
“Kayak setiap hari saja, barusan Sisi ganggguin kalian tapi Kakak sudah ngeluh, tau kalau Kakak cinta bingit sama Kak Luna.”
Ahirnya mereka bertiga jalan-jalan sambil bercerita banyak hal, Sisi menceritakan tentang kuliahnya, bagaimana keluarganya, kepada Luna, Arka hanya senyum-senyum ketika Sisi menyampaikannya kepada Luna.
Setelah mereka puas malihat suasana hotel dan lingkungan hotel, Arka, Luna dan Sisi menuju tempat untuk breakfast dan sudah banyak orang yang hadir di sana.
“Kak Luna, Kak Luna suka makan apa biar Sisi ambilkan, Kakak duduk saja.”
“Tidak perlu kamu ambilkan, biar istriku dan aku ambil sendiri.”
“Kakak..!” Sisi ingin menjadikan ratu sehari Kak Luna.”
“Tidak perlu, biar dia pilih sendiri makanannya biar istriku ambil sesuai seleranya, karena dia harus makan banyak untuk menyambut anak kita.”
“Apa? Jadi Kak Luna sudah hamil?”
“Belum.”
“Ya.., Sisi kira sudah.”
Ahirnya mereka makan dengan duduk di meja yang sama, Sisi selalu mendominasi bercerita yang tiada ujung, sepertinya dia tidak mungking kehabisan cerita walau sehari pun.
“Kak Luna, habis ini Kakak mau ke mana?”
“Pulang, istriku mau kuliah dan aku harus ke kantor.”
“Tidak seru, ayo ajak Sisi jalan-jalan Kak.., masak Sisi pulang di rumah saja.”
“Ajak Mama Papa kamu kalau mau jalan-jalan,” Sisi memanyunkan bibirnya seperti mau menangis.
Luna yang melihat hal itu, menyenggol lengan Arka agar membujuk Sisi untuk tidak cemberut lagi.
“Iya.., nanti malam kita jalan-jalan kucing kecing.”
“Kak Arka memang baik, Iyes!”
Luna tersenyum melihat Sisi yang begitu mudah mengekspresikan segala rasa yang ada di dalam hati dan pikirannya, Sisi manja, tapi orangnya sangat ceria, karena biasanya orang manja identik lebih sensitif dan mudah jelek moodnya.
“Kak Luna, kata Kak Arka, Kak Luna itu pinter banget ya? Sampai dapat beasiswa dari kampus punya keluarga Kak Arka, bukan semua sih, tapi keluarga Kak Arka tanam sahamnya paling banyak.”
Sisi tidak mengerti aba-aba dari Arka, karena Arka merahasiakan kalau dia adalah pemegang saham terbanyak di kampus Budi Luhur, itu karena Arka mau melihat sehebat mana istrinya dengan usahanya sendiri meraih Sarjana.
“Kak Arka kenapa sih? Kenapa tangannya seperti ingin menghentikan obrolanku sama Kak Luna.”
Arka menggaruk tangannya sambil melihat ke arah lain, hawatir Luna tau maksud Arka.
“Sudah belum makannya? Kalau sudah aku sama istriku mau pulang, kamu nanti yang urus semua.”
“Apa! Kak Arka jahat, masak tega ninggalin Sisi sendirian.”
“Bukan ninggalin, tapi kita banyak urusan, sudah ayo sayang kita pergi dulu.”
__ADS_1
“Kak Arka, Kak Arka jah*t, masak tega ninggalin Sisi yang jauh-jauh datang buat ketemu sama kalian berdua.”
“Maaf ya adikku sayang, kita pergi dulu, kalau ada urusan yang belum selesai, lain kali kita bertemu lagi, terimakasih atas semua hadiahnya, aku harap kamu mengurus hadiah untuk kami itu. Emuuuah.”
Arka mencium kening dan mengelus rambut Sisi kemudian pergi meninggalkan Sisi menuju kamar mereka lagi untuk mengambil barang yang masih tertinggal.
“Kak Arka, Kak Luna, kalian tega sekali.” Sisi memanyunkan bibirnya karena di tinggal oleh Arka.
“Mas.., apa tidak kita susul saja Sisi, kasihan dia sendirian.”
“Tidak perlu, aku tau Sisi seperti apa, mau datang mau pergi, sendirian beramai-ramai itu sudah biasa.”
