
Bos HJG yang mengakui kalau idenya tidak diterima, masih dengan sikap ngebosnya tidak mau kalah.
“Itu Cuma ide kalau kamu tidak mau, tidak perlu sewot, lagian pribadi kamu bukan urusanku kalau tidak mau ya sudah.”
“Begitu lebih baik.”
Gimana mau mikirin rumah tangga, mau tidur saja lebih sering kamu ganggu, dasar memang watak Bos, dan gue Cuma bawahan Cuma bisa bersyukur atas nasib. Rama merintih dalam hati.
***
Di kampus Budi Luhur, Luna dan teman-temannya sudah selesai matkul jam pertama, untuk selanjutnya jam ke tiga baru ada lagi, dan jam ke dua mereka gunakan untuk nongkrong di kantin seperti biasa.
“Na..bagaimana kabar lo na.? kita-kita kangen dech hampir satu bulan kita tidak nongkrong bareng.”
Semua sahabatnya tidak ada yang mau mengalah untuk bicara walau sedikit waktu, semua bersama tanpa henti mengutarakan rasa kangen dan entah apa saja yang sudah mereka katakan.
“Berhenti..! Luna bingung dengar pertanyaan dari kalian, lagian siapa yang tidak bingung kalau kalian nyerocos tanpa ada waktu buat Luna, Luna biar bisa jawab,” Indah teman mereka yang sifatnya lebih dewasa, ngemong dan sederhana mengingatkan semua agar lebih bisa mengontrol diri.
“Eh.., apa apa tole-tole kodok loncat!” Mira sahabat mereka yang sering latah mengeluarkan komat kamit dari mulutnya karena kaget mendengar teriakkan Indah yang menghentikan kehebohan sahabat-sahabatnya itu.
“Iy deh, bener kata Indah kita memang sudah terlalu! lihat Luna hanya bisa senyum tanpa menjawab satu pun dari pertanyaan kita. Jadi satu satu dulu gantian,” Lia adik Rama yang biasanya mbahnya kepo tumben bisa lebih dewasa membenarkan kata indah.
“Nah gitu dong gantian kalau mau tanya sama Luna, tapi kita masih di jalanan kampus, ayo ke kantin yuk.”
“Ayuk, semua setuju dan bersama menuju kantin.”
“Si...apa yang punya uang banyak? hari ini yang traktir ya,” Mira si latah memunculkan ide, padahal biasanya tidak encer-encer amat.
“Tumben lo encer Mir, biasanya lo ngikut saja,” Lia merespon ide Mira.
“Tapi lo keren, apa hari ini sudah makan telur makanya encer.”
“E.., gue gak makan telur tapi makan sate.”
__ADS_1
“Ih makan sate enak dong, makanya cerdas.”
“Iy hari ini gue sarapan sate, sate sosis makanya lebih encer.”
“Apa! Kalau sate sosis mah malah bikin kempel bukannya cair itu kan makan cepat saji.”
Awalnya Lia yang memuji Mira malah balik ngejontrongin si Mira, tapi karena keakraban yang sudah mereka jalin semenjak mereka Ospek dalam kelompok yang sama, satu sama lain sudah saling memahami. Lia dan Mira yang nyerocos dan bikin rame setiap suasana kebersamaan mereka menjadi perekat mereka untuk saling melengkapi, karena Luna dan Indah lebih pendiam dibanding dengan Mira dan Lia.
“Sudah, jadi tidak kita makan, siapa yang mau traktir.” Indah memotong kehebohan Mira dan Lia.
“Emm, Na..., lo kan jadi orang kaya sekarang, pasti duit lo banyak, gimana kalau lo traktir kita, iseng-iseng sambil syukuran atas pernikahan lo, kan kita belum hadir untuk makan-makan, di nikahan lo,” Mira nyerocos sambil memandang Luna yang begitu malu.
“Lo ya! Bikin Luna malu, emang kalau jadi nyonya kaya terus ke kampus bawa uang banyak, itu kan berbahaya.” Lia menjitak kecil dahi Mira, sampai Mira memegang dahinya.
“Gue kan cuma nyaranin.”
“Tapi benar apa kata Mira lo pasti bawa uang banyak ya Na?”
“Ha...., gitu saja pakai jitak gue padahal lo juga kepo.”
