
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur dan para pujangga cinta sudah pada terbangun untuk bersuci.
Luna karena sudah terbiasa bangun pagi, dia pun bangun ketika hari masih petang, dia merasakan badannya seperti ditusuk ratusan jarum, nyeri, pegal, perih capek, bercampur jadi satu, tapi tetap harus bangun dan bersegera untuk membersihkan diri agar badanya segar kembali, semuaritual pagi sudah Luna laksanakan, tapi suaminya belum bangun juga, dia pun membangunkan Arka secara pelan dan penuh dengan kehangatan.
“Bangunlah.., sudah pagi, bangun gi!” Luna mengusap kening Arka dengan lembut dan berusaha menyibak rambut Arka yang mulai menebal kembali. Arka menggeliat, bukannya bangun, dia malah memeluk Luna hingga Luna jatuh di dada bidang arka.
“Ayo bangun Mas.., sudah pagi, nanti keburu siang, Mas belum shubuhan.”
Ahirnya Arka bangun, dia pun merasakan badannya capek luar biasa, sampai dia mengeram karena badannya terlalu pegal dan capek. Luna pun bangun dan melepas pelukan Arka.
“Sakit ya..? makanya jangan terlalu lama mainnya.” Ucap Luna mendakwa Arka.
“Apa! Jangan bilang kalau sayang menyesal, rasanya luar biasa bukan?”
Luna tersipu malu karena wajah arka di dekatkan ke bibir Luna, lalu kiss pagi. Kemudian Arka beranjak menuju kamar mandi.
“Mas mas, kayak tidak ada waktu saja, ya mesti badan rasanya mau rontok semua, untung tidak ada yang dengar, coba kalau ada yang dengar pasti malu bukan.” Luna ngomong sendiri sambil bersihi kamarnya yang sangat berantakan.
Hari semakin cerah, luna keluar kamar lalu menuju dapur untuk memasak, dia sudah melihat ibunya di teras kolam renang sambil melihat pemandangan, karena dapur yang biasa dipakai memang dekat dengan kolam renang.
“Ibu sudah bangun? Luna buatkan teh ya.”
“Iya, Ibu sudah bangun dari tadi, tapi Ibu belum melihat nak Arka, apa nak Arka belum bangun?”
“Sudah, tadi Mas Arka sudah bangun kok, Luna sudah bangunin tadi.”
“Apa! Kamu bangunin nak Arka?”
“Em.., E iya, tadi Luna sudah ketuk pintu kamar Mas Arka dan Mas Arka kayaknya sudah bangun deh, karena tadi menjawab panggilan Luna.”
“O.., kirain?”
“Nduk..”
“Iya Bu.”
“Sekali kali kamu harus memupuk rasa cintamu buat Arka, masak kalian akan tidur terpisah terus.”
“Em.., tenang saja Ibu, pasti ada masanya.”
“Ibu sudah rindu kampung halaman, kapan..Ibu bisa pulang, di sini Ibu mudah bosan, karena tidak ada yang bisa Ibu kerjakan.”
“Tenang Bu, Ibu tidak perlu hawatir, Arka sedang buat jadwal kepulangan Ibu, Arka juga sudah mencari yayasan yang bisa memberikan asisten rumah tangga yang baik untuk kami berdua, jika Ibu benar-benar ingin tinggal di kampung.”
“O.., nak Arka sudah bangun rupanya.” Bu imah yang melihat kolam renang senang karena Arka mengerti dengan apa yang dia inginkan.
“Mas Arka sudah bangun? Luna pagi ini masak penyet ayam kampung saja ya, Luna pingin, Pas kemarin Luna juga sudah beli daging ayam.”
“Iya terserah, yang penting istriku senang.”
__ADS_1
“Iya nduk Ibu ikut saja, apa yang kamu masak pasti Ibu makan.”
“Ok.”
Luna dengan semangat memasak untuk mereka bertiga, sampai semua sudah matang, dan mempersilahkan Ibu dan suaminya untuk makan, tidak lupa Luna selalu melayani Arka bak raja yang dimuliakan oleh istrinya.
“Ayo dimakan.”
Arka mengambil sendok dan garpu yang sudah disiapkan Luna untuknya, sedangkan Luna dan Bu Imah makan dengan tangan mereka tanpa adanya rasa risih.
“Kalian tidak menggunakan sendok? Memang enak makan tidak pakai sendok? Terus kalau tangan kalian kena sambal, apa tidak perih sesudah makan?”
“Ha! Berarti Mas Arka selama ini selalu makan memakai sendok ya?”
“Em em,” Arka menganggukkan kepalanya.
“Wah.., kalau di kampung, makan memakai tangan menjadi hal wajib, apalagi kalau kita pas di sawah, eeeeenak sekali kalau makan bersama-sama pakai tangan.”
