
Arka mulai melajukan mobil lebih cepat agar segera sampai rumah.
Mereka sudah sampai di area kedai sate, sambil menunggu antrian dan memesan sate, Luna yang di beri buku menu oleh Arka, tertawa sambil menutup mulutnya berusaha menahan agar tawanya tidak terlalu keras karena membaca buku menu yang di bawanya.
Karena menebak istrinya bakal tertawa membaca buku menu, Arka membisikkan kata di telinga Luna
“Tertawanya jangan keras-keras, aku sudah menebak sayangku bakalan tertawa membaca buku menu, sama, dulu aku sama Rama juga tertawa saat berkunjung ke kedai ini untuk yang pertama kalinya, dan gara-gara makan sate ini, aku dulu juga hampir memakanmu saat di villa tiga langit, kamu ingatkan aku yang datang jam satu dini hari terus menggendongmu itu.”
“Apa, jadi Mas Arka yang dulu itu gara-gara makan sate ini.”
“Hem,” Arka menganggukkan kepalanya.
“Terus sekarang Luna diajak ke sini biar Luna dapat suplemen kayak yang dialami Mas Arka gitu.”
“Sepertinya begitu,” Luna memukul kecil lengan Arka.
“Tidak perlu hawatir suplemennya alami, jadi tidak akan ada efek samping.”
“Mas Arka jahil banget sih, sungguh terlalu .”
“Bukan jahil dan terlalu, tapi penasaran dan menyenangkan, kikikikikkk.”
“Ih.., Mas Arka.”
“Sudah-sudah kalau menunggu bakalan lama, bagaimana kalau kita magriban dulu, itu ada Mushoola di situ.”
“Ok ayuk.”
Luna dan Arka mendekati salah satu pelayan bilang kalau pesanan mereka di tinggal dulu ke mushollah, mereka berdua memesan sate utuk di bawa pulang bukan di makan di tempat. Semua sudah mereka lakukan dan sate pesanan mereka juga sudah matang, ahirnya mereka berdua pulang, sampai di rumah, mereka disambut Bu Imah dengan senyuman, Bu Imah merasa kalau putri dan menantunya sudah mulai memupuk sikap hangat satu sama lain, senyum pun tersungging di bibir Bu Imah.
Sepertinya mereka sudah mulai akrab, semoga benih cinta di hati mereka segera tumbuh, Ibu sudah rindu ingin punya cucu, Bu Imah merenung dalam hati.
“Kalian sudah pulang?”
“Iy Bu, Luna dan Arka bersama-sama menjawab pertanyaan Bu Imah.”
Sambil membawa belanjaan yang begitu banyak Arka dan Luna menuju dapur untuk menaruh semua belajaan dan Arka kembali untuk mengangkat beras yang sudah mereka beli.
“lo mas Arka, kenapa tidak minta tolong pengawal kenapa malah di angkat sendiri.”
__ADS_1
“Tidak usah, istriku saja kuat angkat, tentu aku juga bisa kan.”
“O.., begitu ya sudah.”
“Kenapa kalian malem gini baru datang?”
“Iy Bu.., tadi mampir belanja sama mampir beli sate jomblo ngenes.”
“Apa! Sate jomblo ngenes, apa itu?”
“Itu kita makan ya, tadi.. Luna beli sate...”
Mereka makan bersama setelah semua disiapkan oleh Luna, Luna menata piring untuk Arka dan Ibu juga untuk Luna sendiri.
“Iy Bu.., tadi Luna sama Mas Arka beli sate, di kedai depan, terus satenya itu namanya unik unik, ada sate jomblo ngenes, sate jomblo jablay, jomblo galau dan masih banyak lagi jomblo-jomblo yang lain, sampai bikin Luna tertawa ngakak.”
“O..,” mendengar cerita anaknya, Bu Imah juga tersenyum karena mendengar nama sate yang aneh aneh.
Mereka asyik makan sampai sate tidak tersisa satu pun, dan yang paling banyak makan adalah Arka.
“Nak Arka makan satenya semangat sekali?”
Dasar modus! Sepertinya bakal dikerjai aku malam ini, baiklah.., nanti bakalan aku kunci pintu kamar sampai pagi, biar tidak ada yang beraksi. Luna berbicara dalam hati.
Ahirnya makan malam sudah selesai, Luna membereskan peralatan makan dan melarang Bu Imah untuk ikut beres-beres hawatir Ibunya akan kecapean lagi.
“Ibu istirahat saja, biar Luna yang membersihkan, mas Arka kalau mau mandi dan beres-beres silahkan, nanti Luna akan menyusul.”
“Hem..baiklah.”
Arka beranjak dan berlalu dari tempat makannya, dia menuju kamarnya sendiri.
“Nduk.., apa maksud kamu menyusul, apa kamu sudah siap satu kamar sama nak Arka.”
