RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 32


__ADS_3

Mereka pun keluar rumah, menuju mobil yang akan dikendarai, sampai di mobil, Arka mengurungkan niat untuk memakai mobil putih kesayangannya.


“Kenapa tidak jadi Mas?”


Tidak ada jawaban dari Arka, dia menuju mobil yang biasanya dipakai pengawal. Mobil pun meluncur keluar gerbang rumah mewah itu. Di perjalanan Mas Arka menelepon seseorang, entah siapa, dia menyuruh orang itu untuk menjual mobil putih kesayangannya, aku tidak tau mobil apa namanya yang aku lihat sepertinya mobilnya sangat mewah dan jarang aku lihat di jalanan negara ini.


“Segera Ram, biar aku bisa cepat memakainya. Aku tidak mau istriku naik di bangku yang sama, itu membuat aku sedih, karena di bangku itu anak ku tiada dantidaksempat lahir ke dunia.”


Luna mengerti sekarang, dari pembicaraan orang di seberang, suaminya tidak ingin mengingat kejadian waktu Luna keguguran di mobil putih kesayangnnya.


“Nanti aku jemput, jangan ke mana-mana, tunggu aku.”


“Iy Mas.”


Perjalanan menuju kampus tidak terasa kurang 5 menit lagi. Suami istri beda usia ini asyik dengan kediaamannya masing-masing, Arka asyik menyetir sedangkan Luna menggigit kuku jari jempolnya sambil melihat keluar jendela mobil. Tanpa terasa mereka sampai di halaman kampus.


“Letak kuliahmu di mana? Aku antar sampai depan fakultas.”


“Iy itu, aku ambil jurusan Desain karena aku suka menggambar, apalagi kalau desan baju aku sangat suka.”


“Hem.., sudah sampai.”


“Iy.”


Luna membuka pintu mobil, suami yang biasanya selalu membukakan pintu mobil untuknya, sekarang ini tumben tidak dilakukan. Istri Bos HJG itu melihat kampus yang masih sepi, hanya beberapa mahasiswa yang lalu lalang mungkin masuk di jam yang sama.


“He mau ke mana?”


“Ya keluar Mas.”


“Salim dulu sama suamimu, ingat kamu sekarang sudah bersuami.”


“Iy Luna tau.”


“Hem.., bagus,” saat Luna mau mengangkat kakinya keluar mobil lagi-lagi suaminya menghalangi.


“Kenapa lagi mas..?”


“Cium ini,” sambil menunjuk pipi kirinya Arka minta di emuah sama istrinya, pada saat Luna sudah dengan muka merah tomat memanyunkan bibirnya untuk mencium pipi kiri suaminnya, Arka dengan tiba-tiba tanpa bisa dihindari istrinya merubah posisi pipi kiri diganti dengan bibir, wal hasil bibir Luna bukan mendarat di pipi Bos HJG itu, tapi di bibir suaminya. Luna semakin di buat gemes dengan muka yang benar-benar merah.


“Mas jahil banget sih..,” Luna mencoba mencairkan ke kakuannya.


“Sudah! kuliah sana.”


Pada saat Luna sudah menutup pintu mobil dan sudah membelakangi mobil yang di kendarainya, dia malah membuka kembali dan masuk ke kursi di mana dia duduk.


“Kenapa?”


“Luna tidak punya uang sama sekali, kan sekarang tidak lagi bekerja di butik, tadi mau minta Ibu sungkan, Ibu juga sudah tidak bekerja.”

__ADS_1


“Hem.., ini,” suaminya menyodorkan ATM yang sengaja sudah dibuat saat semua proses perjanjian putus kerja dari butik, tenpat Luna bekerja, tapi belum sempat diberikan.


“Kenapa ATM, lagian Luna butuhnya Cuma jajan kalau ke kantin sama teman-teman.”


“Bawa saja, nanti aku kirimi pesan paswordnya.”


“Sudah! Nanti ke buru telat kuliah,” Luna ke luar dari mobil, di luar tanpa dia sadari 3 sahabatnya berjalan tanpa melihat dia sudah masuk kuliah.


“Hai,” dia menyapa 3 sahabatnya sambil berlari mendekat mereka.


“Luna..” 4 Mahasiswi itu seketika berpelukan tanpa peduli mahasiswa melihat tingkah mereka.


Ada yang melihat ada juga yang cuek, dan yang tidak bisa melepas pandangan dari tingkah Luna hanya Bos HJG yang masih setia melihat Luna dari dalam mobil, dia senyum sendiri melihat tingkah mereka yang terasa masih anak ABG, memang tidak bisa disalahkan istrinya itu juga baru menginjak usia 20 tahun, rentang usia yang cukup jauh dengan dirinya yang sekarang 29 tahun.


Setelah melihat istrinya sudah masuk ke gedung, Arka pergi meninggalkan kampus meluncur ke kantor. Di perjalanan hatinya terasa berbunga bunga mengingat setiap kebersamaan dengan Luna, dunia terasa indah selalu dan penuh semangat yang terasa selalu penuh daya seperi Hp yang baru di isi batrai.


