RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 18


__ADS_3

Karena kelelahan, tidak lama Arka pun tertidur, dia lupa tidak mengecek email yang masuk, sedangkan ada 37 email yang masuk, dia juga tidak melihat notifikasi panggilan Hp yang sengaja di silent.


Malam pun berganti dengan pagi, terdengar suara burung-burung yang berkicau merdu, sayup-sayup Arka membuka matanya, dia langsung bangun karena ingat belum Shubuh dan hawatir telat, setelah Shubuh Arka ingat untuk mengecek email dan pesan atau telepon yang masuk, dia kaget karena ada 37 email dan 9 panggilan dari Rama, tanpa pikir panjang dia langsung menelepon Rama.


“Assalau’alaikum Ram, gimana? Apa ada yang terjadi? Maaf aku tadi malem ketiduran dan tidak sempat mengecek Hp dan email yg masuk.”


“Wa’alaikumsalam, dasar kamu ini ya, emangnya siapa yang bos di sini aku apa lo! masak kantor kamu biarin begitu saja, untung ada meleni yang bantu aku, kalau tidak apa jadinya!”


“Iy Iy maafkan aku, aku ada urusan yang tidak bisa aku hindari hingga memaksaku untuk meninggalkan kantor mendadak.”


“Iy aku tau, tapi kasih kabar gitu kek apa kek biar kita-kita bawahan bisa ambil tindakan kalau ada apa-apa,” Rama agak geram dengan sikap Arka yang meninggalkan kantor tanpa ada kabar-kabar lagi, sekali pun Arka sudah pamit sebelum pergi ke villa 3 langit.


“Iy nanti jam 08.00 kamu harus menanda tangani dokumen yang akan kita kirim ke Berlian Sewu, pihak Berlian Sewu tidak mau ada keterlambatan.”


“Iy aku akan ke kantor sekarang juga,” Arka menutup teleponnya dan langsung bersiap untuk pergi ke kantor dia ingat kalau pesawat sudah di siapkan Papanya, untung Arka punya sertifikat sebagai pilot, jadi kapan saja dia butuh dia bisa mengemudikan pesawat secara mandiri.


Arka turun menuju lantai bawah, bau harum masakan begitu menyengat hidung dan menggugah selera makannya, tanpa basa basi Arka langsung menuju dapur dan melihat istrinya sedang memasak, dia memperhatikan punggung istrinya yang sedang sibuk memasak.


Arka mendekati meja makan dan duduk di kursi sambil tetap menatap istrinya sambil menyangga wajahnya dengan satu tangan yang diletakkan di atas meja makan, Luna yang merasa diperhatikan merasa risih dan tidak nyaman.


“Maaf Pak, apa Bapak mau sarapan sekarang?”


“Ha! Aku yang kamu tanya aku?” Arka menunjuk hidungnya sendiri dengan jari telunjukknya. Memastikan benar-benar dia yang dipanggil Pak.


“Iy Bapak mau sarapan sekarang?” Luna mengulangi pertanyaanya.


“Apa emang aku setua itu, sampai kamu panggil Pak!”


Sudah tau kalau sudah tua masih saja tidak mau ngaku, buktinya aku pasti lebih muda kan? Lihat di buku nikah sono, umur saja sudah 29 tahun, bayangin saja beda sama aku 8 tahun. Dasar nasib aku saja harus nikah sama Om-om. Luna berbicara sendiri dalam hati.


“He! Lagi masak apa? Sepertinya lezat.”

__ADS_1


“Apa kamu bilang, he! Aku punya nama Om, bukan he!.”


“Iy-iy jangan sewot dulu, nanti cepet tua kalau sering sewot.”


“Lagian orang punya nama dipanggil he!”


“Iy minta maaf..,” Arka mengulurkan tangannya ke Luna minta bersalaman.


Setelah percakapan mereka selesai, Luna mengambil piring lalu mengambil nasi dan diberikan pada Arka, Arka menatap nasi di piring yang diberikan Luna padanya.


“Apa! Kenapa banyak sekali, mana mungkin aku menghabiskannya.”


“Sudah.., biar tambah gendut, nanti Papa Mama Om Arka marah karena pas Om nikah sama Luna, badan Om kurus, dikira Luna tidak bisa rawat Om.”


“O.., tapi ngomong-ngomong jangan panggil aku dengan panggilan itu, bikin aku tambah kelihatan tua saja, panggil dengan panggilan mas ya.”


“He! Hehehe kikiki, ternyata yang aslinya lebih tua pun tidak mau mengakui tuanya.”


“Baik lah Mas..”


Arka memakan nasi yang sudah dikasih lauk pauk ke dalam mulutnya, lama Arka diam dan memejamkan matanya, dia begitu merasakan lezatnya masakan yang sedang dia makan.


