RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 48


__ADS_3

Rama menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena dia sendiri tau memang pesona Arka ketika mengikuti rapat sangat luar biasa dan itu jarang dimiliki oleh para pemimpi yang pernah ditemuinya.


“Kenapa kamu diam Ram, jangan katakan kalau kamu benar-benar terpukau dengan performaku?”


“Itu menurutmu, aku diam bukan karena itu, tapi memang ingin diam.”


Ketika Arka dan Rama sibuk dengan pekerjaan lanjutan, Hp Arka berbunyi, dia melihat panggilan dari sayangku.


“Iya hallo sayangku ada apa?”


“Salam dulu.”


“Iya Assalamu’alaikum ada apa?”


“Wa’alaikumsalam, Luna ada di bengkel Mas, ini sudah pulang dari kul, ban mobil Pak Tejo bocor.”


“Katakan posisi sayangku ada di mana?”


“Luna pun share lok di mana dia berada.”


“Baiklah, kamu di jemput Pak Rejo supir kantor, biar diantar pulang, Pak Tejo biar mengurus mobilnya.”


Belum juga Luna menjawab kata Arka, Arka sudah menutup teeponnya.


“Mas Arka, Luna lapar banget, kenapa di sekitar sini juga tidak ada yang jualan sih, padahal jalannya ramai, atau mungkin tdak boleh jualan ya.”


Ahirnya luna membuka group wa macasaw, mungkin saja teman-temannya masih on dan masih di kampus, karena tadi Luna pulang duluan, akibat Pak Tejo sudah datang menjemput. Ahirnya Luna pamit pada temannya.


Luna: teman-teman kalian di mana? Aku terjebak di bengkel tidak tau daerah mana ini, tapi mas Arka sudah tau, dan mau jemput.


Sekitar dua menitan masih belum ada yang balas pesan Luna, dia pun sabar menunggu, dan ahirnya pesan wa berbunyi juga.


Mira: kamu di mana Na, aku ini sama sepupu lagi di jalan.


Luna: di bengkel Mir, aku share lok ya.


Mira: Ok

__ADS_1


Mira yang bersama sepupunya, meminta sepupunya untuk menjemput Luna karena sudah share lok.


“Kak Doni, ayo samperin teman Mira ya, dia berada di bengkel dekat kantor kak Doni.”


“Ok.”


Ternyata Doni pesaing berat Arka adalah sepupu Mira, semua tidak ada yang tau, Mira tidak tau kalau sepupunya sering bermain kotor ketika menjalankan bisnisnya, Doni juga tidak tau kalau Mira adalah sahabat karib Luna cewek incarannya sekaligus istri Arka.


“Mana? Katanya sahabatmu ada di bengkel ini?” Doni bertanya pada Mira.


“Iya kak tidak ada, apa dia sudah dijemput ya. Tapi kenapa tidak kasih kabar kalau sudah di jemput, sebentar Mira telepon dulu,” sebelum Mira telepon, ternyata Luna sudah cat di group kalau diasudah dijemput.


“E.., iya kak ternyata dia sudah di jemput, kita pulang saja ya.” Doni melajukan mobilnya. Mira juga belum cerita nama sahabatnya dan Doni kayaknya tidak kepo amat dengan nama sahabat Luna.


***


Di kantor HJG, Luna yang sudah berada di lantai satu kebingungan dengan kantor Arka, ahirnya telepon Arka.


“Mas.., Luna ada di bawah, jemput Luna, tadi mau minta antar Pak Tejo tapi hawatir ngerepoti.”


Karena Arka sangat sibuk dia tidak mengecek notifikasi Hpnya, hingga Luna menunggu lama, ahirnya Luna pun berinisiatif untuk langsung ke ruangan Arka.


“O, baiklah aku akan menunggu di situ saja,” Luna pergi dari depan pintu dan duduk di kursi yang mungkin berfungsi untuk orang yang akan menemui Arka. Dia duduk sambil melihat Hp.


“Kenapa Mas Arka tidak balas pesanku juga, padahal aku lapar.” Hingga 30 menit Luna menunggu tapi belum ada respon dari Arka, tanda-tanda tamu keluar juga tidak ada.


Sampai pada saat Luna sudah mau beranjak dari tempat duduknya karena sudah terlalu jenuh menunggu, tiba-tiba pintu ruangan Arka terbuka, dia merasa lega.


