
Ahirnya Rama dengan semangat memakaikan cincin di jari Indah dan anehnya sangat cocok, begitu juga Indah memakaikan cincin di jari Rama.
Semua orang yang hadir turut lega karena proses pertunangan berjalan lancar, tidak ada yang menyangka kalau pertimbangan singkat antara Rama dan Indah adalah memang seperti sebuah takdir yang benar-benar rahasia dan sangat menyenangkan.
Setelah Rama dan Indah memakaikan cincin, dan duduk kembali, barulah Indah memberanikan diri menebarkan pandangan. Pandangannya langsung tertuju pada Lia, Indah melotot saat melihat Lia, dia hampir tidak percaya kalau karib juga hadir, hingga dia melihat lagi ke arah Rama.
Apa? Iya benar tunangan aku Kakak Lia, kenapa aku bodoh banget sih, malah nyangka kalau Kakeknya yang mau nikah sama aku, tapi sudahlah semua sudah terjawab, jadi lega deh. Indah berbicara dalam hati.
“Dasar nona penasehat, kenapa dia tidak pandang gue lagi! Awas lo ya, kalau besok ketemu di kampus, bakalan aku kasih cabe pedas tu makanannya, tapi kasian juga. Ya sudahlah mungkin dia lagi nervous.” Lia lagi lagi berbicara sendiri.
Karena acara inti sudah selesai, tamu dipersilahkan untuk makan malam bersama. Ketika acara makan malam berlangsung, Lia tidak menyiakan kesempatan untuk mendekati Indah dan Kakaknya yang sudah lengket kayak perangko ke Indah bikin Lia agak kesal.
“Tu kan.., kamu jadi tunangan sama Kakek gue kan, bukan Kakak gue.”
“Apa! Tunangan sama Kakek? Apa maksudnya?”
“Ah.., Kakak ini mau tau saja sih, sana makan gi! Biar Indah sama gue dulu.”
“Tidak! Kamu yang makan, enak saja nyuruh-nyuruh!” Arka menarik tangan Indah menuju tempat lain.
“Hi..Kakak ini tidak tau apa dia kan sahabat gue.” Lia begitu sebal dengan sikap Kakaknya.
Indah hanya tersenyum melihat tingkah laku Kakak beradik itu, dia pun belum bisa berbuat banyak untuk menghadapi Lia, karena sudah di ajak Rama pergi dari Lia.
Karena Lia merasa boring setelah makan malam, sambil menunggu acara selasai, mau ngobrol sama Indah juga dihalau sama Kakaknya, ahirnya dia mengunggah foto pertunangan Rama dan Indah ke group Macasaw.
Lia: Calon Kakak Ipar lagi tunangan sama Kakak gue malem ini. Galau..
Belum ada respon dari chat yang di kirim Lia, dia menunggu sampai 5 menit. Belum ada juga sahabat yang memberi komen, ahirnya Lia memasukkan Hpnya ke dalam Tas kecil yang dibawanya.
***
Arka, Luna dan Sisi sudah sampai di Apartemen dr. Zaki malah hampir 30 menit mereka saling ngobrol, tapi sepertinya dr. Zaki belum ada respon dengan kehadiran Sisi, sedangkan Sisi yang biasanya ramai dan banyak bicara, ketika di hadapan dr. Zaki malah tidak berkutik, benar-benar 100 derajat berbanding terbalik.
“Sisi.., Kenapa diam kucing kecil, ayolah..aku sudah mengajakmu jalan-jalan dan aku perkenalkan dengan temanku, yang mungkin saja akan jadi jodohmu, benar apa tidak Zaki?”
“Apa!” Zaki terkejut dengan candaan yang dilontarkan oleh Arka, dia kaget, karena tidak siap dengan tembakan Arka yang terasa sampai jantung.
Zaki salah tingkah dan berusaha menutupi rasa groginya, dibenarkan Arka, karena dari tadi sepertinya Zaki selalu menjaga pandangan kepada Sisi, seperti ada yang dihindari.
“Benar tidak Zak, bisa jadi kan adikku ini suatu ketika jadi pendampingmu?”
“Em.., iya. Em.., maaf tidak,” Zaki benar-benar salah tingkah, dia mati kutu sekarang.
“Sisi, bagaimana dengan dirimu kamu siap jadi istri dr.joblo abadi ini?”
“A.Apa! Kak Arka ada saja.”
“Kamu siap tidak?”
“ Kalau siap dr. Zaki pasti akan melamarmu.”
__ADS_1
“Apa! Kak Arka malu maluin.”
“Tidak perlu basa basisiap apa tidak?”
“Iya, tapi dr.Zaki mau tidak sama Sisi?”
“Bagaimana dr.Zaki, aku melamar kamu malam ini untuk jadi adik iparku?”
“Apa! Jangan bercanda Ar? Masak melamar dadakan kayak gini?”
“Ini memang dadakan tapi kapan lagi kalau tidak sekarang? Tawarannya sekarang acaranya menyusul. Bukan seperti itu Istriku?”
“E..Iya, benar! Bagus!.” Luna juga ikut mendukung kelakuan Arka yang benar-benar di luar dugaan.
“Baiklah, kalau tidak ada komentar dari kalian yang hadir di sini, kita cabut ya dr. Calon adik iparku.”
“Jangan!” Sisi dan dr.Zaki malah seperti paduan suara bersama sama berkata dengan kata dan gerakan yang sama.
“Tu kan kalian sudah benar-benar kompak, aku tunggu kalian mau bilang apa, cepat! Sebelum aku berubah pikiram?”
“Jangan bercanda Ar, kamu kira menikah itu perkara yang bisa dibuat bercanda kayak gini!?”