Tanpa terasa nasi yang dibilang tadi kebanyakan dihabiskan sama Arka tidak tersisa sebutir nasi pun.


“Alhamdulillah kenyang sekali,” Arka meronta sambil mengelus perutnya. Luna melihat Arka yang kekenyangan meringis senyum kemenangan.


“Tadi ngeluh nasinya kebanyakan tu lihat habis kan?”


“hemm lauknya tadi ikan apa? Kenapa bumbunya enak sekali?”


“Itu ikan di kolam belakang Om, tadi pas jalan-jalan pagi Luna melihat ikan yang di kolam, terus di tawarin sama Bapak yang bersih-bersih, Luna ya mau saja, terus Luna masak, kebetulan bumbu dapurnya lengkap.” Arka manggut manggut.

__ADS_1


“Oiy, hari ini aku mau ke kantor dulu, karena ada hal yang sangat penting, kamu sama Ibu sementara di sini dulu sambil menunggu kita beli rumah baru.”


“Tidak mau! Luna mau kuliah! Sudah 3 hari Luna tidak masuk, apalagi Luna belum izin kalau Luna bolos, nanti Luna bisa Diskors, Luna mau kasih kabar teman-teman Luna juga tidak punya pulsa, karena di sekitar sini tidak ada yang jualan pulsa.”


“Kalau masalah kuliah gampang nanti biar aku yang urus, pokoknya kamu sama Ibu di sini dulu, sampai kita punya rumah baru, baru kita pindah ke Jakarta. Sudah, aku berangkat dulu, salam buat Ibu.”


Arka meninggalkan Luna sambil merapikan dasi yang di pakainya karena kendor saat sarapan tadi, tanpa menyadari tas kerjanya tertinggal di kursi makan. Arka yang sudah keluar villa di kejar Luna sambil memangil berharap Arka akan kembali karena mendengar panggilannya.


Di luar Luna seperti mendengar suara bising dan bergemuruh, setelah Luna mencari sumber suara ternyata adalah suara Helikopter atau sejenis pesawat kecil, dia kaget dan tertegun karena baru pertama kali melihat halikopter sedekat itu, tubuhnya seperti mau melayang akibat hembusan angin dari baling-baling Halikopter.


Luna tidak menyadari kalau yang mengemudikan Heli itu adalah Arka, sedangkan Arka tau kalau Luna seperti mencari seseorang, Arka pun menyadari kalau tas kerjanya di bawa Luna, dia mematikan mesin heli lalu turun dan mendekati Luna, ketika melompat dari heli Luna melihat Arka begitu kaget sambil melongo.


“Kamu kaget ya gadis kecil, tenang.., suamimu ini sudah legal jadi pilot, terimakasih ya,” Arka menggoda Luna dengan mencium kening dan mengelus perut Luna, tapi Luna tetap diam tidak bergerak.


“He..! sadarlah, tidak perlu setegang ini, besok kalau sudah ada waktu kita bertiga akan naik heli bersama. Sudah aku berangkat dulu Assalamu”alaikum,”


Arka kembali mengecup kening Luna untuk yang ke dua kali, tapi Luna masih terpaku seperti orang kesambet.


“E iy, wa’alaikumsalam.”


“Hem.. ahirnya sadar juga,” Arka pun pergi dan terbang menjauh dari penglihatan Luna, sedangkan Luna masuk ke dalam villa seperti orang yang baru sadar dari pingsan, badannya terasa lemas karena terlalu kaget.


Bu Imah yang selesai mencuci baju dan mendengar suara gemuruh, berlari untuk mencari sumber suara, tapi suara itu sudah menghilang, Bu Imah hanya menemukan Luna yang lemas di kursi luar Villa.


“Nduk kamu kenapa? Kenapa badanmu lemas seperti ini, terus Arka suamimu kemana? Kenapa sudah jam segini belum bangun?.”


“Dia sudah pergi terbang Bu..”


“Apa terbang, maksud kamu terbang bagaimana?”


“Ya terbang Bu, kita ditinggal di sini tanpa sepeser uang pun, kita sudah tidak punya apa-apa lagi.”

__ADS_1


“Astaghfirullah.., tega nian Arka pada kita, sudah nduk kamu jangan bersedih, biar Ibu nanti yang marahi Arka,” Bu Imah yang tidak tau alasan Arka pergi, menjadi marah, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, Bu Imah hanya meratapi nasibnya dan melihat Luna yang lemas.


Mereka masuk ke villa sambil diam seribu bahasa, di hati Bu Imah bertanya-tanya kira-kira Arka pergi naik mobil atau naik apa, sedangkan jarak kantor dari villa 3-4 jam, Bu Imah berpikir sendiri, dia kira Luna tidak tau kepergian Arka.


__ADS_2