“Mas,” belum juga Luna melanjutkan panggilannya, dia melihat Arka keluar ruangan dengan seorang wanita yang begitu cantik yang bergelayut manja di lengan kiri Arka, mereka sangat bahagia tertawa bersama dan Arka mengelus serta mengacak rambut wanita itu sambil berjalan meninggalkan ruangan itu.


“Mas Arka.” Hati Luna seperti diiris, bulir bening keluar dari mata bulat lebarnya. Luna berlari tanpa menghiraukan panggilan Melani. Dia terus berlari berusaha menjauh dari bangunan megah itu, sampai di lantai bawah dia berusaha mengendalikan emosinya dan segera memesan ojek online.


Bulir bening masih saja deras membasahi pipi nyonya Arka itu, dia tidak tau rasa apa yang terus meronta membuat hatinya sakit, apa dia sudah benar-benar jatuh cinta pada suaminya, Luna begitu sesenggukan sambil sesekali mengusap bulir bening di pipinya.


“Mbak.., maaf apa dengan mbak Luna?” ojek online itu berhenti di depan Luna.


“Iya Pak saya Luna,” Luna mengambil

__ADS_1


helm ojek online itu dan berlalu dari bangunan megah yang sudah membuatnnya menangis hari ini.


“Maaf mbak, sebaiknya mbak berhenti menangis, nanti saya dikira orang-orang telah berbuat tidak baik pada mbak.”


“Iya Pak, maaf,” Luna berusaha berhenti menangis tapi bukan malah berhenti, dia malah menangis dengan keras.


“Mbak.., lihat orang di sekeliling telah menatap saya, karena saya memakai jaket kerja, mungkin mereka curiga atau kepo dengan saya.”


“Baiklah pak, saya akan berhenti manangis.”


“Begitu bagus mbak, maaf ya. Padahal menangis itu sangat bagus buat kesehatan psikis, tapi mbak tetap harus berhenti menangis.”


“Iya Pak, tidak apa.”


Sudah 20 menit, ahirnya Luna sampai di rumah. Dia langsung mencari Ibunya dan menangis dengan keras.


“Lho.., ada apa to nduk? Datang-datang langsung menangis, terus mana suamimu, apa tadi masih di antar Pak Tejo,” Luna masih saja menangis, belum ada kata yang keluar dari bibirnya.


“Ada apa nduk.., kenapa menangis?”


“Tidak ada apa-apa Bu, Luna Cuma kecewa sama Mas Arka, sampai biarin Luna kelaparan, tau kalau meeting tapi tidak langsung lupa istri juga.”


“O.., tidak usah menangis, ayo makan sama Ibu, kebetulan Ibu pas makan siang tadi hanya sedikit, jadi lapar lagi,” Anak dan Ibu itu makan bersama, tapi malah saling diam tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka.


Sore telah berlalu, petang pun datang, Luna yang berharap Arka segera pulang, ternyata masih belum pulang juga, sampai magrib datang Arka belum pulang juga.


“Mas Arka,” bulir bening mengalir kembali membasahi pipi Luna, dan untuk mengusir rasa gundahnya Luna membaca Al-Qur’an dengan sangat merdu, dia membaca di kamarnya sendiri, karena yang tadi pagi dia sudah sepakat akan tidur sekamar dengan Arka, kini harapan itu seperti tertiup angin dan beterbangan.


“Assalamu’alaikum.” Terdengar suara laki-laki yang akrab di telinganya Luna, sedang mendekatinya.


“Sayangku kenapa dengan matamu? Sayangku habis menangis?” Luna yang baru saja selesai baca kitab dan melihat Arka datang malah diam saja.


“Sayang.., kenapa diam, apa kamu habis menangis atau mata indah sayangku kenapa? Sepertinya bengkak.” Lagi-lagi Luna diam.


“Ayolah sayang.., tapi kenapa kamu ada di kamar ini, bukankah kita sudah sepakat mau bobok bareng, gimana kalau malem ini kita nyicil lagi?”


Arka yang melihat Luna masih terdiam tanpa menatap atau menjawab, membuat Arka agak curiga, tanpa izin Luna Arka langsung menggendong Luna dan mengajaknya pergi ke kamar utama, Luna yang digendong biasanya juga sangat agresif dan menolak, kali ini dia sangat pasif dan cenderung pasrah padanya.

__ADS_1


Arka juga tidak hawatir Luna akan terkena kotoran di tubuhnya karena dia sudah melepas jasnya dan memakai kemejanya saja.


__ADS_2