
Semua masih dalam kediaman dan pikiran masing-masing. Sekalipun makan malam mereka sudah selesai, mereka masih diam, belum ada yang beranjak dari tempat makan. Hanya suara kunyahan pelan yang masih terdengar karena menghabiskan sisa makanan di mulut.
“Ibu ke kamar dulu ya. Ibu mau istirhat.”
“Luna juga, mau istirahat karena besok harus kuliah, badan pegal semua.”
Arka hanya menganggukkan kepala ketika istri dan Ibunya pergi pamit untuk istirahat, dalam pikirannya sibuk membuat strategi agar Bu Imah yang kangen kampung bisa segera pulang, serta istrinya yang mulai aktif dengan semua rutinitas kuliahnya tetap selalu aman tanpa ada yang mengusik.
“Hallo Ram, aku sudah mengecek semua email yang masuk dari mu juga dari Melani, besok aku akan langsung masuk kantor dan mengikuti skedul yang telah dibuat Melani untuk ku, karena besok Luna juga sudah mulai aktif kuliah.”
“O..baiklah, kamu di mana sekarang Ar, terasa punya istri baru ulah pergi dari barisan teman mulai kambuh lagi.”
“Jangan begitu lah, kamu tau sendiri beberapa hari ini aku benar-benar sibuk denga urusan pribadi.”
“Ngomong-ngomong sudah buat dedek secara natural belum, jangan minta berbagi pengalaman ya, karena aku sendiri juga belum lihai.”
“Wa kakaka, ngapain pakai bagi pengalaman, semua sudah natural muncul tanpa belajar.”
“Makanya cepat cari pasangan yang tepat biar cepat bisa malam pengantinan, tidak usah pakai pacaran gercap saja langsung.”
“Kalau itu urusan beres Bos.”
“Sudahlah, besok tunggu aku di kantor.”
“Ok.”
Arka pergi ke kamar yang sebelumnya mengecek kamar Bu Imah dan Luna apa mereka dalam keadaan aman dan sudah pada tidur, karena kamar masing-masing sudah pada tertutup Bos itu ahirnya merasa lega dan menuju kamarnya sendiri.
***
Shubuh sudah berlalu ketika Arka bangun dari tidur, ahirnya dia cepat-cepat melakukan shubuh agar tidak terlambat, setelah shubuh dia seperti mencium bau masakan yang sangat menggugah hidung, dia mencari sumber aroma sedap yang berasal dari dapur, dia menebak pasti Ibu mertuanya sudah memasak, tapi yang dilihat bukan Ibu mertua, melainkan istrinya yang asyik memasak, Arka duduk di kursi makan.
“Mas sudah bangun? hari ini Ibu merasa badannya sangat capek jadi Luna yang masak. Mas mau teh, kopi, apa minuman yang lain nanti Luna siapkan?”
“Memang kamu bisa masak?”
“Iy sedikit, Luna sering bantu Ibu masak, jadi agak bisa sedikit, tapi tidak sejago Ibu.”
“O.., aku minum air saja, biar nanti tidak kenyang sebelum sarapan.”
__ADS_1
“Mas Arka sudah mandi? Karena nanti Luna ada matkul jam 07.00 pagi. Kata Mas, Luna mau diantar.”
“Iy nanti sesudah sarapan mandi.”
“O...”
Luna menyiapkan piring sendok dan menata semua menu yang hampir selesai dimasaknya, Arka hanya melihat punggung istrinya yang sibuk memasak, dia senyum-senyum sendiri, dalam hati bergumam, enak juga ya kalau punya istri yang bisa masak, bisa minta dimasakin kapan saja kalau mau makan.
“Mas kenapa senyum-senyum sendiri?”
“Em..,”
Kebiasaan kalau ditanya mesti jawabnya em dari pada hanya diam, gerutu Luna dalam hati.
“Nanti sekitar jam 12.00 Luna sudah selesai kul, kalau Mas tidak bisa jemput, biar Luna naik ojek saja.”
“Em..”
“Jawabnya kok hanya em saja, memang tidak ada jawaban yang lain.”
“Emm..” suaminya masih menjawab singkat dengan anggukan atau menggeleng kepala.”
“Em..,”
“Tu kan, lagi-lagi diam.”
“Iy nanti kalau sudah selesai kul, kirim pesan ke suamimu ini, biar aku jemput.”
“Pukul berapa tadi?”
“Pukul 12.00”
Karena memasak sudah selesai, Arka yang melihat istrinya begitu lincah saat memasak tiada henti melihat setiap gerak geriknya yang semakin membuat mata Bos HJG itu beralih pandangan.
