
“Iya sama-sama Bi, aku mau ke ruang TV, Bi Ana sudah makan bukan?”
“Sudah Nyonya, tadi sudah makan sama Ratih, Bibi juga sangat kenyang.”
Akhirnya Luna menonton TV sendirian, sekalipun di kamarnya ada TV Luna terbiasa melihat TV di ruangan dengan layar TV sebesar layar Bioskop, di ruang ini semua di mulai dengan canda tawa dengan Arka, dan dari ruang ini rasa kasih dan sayang tumbuh di hati Luna dan Arka, waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, netra Luna sudah terasa berat, dia pun beranjak menuju kamarnya untuk istirahat.
Sementara itu, Arka yang masih berada di pesawat sangat ingin menghubungi Luna, tapi karena aturan di pesawat harus menonaktifkan atau mode pesawat, Arka menahan rasa yang menderu di dadanya, ingin sekali mengdengar suara Luna dan meminta Luna mendekatkan Hp di dekat perut Luna walau hanya sebentar.
“mengapa aku sekangen ini padaistriku dan juga anakku.” Arka berbicara sendiri dengan menaruh tangannya di bawah dagu sambil mengelus dagunya yang sesekali melihat keluar dari jendela pesawat. Sesekali Arka juga melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh, sambil menarik nafas panjang Arka membatin, “masih 3 jam lagi.” Tanpa disadari Arka dia tertidur sejenak.
Saat Arka mulai bangun, ternyata pesawatsudah mendarat dengan sempurna, diapun beranjak dari tempat duduknya, keluar bersama seluruh penumpang, Arka berjalan dengan bergegas agar bisa bertemu dengan penjemput dari rekan bisninya.
“Pak Arka.” Di ruang tunggu penumpang ada orang yang memanggil namanya, sambil membawa papan penjemputan, Arka pun melambaikan tangan seraya mendekati orang yang memanggilnya. Arka langsung di ajak penjemput itu menuju lobi Bandara, karena belum pernah bertemu, Arka masih belum membuka pembicaraan, karena orang itu sedang sibuk menelepon seseorang.
Tidak berselang lama, mobil meluncur mendekati tempat mereka berdiri, kemudian Arka dipersilahkan untuk masuk ke mobil tersebut, kemudian dua orang tersebut meluncur menuju hotel yang memang sudah dipesan Rama untuk Arka, saat Arka di Dubai.
Saat sampai di hotel, Arka ingin langsung menelepon Luna, tapi jam sudah menunjukka pukul 23.15 WIB, sedangkan di Dubai baru pukul 20.30, akhirnya Arka menelepon Rama, karena buat Arka tidak ada privasi untuk Rama kalau menyangkut dirinya.
“Tut tut tut.” Hp berbunyi menunggu jawaban dari Rama, tapi sudah dua kali panggilan Rama masih belum saja menerima panggilannya.
“Dasar Rama, dia pun tidak ada respon.” Akhirnya Arka menyerah, dia tidak mengirim pesan karena buat Arka itu hal yang buang waktu. Arka menaruh benda pipih itu dan beranjak menuju kamar mandi, di kamar mandi dia membasuh tubuhnya dengan air hangat.
Tubuh Arka yang begitu kekar semakin merasakan kesegaran saat hampir 9 jam berada di pesawat, sekalipun Rama memilihkan pesawat kelas bisnis, Arka tetap merasa tubuhnya lelah karena kurang bergerak di dalam pesat.
Setelah selesai mandi, dengan kebiasaan yang tidak pernah berubah Arka sangat suka menggunakan handuk yang diikatkan di pinggangnya, dan da menampakan dada bidangnya yang begitu eksotis terekpos begitu saja, Arka tidak perduli lagi, karena dia tahu kalau Hotel yang di pesan Rama, terjamin mutunya.
Arka malah langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang begitu hangat dengan rambut yang masih sedikit basah dengan butiran air kecil yang menempel di sela-sela rambutnya yang hitam tebal tersebut.
Jam pun berlalu tanpa menunggu siapa pun, Arka yang kelelahan, dengan tubuh yang hanya berbalut handuk tertidur dengan lelapnya, hingga shubuh menjelang, Tubuhnya menggeliat semakin mencari kenyamanan bersama datangnya fajar, sayup sayup Arka mendengar lantunan Adzan hingga membuat Arka langsung bangkit.
