RINDU SANG PRESDIR

RINDU SANG PRESDIR
BAB 21


__ADS_3

“Bagaimana Ram, bagus tidak? Habis ini aku ke kediaman Papa dulu lalu mengambil si putih dan langsung ke Villa, jadi besok, kantor kamu yang urus menggantikan aku.”


“Iy, hati-hati, aku ikut bahagia atas pernikahanmu dan rumah barumu ini, semoga pernikahan ini terahir dan untuk selamanya untuk mu Ar.”


“Iy terimakasih, aku juga berharap seperti itu.”


“Baiklah aku akan segera barangkat, apa kamu akan di sini terus, kalau iya tidak apa. Aku akan segera ke rumah Papa, terus ke Villa.”


“gak lah, aku juga akan pulang.”


Mereka berpisah dengan jalur masing-masing, dan jam sudah pukul sembilan malam. Selang 30 menit Arka sudah sampai di rumah orang tuanya, suasana rumah tampak sepi, hanya Pak Bejo yang masih terjaga sambil melihat TV di Pos rumah, Arka mendekati Pak Bejo, yang membuat Pak Bejo kaget.


“Lo! Den Arka di sini dari kapan den? Maafkan Pak Bejo tidak tau Den Arka datang. Ibu dan Bapak ke KL dari kemarin Den, masih belum pulang juga, apa Den Arka perlu bantuan.”


“Tidak Pak, aku hanya mau ambil Pharsa putihku, aku mau ke villa Tiga Langit malam ini.”


“Lo! Malam gini apa tidak besok saja Den?”


“Tidak Pak enakan malam, kalau sampai bisa langsung istirahat. Lagian pasti tidak lama kalau pakai si putih.”


“O.., iya Den hati-hati.”


“Iy, tolong kalau Papa Mama datang Pharsa putih aku bawa.”


“I iya Den.”


Ahirnya Arka pergi meninggalkan Pak Bejo yang melihatnya hingga hilang dari penglihatan. Arka mengendarai Pharsa putihnya sudah hampir 2 jam, tinggal 3 kilo lagi sudah sampai villa, dia memutar Radio dan tanpa sengaja mendengar lagu Wulan merindu yang dinyanyikan Cici Paramida.

__ADS_1


Arka yang biasanya anti dengan dangdut, mendengar lagu ini malah manggut-manggut dan senyum senyum sendiri, beberapa menit setelah lagu selesai, Arka merasakan hawa panas yang tiba-tiba menyerang tubuhnnya, padahal Ac sudah dinyalakan, dia mencoba memegang dahinya tapi sumber panas bukan karena demam, seperti ada hawa panas yang menyerang tengkuknya hingga terasa kaku dan berat.


Arka mencoba menggerakkan tubuhnya mencoba mengusir hawa panas yang dialami, tapi percuma, dia malah ingat kata-kata Rama yang bakalan kepanasan setelah makan sate kambing. Aduh! Ini bakalan membuat aku susah tidur kalau udaranya begitu panas. Arka mulai risau dan mempercepat laju Pharsa putihnya. Ahirnya Arka sampai di Villa tepat pukul 01.00 dini hari.


Arka yang masih ke panasan, langsung menuju dapur bermaksud mengambil air minum di kulkas. Sampai di dapur dia melihat pemandangan yang membuat darahnya meluncur deras ke kepala dan jantungnya. Arka memandang Luna yang memakai dres tidur, membuatnya mempercepat langkah mendekati Luna yang berada di depan kulkas, dan sedang menggigit buah pear.


Arka tanpa pikir panjang dan karena sudah sudah terbakar semangat, langsung menggendong Luna bak bridal stayle menuju kamar Arka.


Awalnya Luna begitu memberontak dan mendorong tubuh Arka, menolak Arka yang ingin menggendongnya. tapi tenaga Arka yang kuat membuat Luna tak berdaya.


Sampai di kamar Arka langsung membaringkan tubuh Luna di kasur King size, dan entah apa yang mereka lakukan.


Arka malah berdiri dan frustasi serta meminta maaf pada Luna lalu pergi ke kamar mandi kemudian Arka mengguyur tubuhnya dengan air dingin untuk mendinginkan tubuhnya yang terasa lengket. Luna yang masih belum percaya dengan keadaanya, masih terbaring beku tak bergerak karena reaksi Arka yang tiba-tiba meninggalkannya dan pergi ke kamar mandi.


Luna merasa bingung dan tidak mengerti. Dia tidak tau meski berbuat apa? Luna hanya bersembunyi di selimut tebal yang ada di tempat tidur Arka. Sementara itu Arka menyelesaikan mandinya dan keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk yang terlilit di pinggangnya, dia mendekati Luna dan duduk di tepi ranjang tempat Luna berbaring.