Sampai kantor dia langsung menuju ruangan, tanpa memesan kopi yang selalu dia lakukan seperti biasanya. Melani yang melihat ke datangan bosnya langsung berbenah untuk segera masuk ke ruang kantor Bosnya, dia membawa seambrek berkas dan Tab kusus skedul bosnya.


“Selamat pagi pak, apa saya bisa masuk?”


“Masuklah,” Melani membuka pintu ruangan lalu masuk.


“Di mana Rama?”


“Tadi sudah datang Pak, mungkin lagi sarapan."


“Hemm, manaskedul saya?”


“Berarti kita ada rapat hari ini?”


“Iy Pak nanti kita ada rapat pukul 09.30, mohon maaf juga rapat kali ini tidak bisa diwakilkan ke Pak Rama, karena rapat ini sangat penting dan membutuhkan Bapak.”


“Iy nanti saya yang akan menghadiri rapat, di ruang biasanya kan, pastikan semua sudah siap dan sempurna aku tidak mau ada kesalahan.”


“Baik Pak. Oy mohon maaf, apa Bapak perlu minuman?”


“Iy, sediakan air putih saja, aku tidak minum kopi lagi.”


“Baik, Pak,” Melani mundur dan ke luar dari ruangan Bos nya, dia bernafas lega karena sudah keluar dari ruangan yang membuatnya terasa selalu kaku.


“Mel, apa Pak Arka sudah datang?” Rama bertanya ke Melani.


“Sudah Pak, tadi Pak Arka menanyakan Pak Rama.”


“Kamu bilang aku di mana?”


“Aku bilang Bapak lagi sarapan.”


“Ya sudah, memang aku baru selesai sarapan.”

__ADS_1


“Kamu sudah memberi tau Pak Arka sdedul hari ini?”


“Iy, sudah aku bilang juga kalau rapat hari ini tidak bisa diwakilkan.”


“Ok sip. Aku akan ke ruangan Pak Arka sekarang.”


Rama pergi meninggalkan Melani yang sibuk dengan pekerjaan kembali, dia nyelonong masuk keruangan Arka tanpa mengetuk pintu, maklum saja itu sudah menjadi kebiasaan Rama dan di tolelir sama Bos HJG.


“Kamu dari mana Ram?”


“Sarapan.”


“Tadi mobilnya udah aku pos, ada yang sudah nawar tapi dikisaran level bawah.”


“Terserah kamu mau jual berapa, yang penting mobil itu jangan kelihat aku lagi.”


“Ok.”


“Lo tadi berangkat sama istri lo Ar? Kenapa tidak nampak.”


“Iy dia kuliah tadi berangkat sama aku.”


“Tumben lo lo gue dari mulut kamu kumat lagi?”


“Habisnya bahasa yang paling enak kalo ngomong sama lo ya lo gue. Ogah kalau gue mesti ngomong formal, kecuali kalau di luar sama lo, gue ngerti kalau gue bawahan lo.”


Bos itu hanya tersenyum mendengar kejujuran sahabat karibnya yang begitu setia dan tanpa ada keluh kesah sekali pun ketika dia meminta pertolongan, dia menyadari kalau sering berbuat memaksakan kehendak pada sahabatnya, hingga sahabatnya telat menikah yang mungkin gara-gara pekerjaan serta tuntutan perusahaan yang sering menyita waktunya.


“Ram?”


“Ada apa?”


“Kamu sudah ingin menikah apa belum?”


“Ya pingin lah, lo kira gue gay apa, masak tidak ingin menikah, gue pingin tapi belum ada yang mau sama gue,” sambil terus memilah milah dokumen yang tertumpuk di meja tamu ruang Bosnya itu.


“Gimana kalau kamu nikah sama Melani saja, kayaknya dia cocok sama kamu?”


“Lho ini ya, bikin orang keki saja, kalau gue nikah sama Melani, bisa-bisa anak gue terlantar tau gak sih.”


“Kenapa terlantar? Kan bisa ambil Baby sis.”


“Iy tau, tapi namanya anak itu butuh ayah sama bundanya yang mungkin salah satu bisa lebih banyak waktu di rumah, lha kalau gue sama Melani sering ngadepin masalah kantor sama-sama kerja dengan waktu yang sama terus gimana coba? Aaaaa Sudahlah! Ngapain juga lo jodoh-jodohin gue sama Melani, kayak tidak ada gadis lain saja.”


“Maksud gue baik Ram, kenapa kamu sewot!? Kalau tidak mau ya sudah.”


Bos HJG yang mengakui kalau idenya tidak diterima, masih dengan sikap ngebosnya dia yang tidak mau kalah.


***

__ADS_1


Terimakasih Readers tersayang..., terimakasih sudah baca baca tulisan dari Author, sekali lagi terimakasih like, vote, komen serta kasih bintangnya..eemuuah


__ADS_2