“Memang sayangku punya sawah? Apa benar Bu, kalau Ibu punya sawah.”
“Iya.., mayoritas penduduk Pandansari jadi petani, hanya keluarga kaya saja yang bisa ikut bisnis buat kedai atau penginapan villa dan usaha yang lain.”
“O.., Arka memanyunkan bibirnya, setelah mendengar cerita dari Ibu mertua dan istrinya itu.”
Di benak Arka, semua rencana yang akan diberikan untuk Ibu mertuanya harus di rancang yang rapi, agar semuanya sempurna. Sementara itu Arka hari ini mau bertemu dengan Dokter Zaki karena ingin konsul tentang promil Luna, bagaimana kalau Luna hamil padahal baru saja abortus.
“Bu.., hari ini aku berencana mau mengajak Luna ke Dokter, kamu mau kan sayang?”
Batin Luna
“Kalau begitu sesudah makan kita ke RS, hari ini kamu ada kul jam berapa?”
“Untuk hari ini jadwal kul kebetulan kosong, tapi Luna ingin bermain sama teman-teman, kemarin rencana teman-teman pingin main ke sini.”
“Kalau itu gampang, nanti kamu bisa bikin janji lain kali.”
“Ibu ikut ya biar tau,” Arka mengajak Ibu mertuanya.
“Tidak, Ibu di rumah saja, kalian berangkat berdua.”
“Baiklah.”
Pada saat mereka makan, salah satu pengawal masuk memberi tau Arka kalau di luar ada Pak Rama.
“Ngapain Rama sepagi ini ke sini.” Arka bergegas keluar untuk menemui Rama.
“Kamu Ram, ngapain sepagi ini ke sini?”
“Sepagi ini! Dasar lo ya, tadi malem ke mana saja? Gue telepon kirim sms tidak ada balasan sama sekali, makanya gue pagi-pagi ke rumah lo. Tu mobil pesanan sudah mau diantar sama pihak Dealer Bugatti Centodieci warna putih sesuai pesanan dan hanya ada beberapa Unit di dunia.”
__ADS_1
“O.., tadi malam aku sibuk tidak sempat mengecek pesan masuk.” Dengan nada datar tanpa rasa bersalah Arka membalas kekesalan Rama yang hampir memuncak.
“Dasar lo ya, tidak minta maaf atau makasih gitu kek malah kayak tanpa dosa.”
“Maksud kamu, kamu tidak terima.”
“Bukan begitu, manusia Ar, jika aku ada rasa kesal sedikit, tidak banyak-banyak.”
“Ya sudah aku minta maaf, dan terimakasih sudah datang sepagi ini ke rumahku.”
“Ar, ngomong-ngomong Luna ke mana?”
Rama clingak clinguk mencari Luna.
“Ngapain juga kamu nyari istriku, kan sudah ketemu sama aku.”
“Namanya saja tamu, di kasih teh kek apa gitu, apalagi di rumah lo sudah ada istri lo pasti ada yang masakin, kebetulan gue mencium bau harum masakan yang sudah matang.”
“Dasar hidung lo ya, kalau cium makanan paling juara, ya sudah masuk lah, kebetulan istriku sudah masak dan aku juga selesai makan.”
Rama masuk masih sambil mencari keberadaan Luna, berharap Luna muncul walau hanya sebentar, bisa dikatakan kalau cinta bertepuk sebelah tangan tapi boleh juga kan mengidolakan.
“Kenapa sepi Ar, ke mana semua keluarga lo.”
“Tidak perlu tau makan saja.”
Saat Rama mulai asyik makan Luna datang bersama Ibunya muncul dari area kolam renang.
“Siapa nak Arka? ini teman nak Arka.”
“Iy Bu, itu Rama teman karib sekaligus keluarga sekaligus skretaris pribadi Arka.”
“O.., silahkan dinikmati makanannya nak Rama, itu tadi Luna istri nak Arka yang masak.”
Buset, enak benar masakan si Luna, bisa gemuk mendadak kalau aku punya istri kayak Luna yang pintar masak. Rama berbicara dalam hati.
“Maaf ya kak Rama, masakan Luna mungkin tidak terlalu enak,” Luna menghampiri Rama sambil menyuguhkan air mineral untuk Rama.
“Iy kata Mas Arka, kak Rama kakanya Lia ya?”
“Uhuk uhuk uhuk,” Rama terbatuk karena mendengar pertanyaan Luna.
Ternyata Arka cerita tentang gue juga ke istrinya, berarti hubungan mereka semakin baik dan sudah mulai menemukan kecocokan.
***
seperti hampir kehilangan alur dan ide, kasih krisannya ya Readers tersayang.., sama kasih Vote dan like biar Author tambah semangat...emmuuah
ini Cash foto mobil terbaru Arka
__ADS_1