“Allah..!” Arka langsung bangun kemudian mencari Hpnya, setelah ketemu, benar saja panggilan 9 kali dari Luna, dan satu kali dari Arka 30 menit menghiyasi layar Hpnya. Buru-buru Arka menelepon Luna, tak lama suara yang dirindukan Arka menghiasi telingannya.
“Mas Arka.., Kenapa lama sekali, Luna sudah pingin nangis tau.”
“U .., cup sayang.., maafkan aku, aku baru terbangun sejak sampai dari hotel tempatku menginap.”
“Baiklah, hotelnya nyaman tidak? Orang-orang di Dubai ramah tidak, terus sudah makan apa belum?”
“Baiklah satu-satu aku jawab ya.., Hotel bagus.., Orang-orang juga ramah, terus kalau makan ya belum, di sini baru shubuh.”
__ADS_1
“Oiy lupa, sini sama Dubai hamper 4 jam ya, he he he.”
“Jangan keras-keras ketawanya, nanti aku malah kangen sama bibir yang merah itu.”
“Ah.., Mas Arka, jangan bayangin bibir dong, bayangin Ari sama Ulan.”
“du du, nyenengin sama ngegoda Bundanya Ari sama Ulan itu juga bikin anak-anak senang sayang. Benar tidak?”
“Benar juga sih.”
“Terus istriku yang cantik ini mau apa dan ada jadwal ke mana hari ini?”
“Mau kempus minta antar Pak Tejo Mas, buat ngeklirin skripsi biar cepat kelar, sudah kelamaan ini.”
“Kuliah baru 7 semester saja kok lama.”
“Mas Arka jangan goda dong.”
“Au!.” Terdengar di seberang Arka malah teriak mebuat Luna hawatir.
“Ada apa Mas? Mas Arka baik-baik saja kan?”
“Mas Arka ada apa sih..? Mas Arka baik-baikkan?”
“Iya-iya baik-baik saja.”
“lha terus kenapa au au, kayak di gigit…” Luna malah berhenti dari kata-katanya.
“Kanapa berhenti, maksud sayangku au au seperti saat digigit sama sayangku ketika ketika kita sedang berburu ya.”
“Ah Mas Arka, masih sempat goda deh.”
“Memamg kenapa kalau goda.” Arka malah semakin memancing Luna.
“Ah.. Mas Arka kenapa sih..? kenapa au au.”
“Bener pingin tau.”
“Iya ayo katakana.”
__ADS_1
“Handuknya jatuh.”
“handuk apa?”
“Handuk yang melilit di pinggangku, mau jatuh terus mau aku tangkap tapi malah jatuh, sedang aku hanya pakai sehalai handuk.”
“Mas Arka.., jadi Mas Arka habis mandi?”
“Belum, mau kamu mandiin?”
“Ah.., Mas Arka masih sempaet goda dech.”
“Sini mandi bareng yuk.”
“Mas Arka…”
“Ha ha ha.” Arka malah tertawa merasakan respon dari Luna yang selalu malu-malu, tapi kalau sudah pingin bakal bikin kualahan.
“Oiy Mas Arka, kalau di situ shubuh Mas Arka sudah shubuh belum?”
“Mengalihkan perhatian ini?”
“Bukan.., beneran Mas..?”
“Iya belum shubuh.”
“Ya sudah kalau gitu.., Mas Arka subuh dulu, nanti telepon lagi ya.”
“tidak mau!”
“Apa?! Mas Arka..!”
“Hahahah! Arka tertawa merasakan kesewotan istrinya.
Setelah Arka menutup telepon, buru-buru menuju kamar mandi, kemudian berlanjut menjalankan ritual umat muslim di saat Shubuh itu.
***
Di kantor HJG Rama dan Melani sibuk menata data dan mengecek semua kerja karyawan, baik yang berhubungan dengan kerjasama dengan perusahaan yang lain serta perolehan kenaikan pendapatan dan meroketnya perkembangan HJG, yang notabennya di rintis oleh Pak Hari Jaya Kusuma, sekalipun terkadang juga muncul kendala-kendala kecil yang selalu di selesaikan oleh Arka dengan kepemimpinannya yang luar biasa ulet, tanggungjawab serta menghargai karyawan.
__ADS_1
@@@Terimakasih Vote dan likenya ya Readers, semakin banyak vote, semakin semangat Author buat UP UP UP