“Kamu masih di sini, aku kira kamu kembali ke kamarmu.”


“Sayang maafkan aku, aku telah mengajakmu ke kamarku, pahamilah aku dulu sudah pernah menikah dan istriku sudah meninggal, apa kamu sudah tau informasi tentang kehidupanku?”


Luna tidak menjawab sepatah kata pun ketika Arka berkata sambil berbisik di telinga Luna, Luna hanya bisa mengangguk karena begitu canggung. Tangan kekar Arka begitu erat dan hangat memeluknya, Arka masih saja berbisik di telinga Luna sambil sesekali bernafas di telinga Luna, hingga membuat Luna geli dan menarik bahunya ke atas dan bawah.


“Sekali lagi maafkan aku, semestinya kita sama-sama memahami pribadi masing-masing, dan memahami masa lalu yang harus kita mengerti satu sama lain, apa kamu pernah punya pacar?”


Luna menggelengkan kepalanya tanda tidak pernah punya.


“Berarti aku yang pertama?”

__ADS_1


Lagi-lagi Luna hanya menjawab dengan isyarat mengangguk.


“Kalau begitu apa kamu mencintaiku?” Arka bertanya pada Luna, sementar Luna terdiam belum bisa menjawab pertanyaan Arka.


“Baiklah kalau kamu belum punya jawaban atas pertanyaanku.”


Arka kembali memeluk Luna dengan erat tanpa memperdulikan Luna yang begitu canggung di dalam selimut tebal mereka.


Tanpa terasa Arka tertidur sambil memeluk Luna, sedangkan Luna masih belum bisa memejamkan matanya karena ingat dan juga hawatir kalau Ibunya mencarinya, ahirnya Luna yang masih dipeluk Arka dengan sangat pelan menyingkirkan tangan Arka dan melepaskan tubuhnya dari pelukan Arka. Dia bangun dan beres-beres, dengan berjalan sangat pelan dia keluar dari kamar Arka untuk kembali ke kamar Ibunya, dengan masih berjalan sangat pelan, Luna langsung berbaring di samping Ibunya, karena hawatir Bu Imah akan memergokinya.


Tapi bukan Bu Imah namanya kalau tidak mengetahui gelagat putri semata wayangnya, Bu Imah pura-pura tidur karena hawatir membuat Luna malu dan grogi, dan selang beberapa menit kemudian Bu Imah berganti posisi menghadap Luna, dia melihat putrinya sudah tidur pulas kembali, setelah Bu Imah melihat Luna yang sudah terlelap dia bangun untuk sholat malam, karena melihat Jam sudah pukul 03.45 dini hari, Bu Imah bangun untuk sholat malam. Terasa baru sebentar sholat malam, Adzan Shubuh sudah terdengar, Bu Imah yang Shubuh di dalam kamar menyempatkan waktu membangunkan Luna untuk Sholat shubuh.


“Nduk.., ayo bangun, sudah shubuh, nanti kita kesiangan, apalagi kita mau kembali ke kota.”


“Em.., tapi Luna masih ngantuk Bu.., tubuh Luna juga capek banget, izinkan Luna tidur sebentar, nanti Luna pasti bangun."


Bu Imah masih kepo dengan tingkah Luna, apa sebenarnya yang Luna lakukan? kenapa tadi malam keluar kamar begitu lama, hati Bu Imah benar-benar gundah, dia berharap sesuatu yang tidak diinginkan tidak menimpa putrinya. Karena Luna sekarang sudah menjadi Istri dan calon Ibu dari anak yang dikandungnya.


Bu Imah masih sibuk berbicara dalam hati, buru-buru menyegerakan untuk sholat Shubuh agar tidak terlambat.


Setelah sholat shubuh, Bu Imah berusaha membangunkan Luna untuk yang ke dua kalinya, Bu Imah kaget, karena dia melihat Luna yang banyak tanda merah seperti habis kena alergi, tanpa pikir panjang Bu Imah membangunkan Luna sambil menarik ke dua tangan Luna seperti anak kecil yang mau digendong Ibunya.


“Ayo bangun nduk.., segeralah mandi, nanti malah telat shubuhnya.”


Luna yang masih memejamkan matanya, langsung terbangun dan melompat dari tempat tidur, Iya ingat kejadian semalam, kemudian dia pun buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sedangkan Bu Imah yang kaget dengan tingkah Luna, berusaha menenangkan diri dan berencana ingin bertanya pada Luna sebenarnya semalam apa yang terjadi.


***

__ADS_1


Tetep bijak dalam membaca ya Readers, Author minta maaf jika ada tulisan yang membuat tidak nyaman atau kurang sopan.


Ingat Vote, like dan favoritin Novel Rindu Sang Presdir


__ADS_2