RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 43


__ADS_3

BAB 43


Saat memasuki halaman, mereka melongo dan berdecap kagum melihat rumah Luna yang bak Istana.


“Na.., ini benar rumah lo Na, bikin Baper pingin jadi Putri Na, bener dech suwer ewer ewer.”


“Hu.., dasar lo ya Mir, kalau lihat yang gemerlap kayak gini mata lo jeli banget.”


“He., kayak lo juga iya kan, jangan bohong! nanti digigit kambing ompong lo baru tau rasa.”


Mira dan Lia tidak henti-hentinya mengagumi rumah sahabatnya itu, sedangkan Indah tetap setia dengan sikapnya yang lebih tenang, begitu juga dengan Luna yang tetap sederhana tanpa ujub dan riya.


“Na, ini rumah yang milih kamu apa suamimu?” Indah yang bertanya di luar dugaan, membuat Lia dan Mira kaget sambil melongo melihat Indah.


“Ha.., ahirnya sikap manusiawi lo muncul juga nona Indah..”


Lia dan Mira terkekeh melihat Indah yang Juga kepo dengan rumah sahabatnya itu, karena bukan mereka berdua saja yang kepo banget...!


“Sudah, kalau kalian hanya melihat rumah suami aku, mana bisa kita main dan menikmati hidangan. Kalian mau santai-santai di mana? Kalau aku sama mas Arka suka yang di dekat kolam renang, coba deh.”


“Apa? Aku suka suasana kolam renang idih..bikin pingin nyebur deh.”


“Jangan norak deh Mir.”


“Jangan bilang lo tidak pingin nona Lia, jujur saja deh, kalau iya kan kita bisa izin Luna biar bisa berenang di kolam gede.”


Lia yang di skak sama Mira tidak bisa berkutik, jujur dalam hati dia juga pingin renang dan langsung jebur saja, tapi karena malu dan jaim, dia masih menjaga dirinya.


“Kalian ini bener-bener deh selalu saja rame, manis dikit napa?” Indah yang sudah meresa bising dengan obrolan Lia dan Mira mulai memberi garis finish.


“Iya-iya, kita hilaf.., Mira, ayo kita kunci mulut kita, di buka kalau ada makanan saja, oke.”


“Ok nona Lia, siap.”

__ADS_1


“Gitu dong.., biar tambah khusyuk ketika bertamu di rumah Luna.” Indah tersenyum dengan kesepakan Lia dan Mira yang mau ngegembok bibirnya biar istirhat dulu.


Luna yang sudah mengajak mereka ke area kolam sibuk mondar mandir menyiapkan hidangan.


“kalian bener pingin bersantai di sini, kalau iya aku panggil Ibu dulu ya, biar temu kalian, aku juga belum bilang kalau aku sudah pulang.”


“Iya panggil saja.” Indah mengiyakan izinnya Luna, sedangkan Lia dan Mira saling sikut karena Ibunya Luna akan ngobrol bersama mereka, padahal Lia dan Mira punya rencana kejutan buat si Luna.


“Bagaimana ini?” Mira berbisik pada Lia.


“Sut.., kita tunggu saja, kalau gagal berarti kita tidak perlu kasih kejutan itu, tapi kalau ada kesempatan kasih saja.”


“Ok.” Mira mengacungkan jempol ke arah Lia tanda setuju.


“Kalian apaan kenapa bisik-bisik di depan orang? itu tidak boleh karena hawatir ada unsur ghibah.”


“Tenang saja nona Indah kesayangan, kita bukan ghibah tapi mau kasih hibah.” Lia mempertegs kalau obrolannya dengan Mira bukan ghibah.


Selang beberapa menit, Luna datang bersama Ibunya, karena sahabat Luna sudah sangat kenal dengan Bu Imah, suasana jadi tambah seru, mereka pun bercengkrama sampai Lupa waktu, dan sampai pada pukul 15.30 Bu Imah ingat kalau harus masak untuk makan malam mereka, Bu Imah pun pamit untuk masak dulu, karena Bu Imah juga sudah merasa sehat setelah beberapa hari tubuhnya begitu capek dan lemas, dan Indah minta pada Bu Imah agar bisa menemani Bu Imah memasak.


