben sekali Mama dan Papanya akur, biasanya susah sekali akur seperti ini.
“Ehem, tumben Mama dan Papa kayak pengantin baru, pakai peluk segala, biasanya selalu debat kayak di TV-TV.”
“Mira sayang.., sudah bangun ya, Iya khawatir kamu kenapa-kenapa, tapi karena Dokter sudah memberi tau kami dan hasil dari general cek up kamu hasilnya bagus, Mama jadi lega, makanya Mama peluk Papa, mau peluk kamu juga masih tidur.”
“Benar begitu Pa?”
“Iya benar kata Mam.”
“Baiklah, untuk kali ini Mira percaya ya.”
“Mira.., memang biasanya Mama sejahat apa sih..?”
“Tidak jahat Ma, Cuma kadang ngegemesin, kalau lagi sama Papa, debat..mulu debat mulu, kayak mahasiswa yang lagi adu pemikiran sama paradigma.”
“Masak segitunya sih Mama, apa benar begitu Pa?”
“Mungkin saja Ma, kan Mira yang nonton kita yang berdebat.”
“Ho.., baiklah! Mulai hari ini Mama akan lembut sama Papa, biar enak nyaman, bukan begitu Pa?”
“Baiklah! Mungkin ini semua juga koreksi untuk diri kita ya Ma, agar kita bisa menjadi orang tua dan tauladan yang baik untuk anak-anak kita.”
“Iya juga paling ya Pa.”
“Ih..Mama Papa bikin Mira baper saja, lihat ni.., sampai Mira menangis, peluk Mira dong Pa Ma.”
“Iya Mira, Mama Papa sayang Mira.”
__ADS_1
Akhirnya ke dua orang tua dan anak itu saling melepas semua rasa dan saling meminta maaf.
Readers sayang.., ingat vote dan like, komen sama bintangnya ya.., terus semangat saja dulu.., karena baru itu yang Author dapatkan terimakasih..