
Hanya memutar radio yang ada di mobilnya, agar suasana lebih santai dan menyenangkan. Perjalanan hampir satu jam tiba-tiba perut Luna bertiak dan memunculkan suara pertanda dedek di perut sudah minta asupan gizi dari sang Mama, karena memang sudah waktunya makan siang, tanpa bertanya lagi Arka memberhentikan mobil Pharsa putihnya di sebuah Resto yang biasa ia singgahi bersama keluarga ketika pulang pergi dari villa tiga langit.
Resto menyediakan berbagai makanan laut yang salah satu menunya pasti akan membuat istrinya itu kegirangan, karena menu rajungan sangat disukai oleh istrinya,
mobil berhenti, dan sebelum Luna keluar Presdir itu dengan romantisnya membukakan pintu mobil untuk istri tersayangnya, mereka pun masuk ke dalam resto, pada saat masuk Luna yang melihat hamparan menu seafood meremas lengan suaminya, sambil menunjuk menu King Crab saus pedas yang paling disukainya sejak kecil, maklum di gunung jarang sekali ketemu sama yang namanya seafood, ada juga harganya melangit kayak langit sampai kadang tidak bisa terbeli, karena minimnya uang yang ada.
Mereka makan dengan lahap karena keturunan HJG itu juga suka dengan yang namanya Ratu crab, yang selalu ingin beda dengan gaya penamaan orang-orang pada umumnya, dan itu sudah dipahami oleh keluarga HJG, kalau Arka suka menamakan menu King crab dengan nama uniknya ratu crab.
Sesudah makan mereka melanjutkan kembali perjalanan yang masih kurang dua jam lagi, Istri keturunan HJG itu begitu merasa puas dan senyum senyum sendiri karena sudah memakan hal yang terkadang hanya sebatas impian atau kadang hanya menelan saliva ketika melihat gambar-gambar King crab di poster atau reklame rumah makan rumah makan besar.
“Kenapa masih senyum sendiri, memang kamu sangat suka sama menu rajungan ya?”
“Iy aku suka..sekali,” tanpa sadar Luna yang awalnya begitu canggung malah reflek mencubit pipi kiri Arka hingga menimbulkan teriakan suaminya dan reflek juga menarik tangan Luna hingga membuat hidung Luna jatuh di pipi kiri Arka yang masih fokus menyetir, hingga Luna beberapa detik diam tak bergeming, lagi-lagi istrinya itu canggung dan salah tingkah, membuat Arka senyum merasa menang bisa membuat istrinya tersipu sampai wajahnya seperti tomat.
“Tidak perlu malu dan canggung lagi, masak akan seperti itu terus sampai kakek nenek, apalagi sebentar lagi kita mau punya dedek, besok kita ke dokter ya, aku mau jenguk dedek lewat USG saja, biar bisa lihat langsung agar tidak perlu sambang dedek secara spesial, karena aku berjanji, aku tidak akan berkunjung ke dedek selama dedek masih di dalam perutnya Mama Luna yang cantik.”
Mereka berdua sama-sama terdiam karena Luna juga tidak menanggapi apa yang dilontarkan oleh Arka barusan, berarti apa yang dipikirkan Luna selama ini juga dipahami oleh Arka, kalau wanita hamil di luar nikah dan bapaknya mau bertanggung jawab, berarti nasabnya, Bin-nya dan warisnya, akan menjadi kajian yang harus ditanyakan pada orang yang ahli agama dan hukum Islam, mereka sama sama diam dalam sebuah pertaanyaan yang menari di pikiran masing-masing.
Tanpa terasa perjalanan mereka tinggal 30 menit lagi untuk sampai di rumah baru, tanda-tanda melihat mobil yang dikendarai pengawal dan Bu Imah juga belum tampak, tiba-tiba suara panggilan masuk di Hp Arka terdengar nyaring hingga membuat kaget mereka berdua, Arka sengaja sudah memasang headset di telinganya sejak keluar dari Resto Seafood tadi, sengaja untuk mempermudah jika ingin menghubungi pengawal atau memudahkan berbicara jika ada yang telepon.
“Bos Arka.”
“Iy aku di sini, ada apa Ram? Ini aku dalam perjalanan menuju rumah baru, sekitar 30 menit lagi aku sampai, ada apa? Sepertinya ada sesuatu yang serius dari bicaramu?”
“Wartawan dan puluhan awak media sudah berada di depan rumah barumu Ar, mereka siap membom bardir pertanyaan yang mungkin belum kamu siapkan jawabannya,”
__ADS_1
Tiba-tiba arka mendadak menepikan mobilnya di tempat yang agak lapang.
“Set.., aku kalah telat dengan orang yang ingin mencari titik lemah dariku,” Bos HJG itu spontan merasa sangat geram sambil memukul setir mobil yang dikemdarainya.
“Ok baiklah Ram, aku akan tetap menemui mereka karena sudah terlanjur, kita akan selidiki besok tentang kabar yang sudah terlanjur masuk awak media.”
