RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 81


__ADS_3

“Ah.. Mas Rama..” Indah malah menggelitik perut Rama hingga Rama reflek menggangkat tubuh Indah lalu memeluknya erat di dadanya.


Sedangkan di rumah Luna, karena sudah puas dan capek melakukan video call dengan Arka, Luna tertidur dengan lelapnya, dalam tidur dia malah bermimpi, kalau ada badai besar yang menggulung sebuah pohon kokoh dan rindang, padahal hamper mustahil kalau pohon sekokoh itu bisa tumbang dengan hanya sapuan badai sejenak.


“Mas Arka..!” Luna dahinya dipenuhi dengan keringat, dia terjaga dari tidurnya, mencoba untuk mengatur nafas dan bangun dari tempat tidurnya, Dia menengok Jam dinding, menunjukkan pukul 02.00 dini hari.


“Ya Allah, ada apa ini, kenapa mimpi itu seram sekali, padahal hanya sapuan ombak saja.


Luna mulai gelisah, diambilnya air putih di atas nakas, lalu meminumnya pelan.


“Ya Tuhan.., mimpi apa tadi, semoga mimpi tadi hanya bunga tidur saja.” Luna berusaha menenangkan perasaannya sendiri.


Mencoba untuk tidur kembali tapi sangat susah, akhirnya Luna bangkit kemudian mengambil air wudlu.


***


Sementara Arka di Dubai baru pukul 22.00 malam, menyelesaikan pekerjaan dengan memasukkan semua file dari email di pindah ke folder laptop miliknya agar ada salinan berkas selain di email ada juga di data pribadinya.


Arka yang sudah mulai galau, mencoba menetralisir rasa yang menghampirinya, hati dan pikirannya tidak tenang, seperti akan hal yang terjadi, tapi tidak tau apa itu.


“Ya Tuhan.., kenapa mengganjal di benakku, sesuatu yang membuat akurisau ini.” Arka mengacak rambutnya dengan kasar.


Lagi-lagi karena pekerjaanya sudah selesai, mencoba merebahkan diri di tempat tidur, tapi tidak bisa juga, mau menelepon Luna, tapi khawatir mengganggu istirahat istri dan anaknya.


Akhirnya Arka keluar dari kamar, kemudian jalan-jalan melihat area sekitar hotel yang ramai dengan orang-orang yang lalu lalang, mungkin orang-orang itu juga termasuk turis dari Negara lain, karena dari ciri-ciri fisiknya bukan asli penduduk dubai.


Terus berjalan Arka menemukan taman dalam hotel, tidak terlalu luas, tapi sangat nyaman untuk menikmati malam yang semakin larut.


“Kak Arka..! Kak Arka di sini ya, kenapa tidak bilang kalau sedang di Dubai, asyik.., jadi ada teman. Kak Arka bicara, kenapa diam?”


“bagaimana aku bisa bilang kalau kamu menggoyang lenganku dengan kuatnya.”


“E iya, Sisi senang Kak Arka di sini, kenapa Mas Zaki tidak bilang kalau Kak Arkasedang di sini. Mas Zaki juga tidak bilang kalau Kak Arka ada tugas di sini.” Dengan manja Sisi bergelayut di lengan Arka.


“Kucing kecil.., manjanya di kurangi.” Arka memencet hidung Sisi lalu melepasnya pelan.


“Kak Arka..! kan Sisi juga jarang kan ketemu Kak Arka, jadi jangan ajari Sisi dengan tidak manja, Sisi sudah paham tau.!” Sisi malah memanyunkan bibirnya.


“Oiy Kak Arka di Sini sendiri? Terus Kak Luna mana? Debaynya sudah lahir apa belum…? Sisi mau gendong.” Lagi-lagi Sisi bergelayut di lengan Arka dengan manja.


“Aku ke sini sendiri, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dan besok sudah balik ke Indonesia.”


“Apa?! Baru ketemu kak Arka, sudah pulang?!”

__ADS_1


“salah sendiri baru ketemu.! Terus kamudian di sini sedang apa, jangan bilang kalau sedang..?!”


“Sisi lagi praktek Kak..! tidak mungkin macam-macam.”


“awas kalau macam-macam.”


“Ala.., Kak Arka, Sisi bisa dipercaya kali Kak, Mas Zaki juga tau kalau Sisi praktek di Dubai.”