Luna menurut saja pada Arka, ahirnya mereka pulang karena pekerjaan telah menunggu. 30 menit berlalu, mereka sampai rumah, Arka langsung bersiap berangkat ke kantor sedangkan Luna mencari Ibunya karena belum terlihat sejak dia datang.
“Sayang.., kamu di mana? Aku kerja dulu. Sa..yaang.”
“Aku di sini Mas, di taman sama Ibu.”
Arka mendekati asal suara Luna yang berada di taman.
“Aku berangkat dulu, oya nanti ada pihak yayasan yang telah aku hubungi, yayasan itu yang akan menyalurkan asisten rumah tangga di rumah kita.”
“Iya Mas.”
Arka pamit dan bersalaman pada Luna, Luna mencium punggung tangan Arka lalu Arka membalas mencium kening Luna dengan begitu hangat dan terasa menenangkan bagi siapa saja yang melihatnya.
“Arka berangkat dulu Bu.”
Setelah Arka pergi, Luna memeriksa Hp nya yang tidak dia hiraukan semenjak di hotel tadi malam.
Indah: Hihikhikhik kalian bisa dengerin curhatku tidak?
Indah: Aku mau di jodohkan sama kakek-kakek, bagaimana ini?
Mira: Terima saja ndah.., barang kali kakeknya tajir..
Lia: Hus apaan sih Mir, dasar lo ya, yang di pikiran lo Cuma uang.
Lia: Memang kamu tau kalau kamu mau di jodohkan dengan kakek-kakek tau dari mana Ndah..?
Indah: Orangnya datang ke sini.
Mira: Waduh! Beneran Ndah
Lia: Jangan buruk sangka dulu, yang kita paham Papa Mama lo bukan tipikal orang yang salah pilih Ndah.
Luna: Hai..maaf teman-teman hehehe baru nongol.
Lia: Dasar lo ya Na, mentang-mentang udah punya suami ngilang terus deh.
Luna: Sabar dulu sayang lia, kamu pasti paham kan..? kalau aku sudah punya tanggung jawab yang lain.
__ADS_1
Lia: Iya sih..
Mira: Iya tidak apa Na, kita tau kok.
Luna: Dengan masalah Indah bagaimana kalau kita selidiki dulu, siapa tau Indah hanya salah paham.
Mira: Benar juga ide lo Na.
Indah: Aku ikut kalian saja.
Lia: Jadi sepakat ketika selesai kuliah hari ini, kita langsung beraksi, bagaimana?
Luna: semua aku anggap setuju. Ya aku setuju
Percakapan di group wa mereka ahirnya berhenti, dan semua off karena bersiap untuk berangkat kuliah.
***
Di kantor HJG Arka yang sudah datang langsung memanggil Pak Tejo supir pribadinya.
“Pak, sekarang Pak Tejo saya tugaskan untuk mengantar dan menjemput istri saya, jadi Pak Tejo setiap hari tidak perlu ke kantor lagi, mau istri saya kuliah atau tidak, Pak Tejo tetap aktiv datang ke rumah.”
“Iya Tuan Arka.”
“Sekarang sudah waktunya mengantar istri saya untuk kuliah, yang bertugas di kantor cukup Pak Rejo Saja.”
“Siap Tuan.”
Pak Tejo pun pergi dari ruangan Arka, sedangkan Arka melanjutkan pekerjaannya.
“Pak Arka boleh saya masuk.” Melani yang biasanya langsung masuk tanpa mengetuk pintu kali ini dia mengetuk karena hawatir atasannya itu tidak mau di ganggu.
“Silahkan masuk.”
“Di mana Rama? Saya belum melihatnya.”
“Iya Pak, menurut kabar, Pak Rama sedang ada urusan keluarga.”
“Tumben dia tidak mengabari, ya sudah kamu boleh pergi, nanti biar aku saja yang menghubungi Rama.”
“Baik Pak, ini berkas dan skedul Bapak dalam waktu dekat-dekat ini.”
“Baiklah nanti akan aku periksa.”
“Baik Pak nanti kalau Bapak memerlukan bantuan saya ada di ruangan saya.”
“Baiklah.”
Melani pun keluar dari ruangan Arka, sedangkan Arka menelepon Luna, kalau Pak Tejo sudah menuju rumah dan Pak Tejo mulai hari ini akan bertugas menjadi Sopir pribadi Luna.
***
__ADS_1
Maaf ya sayang..Author baru beli tu paket kilat paket senyum dan paket semangat, jadi baru bisa Up. Ingat Vote dan Like nya ya..eemuuuaa