“Iy tadi aku mencoba menelepon orang kepercayaanmu, dan minta menyelidiki kenapa informasi pernikahanmu yang masih belum kamu umumkan sudah tercium media.”
“Terus apa yang kamu dapatkan, apa sudah dapat jawaban?”
“Iy, ini masih berkaitan dengan pesaing utamamu, si Doni.”
Bos HJG itu keluar dari mobil dan berteriak sambil menendang ban mobil yang dikendarainya. Dia begitu geram karena lagi-lagi Doni sumber masalah yang sering dia hadapi selama ini, dan ini memang salah dirinya karena sudah lengah dengan perbuatannya selama ini.
Dia tidak berpikir sampai sejauh itu, karena masalah ini bukanlah masalah yang bisa menjadi hal menarik untuk Doni perkarakan, tapi dia salah karena sudah lengah.
“Ok kalau begitu hati-hatidan semoga berhasil.”
“Iy terimakasih.”
Arka dan Luna melanjutkan perjalan menuju rumah barunya, Arka memberi tau Luna bahwa nanti sampai rumah tidak usaha kaget dengan banyaknya wartawan yang akan melontarkan berbagai pertanyaan yang terkadang mengagetkan orang yang diwawancarai.
“Iy sayang, nanti kamu diam saja dulu ketika di beri pertanyaan sama wartawan ya, cukup aku saja yang menjawab pertanyaan para awak media itu, kamu cukup senyum dan menggandeng tanganku, tidak usah gugup atau takut.”
Karena suaminya menerangkan dengan gugup Luna yang awalnya santai ahirnya kebawa suasana tegang juga.
__ADS_1
“Iy aku akan ikuti apa yang Mas Arka katakan.”
“Tapi memangnya Mas seterkenal itu, atau Mas Arka juga seorang artis sampai para wartawan penasaran dengan kehidupan Mas?” Arka tersenyum mendengar kata-kata Luna yang begitu jujur tanpa tau bahwa suaminya adalah orang super kaya dan keturunan tunggal konglomerat perusahaan Hari Jaya Group yang akan membuat hidupnya bagaikan Sinderella. Namun Arka tidak langsung mengatakan pada Luna siapa jati dirinya, biarkan Luna tau dengan berjalannya waktu.
Tiba-tiba Hp Arka berbunyi kembali, yang menelepon adalah pengawal Bu Imah di mobil yang satunya, mobil yang dikendarai Bu Imah sudah sampai lebih dulu di area hunian Maestro Group, tapi para pengawal itu belum berani keluar mobil karena banyak wartawan yang begitu banyak memenuhi depan gerbang rumah Bos HJG itu.
“Iy kalau kalian sudah di sana, tetaplah di dalam mobil, sebelum aku sampai jangan keluar dulu dari dalam mobil.”
“Baik Tuan, saya akan menunggu tuan, hati-hati tuan di sini sangat ramai.”
Tibalah Arka dan Luna di rumah baru mereka, wartawan yang sudah menunggu langsung berhamburan mengerumuni mobil Pharsa putih itu, pimpinan HJG itu turun dan langsung menuju pintu tempat duduk istrinya, dia membukakan pintu untuk istrinya sambil memegang tangan Luna yang terasa dingin, Arka memahami mungkin baru pertama kali ini istrinya itu bertemu dengan para wartawan, sehingga Luna tampak grogi dan berkeringat dingin.
Pimpinan HJG itu dengan santai menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh semua awak media yang yang begitu silih berganti, sambil terus memegang tangan Luna yang berkeringat dingin, Arka yang peka kedaan memeluk Luna sambil berbisik di telinganya.
“Tenanglah tidak usah grogi, ada aku di sisimu.”
Lalu Arka melepas kembali pelukannya, tapi tiba-tiba ada salah satu wartawan yang mendorong dengan kuat yang membuat wartwan itu menubruk istri pimpinan HJG hingga membuatnya terjatuh dan berteriak sambil memegangi perutnya, Arka melihat kejadian itu begitu kaget dan hampir saja keos dengan para wartawan, tapi Arka yang melihat Luna kesakitan langsung megendong Luna.
Para pengawal yang berada di dalam mobil tempat Bu Imah berada langsung keluar dan mengamankan Bosnya itu, Luna yang terlanjur terjatuh di larikan Arka menjauh dari kerumunan wartawan, dan para wartawan di hadang oleh pengawal untuk tidak mengejar Bonya itu.
Di dalam mobil Luna mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya, Arka yang begitu gugup melihat banyak darah di kursi duduk Luna langsung melarikan Luna ke RS Permata Doa, karena kebetulan rumah sakit itu dekat dengan rumah baru Bos HJG.
Salah satu pengawal yang masih menyetir mobil yang dikendari Bu Imah mengejar ke mana arah Bosnya membawa istrinya itu, karena Bu Imah berteriak minta disusulkan Bos HJG itu.
***
__ADS_1
ingat like Vote dan favoritnya ya Readers..terimakasih sudah kasih dukungan buat Author yang kadang sibum dengan dunia nyatanya.