“Awas kalau macam-macam kucing kecil sepertimu akan aku kasih jera.”


“Kak Arka..! sudah ku bilang kalau Sisi bisa dipercaya kok. Kak Arka benar besok mau balik ke Indo, salam buat Kak Luna ya.., Sisi kangen pingin elus elus perut Kak gini.” Sambil mengelus perutnya sendiri dengan semangat.


“Kamu ngapain pukul segini masih keliaran?”


“Iya Sisi baru pulang praktek, terus ada dosen pendamping praktek nginap di sini terus semua di suruh ke hotel buat nyerahin berkah ini ni..!”


“ya sudah srahin saja, aku akan ke kamar lagi, sudah mulai ngantuk.”


“Kak Arka! Tega banget sih usir Sisi, apa Kak Arka tidak mau mengunjungi tempat Sisi tinggal sama teman-teman Sisi?”


“tidak aku sudah ngantuk, kalau begitu ayo aku antar ke dosenmu kalau sudah kamu langsung balik Ok!”


“Gitu dong..! punya adik satu saja dibiarin begitu saja! Jarang ketemu lagi!”


“Kak Arka jangan tarik Sisi.”


“Iya iya kucing kecil..!”


Tidak sampai 30 menit Sisi dan Arka sudah sampai di tempat Dosen Sisi berada, berkas diserahkan dengan berbagai keterangan yang disampaikan Sisi kepada Dosennya, kemudian Sisi pamit ke Arka dan kembali ke tempat di mana dia tinggal.


“Anak itu ya! Sifatnya tidak juga berubah, bagaimana besok kalau sudah jadi istrinya Zaki, apa akan sama atau malah lebih parah?! Hahaha biarkan saja Zaki, dia juga suka.” Arka malah tersenyum tipis halu dengan keadaan Sisi sama Zaki.


Sejenak Arka merasa rileks, dia kembali ke kamarnya berniat istirahat, namun sampai di kamar dia melihat Hpnya bordering.


“Hallo sayangku, ada apa..?”


“Assalamu’alaikum Mas…”


“Wa’alaikumsalam.”


“Kenapa pukul segini telepon, apa tidak bisa tidur?”


“Mas Arka kenapa juga belum tidur..?”

__ADS_1


“Iya ini baru mau, tapi sayangku telepon.”


“Di situ pukul berapa sih Mas?”


“pukul 23.15 malam.”


“iya kenapa Mas Arka belum tidur..?”


“barusan menyelesaikan pekerjaan, karena besok harus kembali ke Indo…”


“Iya ya, Luna lupa kalau Mas Arka besok sudah kemali ke Indonesia.”


“Sudah! tidur lagi gi, kasian anak-anak.”


“tapi Luna sudah buat tidur lagi Mas.., pingin dielus kayak biasanya..”


“Sabar dulu.., besok juga kita sudah ketemu.”


“Tapi Luna kangen.., ihik ihik ihk.”


“Kenapa malah nangis.., cup cup cup, sayangku cup..”


“Mas Rama baik-baik ya, ditunggu Luna, Luna kangen.”


“Iya iya, tidur gi!”


“ya sudah.., Assalamu’alaikum.”


“Wa”alaikumsalam sayangku, eemuuaaach.”


Arka menutup teleponnya begitu juga Luna, Arka berusaha untuk tidur tapi masih belum bisa tidur juga, dia malah melihat jadwal tiket pesawat yang akan mengantarnya pulang besok.


“Dari sini pukul 10.00 pagi, berarti sampai Jakarta sekitar pukul 2 siang.” Arka berbicara sendiri dan tanpa disadari Arka tertidur juga, dan tidak sempat meletakkan Hp di nakas karena sudah terlalu mengantuk.


Pagi menjelang, Arka bersiap sarapan, lalu bertemu dengan rekan bisnisnya, untuk berpamitan, karena rekan bisnisnya bersama dengan beberapa ajudannya akan mengantarkan Arka menuju Bandara Dubai.


“Thank you Sayyid Amar.”


“You’are welcome Mr Arka.”


“I hope our business cooperation goes well.”


“Yes, Aamiin, Mr Arka.”

__ADS_1


Kedua orang hebat itu bersalaman, kemudian berangkat menuju mobil yang akan dikendarai menuju Bandara, diikuti oleh mobil ajudan yang mengamankan perjalanan Arka dan patner bisnis Arka.


__ADS_2