
Tanpa menolak istri Anan langsung mengiyakan, karena memang selama sebelas tahun ini keluarga mereka tinggal di Kanada dan selama itu pula, tidak ada bahasan tentang Indonesia, tapi hari ini suaminya mengajak pulang ke Indonesia.
Rasa penasaran, senang bercampur haru dirasakan oleh istri Anan, tidak biasanya pagi-pagi sudah memberi kabar mengejutkan, karena pada saat Indonesia pukul 9 malam, di Kanada pukul 8 pagi, dan tepat suaminya libur kerja, sehingga istri Anan begitu terkejut ketika suaminya tiba-tiba mengajak pulang ke Indonesia.
“Sayang, maafkan aku karena selama ini tidak pernah mengajakmu ke Indonesia, dan menjauhkan kamu dari keluargamu.” Anan mendekati istrinya yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarga kecil mereka.
Dengan senyum hangatnya istri Anan tetap melanjutkan memasak.
“Kalau boleh aku tau, ada apa Mas tiba-tiba mengajak kita ke Indonesia?”
“Aku dapat telepon kalau Doni sedang tersandung masalah dengan pihak berwajib.”
“Baiklah Mas.”
Tanpa penolakan istri Anan kembali lagi memasak, setelah mendekati Anan yang sedang duduk di kursi makan.
***
Di rumah sakit Permata doa, Arka yang sudah membawa Luna dengan pesawat pribadi dan mendarat di atap gedung RS Permata Doa, sedang berada di ruang VVIP.
“Mas.., Mas Arka tidur saja dulu, ini sudah pukul 12 malam, kenapa masih sibuk dengan benda pipih itu, Luna cemburu tau!”
“Hem.., baiklah,” akhirnya Arka meletakkan benda pipih itu di meja ruangan Luna berbaring.
Arka mendekati Luna, lalu mencium kening istrinya dengan penuh kehangatan.
“Itu kan lebih baik, masak tidak kasihan dengan orang yang Mas ajak chat? Mungkin saja dia juga butuh istirahat.”
Arka tersenyum, memang sejak Arka datang dan membawa Luna ke RS, Arka begitu sibuk dan tidak mau lepas dengan benda pipih yang selalu menemaninya ke manapun dia pergi, dari mulai pemeriksaan Luna, sampai Luna masuk kamar inap sampai Luna tertidur, dan terbangun di tengah malam karena merasa lapar.
Arka selalu berkoordinasi dengan dr.Zaki, Rama, dan Alex, karena dalam keadaan seperti, ini orang-orang yang dekat dengannya memang selalu ada untuknya, termasuk dr.Zaki menyarankan Luna untuk di periksa secara intens oleh Dokter ahli di RS.
Permata Doa.
Bagitu membahagiakan, Arka dan Luna positif dan memang benar mereka akan mempunyai buah hati, berusia sekitar 3 minggu atau terhitung dari datang bualannya Luna, hingga terakhir waktu pemeriksaan.
Rasa bahagia Arka dan Luna yang begitu luar biasa sampai membuat Luna tegang dan akhirnya di sarankan oleh Dokter agar Arka mengajak Luna untuk total istirahat, dan tidak di ganggu siapa pun, tapi karena masalah memang sedang Arka hadapi, mau tidak mau Arka tetap masuk ke dalam masalah yang harus diselasaikan, sekali pun Arka hanya memantau saja.
***
Malam sudah berlalu, berganti pagi yang begitu cerah, secerah hati Arka dan Luna.
“Mas..,” Luna yang melihat sisi jendela menatap keluar dengan senyum mengembang.
“Ada apa, ini masih pagi, barusan kita shubuh baru pukul lima sekarang,” Arka dan Luna melakukan shubuh berjamaah sekali pun Luna tetap dalam keadaan berbaring.
__ADS_1
Flashback
Sebelum Arka sampai di Rs Permata Doa, dia sudah menyuruh satu asisten rumah tangganya untuk menyiapkan semua pakaian dan alat yang di perlukan ketika sengaja rawat inap di RS, karena pakaian yang di bawa ke Bromo sengaja tidak di bawa, khawatir memperlambat jalan ke berangkatan Arka dan Luna.
Setelah semua sudah tersiapkan dengan matang, Arka pun datang ke Rs bersama Luna dengan penyambutan yang sigap dan langsung mendapat pelayanan secara khusus. Karena semua sudah tersedia Arka dan Luna bisa melakukan aktifitas dengan nyaman.
***
Kembali ke Luna, dia masih tersenyum.
“Mas.., Luna lapar, mau gado-gado.”
“Apa?” Arka mendekati Luna sambil memastikan apa benar Luna sudah mulai mengidam.
“Luna lapar Mas.., mau gado-gado,” dengan kemanjaan Luna mengelus perut sambil terus merengek minta gado-gado.
“Baiklah sayang, pagi ini Papa sama Mama mau jenguk kita di sini, nanti biar membawa gado-gado.”