Lia dan Mira memasang wajah tegang saat membuka file yang dicari, setelah menemukan, dia minta pada Luna untuk melihat hadiah dari Luna dan Lia.


“Na, ini hadiah dari kami ya, semoga ini bisa tambah membuat hubungan lo dan suami semakin hot dan romantis, kami tidak bermaksud aneh-aneh, tapi kita yakin ini perlu lihat dan cermati ya.”


Lia dan Mira yang memasang wajah begiu percaya diri dan penuh semangat motivasi, membuat Luna tidak merasa curiga, dia menerima Tab itu dan melihat layar Tab, setelah melihat layar itu, benar saja mata Luna langsung membulat sebesar bola pingpong, dia mau berteriak tapi malu, mau melempar Tab hawatir rusak, mau tidak mau dia melihat file vidio itu sampai selesai, semua karena tingkah Lia dan Mira yang iseng berat pada Luna.


“Na.., jangan gigit bibir lo Na, nanti berdarah.” Lia mengingatkan.


“Iya Na, jangan gigit terus.”


“Kamu sih Mir, kasih hadiah buat Luna yang tidak-tidak.”


“lo juga kan setuju ngapain salahin gue.” Mira membela diri karena tidak mau dikambing hitamkan.

__ADS_1


Luna yang hampir 7 menit melihat vidio tanpa bisa menghindarinya, menarik nafas dalam-dalam lalu berlalu meninggalkan Lia dan Mira, dia buru-buru mengambil air dingin di kulkas, dia mencoba mengusir hawa panas yang mengalir di tubuhnya. Luna kembali ke tempat Lia dan Mira, dia berusaha mengendalikan sesuatu yang begitu meronta.


Lia dan Mira yang melihat tingkah Luna yang tiba-tiba aneh dan tegang, mereka malah saling sikut.


“Kamu sih Mir, ngapain juga kamu kasih hadiah gituan ke Luna, lihat Luna kayak cacing kepanasan tidak tenang.”


“Em.., Iya juga li, tapikan sudah terlanjur, kamu kan juga napa setuju.”


“Baiklah kita minta maaf sama Luna sama-sama yuk, biar dosa kita agak ringan.”


Mira menyetujui ajakan Lia agar segera minta maaf sama Luna.


“Na, lo baik-baik saja kan, maafkan kita ya Na, udah bikin lo gusar.” Luna masih belum jawab.


“Na..!” Ahirnya Luna merespon teriakan Lia dan Mira yang sudah membuyarkan imajinasi Luna.


“Kalian berdua, awas ya, sudah memberiku hadiah seperti itu, coba kalau yang lihat anak di bawah umur.”


“Tidak mungkin lah Na, habis gini juga aku hapus.” Mira ngaruk garuk kepala dengan memasang muka bersalah.


“Iya, begitu lebih baik, tapi sudah sudah, ayo kita makan cemilannya, keburu tidak enak.”


Ketika sahabat itu, asyik makan bersama sambil ngobrol dan sesekali tertawa bersama, sedang Indah dan Bu Imah sibuk memasak untuk nanti malem.


“Na, ayo kita lihat keliling rumah lo dong.., gue kepo sangat!” Mira menangkupkan ke dua tangannya di depan dada.”


“Ok, ayo kita lihat mumpung di sini, ayo Lia ikut juga ya.”


“Wah.., oyes aku ikut dong, si Indah mau ikut tidak, coba aku tanya dulu ya.”


Lia mendekati Indah dan bilang kalau mau lihat keliling rumah Luna, Indah pun mengiyakan dan segera mencuci tangan untuk ikut, mereka pun melihat lihat sampai puas dan tanpa terasa hari sudah mulai petang, merasa sudah waktunya pulang, ketiga teman Luna itu pun pamit, mereka berjanji kalau ada waktu pasti main lagi, Mira, Lia dan Indah yang sudah ditawari untuk makan malam bersama menolak karena hawatir dicari keluarga, karena sekali pun mereka kadang muncul sifat liarnya, mereka tetap dalam batas aturan keluarga.


***

__ADS_1


Kasih semangat dengan like yang banyak ya Readers sayang.., kali aja bisa main ke rumah Luna kalau dapat like yang banyak dari kalian.., eeemuuua, salam sayang dari aku😍


__ADS_2