“Iya. Kenapa begitu terburu-buru, kan Sisi masih belum lulus kuliah, terus Sisi tinggal di Singapura juga.”
“Itu tidak masalah, bukan begitu dr.Zaki?”
“Ok! baiklah kayaknya saya harus bersiap-siap untuk mengadakan acara lamaran untuk adik dan sahabatku.”
“Kalian dr.Zaki dan Sisi, kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan aku pulang dulu, kalian bisa membicarakan pertunangan kalian lebih lanjut di sini. Tapi awas kau dr,Zaki! Kalau kau macam-macam sama adikku, kamu pasti tau akibatnya!.”
“Ayo sayangku kita tinggalkan dua insan yang akan jadi suami istri ini, kita pulang.”
Luna menyusul Arka yang beranjak meninggalkan Apartemen dr.Zaki, tidak ada komentar yang keluar dari bibirnya, Luna hanya memberi isyarat pada Sisi dan dr.Zaki kalau dia akan keluar dan menyusul suaminya.
Setelah Luna dan Arka pergi, tinggal Sisi dan dr.Zaki yang begitu salah tingkah, karena mereka memang belum pernah saling mengenal lebih akrab, untuk membuka omongan saja Sisi dan dr.Zaki masih mendahulukan tingkah dan rasa gusar yang tidak bisa terelakkan.
“Kamu.” Sisi dan dr.Zaki bersama-sama mengucapkannya lalu salah tingkah.
“Kita?” mereka berdua juga sama-sama mengatakan, hingga ahirnya dr.Zaki yang mempersilahkan Sisi untuk berbicara dulu.
Setelah mereka asyik ngobrol, tanpa terasa malam semakin larut, dr.Zaki kasihan mau meminta Sisi pulang, ahirnya dr.Zaki menyuruh Sisi untuk menginap di Apartemennya, karena kebetulan ada 3 kamar, yang biasanya dipakai keluarga dr.Zaki ketika menginap di situ.
“Sisi, tidurlah dulu, aku masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan, kalau perlu apa-apa kamu tidak usah sungkan.
“Iya terimakasih.”
Sisi pun berangkat tidur di kamar yang di tunjukkan dr.Zaki padanya, sedangkan dr.Zaki melanjutkan rekap pekerjaan di kamarnya sendiri.
“Dasar Arka, menyusahkan orang saja, ninggalin cewek di rumahku lagi! Kalau bukan kamu Ar, sudah tonjok kamu. Tapi sudahlah, mungkin saja jodoh.”
Dokter Zaki agak pesimis dengan kedekatan yang akan dijalani dengan Sisi, karena memang Sisi bukan tipe ideal wanita yang diidamkannya, dia lebih menginginkan wanita seperti Luna, tapi karena kesempatan belum berpihak padanya, dr.Zaki pun menyerah dan lebih membuka diri untuk mengenal wanita lain, karena umurnya juga tidak muda lagi.
__ADS_1
“dr.Zaki, maaf.., apa Dokter punya baju cewek di tempat ini?” Sisi tiba-tiba muncul dan masuk ke kamarnya.
“Apa? Baju cewek?”
“Iya, Sisi tidak bisa tidur kalau memakai pakaian yang di pakai Sisi sekarang.”
“Tidak ada, aku tidak punya.”
“Maaf.., Sisi boleh pinjam baju kemeja punya Dokter tidak?”
“Apa! Maksudmu kemejaku mau kamu pakai tidur?”
Buset dah, anak kecil ini berani juga! Masak tidak takut kalau saya terkam, dengan santainya tanya ganti baju lagi? Dr.Zaki berbicara dalam hati.
“Ada apa tidak Dok, Sisi sudah ngatuk?”
“Ok sebentar aku ambilkan.”
Dokter Zaki mengambil kemeja yang sudah lama tidak dia pakai, karena dia juga tidak mau memakai baju yang telah dipakai orang.
“Ini pakailah.”
“Iya, terimakasih,” Sisi pun tersenyum dan pergi menuju kamarnya.
Sampai di kamar, Sisi memakai baju yang diberikan dr.Zaki, tapi dia sangat kecewa karena baju yang dipakai kancingnya sudah banyak yang hilang. Ahirnya Sisi malah lari ke kamar dr.Zaki karena mau menunjukkan kancing baju yang dipakainya sudah banyak yang hilang.
“Dokter! Masak baju kayak gini Dokter pinjamkan ke Sisi sih, memang sengaja ya! Masak tidak ada yang lain lihat saja!”
Dokter Zaki malah melotot dan sangat tegang serta menelan salivanya, kerena melihat Sisi hanya memakai kemeja yang dipinjamkan padanya.
“Dokter! Lihat dong.., masak Sisi pakai baju kayak gini.”
“Iya aku ambilkan baju yang lain sebentar jangan menedekat.” Bukanya malah menjauh, Sisi malah duduk di tempat duduk yang dipakai kerja dr.Zaki.
“Ini, kembali ke kamarmu cepat! Jangan kembali lagi, aku mau kunci kamarku, aku sudah ngantuk!.”
“Iya.” Sisi mengambil baju yang diberikan dr.Zaki lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Dasar anak kecil..! ada yang bangun lagi bikin runyam saja, tidak tau aku laki-laki normal apa?!”
Dokter Zaki begitu gelisah dengan tingkah Sisi.
“Dasar bocah! Dia lugu apa tidak tau? Berani-beraninya dia memakai kemeja tanpa bawahan di hadapanku, kaki mulus dan jenjang lagi.”
Dokter Zaki mengoyak rambutnya karena frustasi melihat tingkah Sisi.
****
Foto Indah saat bertunangan dengan Rama
__ADS_1
Foto Rama saat bertunangan dengan Indah