
Dia pun ikut tidur dengan penuh senyuman dan kebahagiaan. Malam semakin larut, bintang bertaburan yang begitu indah mungkin seindah hati Luna dan Arka, mereka terbawa suasana yang telah menguras habis tenaga mereka, hingga sang fajar mulai muncul di ufuk timur, pasangan yang dilanda rasa memiliki itu baru terbangun dan tidak lupa melakukan ritual shubuh.
Luna yang sudah terbangun dan sudah sholat, pamit pada suaminya untuk menyiapkan sarapan, sampai di dapur dia belum melihat Ibunya, dia pun berinisiatif untuk pergi ke kamar Ibunya, sampai di kamar Luna melihat Ibunya sedang sesenggukan seperti habis menangis.
“Ibu, Ibu kenapa? Sepertinya habis menangis?”
“Ibu sedih dengan nasib pernikahanmu nduk.”
“Memang pernikahanku kenapa Bu?”
“Ibu hawatir, sampai sekarang Ibu lihat kalian masih saja tidur terpisah, padahal Ibu berharap dari hati kecil Ibu kalian segera dapat momongan.”
“O.. itu, Ibu tidak perlu sedih, kalau sudah saatnya pasti Luna akan punya dedek lagi kok.”
“Bener tho nduk, Ibu jadi hawatir, bagaimana kalau kamu Ibu tinggan pulang kampung, sedangkan nak Arka sama kamu belum bisa jadi satu.”
“Sudah, Ibu tidak perlu hawatir apalagi sampai menangis seperti ini.”
“Ibu kalau mau di kamar di kamar saja dulu, Luna mau memasak,” Bu Imah menganggukkan kepala, kemudian Luna pergi meninggalkan Ibunya.
Sampai di dapur dengan cekatan luna mempersiapkan semua bahan yang akan di masak, kebetulan dia memilih menu Nasgor. Pada saat dia memotong bahan-bahan, tiba-tiba Arka memeluknya dari belakang sambil memegang keduatangan Luna lalu mengikuti ritme tangan Luna yang sedang memegang pisau untuk memotong bawang merah dan bawang putih.
“Mas Arka ngagetin Luna saja.”
“Hem..,” Arka tidak merespon ke kagetan Luna, dia tetap memeluk Luna sambil sesekali menciut leher Luna yang jenjang.
“Mas Arka geli.”
“Hem..,” lagi-lagi Arka mencium dengan lembut leher Luna, tidak samapi di situ aksi Arka, dia malah mengarahkan ke dua tangannya pada harta karun Luna yang di tutup rapi dengan kaca mata d**a.
“Mas Arka,” Luna meronta pelan karena ulah Arka, tapi Arka hanya terkekeh malihat reaksi istrinya itu.
“Tadi malem dapat berbagai macam gaya dari mana?”
Wajah Luna yang awalnya tegang karena ulah Arka, bertambah lagi dengan wajahnya yang langsung berubah merah jambu, sambil senyum-senyum malu.
“Kenapa malu.”
Arka yang melihat Luna malu tak berkutik, dia malah membalik badan Luna menghadap dirinya, karena Luna masih memegang bawang dan pisau, membuat Arka malah beraksi hingga membuat Luna hampir berteriak dengan sedikit erangan akibat tangan Arka yang bergerak bebas.
“Mas Arka lepas.., Luna masak dulu.”
__ADS_1
Arka masih meneruskan Aksinya sambil m*****t bibir Luna, setelah dia puas, baru dia lepaskan istrinya itu lalu tubuh Luna di putar kembali menghadap potongan bawang, kemudian Arka pergi ke meja makan.
“Kamu tadi malam laur biasa sayang, aku hampir kewalahan mengimbanginya,” Arka masih sempat menggoda Luna saat menata kursi yang akan dia pakai untuk duduk dan menunggu istrinya masak.
Luna yang mendapat ucapan seperti itu benar-benar ingin menyembunyikan wajah di bantal lalu tidur. Dia benar-benar mati kutu dengan godaan suaminya, untuk mengalihkan perhatian Arka, Luna berusaha mengajak ngobrol Arka dengan tema yang lain.
“Mas.., tadi Luna ke kamar Ibu, Luna lihat Ibu menangis, katanya hawatir dengan hubungan kita yang belum juga satu kamar, dia hawatir juga kalau Mas menelantarkan Luna jika Ibu jadi tinggal di kampung, oiy Mas Arka mau minum apa? Luna buatin.”
“Teh pahit saja, terus sayangku bilang apa ke Ibu, sudah bilang kalau kita sudah sering nyicil buat dedek?”