“Emmm.., aku tidak bawa uang sama sekali. Tapi..Aku dibawain ini sama Mas Arka, tadi aku minta uang saku, tapi malah dikasih ini.”
“Ha..! Mata Lia dan Mira langsung melotot melihat kartu silver di tangan Luna, Mira dan Lia sama-sama mau memegang kartu itu, tapi tangan mereka berdua di singkirkan sama Indah.”
“Jaga tangan kalian itu punya Luna, biar Luna yang nentuin mau traktir kita apa tidak.” Dengan sifat tegasnya membikin Mira dan Lia duduk di maja kantin yang baru mereka pilih karena mereka sudah sampai di kantin.
“Hari ini gue saja yang traktir, itung-itung syukuran biar kita semua selalu sehat dan bisa selalu bersama,” Indah mengalah pada mereka karena tau kalau Luna masih malu dan masih adaptasi dengan posisi dan perannya sekarang.
“Tidak-tidak aku saja yang traktir, biar aku ambil uang dulu kan ATM dekat,” Luna berdiri untuk mangambil uang, dia lupa kalau belum melihat pesan pasword yang tadi ingin di kirim suaminya. Ketika dia mau mengirim pesan, ternyata Arka sudah memberi nomor pin kartu yang dibawanya. Luna pun beranjak menuju untuk mengambil uang.
“Gue ikut Na.., gue juga.., lo mau ikut gak indah..”
“Tidak aku di sini saja, hawatir kalau tempat kita di tempati mahasiswa yang lain kalian pergi saja.”
__ADS_1
“Ok..,” Mira dan Lia mengejar Luna yang sudah hampir saja sampai.
“Gimana Na, kita boleh liat isi ATM lo ya, biar kita bisa ketularan kalau isinya banyak.”
“Iy boleh, paling isinya juga biasa, kan buat jajan doang.”
Kedua sahabatnya itu begitu antusias dan super kepo dengan isi ATM Luna. Pada saat Luna sudah memencet pin, mereka bertiga benar-benar mengamati angka yang tertera di layar mesin, dan nominal isi ATM muncul.
“Na.., banyak banget nol-nya Na.., itu berapa isinya, gue jadi pingin kesambet.” Mira yang kepo kakinya gemetaran karena kaget dengan nominal yang muncul.
“Iy Na..itu berapa Na, hitung Na..” Lia ikut kaget dengan isi ATM Luna.
“Nolnya 1, 2..,8, nolnya 8 bararti isinya 100 juta Na, aduh..mau pingsan gue Na..,” Mira nyerocos tidak karuan.
Mas Arka ini apa sih, mau ngehina aku atau bagaimana, masak kartu sebanyak ini isinya di kasikhan ke aku, apa tidak salah kartu? Awas nanti kalau sampai rumah bakal tak omelin deh, emangnya gue matre apa. Luna ngomel sendiri dalam hati.
Dia hanya mengambil 3 juta sebagai uang pegangan sama buat makan di kantin, karena dia juga hawatir ketika pegang banyak uang malah kebablasan.
“Lo ambil 3 juta banyak sekali Na, gua saja tidak pernah pegang uang sebanyak itu.”
“Dasar lo ya Mir, siapa yang tidak tau lo, ke sana ke mari selalu nyalon biar tambah cantik tapi hasilnya biasa saja, bayar salon yang sesering kayak lo, bisa-bisa rumah bokap yokap gue ke jual.”
“Sudah-sudah ayo kita balik, nanti Indah nunggu lama.”
Mereka bertiga kembali ke kantin, sampai di kantin mereka melihat Indah yang sibuk dengan benda pipih yang di pegangnya.
“Kalian sudah kembali.”
“Iy,” Luna menjawab Indah.
Ahirnya semua memesan makanan yang mereka inginkan, termasuk Lia dan Mira yang memesan banyak menu, itung-itung dapat gratisan dari sahabatnya yang sudah jadi sinderella. Mereka pun menikmati makanan dan minuman yang telah di pesan. karena jam ke tiga mereka ada jadwal kul kembali.
***
__ADS_1
Sampai di BAB ini, Author minta maaf ya Readers..jika masih ada kekurangan dalam penulisan atau pun gaya penokohannya.