“Apa! Mama sama Papa mau ke sini ya? Kalau begitu Luna juga minta Es krim boleh ya, Please..”
“Baiklah, tapi Mas tanya dulu sama Zaki, apa kamu sudah boleh makan suka-suka.”
“Boleh pasti Mas.., kan Luna tidak kenapa-kenapa, Dokter juga bilang Luna sama bayi kita baik-baik.”
“Iya Mas tau, tapi Mas pinginnya makanan untuk istriku dan bayiku harus aman.”
“Ayolah sayang.., jangan manyun begitu, baiklah, Mas akan pesan es krim juga ke Mama, tapi es krim biasasaja ya, Mas akan pesan yang ukuran jumbo.”
“Iya, tidak apa Mas, yang penting es krim,! hemmmm pasti lezat, habis makan gado-gado, terus makan es krim,” dengan wajah yang berseri-seri dan penuh semangat, Luna mau bangun dari tempatnya berbaring.
“Eit, mau ke mana?”
“Luna mau bangun Mas.., bosen berbaring terus..”
“Baiklah...” Arka membantu Luna berbaring dengan penuh kehangatan dan hati-hati.
“Mas..,”
“Apalagi sayang..”
“Sampai kapan kita di sini, Luna bener-bener sudah ingin jalan-jalan, bayi kita ingin jalan-jalan ini.”
“Kita tunggu sampai sayangku benar-benar sehat dan siap beraktifitas.”
“Hem..sebel dech, padahal Luna kan tidak apa-apa.”
__ADS_1
“Jangan begitu sayang.., semua harus kita persiapkan dengan baik, Mas tidak mau ada resiko yang terjadi sama kamu dan anak kita,”
Sambil mengelus perut Luna.
“Baiklah.., tapi Mas jangan pegang Hp terus.”
“Hemm ok.”
Sambil menarik nafas agak panjang, Arka bersabar dengan rengekan istrinya dalam waktu yang sepagi ini. Dia harus menghubungi Mamanya untuk membelikan Luna gado-gado dan es krim, kemudian lanjut meminta persetujuan dr.Zaki tentang Luna sudah boleh makan es krim atau belum, kemudian harus memastikan jadwal pemeriksaan lanjutan Luna.
Semua ditangani Arka sendiri, karena dia tidak mau sedikit pun ada yang tidak sesuai dengan target yang ingin Arka realisasikan, demi keamanan calon bayi kembar mereka dan kemanan istrinya.
“Sayang..” Arka yang awalnya duduk di sofa, berdiri sambil membawa remot TV ke arah Luna.
“Iya.” Luna menoleh ke arah suaminya.
“Mas mandi dulu ya, ini kalau ingin melihat cannel kesukaan, biar tidak bosan ketika aku mandi.”
Arka memberikan remot TV pada Luna, kemudian bersiap mandi, Luna pun menyalakan TV dan mencari tanyangan yang menarik untuk di tonton.
Lima belas menit berlalu, Arka sudah bersih dan segar juga nyaris sempurna dengan pakaian yang dipakainya. Luna tersenyum melihat suaminya yang begitu gagah dan segar sekali pun banyak masalah yang sedang di hadapinya, tidak rasa satu jam sudah berlalu, Arka dan Luna yang terus berbincang-bincang tidak menyadari bahwa waktu begitu cepat.
“Hallo anak-anak,” pintu ruangan tempat Luna di rawat terbuka. Muncullah Papa dan Mama Arka, yang masih tampak tanpan dan cantik sekali pun usia mereka sudah tidak muda lagi.
“Mama, Papa cepat sekali kalian datang.”
Arka berdiri seraya memeluk Mama dan Papanya bergantian.
“Bagaimana keadaan menantu dan calon cucu mama nak..?” Bu Isti memeluk Arka lalu bergegas memeluk Luna, yang masih agak kesulitan karena selang infus masih menenpel di punggung tangan kiri Luna.
“Baik Ma, Pa, semua normal, kemarin ada tragedi dan sempat membuat Luna shock, jadi Arka langsung membawa Luna ke sini dengan sudah berkoordinasi dengan Papa kemarin.”
“Iya, Papa tadi malam hanya memberi tau Mama kalau Mama sama Papa mau punya cucu, dan barusan ke sini tadi Papa cerita yang sebenarnya.”
“Tenang Ma, semua baik Alhamdulillah, dan selamat Ma, Mama mau punya cucu kembar.”
“Apa! Pak Hari dan Bu Hari bersamaan melotot ke arah Arka.”
Serentak Pak Hari langsung memeluk Arka, dan Bu Hari memeluk Luna, dengan erat sampai Luna merasa sesak.
“Uhuk uhuk uhuk.”
“Eh maaf menantu Mama sayang.., Mama terlalu senang, terlalu erat ya.”
“Iya tapi tidak apa-apa Mama,” sambil tersenyum Luna meyakinkan Mama mertuanya kalau dia baik-baik saja.
__ADS_1
“Eiy sampai Lupa, itu gado-gado dan es krimnya.”