Ahirnya memasak sudah selesai, Luna menyiapkan makanan dan mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk suaminya, dan menaruhnya dipiring lalu menyodorkan ke suaminya.
“Silahkan Mas, semoga itu tidak kebanyakan.”
Pagi ini nyonya Arka itu memasak omlet daging dan tongseng kangkung, karena yang memanfaatkan bahan yang tersedia di kulkas stok belanjaan Ibunya kemarin.
__ADS_1
“Maaf ya Mas kalau tidak enak.”
“Hem..”
Lagi-lagi hanya hemm.., pingin rasanya masukin garem sama gula deh, biar gurih tu mutnya si Om ini. Luna tetap mengendalikan hatinya, siapa tau memang mut suaminya lagi tidak enak, jadi sifat diamnya saat ditanya kumat.
Sebenaranya tidak enak apa bagaimana sih, tapi menurutku semua masakanku enak kok.., Luna bergumam dalam hati dengan tingkah suaminya yang tiba-tiba tidak serame hari kemarin, biasanya banyak omong sama sok ngegombal gitu. Tapi pagi ini tiba-tiba sok pendiam apa memang sifat dasarnya pendiam ya? Tapi sudahlah bikin mumet saja, nanti kalau sembuh ya sembuh sendiri.
Luna mempercepat makannya karena dia melihat jam sudah pukul 05.30 dia harus bersiap untuk segera masuk kuliah. Saat Luna masih asyik makan tanpa melihat suaminya. Tiba-tiba Arka mendekat dan mendaratkan ciuman di pipi kanan Luna.
“Terimakasih sarapannya, sarapannya enak banget, aku mandi dulu, bersiaplah, kita akan segera ke kampus.”
Nyonya Arka itu seperti terbang melayang. Ada getaran aneh saat suaminya mendaratkan ciuman di pipinya, ternyata Arka mengakui kalau masakkanya enak, berarti tadi Mas Arka bukan sedang tidak enak hati, mungkin lagi ngirit bicara saja.
Setelah selesai makan, Luna menuju kamar Ibunya, pamit kalau mau masuk kuliah jam 07.00 dan pulang jam 12.00, dia melihat Ibunya membaca Al-Qur’an kecil yang sudah menjadi ritual Ibunya dikala waktu senggang.
“Aku diantar jemput Mas Arka Bu, tapi nanti kalau mas Arka tidak bisa jemput Luna naik ojek saja.”
“Hati-hati, jaga diri baik baik nduk, iy kalau ada waktu luang kamu bisa berlatih bela diri yang dulu kamu pernah ikuti, jadi kalau ada apa-apa kamu sudah lihai kembali.”
“Beres Bu, Luna akan ingat pesan Ibu, Ibu baik-baik ya.”
Setelah menengok Ibunya, anak gadis Bu Imah itu langsung ke kamarnya untuk bersiap-siap, setelah siap dan sudah rapi, barulah keluar dan menunggu suaminya di ruang tamu, sekitar 5 menit berlalu Luna belum juga melihat suaminya itu. Karena jam sudah menunjukkan pukul 05.50 dia sudah merasa resah karena hawatir terlambat sampai kampus, tanpa pikir panjang dia langsung ke kamar suaminya. Tiba di depan pintu kamar suaminya, baru dia mau mengetuk pintu tiba-tiba suaminya muncul membuka pintu kamar, alhasil kepalan tangan Luna mengenai hidung mancung Arka.
“Awww,” Arka memegang hidungnya sambil meringis.
“Aw..i..gimana Mas? Maafkan Luna, Aku tidak sengaja.”
“Auw lihat-lihat hidungku bengkak, sini-sini aduh..sini tiup,” Luna yang melihat suaminya merasa kesakitan, panik lalu meniup hidung suaminya pelan-pelan, di kala Luna fokus manyun meniup hidung suminya tiba-tiba Cup, bibir Luna yang manyun di cium sama suaminya. Seketika Luna mencubit perut Arka karena merasa dia sudah dikerjai sama suaminya.
“Dasar Mas Arka bikin orang hawatir saja.”
“Makanya tidak usah keburu nafsu mau berangkat kul, tidak bakalan telat, lagian ini baru pukul enam pagi, kalau kita berangkat sekarang sampai kampus pasti sekitar pukul 07.30. mau berangkat sekarang atau nanti?”
“Sekarang Mas.., dari pada telat mending pagian tidak apa.”
Mereka pun keluar rumah, menuju mobil yang akan dikendarai. Sampai di mobil, Arka mengurungkan niat untuk memakai mobil putih kesayangannya.
***
__ADS_1
Terimakasih semUa Readers tersayang yang selalu memberi dukungan ke Author sampai BAB 31 ini, smg kita semua sll dalam sehat dan penuh rizki