“Mas Arka. Ya tidak lah, masak Luna bilang begitu.”
“Bilang juga tidak apa-apa, buktinya memang iya kan, apalagi tadi malam yang kayaknya pingin itu sayangku, bukan aku.”
“Mas Arka sebel deh godai Luna terus, Luna tidak mau masak kalau begitu.”
“Hehehehe jangan sayangku, nanti perut suamimu ini keroncongan.”
“Kalau begitu janga godai Luna terus.”
“Iya deh maaf, tapi tumben sayangku marah kalau digoda, biasanya sabar-sabar saja, apa mau dapet tamu bulanan.”
“Tau,” Luna masih berupaya menetralisir rasa gemesnya pada suaminya.
“Ibu, Ibu sudah baikan kah Ibu? Tadi kata Luna Ibu merasa hawatir dengan hubungan saya dengan Luna?”
“O, berarti Luna sudah bercerita? Baguslah kalau begitu, Ibu agak lebih tenang jika kalian sudah sama-sama tau.”
“Iya Ibu, jika Ibu menghendaki kami bisa tidur satu kamar, berarti kita akan tinggal sekamar setiap hari, bukan begitu istriku?”
“I iya, terserah Mas Arka saja,” Luna tergagap mendengar pertanyaan suaminya.
Aduh..kalau nanti Luna jadi tidur sama Mas Arka, bisa-bisa dia tau kebiasaan Luna kalau tidur suka pakai gaun tidur tipis sama atribut mesti dicopot semua, karena Luna suka yang isis, tapi tidak apalah lagian dia juga sudah sah dan udah bersuka ria sama aku. Luna berbicara dalam hati.
“Sudah Ibu, Ibu tidak perlu hawatir, oiy nanti Arka juga akan memerintahkan orang suruhan Arka untuk segera pergi ke Pandansari, Arka berencana membuat warung makan atau sejenisnya di kampung kelahiran Istri Arka.”
“Benar begitu nak Arka?”
‘Iya. Ibu tenang saja, besok kita bicarakan lagi bagaimana baiknya, Arka akan menunggu hasil surve, kalau sudah fix maka Arka akan mengambil tindakan.”
Ahirnya dengan kata dan janji yang diucapkan pada Ibu mertuanya, membuat Ibu mertuanya tampak sumringah seperti habis dapat jekpot. Mereka pun ahirnya sarapan bersama-sama.
__ADS_1
“Mas Arka, tehnya belum diminum, biar Luna saja ya yang minum, tidak baik habis sarapan minum teh, Luna taruh kulkas dulu, nanti kalau sudah dingin Luna minum, pasti segar.”
“Hem.”
“Iya mas nanti Luna ada kul, tapi siang, kalau Mas Arka sibuk biar Luna naik taxi online saja.”
“Tidak, nanti biar Pak Rejo saja yang antar, tunggu di rumah, kebetulan hari ini aku ada rapat penting juga.”
“Baiklah kalau begitu, Luna ikut saja.”
“Bagitu lebih baik.”
Mereka masih melanjutkan ngobrol bersama dan menghabiskan makan masing-masing. Tidak ada obrolan di antara mereka, hingga telepon Arka berbunyi yang membuyarkan pikiran.
“Hallo Iya Ram, aku akan segera ke kantor.”
“Baguslah ya sudah kita ketemu di kantor.”
Hari ini memang skedul Arka yang akan pergi ke luar Negeri untuk klarifikasi proyek baru, tapi dia belum bercerita pada Luna karena belum diambil keputusan pasti dan persiapannya.
Pada saat Arka sudah pergi ke kamar, Hp Luna juga bernyanyi tiada henti, ahirnya dia samperin benda pipih yang memanggilnya untuk di gosok dan geser itu, dan dia sudah bisa menebak kalau sahabat-sahabatnya sudah ramai di group mereka. Luna pun tersenyum.
“Siapa nduk?”
“Teman-teman Luna Bu.”
“O, yang kemarin ke sini itu to, Lia, Indah sama satu lagi siapa itu ya?”
“Mira maksud Ibu?”
“Iya itu, anaknya jahil banget sama selalu bikin orang di sekelilingnya jadi gemas dan suka padanya.”
“Iya Mira memang seperti itu Bu, tapi hatinya sangat baik dan mudah bergaul.”
“Iya Ibu percaya.”
“Hari ini Ibu pingin roti pisang kita buat bersama ya, bahannya juga sudah ada.”
“Ok, Luna juga kangen dengan roti pisang buatan Ibu.”
***
__ADS_1
Ahirnya bisa Up juga, maaf ya Readers, baru bisa Up