“E..,em.., itu. Maksud Luna menyusul ke kamar Luna sendiri Ibu, bukan ke kamar Mas Arka.”
“Misal ke kamar nak Arka Ibu malah senang, kalian sudah sah jadi suami istri lo nduk, kalian butuh saling melengkapi nafkah lahir batin.”
“I..iya Ibu,” Luna salah tingah dengan anjuran Ibunya, karena Bu Imah juga tidak tau kalau Luna dan Arka sudah saling melengkapi satu sama lain jiwa dan raga, hanya perlu memupuk dalam kehidupan sehari-hari.
__ADS_1
“Kalau begitu Ibu istirahat dulu ya, mungkin kalau Ibu cepat punya cucu rumah sebesar ini tidak bakal sepi seperti ini, Ibu berharap kalian lekas saling memiliki satu sama lain,” Bu Imah beranjak dari tempat makannya sambil berbicara berharap agar segera punya cucu.
Luna yang mendengar Ibunya berbicara ingin punya cucu, jadi senyum-senyum sendiri, batinnya meminta maaf sama Ibu nya karena tidak bisa berkata jujur bahwa dia dan suaminya sudah meraih nikmat pergi ke awang awang.
Semua sudah selesai Luna kerjakan, dan dia pergi ke kamarnya sendiri untuk beres-beres, karena dia berencana untuk tidak meneruskan rencana bersama Arka dia menutup pintu dan mengunci pintu kamarnya.
“Ha...! Aman! Biar si Bos itu tidak ngeresek i tidur ah Luna kunci saja.”
“Waw! Keren siap tempur lagi nih kayaknya.”
“Aw! Kenapa Mas Arka ada di sini,” Luna melompat karena kaget melihat suaminya yang sudah duduk di tempat tidurnya.
“Kenapa memang? Aku di kamar istriku sendiri.”
“Kapan Mas Arka ke sini, tadi kan Mas arka Luna lihat ke kamar Mas sendiri.”
“Waw ternyata sayangku memperhatikan aku rupanya.”
“Jangan mendekat! Mas Arka mau apa? Luna belum mandi.”
Arka mendekati Luna hingga Luna terkunci oleh kungkungan lengan Arka yang kokoh di belakang pintu, Arka semakin mendekat dan mendekat ke leher Luna, tapi Luna berhasil mendorong Arka, karena juga masih enggoda Luna.
“Luna belum mandi Mas.., masih bau.”
Luna lari ke kamar mandi lalu mengunci pintu kamar mandinya, sedangkan dia lupa membawa handuk atau pun baju ganti. Arka terkekeh melihat tingkah istrinya itu, dia juga menyadari kalau istrinya pasti akan mencari handuk atau pun baju ganti, saat Luna mandi, Arka malah sengaja berbaring di ranjang Luna sambil melihat Hp, dia mengecek email dan notifikasi yang lain, sekitar 7 menit pintu kamar mandi seperti dibuka, sedangkan Arka pura-pura diam agar Luna tidak mengetahui keberadaannya, Luna mencoba mencari handuk tapi tidak menemukan, karena handuk sengaja dibawa Arka.
“Cari ini?”
“Mas Arka, sini!” Luna hanya menutup badannya dengan baju seadanya dan berusaha meminta handuk dari Arka.
“Sinilah..,” Arka meminta Luna untuk mendekat agar segera mengambil handuk yang dibawanya, tapi bukan Arka namanya kalau tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan, dia langsung mengendong Luna dan masuk ke kamar mandi lagi, Luna yang memberontak seperti agak jaim jaim sedikit berusaha menolak, tapi malah membuat Arka terkekeh bukan malah menurunkan Luna tapi malah mengunci pintu kamar mandi dan menurunkan Luna di bawah guyuran shower.
Tidak tau aksi apa saja yang sudah dilakukan Luna dan Arka, yang terdengar hanya gemericik air shower kamar mandi, dan sesekali terdengar rintihan dan desahan Luna, hingga 20 menit belum juga mereka keluar kamar mandi.
Setelah lama beraksi, Arka yang melihat istrinya mulai kedinginan, tanpa pikir panjang, lagi-lagi menggendong Luna keluar dari kamar mandi dan membaringkan Luna di ranjang King sizenya, tidak sampai disitu karena Arka mungkin saja, belum puas, dia masih meneruskan aksinya di ranjang, tidak tau mereka sudah bermain berapa ronde, yang terlihat Luna sudah mulai kehabisan tenaga, sampai pada titik ahir Arka pun menang berkali-kali karena sudah berkali-kali juga istrinya dimenangkan.
Ahirnya mereka puas dan tertidur hingga fajar mulai menyingsing di ufuk timur dan para pujangga cinta sudah pada terbangun untuk bersuci.
***
__ADS_1
kasih krisan dan dukungan like dan vote serta bintangnya buat Author ya Readers.., salam sayang buat kalian semua...muah..😍